Always Love

Always Love

 

Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Kim Kibum

                                    Park Eun Sa

Genre              :           Romance

Rating             :           PG-13

Disclaimer      :           Mine mine mine!

Backsound     :           SHINee – Always Love

PS 1                :           Sangat disarankan baca ini sambil dengerin backsoundnya ya…

PS 2                :           Yang merasa punya nama, pinjam ya… Hehe…

+++

I found a rainbow in the gap between tall buildings one day
At the city after the rain
I want to show it to you too
While thinking so
A smile unknowingly broke across my face
Even when i depressed, i think of you
It’s really strange

(SHINee – Always Love)

+++

(Park Eun Sa POV)

Brakk!

“Oops…” gumamku datar sesaat setelah aku mengerem mobilku secara mendadak. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Aduh, jangan bilang kalau barusan aku menabrak lagi, huh? Ku coba untuk melongokkan kepalaku perlahan-lahan ke arah sebuah sedan tanpa atap yang ada di hadapanku, dan aku hanya bisa melongo saat si pengendara sedan hitam itu berdiri menapakkan kakinya di atas jok mobil, melangkahi jok bagian belakang dan, oh! Sekarang, tanpa peduli bahwa saat ini kami sedang berada di tempat ramai, tanpa peduli bahwa semua kendaraan sedang berhenti karena lampu lalu lintas yang berwarna merah itu menatap ke arah kami, dan tanpa peduli bahwa kini ia sedang berdiri menapakkan bootsnya dengan santai di atas bagasi belakang mobilnya yang jelas terlihat aneh! Somebody, please tell me that he is crazy…

Ia menaikkan kerah kemejanya dengan angkuh, menanggalkan kacamata hitam yang sedari tadi melekat di wajahnya lalu menatapku dengan mata yang dipicingkan menembus kaca mobilku.

“Permisi nona, ku rasa kau sadar apa yang telah kau lakukan.” lelaki itu mulai membuka mulut. Suaranya yang samar-samar terdengar sedikit bercanda namun sarat akan sindiran.

“Oh, iya iya! Aku sangat tahu! M..maaf!” ujarku buru-buru.

“M..maaf?” ulangnya dengan alis yang mengkerut. Ia mengalihkan pandangannya ke arah bagian belakang mobilnya yang kini agak penyok lalu kembali menatapku beberapa detik kemudian. Mengerti apa yang ia maksud, aku segera melanjutkan.

“Oh untuk masalah itu, tenang saja aku akan ganti rugi.”

Ia mengernyitkan dahinya sebentar lalu tiba-tiba melompat turun ke jalan. Ia mendekat, mengetuk-ngetuk  kaca mobilku dan membuatku buru-buru menurunkan kaca.

“Ganti rugi huh?” ia melongokkan kepalanya begitu saja masuk ke dalam mobilku.

“Eh? Iya iya, aku akan ganti rugi! Tenang saja!” aku agak menjauhkan tubuhku darinya. Dari jarak seperti ini, aku baru sadar kalau lelaki ini mencukur habis sebagian rambutnya, di sisi sebelah kanan. Errrghh…

Tiiiinn… Tiiiinn! Tiiiinnn!

Aku tersentak saat kendaraan-kendaraan lain yang ada di belakang tiba-tiba membunyikan klakson dengan brutal. Aku menengok ke arah lampu yang sudah memberi aba-aba untuk jalan. Aku mulai panik sementara lelaki itu tetap tidak bergeming dari kaca mobilku. Dalam keadaan yang sangat mencekik ini, otakku dipaksa untuk memikirkan jalan keluar.

“Err, sebelumnya aku sungguh memohon maaf yang sebesar-besarnya. Yeah aku tahu kata maaf saja tentu tidak cukup. Aku tetap akan ganti rugi tapi sepertinya keadaan tidak memungkinkan. Bagaimana kalau kau simpan dulu kartu identitasku ini. Kapanpun kau punya kesempatan, kau bisa menghubungiku, identitasku lengkap, di sini juga ada alamat dan nomor teleponku,” ujarku dengan cepat sembari merogoh kartu yang ada di dompetku.

“Oh iya, agar kau tidak menganggapku ingin kabur dari masalah ini, kau boleh memegang SIM ku untuk sementara.” aku menyerahkan kartu-kartu itu ke arahnya. Ia menerimanya dengan kening yang masih berkerut, namun karena klakson-klakson yang terus berbunyi tidak sabaran, ia akhirnya berlalu menuju mobilnya.

Tak berapa lama kemudian ia akhirnya melajukan mobilnya, begitu pula dengan aku. Mobil itu berbelok ke arah kanan sementara aku membelokkan mobilku ke arah sebaliknya. Oke, ku rasa kepalaku mulai terasa pening. Ini merupakan mobil keempat yang aku tabrak bulan ini. Hhh, mengenaskan sekali. Dan yang paling penting saat ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi dosenku sebab kali ini aku terpaksa terlambat lagi.

+++

Baru beberapa menit aku duduk di bangkuku (setelah sebelumnya mendapat ceramah singkat dari dosen mengenai masalah keterlambatanku, tentu saja) aku merasakan ponselku bergetar. Diam-diam aku merogoh saku jeans-ku. Nomor siapa ini?

Untuk menghindari kemungkinan bahwa dosenku akan segera menelanku hidup-hidup jika aku menjawab telepon ini sekarang, aku segera me-reject-nya. Aku kembali mencoba untuk mengumpulkan konsentrasiku pada kuliah namun lagi-lagi nomor asing itu tak henti-hentinya memanggil sementara aku juga tak henti-hentinya menekan tombol reject. Tak beberapa lama kemudian, sebuah pesan singkat muncul menggantikan panggilan telepon dari nomor yang tak ku kenal itu.

Kenapa tidak diangkat, Park Eun Sa? Atau jangan-jangan, kau tidak mau bertanggung jawab?

Aku menepuk jidat setelah membaca isi pesannya. Dari maksud pesannya aku langsung tahu kalau dia adalah si lelaki botak sebelah itu. Aku lalu segera mengetikkan balasan dengan hati-hati.

Maaf, aku sedang kuliah. Kalau kau mau, kita bisa ketemuan sore ini setelah jam kuliahku selesai.

Aku menekan tombol send dengan hati gusar. Ck, orang ini tidak mengerti saja!

“Ehmm! Sudah selesai berurusan dengan ponselmu, Park Eun Sa?” suara berat yang ditujukan padaku itu seketika membuatku membatu. Aku melirik ke sumber suara dengan takut.

“M..maaf…” hanya kata-kata lirih itu yang sanggup keluar dari mulutku yang terasa membeku.

“Baiklah, dimaafkan. Tapi sekarang juga keluar dari kelas ini! Dan oh iya, kau ku anggap mengulang untuk mata kuliahku.” ujarnya gamblang sebelum berlalu dari hadapanku.

Oh. Ku rasa hari ini memang hari yang sangat sial untukku.

+++

Aku berjalan tergesa-gesa menuju tempat dimana aku memarkirkan mobilku dan setibanya di sana, aku dikejutkan dengan sebuah penampakan manusia yang sedang bertengger manis di kap mobilku. Aku lalu semakin mempercepat langkahku mendekat ke arahnya.

“Hey? Bukannya kamu lelaki yang tadi pagi? Dan, apa yang kau lakukan di mobilku?” aku buru-buru menghujaninya pertanyaan. Ia melompat turun dan berdiri persis di hadapanku.

“Aku? Aku ingin bertemu denganmu…” ujarnya dengan permen karet yang ia kunyah dengan santai.

“Ya tapi bukannya kita janjian besok?”

“Hm, ku rasa tidak masalah kalau dipercepat sekarang juga.”

“Hhh, oke… Oke… Kalau begitu lebih baik kita ke café kampusku.” ajakku padanya. Ia mengangguk sekali kemudian berjalan mengikuti langkahku. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa mendengus melihat tingkahnya yang terus-terusan mengedipkan matanya ke tiap yeoja yang ia temui. So flirting!

Setibanya di café, aku memilih tempat terdekat dan langsung duduk. Tanpa mau berbasa-basi, aku langsung mulai membahas masalah mobilnya, namun ia tidak memperhatikanku. Ia terlihat sibuk memanggil pelayan dan mulai memesan beberapa makanan, membuatku lagi-lagi hanya bisa mendengus melihat tingkahnya. Menyebalkan.

“Oke jadi bagaimana caranya agar aku bisa mengganti rugi, tuan, err, maaf, namamu siapa?”

“Kibum. Kim Kibum.” ia mengangguk mantap.

“Oh iya, Kibum-ssi, jadi…”

“Ah lebih baik kita makan dulu, pesanan sudah datang.” ia memotong perkataanku sembari menyambut piring spaghetti yang kini ada di hadapannya. Aku menepuk jidat kesal, terlebih saat tahu bahwa ternyata ia juga memesan sepiring untukku di saat aku tidak dalam keadaan mood untuk makan.

“Oke, jadi sampai mana kita tadi, Park Eun Sa-ssi?” tanyanya dengan mulut yang masih mengunyah. Sampai mana? Kita bahkan belum mulai sama sekali! Argh, seandainya aku tidak ingat bahwa aku yang telah bersalah menabrak mobilnya tadi pagi!

“Hhh, sepertinya kartu identitasku telah memberikanmu banyak informasi sampai-sampai kau bisa menemukanku di kampus, Kibum-ssi.” ujarku tidak bergairah sambil mengaduk-aduk spaghetti di hadapanku dengan garpu. “Bagaimana kalau hari ini juga mobilmu dimasukkan ke bengkel. Untuk biaya perbaikannya biar aku yang menanggungnya.”

“Jangan bercanda…”

“Heh? Maksudnya? Aku sama sekali tidak bercanda.”

“Tidak perlu. Kau pikir aku tidak punya uang untuk memperbaikinya sendiri?”

“T..tapi aku yang bersalah, jadi…”

“Tidak perlu…” ucapnya santai dengan mulut yang dipenuhi spaghetti.

“Lalu, untuk apa kau datang menemuiku kalau bukan untuk meminta ganti rugi?” protesku.

“Tadi kan aku sudah bilang. Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

“Hanya itu?”

“Yeah.”

Seketika itu pula aku menarik tasku dan bersiap-siap untuk meninggalkan namja stress ini. Aku melangkahkan kakiku dengan terburu-buru menjauhi café itu namun tak beberapa lama kemudian ia akhirnya bisa menyusulku dan menjajari langkahku.

“Hey, kenapa pergi?” tanyanya tanpa rasa berdosa sedikitpun. Aku mendelik tajam ke arahnya.

“Ku rasa urusan kita sudah selesai.” tukasku dingin.

“Siapa bilang?”

“Bukannya kau sendiri yang tidak ingin aku mengganti rugi?”

“Memang…”

“Kalau begitu…”

Brukk!

Aku tiba-tiba terjengkal ke belakang saat aku merasa dahiku menubruk sesuatu. Aku meringis pelan sembari mengusap dahiku yang terasa sangat sakit.

“Astaga, sampai berdarah seperti itu…” gumam namja itu sembari memperhatikan dahiku. Aku hanya menunduk lemas sembari menutupinya dengan jari-jariku.

“Cuma lecet sedikit… Lagipula pohon sebesar itu apa kau tidak melihatnya?” lanjutnya sambil tertawa pelan. Ku sentakkan kakiku lalu kembali berjalan, dan ia masih saja terus mengikutiku.

“Hey, mari kita obati.” ia mencengkram lenganku.

“Tidak usah! Lebih baik kau pulang saja, Kibum-ssi! Ku rasa terlalu lama berurusan denganmu membuatku terus-terusan sial!”

Ku tarik lenganku dari genggamannya lalu segera meninggalkannya.

“HEY, KAU TERNYATA SEMAKIN CANTIK KALAU MARAH SEPERTI ITU!” pekiknya dari kejauhan. Aku menanggapinya dengan menendang kaleng minuman yang kebetulan menghalangi jalanku.

+++

Seminggu berlalu sejak kejadian aku menabrak mobil Kim Kibum namun namja itu masih saja muncul di hadapanku. Entah itu mendatangi kampusku saat jam kuliah berakhir atau bahkan mendatangi rumahku. Kalau seperti ini, aku merasa sangat menyesal telah membeberkan identitasku padanya, terlebih kartu-kartu itu baru ia kembalikan tiga hari yang lalu setelah ia mengaku telah menghapal semua data-data yang ada di dalamnya.

“Jadi, ku rasa sekarang kau tidak punya alasan lagi untuk menolak ajakanku, Eun Sa…” ujarnya seraya melipat tangan di depan dada dan berdiri di ambang pintu rumahku.

“Pergi sekarang juga atau aku akan teriak…” ancamku padanya.

“Mau teriak bagaimana? Di rumah ini kau hanya tinggal sendiri. Dan ku jamin suaramu tidak akan sampai di telinga tetanggamu.” ia mendesak dan mendorong tubuhku masuk ke dalam rumah.

“H..hey! Mau apa kau?!”

Ia terus-terusan mendekat, membuatku berjalan mundur beberapa meter hingga punggungku menabrak dinding. Ia mendekatkan wajahnya, menatapku dengan tatapan yang sangat.. horor…

“K..kau jangan macam-macam… Apa maumu?!”

“Mauku?” ia berdecak sejenak lalu menjauhkan wajahnya. “Sebenarnya sederhana, dan sejak beberapa hari yang lalu aku sudah mengatakannya. Aku cuma ingin mengajakmu makan malam. Tidak sulit, bukan?”

“Tapi aku sibuk! Aku punya banyak tugas kuli.. Ah oke! Oke!” aku akhirnya memenuhi permintaannya saat ia lagi-lagi mendekatkan wajahnya ke arahku.

“Bagus.” ia mengangguk-angguk pelan.

“Hhh, ya sudah. Tunggu di luar, aku mau ganti baju dulu!”

“Ah tidak usah…” ia menarik tanganku lalu memaksaku untuk berjalan mengikutinya.

“Heh? Bagaimana bisa hanya mengenakan pakaian rumah seperti ini?!” pekikku sambil meronta-ronta, namun percuma sebab ia tetap terlihat menarikku dengan mudah.

“Tidak perlu. Begitu saja kau sudah cantik.” ia menoleh lalu mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Yuck, ku rasa aku ingin muntah!

Dan beginilah sekarang, aku akhirnya berhasil diseret ke sebuah restoran mewah dengan hanya memakai kaos belel dan celana pendek yang tak kalah mengenaskannya untuk digunakan di tempat ini, sementara ia terus melangkah penuh percaya diri dengan kaos putih yang dibalut tuxedo hitamnya. Sungguh penampilan yang sangat kontras! Kurang ajar!

Setelah duduk di sebuah meja yang letaknya agak menyudut, ia memanggil seorang pelayan dan mulai memesan beberapa makanan.

“Mau makan apa?” tanyanya padaku.

“Terserah.” aku membuang muka. Ku dengar ia terkikik pelan.

“Eun Sa?”

“Hm?” aku melirik malas ke arahnya. Dan errgh, panggilannya terdengar sok akrab sekali!

“Jadi sebenarnya aku ingin memintamu untuk menjadi pacarku.”

Aku langsung terbatuk-batuk saat mendengar pernyataan yang keluar dengan mudahnya dari mulut menyebalkannya itu. Aku menatap tak percaya ke arahnya, sementara ia terlihat menyandarkan punggungnya di kursi sembari mengunyah sesuatu.

“Apa kau bilang?”

“Bukannya sudah jelas? Aku mau kau jadi pacarku.”

“Tidak mau!” tolakku ketus.

“Kenapa? Ku jamin kau akan bahagia bersamaku.” ujarnya dengan penuh percaya diri. Aku tertawa dalam hati mendengarnya.

“Kau? Akan membuatku bahagia? Hahaha! Jangan bercanda!”

“Aku serius.”

“Maaf tapi aku tidak mau!”

“Kenapa?”

Aku bangkit dari kursiku dan berjalan ke hadapannya.

“Karena aku tidak suka padamu. Kau menyebalkan. Kau suka memaksa. Kau sombong. Kau punya gaya rambut yang aneh. Gaya fasionmu juga! Kau tipe namja yang suka menggoda yeoja. Dan ku rasa kau hanya memandangku dari segi fisik, bukan? Kau hanya sering bilang kalau aku ini cantik, dan itu membuat perutku mual!”

“Memang kenyataannya kau cantik.”

“Hha… Kau ini lucu sekali!” aku membalikkan tubuhku lalu melangkah pergi. Aku tidak habis pikir, namja macam apa dia? Bagaimana bisa ia meminta seseorang yang baru dikenalnya seminggu lalu untuk menjadi pacarnya? Tapi walaupun sudah kenal lama, aku tetap tidak akan mau dengan namja bertampang playboy seperti dia.

Brukk!

Aku seketika terduduk di lantai restoran saat tubuhku menabrak sesuatu yang sangat keras. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan barulah aku bisa melihat kalau ternyata aku baru saja menabrak tiang. Arrgh, memalukan!

“Hati-hati kalau jalan.” Kim Kibum tiba-tiba saja sudah berada di sampingku dan membantuku untuk berdiri. Aku mengusap-usap dahiku, menatapnya sesaat kemudian berlalu dengan kesal meninggalkannya.

“Eun Sa, kau ini kenapa?” tanya Kim Kibum saat ia berhasil menjajari langkahku.

“Kenapa apanya?” tanyaku ketus.

“Kau ini selalu saja teledor saat berjalan. Waktu itu kau menabrak pohon dan sekarang tiang? Kau taruh di mana matamu?”

PLAK!

Refleks aku berbalik dan menamparnya. Ku lihat ia membelalak kaget.

“Ku mohon jangan ganggu aku lagi.” tegasku padanya lalu segera melanjutkan langkahku keluar dari restoran.

“Tunggu! Biar aku antar kau pulang!”

Aku tidak mempedulikannya. Aku menahan sebuah taksi lalu segera masuk ke dalamnya. Ku minta sopir taksi itu untuk segera melajukan taksinya dengan cepat.

+++

Aku membuka mataku perlahan-lahan dan langsung terduduk di atas tempat tidur saat mendapati diriku berada di sebuah tempat yang asing. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan dan barulah aku tahu kalau aku sedang berada di rumah sakit saat seorang perawat masuk dan mengecek keadaanku.

“Bagaimana bisa aku ada di sini suster?” tanyaku padanya.

“Oh, semalam anda pingsan.”

“Lalu siapa yang membawaku ke sini?”

Suster itu lalu mengisyaratkan untuk melirik ke arah sofa yang ternyata berisi seorang namja yang sedang tertidur pulas.

“Apa ia menginap di sini semalaman?” tanyaku lagi dan suster itu hanya mengangguk. Aku membelalak sambil menganga tak percaya. Namja itu…

Setelah suster itu beranjak, aku meraih kotak tissue yang ada di sampingku lalu melemparnya sekuat tenaga hingga mengenai bagian wajahnya. Seketika ia tersentak bangun dan berdiri.

“Sedang apa kau di situ?”

“Tidur.” jawabnya polos.

“Ish, maksudku bukan itu!”

“Ohh… Memangnya kenapa? Harusnya kau berterima kasih karena aku sudah membawamu ke sini. Kalau tidak ada aku, kau pasti akan tiduran sepanjang malam di jalan depan rumahmu.”

“Jadi kau mengikutiku?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Untuk apa kau mengikutiku huh?”

“Kau belum bilang mau jadi pacarku.”

“Memangnya siapa yang mau jadi pacarmu?”

“Kamu.”

“Jangan mimpi!”

Ia akhirnya hanya mengendikkan bahunya menanggapiku.

“Ya sudah, urusan itu kita selesaikan nanti saja. Yang jelas sekarang kau harus istirahat.” ia berjalan mendekat lalu mendorong bahuku untuk berbaring. Ia lalu menarik selimut dan menyelimuti sebagian besar tubuhku.

“Hey kau ini kenapa?”

“Kau harus istirahat. Kau harus cepat sembuh.”

“Memangnya kau siapa berhak mengatur-aturku seperti itu?”

“Pacarmu.”

“HEH! ENAK SAJA!”

“Tunggu di sini ya, aku beli sarapan dulu.” ia melangkah menuju pintu.

“HEY TIDAK USAH REPOT-REPOT! LEBIH BAIK SEKARANG KAU PULANG SAJA! DAN AKU TIDAK MAU JADI PACARMU!”

Brak!

Ia tetap berjalan keluar kamar tanpa mempedulikan kata-kataku. Aku menggerutu kesal kemudian melempar selimutku ke lantai.

+++

Sudah tiga hari aku dirawat di rumah sakit hari ini ku jamin Kim Kibum tidak akan datang lagi setelah aku mengusirnya dan mengancamnya jika ia muncul lagi di tempat ini.

Ayo buburnya dimakan dulu.” ujarnya waktu itu sambil menyodorkan sesendok ke arahku. Seperti biasa, aku hanya akan membuang muka saat ia berusaha untuk menyuapku.

Kau ini kenapa? Bukannya kau harus kuliah? Kenapa kau terus-terusan berada di sini?

Kalau aku tidak di sini, siapa yang akan menjagamu. Keluargamu kan tidak ada di sini.” jawabnya sembari menyodorkan kembali sesendok bubur itu.

Aku terus-terusan menolak dan seperti biasa, saat ia sudah merasa lelah untuk membujukku ia akhirnya berhenti dan menaruh makanan itu di atas meja.

Sebenarnya kau ini sakit apa?” ia ikut duduk di ranjangku.

Bukan urusanmu. Oh iya, kau mau melihatku sembuh bukan?

Hm, yeah.

Kalau begitu jangan datang ke tempat ini lagi.

Kenapa?”

Please!

Dan benar saja. Semenjak itu ia tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Akhirnya aku bisa menikmati makananku tanpa perlu merasa terusik karena kehadirannya. Hm, apalagi semua makanannya adalah makanan favoritku.

+++

Hari ini aku sudah diperbolehkan untuk pulang, meskipun dokter mewanti-wanti agar aku tetap harus berhati-hati. Dan harapanku untuk memperoleh ketenangan saat aku keluar dari rumah sakit harus lenyap saat mendapati seseorang yang menyambutku di pagar rumahku.

“Selamat datang kembali.” ujarnya sembari membuka pintu pagar. Aku melangkahkan kaki lebar-lebar, tidak berminat untuk meladeninya.

“Kenapa kau datang lagi?”

“Sekarang sudah boleh, bukan? Bukannya waktu itu kau hanya bilang untuk tidak datang ke rumah sakit?”

Aku mendesah lalu akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan percakapan yang ku yakin tidak akan ada habisnya ini.

“Sudah cukup, sekarang kau boleh pulang. Dan terima kasih sudah menyambutku.” tukasku terakhir kali sebelum menutup pintu. Ia tidak bergeming namun tanpa peduli lagi aku langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.

Tidak bersemangat untuk melakukan apapun, aku akhirnya memilih untuk tidur. Aku masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan tubuhku ke atas tempat tidur. Belum beberapa menit aku tertidur, aku tiba-tiba terbangun saat mendengar sebuah suara yang sepertinya berasal dari luar. Betapa terkejutnya aku saat menoleh ke arah jendela kamarku dan mendapati Kim Kibum berdiri balik sana dan menatapku dengan ekspresi yang tidak kalah terkejutnya. Aku berteriak histeris lalu segera berlari menuju luar rumah. Dan saat aku membuka pintu, ternyata Kibum sudah ada di balik pintu.

“DASAR LAKI-LAKI KURANG AJAR! APA YANG KAU LAKUKAN HAH?! KAU MAU MENGINTIPKU?!” teriakku kesal ke arahnya sambil memukulinya dengan membabi buta.

“T..tunggu biar aku jelaskan! Jangan salah paham dulu! Aw!”

“DASAR BRENGSEK!”

“Sungguh aku sama sekali tidak ada niat untuk hal itu! A..aku… Aku hanya.. khawatir..”

“APA? HAH! JANGAN BANYAK ALASAN!”

“Eun Sa, kenapa kau tidak pernah mau percaya padaku? Memangnya aku kenapa?”

“Kau memang tidak bisa dipercaya! Memangnya kau ini siapa? Kau tidak lebih dari seorang asing yang sangat menyebalkan! Kau pengganggu hidupku! Kau sumber kesialanku!”

“Kenapa? Aku rasa aku tidak pernah berniat untuk merugikanmu. Dengarkan aku, aku suka padamu. Dan sepertinya, aku cinta padamu.”

“Memangnya apa yang kau suka dariku? Ku beritahu padamu, lebih baik kau lupakan saja niatmu untuk menjadikanku pacarmu!”

“……”

“Kau ingat kenapa aku bisa menabrak mobilmu? Kau ingat kenapa aku sering menabrak pohon atau tiang atau apapun yang jelas-jelas ada di hadapanku?”

“……”

“Itu semua bukan karena aku teledor atau tidak memperhatikan keadaan! Coba lihat mataku!”

“……”

“Kau lihat ini! Penglihatanku sudah terganggu! Kanker sudah menggerogoti mataku! Asal kau tahu, tak lama lagi kedua mataku ini akan buta! Bola matanya akan diangkat! Sekarang bagaimana menurutmu? Apa kau mau punya pacar yang tidak punya bola mata? Apa kau mau punya pacar yang terlihat mengerikan? HAH?!”

Napasku tersenggal-senggal. Aku menilik dirinya dengan seksama. Seperti yang sudah ku duga, dia tampak shock mengetahui kenyataan ini.

“Jadi sekarang lebih baik kau pulang dan anggap saja kita tidak pernah saling kenal! Aku tidak percaya pada semua pria, terlebih pada pria sepertimu!” ucapku di sela-sela kekuatan dan keberanian yang masih tersisa. Dan sebagai penutup dari semuanya, aku membanting pintuku sekuat tenaga, membiarkan pria yang tidak tahu apa-apa itu tenggelam bersama keterkejutannya. Kalau sudah seperti ini, aku bertaruh apa ia masih mau membuka mulut bahwa ia mencintaiku? Bullshit!

+++

Tepat dua hari setelah itu, semuanya benar-benar terjadi. Hal yang paling ku takutkan, aku tidak mengira semuanya akan secepat ini. Sebelumnya aku hanya membuka mata dan semuanya, gelap… Aku kehilangan penglihatanku. Dan semuanya seketika terasa hampa.

Aku sedih. Aku takut. Aku kecewa. Tapi aku tidak pernah menyalahkan penyakitku. Sebab apapun yang terjadi, aku tetap harus melanjutkan hidup.

Semua tidak seburuk yang pernah ku katakan. Mereka hanya mengangkat kornea mataku, bukan mengangkat keseluruhan bola mataku hingga membuat rongganya kosong tak berisi. Bukan. Tapi tetap saja, aku buta.

Ya, aku buta, tapi aku terus berusaha untuk tidak patah semangat. Aku menjalani kehidupanku meskipun tanpa tahu arah yang jelas.

Hingga setahun berikutnya, aku tetap bertahan. Keadaanku ini tidak boleh mematahkan cita-citaku. Tahun ini adalah tahun terakhir kuliahku. Setiap pagi aku masih tetap berangkat ke kampus, meski semenjak buta aku tentu tidak lagi mengandalkan mobil pribadiku sebagai kendaraan dan harus menumpang sebuah bus setiap saat.

“Selamat pagi, Eun Sa.” seseorang dengan suara ramah menyapaku.

“Selamat pagi, Minho…” aku membalas sapaannya sambil tersenyum.

Namanya Choi Minho. Dia kuliah di kampus yang sama denganku, meskipun kami beda jurusan. Selama setahun ini, semenjak aku buta, setiap hari aku berada di bus yang sama dengannya. Di bus ini jugalah aku mengenal sosoknya, sosok yang sangat baik dan perhatian, sosok yang bersedia menjadi penunjuk jalanku, sosok yang sama sekali tidak malu berada di dekatku meski aku buta.

“Eun Sa, sudah sampai.” ia menuntunku untuk turun dari bus.

Sepanjang perjalanan menuju kelas, ia menggenggam tanganku erat, mengajakku mengobrol dan membuatku tertawa.

“Eun Sa, hari ini kau cantik sekali.” pujinya padaku. Aku hanya menanggapinya dengan tertawa pelan.

“Meskipun aku belum pernah melihat bagaimana wajahmu, aku yakin kau adalah pria yang tampan.” aku memujinya kembali. Rasanya tidak adil kalau selama ini hanya dia yang terus-terusan memujiku seperti itu.

“Nah sudah sampai.” ia memutar tubuhku.

“Oh, oke. Terima kasih sudah mengantarkanku ke kelas, Minho.” kalimat ini entah sudah berapa banyak ku lontarkan untuknya yang setiap hari berbaik hati untuk menuntunku.

“Oke, tapi sayangnya sekarang kita tidak sedang berada di kelas.” aku menangkap nada tawa tertahan dari kata-katanya.

“Hah? Kenapa? Kalau begitu sekarang kita sedang dimana?” tanyaku bingung. Ku rasakan ia memegang kedua pundakku.

“Eun Sa, di depan sini penuh dengan bunga-bunga. Cantik sekali. Maaf aku membawamu ke taman kampus dulu.”

“Oh. Tapi, untuk apa kita ke sini? Bukannya kita harus kuliah?”

“Tenang saja, masih ada setengah jam lagi sebelum kuliah dimulai. Aku menjamin kau akan tiba di kelasmu sebelum dosenmu masuk.”

“Oke baiklah… Tapi untuk apa kita ke tempat ini?”

Ku rasakan tangannya yang ada di bahuku kini menggenggam kedua tanganku.

“Eun Sa, maaf sebelumnya… Bukannya aku bermaksud untuk tidak sopan. Tapi, aku ingin kau tahu kalau, aku cinta padamu.”

Aliran darahku terasa berdesir seketika. Ku coba untuk mencerna kembali pernyataan yang baru keluar dari mulutnya itu. Apa aku tidak salah dengar?

“Eun Sa, aku benar-benar yakin dengan perasaanku ini. Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu dan aku janji aku akan selalu menjagamu. Jadi, bisakah kau beri aku kesempatan untuk menjadi seseorang yang spesial di hatimu?”

“T..tapi…”

“Ssshhttt…” ia membungkam mulutku. “Aku sangat berharap kau tidak menolakku. Ku mohon, beri aku kesempatan.”

Kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya, terlebih aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku juga mencintainya. Akhirnya aku menganggukkan kepalaku, membuatnya seketika menarikku ke dalam pelukannya. Dan di sini, aku bisa merasakan debaran jantungnya yang memompa hebat, membuatku bertambah yakin bahwa ia memang pria yang tepat.

“Terima kasih, terima kasih banyak, Eun Sa. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.” tuturnya girang.

“Aku juga, terima kasih atas semuanya.”

“Yeah, sekarang mari kita ke kelas. Tidak lama lagi kuliah akan dimulai.” ia mengingatkan lalu menggenggam tanganku. Aku mengikuti langkahnya dengan perasaan yang sangat ringan. Rasa-rasanya aku tidak pernah sebahagia ini.

“Eun Sa?”

“Ya?”

“Apa kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama?”

“Memangnya kenapa?” aku sedikit bingung dengan pertanyaannya yang tiba-tiba itu.

“Itulah yang terjadi padaku. Aku mencintaimu, sejak pertama kali kita bertemu…”

“Oh ya?”

“Yup. Apa kau masih ingat bagaimana kita pertama kali bertemu?”

Aku melayangkan pikiranku, memaksa otakku untuk mengingat kejadian dimana aku pertama kali bertemu dengan Minho.

“Ku rasa, waktu itu kau menolongku untuk turun dari bus.”

“Oh ya? Hm, berarti kau sudah tidak ingat lagi.”

“Huh? Bukannya memang seperti itu?”

“Ckck, Eun Sa, apa kau tidak ingat, waktu itu kau menabrak bagian belakang mobilku.”

“Maksud kamu?”

“Ya. Kau bilang kau mau ganti rugi, dan kau memberikanku kartu identitasmu.”

Seketika itu pula aku langsung terkejut setengah mati. Aku menghentikan langkahku.

“S..siapa sebenarnya kau?”

“Aku? Apa kau sudah benar-benar lupa denganku? Hm, apa kau ingat dengan rambutku yang botak sebelah dulu? Sekarang aku sudah menggantinya. Rambutku kini sudah tumbuh dan tertata rapi. Coba rasakan.” ia menarik tanganku dan mengusapkannya pada rambutnya. Memang benar, rambutnya terasa rapi.

“Aku juga sudah berpakaian lebih rapi. Waktu itu kau bilang gaya berpakaianku aneh. Padahal dulunya aku kira itu keren.”

“Jadi… Selama ini kau membohongiku? Kenapa?”

Aku mendengar ia menghembuskan napas. Cukup lama aku menunggu hingga akhirnya ia kembali membuka mulut.

“Eun Sa, untuk urusan itu, aku sungguh minta maaf. Kau harus dengar penjelasanku. A..aku tidak mungkin muncul lagi di hadapanmu dengan membawa identitasku yang sebenarnya. Aku sudah yakin kau pasti akan marah dan tidak ingin menemuiku, meskipun sebenarnya aku tidak tahu alasan kenapa kau seperti itu padaku.”

“……”

“Semenjak kau memberitahukanku tentang penyakitmu dulu, aku sama sekali tidak peduli. Yang ku rasakan waktu itu hanya, aku harus melindungimu…”

“……”

“Oleh karena itu, aku muncul kembali dan mengaku sebagai Choi Minho. Karena dengan begitu, mungkin kau mau sedikit menerima keberadaanku. Semenjak itu pula aku memutuskan untuk pindah ke tempat kuliahmu, supaya aku bisa menjagamu.”

“……”

“Eun Sa, aku sungguh minta maaf kalau dulunya aku selalu membuatmu kesal. Sungguh, waktu itu aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Ku akui, beberapa sifatku yang dulu memang sangat buruk. Tapi selama ini aku berusaha untuk mengubahnya, kau tahu itu kan? Kau sudah mengajariku semuanya.”

“……”

“Selama setahun ini aku hanya ingin membuktikan padamu bahwa aku benar-benar serius. Ku harap kau mau mengerti.”

Semua penjelasannya hanya semakin membuatku tidak bisa berkata-kata.

Ku arahkan jemariku untuk mencoba meraba wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya… Bibir ini, bibir cerewet dan menyebalkan ini…

“Kim Kibum…” setelah sekian lama akhirnya aku menyebut namanya kembali. Kali ini bukan dengan perasaan jengkel dan marah, tapi dengan perasaan bahagia dan haru.

+++

Everyday everywhere

Definitely under the same sky

If you could just believe in me

Just that makes me happy

Thank you for your cheering me

Thank you for your cheering me

Always love…

Always love…

 

THE END

 

takjelastakjelastakjelaslalalalalala -_-v

sorry ya aku kambek malah bawa ff kayak ginian -_-v

btw, masih ada yang mau ngomen nggak? please? ._. *dudukdipojokan*

Advertisements

57 thoughts on “Always Love

  1. So cooool…ak pingin deh ad diposisi eun sa(tpi gk pake buta, hhe)pasti keren!
    Love at the first sight!kekeke~^^

  2. aaaaak eonni aku jg kambek komen yak! Lama gak mampir ke wp ini udah disambut ff beginian u,u
    ceritanya pertama kirain si cewek ceroboh, ternyataaaaaa.
    Oke sip ff cetar badai ulalaaa~

    • haloo firdaaa..
      wah ini komenmu udah lama aku baru bales huhu maapin /_\
      makasih ya udah baca.. miss u :*

  3. Wah, ga nyangka cewenya bakalan buta. awalnya, kupikir ini bakalan jadi romance-comedy gitu soalnya lucu aja gtu waktu Key ngejar2 Eunsa sampe bkin eun sa kesel setengah mati. Tapi tetiba Eun sa-nya harus buta, jdi gak ga relaa juga.hhe.
    oKEY, sekian komenku. mau muter2 lagi baca ff yg lain b^^d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s