JULIE – A Message from Future

julie

Title                 : JULIE – A Message from Future

Author           : Park Kyungjin

Cast                  : SHINee – Lee Taemin, Julie (OC)

Genre              : Fantasy

Rating             : PG-13

Length           : Oneshot

Disclaimer  : Inspirated by a Movie. Plots are mine.

NB                     : Untuk menghindari pemikiran yang sama mengenai film yang merupakan sumber inspirasi ff ini, judul film akan disebutkan di bagian akhir. Happy reading!

+++

“Jadi bagaimana rasanya mengubah takdir?”

“Entahlah. Ada rasa syukur namun juga sedikit penasaran. Apa yang akan terjadi kalau misalnya aku tetap berada pada takdirku yang semula?”

“Andai setiap manusia diberi kesempatan yang sama untuk kedua kalinya, satu-satunya hal yang akan mereka lakukan adalah memperbaiki setiap kesalahan.”

+++

Seoul, Juli 2012, Lee Taemin P.O.V

Aku menuruni bus dan mengamati pantulan diriku dari kaca toko kue yang ada di hadapanku, sekedar untuk mengecek bahwa rambutku masih tersisir rapi dan letak kacamataku tidak miring. Aku harus memastikan bahwa semuanya sudah sempurna. Hari ini akan menjadi hari yang spesial.

Dengan sedikit gugup aku mulai berjalan menuju tempat yang sudah ditentukan, sebuah café yang terletak dua gang dari sini.

“Tunggu!” sebuah cekalan di lenganku membuatku berhenti melangkah. Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita tengah menatapku dengan tatapan yang tidak ku mengerti.

“Aku?” aku menunjuk diriku sendiri dengan agak bingung.

“Ku mohon jangan pergi…” ujarnya lirih namun cukup tegas.

“Maaf, apa aku mengenalmu?” aku mulai menyelidikinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia tipikal wanita bertubuh semampai dengan rambut lurus sebahu yang tiba-tiba saja mengingatkanku pada patung manekin yang dipajang di toko-toko pakaian.

“Jangan pergi…” ulangnya sekali lagi.

Aku menaikkan sebelah alis, semakin dibuat bingung dengan wanita asing nan aneh yang berdiri di hadapanku itu.

“Maaf. Aku tidak mengenalmu. Ku rasa kau salah orang. Dan maaf aku sedang sibuk sekarang.” Aku menarik lenganku yang masih dalam genggamannya lalu segera berbalik dan melangkah pergi. Aku tidak boleh terlambat dan merusak semua rencana yang sudah ku susun dengan baik. Aku harus menemui seorang wanita siang ini. Wanita yang belakangan ini dekat denganku. Teman sekampusku yang telah berbaik hati menawarkan diri untuk menjadi temanku. Itu hal yang hebat sebab sepanjang pengalamanku, aku hampir tidak pernah mempunyai seseorang yang betul-betul bisa disebut sebagai teman. Aku cukup buruk dalam bersosialisasi. Bukan karena aku tidak mau. Mungkin karena sikap tertutupku yang membuat siapapun segan untuk dekat denganku. Dan wanita itu akhirnya membuatku berharap untuk membuatnya lebih dari sekedar teman. Siang ini juga, aku akan mengutarakan semua perasaanku. Yeah, ku harap aku berhasil mengumpulkan keberanian untuk berbicara dan bukannya malah bertindak bodoh di hadapannya.

“Kalau kau pergi sekarang, kau akan dalam bahaya. Jangan menemuinya.”

Aku merasakan sesuatu yang tidak enak pada indra pendengaranku. Aku menghentikan langkah, berbalik sekali lagi dan melemparkan sebuah tatapan tidak bersahabat atas kata-kata wanita itu.

“Kau ini sebenarnya siapa? Darimana kau tahu semuanya? Dan kalau aku tetap akan menemuinya?” cercaku begitu bosan dengan kalimat-kalimatnya yang tak jelas sama sekali.

“Dia tidak akan pernah datang.”

“Gahh! Kau mulai membuatku marah… Begini saja, kau punya waktu kurang dari semenit untuk meminta maaf atas kata-katamu tadi. Dan walaupun sebenarnya aku penasaran darimana kau bisa mengetahui semuanya, aku tidak punya banyak waktu lagi,” aku melipat lengan di depan dada. Namun alih-alih menerima permintaan maaf, wanita itu hanya membuatku semakin mengerutkan kening.

“Pukul 13.42, orang yang sedang mengecat di atas sana akan menumpahkan kaleng catnya secara tidak sengaja,” wanita itu menunjuk ke arah seorang tukang cat yang sedang mengecat dinding luar lantai dua sebuah pertokoan yang terletak beberapa meter dari tempat kami berdiri.

Aku melirik jam tangan digitalku. Dan kalau ia mengatakan pukul 13.42, berarti kejadian itu lima detik dari sekarang. Sesaat aku tidak menemukan keanehan, namun hal itu berubah beberapa detik kemudian ketika si tukang cat tidak sengaja menendang kaleng catnya dan membuatnya tumpah ke jalan.

“Kalau bukan karena aku menahanmu di sini, kau seharusnya sudah terkena percikan dari cat tumpah itu,” tukas wanita itu kembali yang langsung ku sambut dengan alis terangkat.

“Aku sungguh tidak mengerti dirimu. Kau aneh. Tapi terima kasih. Aku pergi.” Aku buru-buru beranjak meninggalkannya. Ku rasa wanita itu adalah seorang peramal. Peramal yang aneh.

“Hey! Hey! Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku! Ouchh!” Baru beberapa langkah dan ia kembali menarik tanganku dan mencoba untuk membawaku berlari ke arah sebaliknya.

“Hey orang asing! Lepaskan aku! Aku sudah berjanji akan menemui Eunji!” aku memberontak sekuat tenaga dan ia akhirnya berhenti berlari dan melepaskan cekalan tangannya yang sangat kuat.

“Kau memang sudah membuat janji dengannya. Café itu adalah tempat dimana kau akan bertemu dengan Choi Eunji. Kemarin sore saat jadwal kuliah kalian selesai, kau menghampirinya dan mengajaknya pergi ke tempat ini dan waktu yang telah disepakati adalah pukul 14.00. Tapi ku beritahu padamu, dia tidak akan pernah datang, tak peduli seberapa lama pun kau akan menunggunya.”

Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku. Bagaimana ia bisa tahu semuanya sedetail itu? Di satu sisi aku ingin mendengarkan perkataannya, namun di sisi lain perasaanku terus menyuruhku untuk tetap pada tujuan awal. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak peduli. Aku melenggang pergi dan tiba di café tanpa rasa ragu sedikit pun.

+++

Sudah lima jam lebih dan belum ada tanda-tanda bahwa Choi Eunji akan muncul. Untuk sesaat aku berpikir untuk menunggu sedikit lebih lama lagi, namun rasa lelah akhirnya memaksaku untuk menyerah. Aku mulai berjalan meninggalkan café, meninggalkan semua harapan yang aku kira akan berjalan sesuai dengan apa yang ku pikirkan. Kenapa Eunji tidak datang? Apa ia sibuk? Atau ia lupa? Kalau memang ia sibuk, kenapa ia tidak menelponku dan menyuruhku untuk berhenti menunggu? Atau setidaknya kalau ia memang lupa, kenapa ia tidak menjawab teleponku? Atau jangan-jangan, ia memang tidak pernah peduli denganku?

Isi kepalaku terus mengeluarkan sederet pertanyaan yang hanya dijawab dengan hembusan tak bersahabat angin malam. Aku menautkan kedua lengan di depan dada, memeluk diri sendiri untuk mencoba mengusir rasa dingin. Dan rasa sakit apa ini? Kenapa dadaku rasanya sesak sekali?

Aku memandang hampa jalanan kota Seoul yang cukup indah namun tidak berhasil untuk menghiburku. Aku mulai tenggelam dalam lamunanku namun sedetik kemudian, aku tersadar oleh sesuatu yang menubruk tubuhku cukup keras bersamaan dengan suara decitan ban mobil yang memekakkan telinga.

Bukan, aku tidak sedang ditabrak oleh sebuah mobil yang dikendarai dengan ugal-ugalan, sebab mobil itu hanya menembus pembatas jalan dan menabrak sebuah pohon dengan arah dimana aku tadi memijakkan kaki.

Mataku terbelalak selama beberapa detik dan saat aku memperoleh kesadaranku kembali, aku menundukkan kepala, menatap ke arah sesuatu yang menubrukku dan membuatku mundur beberapa langkah tadi, sesuatu dalam wujud wanita yang kini sedang memelukku erat. Dan kali ini aku hanya bisa ternganga saat wanita itu menengadahkan wajah dan mulai melepaskan pelukannya.

“K..k..kau…”

“Selamat, Lee Taemin. Kau baru saja terhindar dari sebuah kecelakaan yang seharusnya menimpamu. Saat ini, kau seharusnya terbaring di sana dengan tubuh yang penuh lumuran darah. Dan seharusnya, beberapa menit lagi sebuah ambulans akan datang dan membawa tubuh tak berdayamu. Tapi tenang saja, sekarang kau baik-baik saja.” ia, wanita yang sedari tadi membuntutiku tersebut tersenyum di akhir penjelasannya.

“Bagaimana kau tahu semua itu?” aku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku. Wanita itu tersenyum, membuka mantel coklat yang ia kenakan dan memasangkannya padaku.

“Perkenalkan, namaku Julie, generasi pertama model ARM 001. Aku dirancang khusus untuk menyerupai manusia, selesai dirampungkan pada tahun 2065 dan disempurnakan pada tahun 2070. Aku datang dari masa depan, enam puluh tahun dari sekarang.”

“M..maksudnya, kau bukan manusia? Kau adalah robot? Hah! Apa kau pikir aku orang bodoh yang bisa percaya begitu saja? Aku Lee Taemin. Aku adalah seorang mahasiswa terbaik jurusan teknik di universitas nomor satu di Seoul. Nilai-nilaiku selalu sempurna. Semua dosenku mengakui kemampuanku. Dan apa yang kau katakan tadi? Hhh, bahkan robot yang ada saat ini hanya mampu disetel secara manual untuk membantu pekerjaan rumah tangga,” sergahku nyaris tertawa.

“Kau bisa lihat ini,” tiba-tiba saja ia melakukan sesuatu yang membuatku tercengang. Ia memutar bola matanya 360o, memancarkan sinar seperti senter dari matanya itu, menyulut api hanya dari sebuah tiupan yang diakhiri dengan leher yang berputar 360o pula. Ku rasa aku tidak hanya tercengang sekarang. Aku syok.

“Sekarang bagaimana? Atau kau perlu bukti lain? Aku bisa mencabut pohon itu dari akar-akarnya dengan tanganku sendiri kalau kau mau.”

“Waaaaaa tidak-tidak-tidak!” aku bergegas menahannya. “Kau bukan robot, tapi robot yang sangat sangat sangat sangat sangat mengerikan.”

Dan Julie hanya bisa tertawa geli saat mendengar perkataanku.

“Aku sudah melihat perjalanan hidupmu dan karena itulah aku mengetahui semua yang terjadi pada dirimu, bahkan sebelum kau sendiri mengalaminya. Baiklah, ku rasa kita sudah bisa pergi sekarang.” Julie menggamit lenganku dan menuntunku untuk berjalan mengikutinya.

“Kita mau ke mana?” aku menahan diri.

“Ke mana lagi kalau bukan pulang ke rumahmu. Dan ngomong-ngomong, jangan pernah menemui wanita bernama Choi Eunji itu lagi. Percaya padaku, dia hanya ingin memanfaatkanmu. Ayo.” Dan kali ini aku tidak lagi mengelak. Aku membiarkan diriku mengikuti langkahnya. Genggaman tangan Julie, entah mengapa membuatku tiba-tiba lupa bahwa aku baru saja merasa tersakiti.

+++

“Jadi kira-kira apa lagi yang akan terjadi?” tanyaku antusias pada Julie yang sedari tadi memberitahukan hal-hal apa saja yang akan terjadi selama di perjalanan.

“Hey aku bukan peramal… Sekarang buka pintunya dan mari masuk.”

“Err, kau yakin ingin masuk juga?”

“Memangnya kenapa?”

“Err, ini kan rumah seorang pria. Apa kau tidak takut akan… Aduh!” aku merasakan sebuah pukulan mendarat di kepalaku.

“Kau sedang menggodaku? Cepat buka pintunya!”

Aku akhirnya memilih untuk tidak banyak berkomentar. Kami lalu memasuki rumah sederhana yang ku huni sendirian itu. Aku merasakan sedikit keanehan. Aneh karena seseorang memerintahku di rumahku sendiri sekaligus aneh sebab baru kali ini ada yang bertamu ke rumahku, yang secara tidak sadar telah membuatku merasa “ditemani”.

“Ck, tingkat kerapian yang cukup buruk…” Julie mengomentari kondisi rumahku yang langsung ku tanggapi dengan sebuah cengiran lebar.

“Baiklah, masalah kebersihan nanti saja. Sekarang, masuklah ke kamarmu dan perlihatkan padaku gaya berpakaian terbaikmu,” lanjutnya.

“Eh? Untuk apa?”

“Tidak perlu banyak bertanya. Cepat lakukan.”

+++

Aku menghabiskan sepanjang malam untuk melakukan semua yang diperintahkannya. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku begitu mudah menuruti semua perkataannya. Entahlah, aku hanya merasa senang setelahnya.

Ia menyuruhku untuk membereskan isi rumahku yang ku rasa tak ada bedanya dengan gudang barang rongsokan. Melelahkan? Sudah jelas. Ia bahkan tidak membiarkanku untuk merebahkan tulang-tulangku yang sudah terasa remuk dan malah menyuruhku untuk memasak setelahnya. Kali ini aku protes.

“Aku tidak ingin berakhir dengan memakan masakan beracun,” elakku, meskipun aku tahu dengan jelas bahwa yang ku maksud dengan masakan beracun itu adalah masakanku sendiri.

“Lalu kau mau apa? Memangnya kau tidak lapar?” desisnya. Aku lalu menghayati apa yang ada di dalam perutku. Hmm, benar, hanya ada suara gemuruh di dalam sana. Akhirnya setelah mendapatkan beberapa ancaman darinya, aku memasak, meskipun pada akhirnya aku sendiri tidak yakin kalau yang aku masak itu adalah sup sayuran atau sup kulit kentang.

“Jadi, apa lagi yang harus aku lakukan?” aku menangkupkan kedua tangan di dagu dan meletakkan sikuku di atas meja makan, menatap lurus ke arah lensa matanya yang jernih namun berwarna hitam legam. Menyenangkan, namun penuh misteri, ku rasa.

“Sudah pukul dua dini hari namun sayang jika hanya dilewatkan dengan tidur. Bagaimana kalau kita menonton saja, huh? Kau belum mengantuk kan?”

“Belum sama sekali!” aku menegakkan posisi dudukku. Ia menganggukkan kepala lalu menarikku menuju ruang tengah, dan aku baru ingat kalau aku sama sekali tidak memiliki film apapun untuk ditonton. Tapi Julie memang hebat. Entah bagaimana caranya hingga akhirnya ia membuat kami menonton sebuah film yang baru akan dirilis 10 tahun lagi.

“Apa yang membawamu untuk datang kepadaku?” aku membetulkan posisi kacamataku yang telah diganti dengan frame yang terlihat lebih keren. Julie membuatku mengubah penampilan. Dan walaupun aku merasa cukup aneh dengan rambut yang diberi gel dan kemeja yang tidak lagi masuk ke dalam celana, ku rasa yang baru ini lebih baik. Julie yang tengah asyik memperhatikan layar televisi menoleh ke arahku yang duduk tepat di sampingnya. Ia mengendikkan bahunya.

“Takdir, mungkin.”

“Tapi takdirku juga telah berubah.”

“Jadi bagaimana rasanya mengubah takdir?”

“Entahlah. Ada rasa syukur namun juga sedikit penasaran. Apa yang akan terjadi kalau misalnya aku tetap berada pada takdirku yang semula?”

“Andai setiap manusia diberi kesempatan yang sama untuk kedua kalinya, satu-satunya hal yang akan mereka lakukan adalah memperbaiki setiap kesalahan.”

Aku sungguh tidak paham dengan kata-katanya. Ia membuat segalanya jadi terasa lebih sulit untuk dipecahkan.

“Lee Taemin, kau harus melanjutkan kehidupanmu. Setelah ini kau harus menjadi dirimu sendiri, bukan Lee Taemin yang hanya terus menutup diri. Yakinlah bahwa kau adalah mutiara yang tidak pantas untuk terus bersembunyi di dalam lumpur. Jangan biarkan siapapun menjatuhkanmu. Berjanjilah padaku untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik…” ia menggenggam tanganku begitu kuat. Hal yang aneh, sebab kata-katanya barusan terdengar seperti ia-akan-segera-meninggalkanku.

“Apa kau akan pergi?” tanyaku dengan nada suara yang jelas berharap untuk mendapat jawaban ‘tidak’. Aku hampir saja menertawakan diriku sendiri saat mengingat Julie yang pada awalnya membuatku kesal setengah mati kini justru membuatku enggan berpisah dengannya.

“Aku ini hanya robot. Oh bukan, aku ini adalah robot yang sangat sangat sangat sangat sangat mengerikan. Haha. Oh iya, sifatmu mirip dengan seseorang.” Ia mendekatkan wajahnya, menyentuh wajahku dan mengamatinya. Seketika aku berpikir keras, memikirkan apa aku harus menjauhkan wajahku atau tetap dengan jarak seperti ini dengannya. Sepertinya aku sudah gila. Aku merasakan diriku mulai tertarik padanya. Pada sebuah robot yang baru aku temui beberapa jam yang lalu, yang walaupun dengan jarak sedekat ini, aku tidak merasakan hembusan napas keluar dari hidungnya, tentu saja.

“O..oh ya? Siapa?” aku mencoba untuk tak terlihat gugup. Ini memalukan.

“Penciptaku,” jawabnya lalu akhirnya menarik kembali tangan dan wajahnya. Syukurlah. Ku rasa aku bisa saja meledak.

“Ah! Kau belum menceritakan apa-apa tentang penciptamu. Dia orang yang seperti apa? Apa aku boleh menemuinya?” aku merasa antusias.

“Hhh, itu hal yang sulit. Kalau kau benar-benar ingin menemuinya kau harus melewati dimensi waktu lain, menempuh perjalanan waktu yang sangat jauh sebab penciptaku berada jauh di masa depan.”

Aku memerosotkan tubuhku lebih rendah di atas sofa. Aku baru ingat kalau ternyata robot ini mengaku telah datang dari masa depan.

“Kalau kau memang ingin menemuinya, ku rasa masih ada satu jalan lagi. Dia juga pernah hidup di masa yang sama denganmu, di tahun ini. Jadi kau bisa menemui dirinya yang merupakan masa lalu dari penciptaku itu. Tapi kau jangan berharap banyak. Dia di masa saat ini mungkin belum tahu tentang robot yang diciptakannya ini.”

“Tidak apa-apa. Melihatnya saja ku rasa sudah cukup. Jadi di mana aku bisa menemuinya?”

“Di rumah sakit Seoul, lantai 3, kamar 40. Apa yang seharusnya kau lihat padanya nanti akan sama dengan ia 60 tahun ke depan. Yang berbeda mungkin hanya usianya. Hidupnya sungguh tidak beruntung. Satu-satunya hal yang membuatnya bisa bertahan hanya aku, refleksi dari harapannya yang tidak pernah menjadi kenyataan.”

+++

Setelah percakapan itu Julie tiba-tiba pamit padaku. Tidak seperti tamu-tamu pada umumnya, ia meninggalkan rumahku dengan cara yang berbeda. Aku sebenarnya tidak paham pasti bagaimana ia menghilang dari pandanganku. Seingatku, aku memeluknya dengan erat hingga cahaya putih yang memenuhi ruanganku muncul kemudian menghilang bersama sosoknya. Dan jangan tanyakan apa yang aku rasakan saat kehilangan teman yang pertama kali masuk dan memberi warna pada hidupku.

Saat ini aku berdiri di depan sebuah pintu dengan angka 40 yang tertera di depannya. Sesuai penjelasan Julie semalam, berarti penciptanya, atau dalam keadaan sekarang ini ‘calon penciptanya’, berada dalam ruangan ini. Aku mencoba menerawang apa yang ada di balik pintu itu. Bagaimana keadaannya? Apa yang telah membuatnya kehilangan semua harapannya?

Aku mengetuk pintu beberapa kali lalu membuka pintunya perlahan hingga memperlihatkan isi dari ruangan berdinding putih yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan rumah sakit itu. Aku menatap gugup ke arah seorang lelaki yang terbaring membelakangiku. Butuh waktu yang cukup lama hingga aku memberanikan diri untuk menyentuh punggungnya.

Tiba-tiba seseorang kembali membuka pintu ruangan. Aku terkesiap dan berbalik ke arah pintu. Seorang wanita dengan pakaian ala perawat masuk dan membuatku terkejut setengah mati saat melihat wajahnya.

“Julie…” gumamku lebih pada diriku sendiri. Tidak salah lagi, ia adalah Julie. Ku lihat ia juga tidak kalah terkejutnya denganku. Ia menunjuk ke arahku dengan mulut ternganga.

“A..apa anda sudah benar-benar siuman?” ia menyerangku dengan pertanyaan yang membuatku benar-benar bingung.

“Maksudnya?”

“Ya Tuhan, keajaiban telah terjadi…” ia berjalan mendekat ke arahku dan menatapku dengan tatapan tak percaya. “Baru semalam anda ditabrak oleh seorang pengemudi mobil. Anda terbaring lemah dan dokter sudah memfonis kedua kaki anda lumpuh. Sungguh tidak bisa ku percaya sekarang anda berdiri di hadapanku dan terlihat sangat sehat.”

Matanya hitamnya berbinar-binar. Aku menilik wajahnya dan ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah berada di rumahku semalam. Ia mirip dengan Julie, tapi ku rasa ia bukan Julie. Dan ditabrak mobil? Lumpuh? Kenapa semua pernyataan itu ditujukan padaku?

Aku kembali menoleh ke arah tempat tidur. Dan aku sungguh dibuat tidak bisa bernapas selama beberapa detik saat menyadari lelaki yang tadi terbaring di sana kini menghilang tanpa bekas. Ke mana perginya ia? Aku yakin baru saja aku melihatnya! Aku bahkan menyentuh punggungnya! “Oh Tuhan… Luka-lukanya bahkan menghilang sama sekali…” ia menyentuh wajahku dan mengamatinya, hal yang sama dengan yang Julie pernah lakukan dan ia juga menciptakan perasaan yang sama. Dan seakan telah memperoleh pencerahan, aku tiba-tiba menghambur memeluknya.

“Eh? Tuan, apa yang anda lakukan?” tanyanya canggung namun aku tidak peduli. Sekarang aku paham. Kecelakaan itu… Rumah sakit ini… Julie… Orang yang seharusnya terbaring lumpuh… Perawat ini… Dan aku sendiri…

“Takdir sudah berubah… Inilah yang seharusnya terjadi…” bisikku tepat di telinganya. Berbeda saat aku memeluk Julie sebelum ia pergi, wanita ini terasa hangat. Dan aku bisa merasakan hembusan napasnya di leherku.

 

 

THE END

Inspirated by a Japanese Movie “Cyborg Girl”

Err, sudah lama tidak menghidupkan blog ini ._. *bersih2* Sebenarnya ini ff lama. FF ini aku pake untuk meramaikan ffindo project tahun lalu. Ada yang beli bukunya? Kalo ada, mungkin kalian sudah membaca ff ini di sana. Hehe. Cast aslinya memang aku pake suami tercinte si Taemin, tapi di bukunya aku ganti jadi suami ane yang lain Shim Changmin oleh karena sesuatu dan lain hal wkwk. Harusnya sih ffnya gak boleh di publish. Tapi berhubung bukunya kayaknya udah gak diproduksi lagi, biar banyak yang baca (sekalian supaya blog ini update sedikit -_-v) akhirnya aku publish juga. Maap *sungkem ama panitianya*. Lagipula sampai sekarang ff ini belum ada yang ngomen, padahal di profil authornya aku udah cantumin alamat blog dan twitter buat yang mau ngomen atau ngasi kritik saran. Jadi, dengan harapan yang sangat besar agar ff ini ada feedback dari pembaca, mohon dikomen ya. Anyway I MISS YOU ALL!

Advertisements

23 thoughts on “JULIE – A Message from Future

  1. halo Kyung unni! Udah lama aku gak mampir ke sini :3 masih inget gak? kalau nggak coba buka page about me punya unni/maksa/

    Ya ampun aduh ini FF nya keceee. Ide ceritanya juga kereen. Pokoknya aku bilang FF ini bagus banget, kece, keren. Duh Taemin-ku :s

    Keep writing yaa dan ditunggu yang lain 😀

  2. Waaaaah!!!! *tepuk tangan kayak topeng monyet*
    Hallo eonni! Aku pengunjung baru ^ ^ Sebenarnya sih bukan fansnya taemin .
    aku tau wp ini karna eonni komen disalah satu wp.
    Ketemu lagi sama great author! Kapan ya bisa buat cerita yan kayak gini…
    Waktu baca akhirnya aku merinding. hehee. Great deh!!!
    aaah Eonni!! FF-nya kereeen!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s