Marrylicious

Marrylicious

 

Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Kim Jonghyun

                                    Jung Seulgi

Other Cast     :           Kim Hyeji

                                    SHINee – Choi Minho

Genre              :           Romance, Friendship

Rating             :           PG-15

Length            :           One Shot

Disclaimer      :           This story belongs to Ika Natassa. Thanks for being my inspiration ^^

PS                   :           Yg merasa namanya dipinjam tanpa izin, sorry ya~ =D

+++

“Uhukk… Apa yang kau katakan tadi?” Hyeji yang sedang asyik mengunyah makanannya terbatuk-batuk seketika saat mendengar perkataanku.

“Menurutmu Miss?”

“ Jonghyun oppa sudah melamarmu huh?” ia mencoba untuk memperjelas kembali. Bisa ku lihat bola matanya seperti sudah ingin keluar dari tempatnya. Hhh, apa harus sekaget itu?

“Yup…” jawabku mantap.

“Serius? Yang benar?”

“Iyaaa… Ish memangnya apa gunanya aku bercanda?” aku sedikit membungkuk untuk memukul Hyeji yang duduk di depanku. Lama-lama aku mulai kesal meladeni setiap pertanyaannya yang seakan-akan tidak percaya dengan apa yang sudah ku katakan.

“Oh My God… Akhirnya…” kali ini ia meletakkan sendoknya dan tidak lagi peduli dengan makanannya yang jelas masih tersisa banyak itu. Aku hanya mengendikkan bahuku cuek sembari terus menikmati hot vanilla-ku dengan santai. “Jadi kapan rencana kalian untuk menikah?”

Aku mulai mengaduk-aduk isi cangkirku dengan sendok, tidak berminat sama sekali untuk menanggapi pertanyaannya.

“Ya! Jung Seulgi! Aku tidak sedang berbicara dengan batu! Jawab pertanyaanku!”

“Ow… Santai miss, santai… Baru rencana saja kau sudah heboh seperti ini huh? Masih banyak kemungkinan lain yang bisa terjadi…” ujarku santai dengan nada yang sedikit mengejek.

“Ya! Ya! Ya! Aku tidak akan seheboh ini kalau saja yang akan menikah itu bukan kakakku dan sahabatku sendiri!” cercanya dengan emosi yang mulai naik. Aku hanya terkikik pelan melihat reaksinya. Ish, Hyeji ini, sifatnya memang betul-betul sama dengan oppa-nya. Sama-sama gampang naik darah. Astaga…

Ya, Kim Jonghyun dan Kim Hyeji ini memang pasangan kakak-adik yang sifatnya benar-benar tidak jauh beda. Aku bersahabat dengan Hyeji sudah cukup lama, sejak kami sama-sama masih berada di bangku sekolah. Mungkin kami berdua memang sudah ditakdirkan untuk terus bersama sejak kami pertama kali bertemu di bangku senior high school dulu, karena bukan sebuah kebetulan kalau aku dan Hyeji memiliki bakat dan minat yang sama di dunia bisnis hingga membawa kami untuk melanjutkan kuliah di tempat yang sama. Tidak hanya itu, bahkan kami berdua sekarang bekerja di sebuah perusahaan yang sama.

Kim Jonghyun. Pria bertubuh cukup kekar dengan tinggi badan yang pas-pasan, seorang dengan tipe pekerja keras dan menjabat sebagai seorang manajer bagian pemasaran di sebuah perusahaan lain yang cukup terkenal di negara kami. Hyeji-lah yang membuatku bisa mengenal pria itu sejak dua tahun yang lalu, hingga sampai saat ini kira-kira pria itulah yang nantinya akan menjadi pendamping hidupku.

“Jadi sebenarnya kapan kalian akan menikah hah?” Hyeji kembali menyadarkanku dari lamunanku. Satu lagi sifat Hyeji dan Jonghyun yang sama. Mereka sama-sama tidak akan menyerah untuk terus bertanya sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.

“Minggu depan.”

“HAH?!”

Kali ini giliran aku yang terbatuk-batuk karena mendengar pekikan Hyeji.

“Kenapa lagi huh?”

“Kau tidak sedang bercanda kan?”

“Ah kalau begitu terserah kau sajalah…”

“Tapi kenapa kesannya jadi terlalu terburu-buru seperti itu?”

“Kenapa? Kau tidak suka kalau oppa-mu menikah denganku?”

“Bukan begitu… Tapi sungguh, minggu depan itu bukan waktu yang panjang… Kalian baru saja memutuskan untuk menikah lalu ingin merealisasikannya secepat itu? Hey, menikah itu tidak gampang… Banyak yang harus dipersiapkan. Mulai dari restu orang tua, gaun, pesta, pokoknya semuanya. Apa kau sanggup mempersiapkan semua itu hanya dalam waktu seminggu?” ia mulai berbicara panjang lebar. Aku meneguk hot vanilla-ku sekali lagi sebelum menjawab serentetan pertanyaannya.

“Hm, sebenarnya kami sudah lama merencanakan untuk menikah.”

“HAH?!!!!” dan teriakan Hyeji kali ini sukses membuat seluruh pengunjung café menoleh ke arah kami. Aku menepuk jidat seraya bersungut dalam hati. Arrgh, apa harus seheboh ini? Bukannya aku sudah cukup lama berpacaran dengan oppa-nya? Jadi ku rasa ekspresinya barusan benar-benar berlebihan.

“Cepat habiskan makananmu, aku akan menghubungi Jonghyun untuk menjemput…” tukasku menahan malu (akibat tatapan orang-orang yang masih belum sepenuhnya lepas dari kami) sembari merogoh ponselku dari dalam tas. Hyeji terlihat masih berkomentar namun aku menulikan telinga.

“Halo sayang…” seseorang di seberang telepon akhirnya menjawab teleponku setelah aku menghubunginya hampir sepuluh kali dan ia mengabaikannya.

“Ish, kenapa dari tadi teleponku di-reject terus huh?”

“Sorry… Aku baru saja selesai meeting dengan klienku… Yah kau pasti mengerti kan bagai…”

“Ya ya ya ya Kim Jonghyun kau sudah berulang-ulang kali mengatakan itu.” aku memotong pembicaraannya sembari tersenyum kecut.

“Aduh, pasti sekarang kau sedang cemberut ya? Jangan begitu… Hm, iya deh, aku rela melakukan apa saja yang kau mau asal kau berhenti marah. Peace, ok?” ia mulai lagi mengeluarkan jurus gombalnya… Astaga…

“Dengar ya, aku saat ini sedang tidak bersemangat untuk menanggapi gombalanmu. Yang perlu kau lakukan sekarang hanya datang ke sini dan jemput kami.”

“Eh? Sekarang kau sedang dengan siapa? Di mana?”

“Di café lantai dasar kantorku. Aku sedang bersama Hyeji. Cepatlah, aku sudah ingin pulang.”

“Oh, ok. Nanti aku jemput…”

“Nanti?”

“Yeah, I’m so sorry darling… Aku masih harus menyelesaikan beberapa dokumen. Tidak lama, cuma sekitar dua jam lagi. Bagaimana cantik?”

Klik!

Aku memutuskan sambungan telepon tanpa menanggapi perkataannya yang terakhir. Pria ini, arrrghh!

“Ada apa?” Hyeji yang tadinya sempat berhasil untuk terdiam beberapa saat kini mulai bersuara lagi.

“Hhh, sudahlah. Ku rasa lebih baik kita pulang dengan taxi saja.”

“Heh? Kenapa? Bukannya Jonghyun oppa mau menjemput?”

“Aku tentu tidak sudi menunggunya di sini sampai tubuhku menjamur. Aku mau pulang saja, oppa-mu itu ternyata masih lebih mementingkan uangnya.”

“Jonghyun oppa orang yang bertanggung jawab, tentu saja dia tidak akan mengabaikan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya…” belanya.

“Ah sudahlah. Waktuku tentu akan lebih berharga jika aku memanfaatkannya tidak untuk menunggu seperti ini.”

“Hh, dasar keras kepala.” gumamnya samar-samar namun masih dapat ku dengar.

“Apa kau bilang?”

“Keras kepala. Kau. Jonghyun oppa. Semuanya keras kepala. Padahal seharusnya masalah tidak serumit itu.” ujarnya santai sambil mengaduk-aduk orange juice-nya.

“A..aku tidak seperti itu!” aku mendelik ke arahnya. Ku lihat ia hanya tersenyum sekilas. Ish, apa maksudnya itu?

“Ckck, aku sebetulnya tidak habis pikir bagaimana bisa kalian berdua tetap langgeng sampai saat ini. Oh iya, ngomong-ngomong kenapa kau baru memberitahukan rencana pernikahanmu dengan Jonghyun oppa sekarang?” lagi-lagi ia membahas masalah itu.

“Karena aku dan Jonghyun tahu kau ini tipe orang bermulut elastis yang tentu saja akan menggembor-gemborkan berita yang notabene masih jadi rencana ini. Jadi, sekarang kau sudah mengerti, miss? Dan ah, bilang sama oppa-mu, kalau dia terus-terusan begitu sepertinya aku akan berpikir lagi untuk menikah dengannya.” aku berkata dengan cuek sambil mengenakan tas jinjingku, bersiap-siap untuk segera pergi dari tempat ini. Namun belum sempat aku berdiri, seseorang datang dan langsung mengambil tempat tepat di kursi sampingku yang sedari tadi kosong.

“Jung Seulgi?” tanyanya meyakinkan. Aku menilik pria tersebut dari ujung rambut hingga ujung kaki. Minho?

“Choi Minho?” ucapku sedikit ragu, walau sebenarnya tidak ada lagi yang perlu diragukan sebab pria itu memang benar-benar Choi Minho. Ia tersenyum lalu mengecup pipiku sekilas.

“Seulgi-ah, sudah cukup lama kita tidak bertemu.” ujar Minho dengan mata berbinar-binar. Aku hanya meringis lalu diam-diam melirik ke arah Hyeji. Oh My God. Ku rasa Hyeji saat ini menatapku dengan mata membulat dan mulut ternganga.

“Oh, hai Kim Hyeji. Err, ku rasa kita juga sudah sangat lama tidak pernah berjumpa.” Minho akhirnya menyadari kehadiran Hyeji yang sedari tadi terlihat shock. Minho mengulurkan tangan dan disambut oleh Hyeji dengan senyum yang terlihat dengan jelas sangat dipaksakan. Yeah, Hyeji tentu saja mengenal Minho dengan cukup baik. Kami semua dulu bersekolah di tempat yang sama semasa senior high school. Dan, well, Minho itu mantan pacarku. Dan Hyeji tentu tahu itu.

“Senang bertemu kembali denganmu Minho…” ujar Hyeji berbasa-basi. Lagi-lagi Minho hanya tersenyum lalu kembali mengalihkan perhatiannya padaku.

“Seulgi-ah, ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Hm, aku baik-baik saja. Sangat baik, seperti yang kau lihat,” aku juga memaksakan diri untuk tersenyum.

“Oh, syukurlah. Aku tentu saja tidak akan tenang jika kenyataannya hidupmu yang sekarang semakin memburuk,”

“Uhukk… Uhukkk…” tiba-tiba Hyeji terbatuk-batuk. Dengan cepat aku menyambar orange juice­-nya yang masih tersisa lalu menyodorkan ke arahnya.

“Engh, Hyeji-ah, kalau makan hati-hati ya…” aku mencoba untuk mencairkan suasana, namun sepertinya gagal sebab Hyeji malah menatap tajam ke arahku.

“Seulgi-ah, lalu bagaimana dengan karirmu? Ah, ku rasa seorang Jung­ Seulgi pasti sangat gemilang di dunia karir.” puji Minho yang sepertinya terdengar berlebihan.

Selanjutnya tanpa sengaja kami akhirnya terlarut dalam obrolan-obrolan ringan. Minho lebih banyak bercerita tentang kehidupannya selama dua tahun belakangan ini, sementara kadang-kadang aku hanya menanggapinya dengan ber”oh”ria atau sedikit tertawa.

“EHMMM… EHMMM…” tiba-tiba terdengar suara dehaman dari arah samping. Kami bertiga menoleh serempak dan saat melihat siapa yang tengah berdiri di sana, aku merasakan darahku berhenti mengalir seketika. Ya Tuhan, sejak kapan Jonghyun berada di situ?

“Engh, Jonghyun… Ku kira kau baru akan datang dua jam lagi.” ujarku kikuk. Ia tidak menjawab dan hanya mengambil tempat duduk tepat di samping Hyeji, hingga akhirnya aku sadar bahwa pertanyaan tersebut benar-benar pertanyaan bodoh.

“Seulgi-ah, siapa dia?” tanya Minho padaku. Jonghyun terlihat sedang bersiap-siap untuk memperkenalkan diri namun buru-buru aku mendahuluinya.

“Minho, perkenalkan, dia ini Kim Jonghyun. Dia, err, dia kakaknya Hyeji.” tuturku sedikit terbata-bata. Ku lihat Minho mengangguk pelan lalu segera mengulurkan tangannya pada Jonghyun untuk berjabat tangan. Jonghyun menjabat tangan Minho dengan ekspresi tidak suka.

“Jadi, bisa kita pulang sekarang?” tanya Jonghyun datar.

“Oh, Hyeji, kalau kau sudah dijemput oleh kakakmu, tidak apa-apa kalau kau ingin pulang duluan.” Minho menanggapi.

“Ehmmmm…” lagi-lagi Jonghyun berdeham. Aku menggaruk-garuk kepala, bingung bagaimana menanggapi situasi seperti ini. Ya Tuhan, bagaimana ini?!

“Err, Minho, ku rasa aku juga harus pulang. Aku..aku ingin singgah ke rumah Hyeji.” aku mencoba untuk mencari alasan lain.

“Ohh. Ya sudah kalau begitu… Tampaknya aku sudah mengganggu kalian.” ujar Minho pelan. Aku hanya tersenyum kecut, dan ku rasa saat ini Jonghyun sedang tertawa dalam hati mendengar pengakuan Minho.

“Kalau begitu aku mohon undur diri dulu.” Minho kembali mengecup pipiku lalu bangkit dari tempat duduknya. Aku menelan ludah dan melirik ke arah depan dengan takut-takut. Ku lihat mulut Hyeji hanya menganga lebar, sementara Jonghyun? Oh God… Tatapan itu…

“Oh iya, Seulgi-ah, kapan-kapan kita bisa ketemu lagi kan? Dinner, may be?” ujarnya untuk terakhir kali sebelum ia benar-benar beranjak meninggalkan kami.

Untuk beberapa saat aku berpikir.

“Ok!” ku rasa Tuhan akan mengutukku sekarang juga saat dengan entengnya aku mengeluarkan jawaban tersebut. Oh, minimal Jonghyun-lah yang akan mengutukku habis-habisan.

+++

“Ya! Kim Jonghyun!” aku melangkahkan kaki dengan sedikit terseok-seok, berusaha mengejar langkah Jonghyun yang terlihat sangat tergesa-gesa. Di samping Jonghyun, Hyeji juga terlihat sedang melangkah terburu-buru. Dan Hyeji itu, hhh, haruskah ia juga bersikap seperti itu kepadaku? Ck, dua bersaudara ini…

Kami akhirnya tiba di tempat Jonghyun memarkirkan mobilnya. Jonghyun masuk ke bagian kemudi, sementara Hyeji memilih untuk duduk di bagian belakang. Baru saja aku ingin menyusul Hyeji untuk ikut duduk di sampingnya, menghindari untuk duduk di depan dan bersampingan dengan Jonghyun namun Hyeji langsung menutup pintu mobil dengan cepat. Tak ada pilihan lain, akhirnya aku menggerakkan tubuhku dengan gontai menuju pintu depan, membukanya lalu duduk di samping Jonghyun. Aku menelan ludah dan saat mesin mobil dinyalakan. Jonghyun langsung menancap gas kuat-kuat, membuat kepalaku seketika terbentur di kaca depan.

“Aduh…” aku meringis pelan sembari mengusap dahiku yang terasa sakit.

“Makanya pakai sabuk pengaman…” ujar Jonghyun dingin tanpa melepaskan pandangannya dari jalan. Dan bukannya merasa senang karena dinasehati seperti itu, aku malah merasa kata-katanya barusan sangat menohok.

Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jonghyun pasti marah padaku. Kalau sudah seperti ini, susah untuk membuatnya berhenti marah.

“Mau diam sampai kapan huh?” Hyeji yang duduk di belakang mulai bersuara.

“Apa gunanya bicara?” Jonghyun menanggapi.

“Ya, siapa tahu ada yang mau dibicarakan.”

“Apanya? Laki-laki tadi? Tanyakan saja pada pacarnya.” Jonghyun sekilas melirik tajam ke arahku.

“Dia bukan pacarku!” sanggahku.

“Oh ya? Kalau begitu apa? Suamimu?” tanya Jonghyun dengan nada mengejek.

“Jaga mulutmu Kim Jonghyun!”

“Kau yang seharusnya menjaga diri Jung Seulgi!” suaranya mulai meninggi.

“Kau kenapa hah?”

“Kau yang kenapa?! Cih, baru lihat yang sedikit ganteng saja kau sudah seperti itu!”

“Seperti apa? Hey, dia itu teman lamaku!”

“OPPA! KONSENTRASI MENGEMUDI!” Hyeji tiba-tiba memekik, membuat Jonghyun kembali mengalihkan perhatiannya pada jalan. Ia tiba-tiba menepikan mobil lalu mengerem secara mendadak.

“Teman lama… Mantan pacar, bukannya begitu?” Jonghyun kembali melanjutkan. Kepalaku mulai terasa memanas. Aduh, darimana dia tahu? Oh! Hyeji itu!

Aku melirik ke arah belakang dan Hyeji hanya mengendikkan bahunya. Ah, sial.

“Cuma mantan pacar. Sekarang kami sudah tidak ada hubungan lagi!”

“Oh ya? Tapi sepertinya laki-laki itu berharap lain. ‘Dinner, may be?’…” Jonghyun mempraktekkan apa yang Minho katakan tadi dengan gaya yang terlihat sangat menyebalkan.

“Ohhhhhh… Jadi sekarang kau menganggapku ingin berselingkuh? Begitu?”

“Kau sendiri yang tahu jawabannya miss…” ia menyeringai lebar.

Seketika aku menatap tajam ke arahnya.

Fine… I’m out!” aku membuka pintu mobil, keluar dari tempat yang terasa seperti neraka ini lalu membanting pintunya sekuat tenaga.

Ku pacu langkahku untuk melangkah secepat mungkin, berusaha untuk pergi menjauh. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku bertahan dengan keadaan seperti ini?! Padahal dia itu calon suamiku! Hey, seminggu lagi kami bahkan sudah akan menikah. Kami sudah mempersiapkan semuanya. Resepsi, gaun, undangan pun sudah disebar.

Tapi apa benar dia itu calon suamiku? Hhh, bahkan aku sudah berjalan beberapa langkah seperti ini ia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengejarku, meminta maaf dan berkata menyesal telah berbuat seperti itu lalu mungkin akan sedikit mendesakku untuk kembali ke mobil. Lalu kami, dan mungkin ditambah Hyeji, memutuskan untuk bersenang-senang sebentar, singgah di sebuah pusat perbelanjaan untuk berhura-hura seakan-akan masalah yang seringan debu itu kini telah diterbangkan angin. Atau mungkin Jonghyun akan mengantarku pulang terlebih dahulu, dan saat ia sendiri sudah tiba di rumahnya ia akan menelponku, berkata bahwa ia sudah rindu lagi padaku hingga pada malam harinya ia memutuskan untuk menjemputku dan mengajakku untuk dinner. Di sebuah restoran mewah yang romantis yang sudah ia booking sebelumnya, yang hanya ditemani oleh remang-remang cahaya lilin…

Oh Jung Seulgi, kau sudah terlalu banyak mengkhayal! Pada kenyataannya, pria itu sekarang sudah tidak peduli lagi!

“Seulgi-ah! Seulgi-ah!” sebuah suara yang ku kenal sebagai suara Hyeji memanggilku dari arah belakang. Hhh, kenapa malah adiknya yang mengejarku? Sebenarnya aku ini pacaran dengan siapa? Adiknya kah?

Aku memutuskan untuk tidak mempedulikan panggilan Hyeji, namun sesaat kemudian aku merasakan sebuah tangan mencegat lenganku dari arah belakang. Aku menoleh, dan di situ ada Hyeji yang terlihat sedang susah payah mengatur napasnya.

“Kembali ke mobil…” ujarnya lirih.

“Untuk apa? Untuk melanjutkan adu mulut dengan oppa-mu itu, huh? Tidak, terima kasih!”

“Ayolah, coba untuk bersikap dewasa sedikit. Emosi Jonghyun oppa saat ini memang sedang tidak stabil. Tapi ku jamin, Jonghyun oppa tidak akan berkata apa-apa lagi. Jadi please, kembali ke mobil…”

Aku mendesah dan akhirnya pasrah mengikuti langkah Hyeji yang sedang menarikku kembali ke mobil. Kali ini aku memaksa untuk duduk di bagian belakang bersama Hyeji. Untuk saat ini aku seperti sedang alergi untuk duduk berdekatan dengan Jonghyun.

Jonghyun kembali melajukan mobilnya, kali ini dengan kecepatan yang wajar. Dan selama beberapa saat, lagi-lagi kami hanya terhanyut dalam diam.

“Hyeji-ah…” aku membuka mulut.

“Hmm?”

“Kau ini sahabatku bukan?”

“Tentu saja. Kenapa?”

“Kau pasti tahu kan Minho itu sudah bagian dari masa laluku?”

“……”

“Aku..tadi itu aku benar-benar bingung ingin menyikapi Minho seperti apa…”

“……”

“Kau pasti tahu kan hanya ada satu pria yang saat ini ku cintai setengah mati? Kau pasti tahu kan aku sudah memilih pria itu untuk menjadi pendampingku?” aku menatap mata Hyeji dalam-dalam. Hyeji hanya menundukkan kepalanya, sementara di depan sana, Jonghyun tetap terlihat tidak peduli. Tanpa sadar air mataku sudah mengalir di sepanjang pipiku. Melihatku menangis dengan bisu, Hyeji langsung memelukku erat.

“Sabar ya…” bisik Hyeji sembari menepuk-nepuk pundakku.

+++

Sampai hari ini Jonghyun masih enggan untuk berdamai. Ia sudah tidak pernah berkunjung ke apartementku. Jangankan berkunjung, bahkan untuk menelepon atau sekedar mengirimkan pesan singkat yang isinya gombalan tak bermutu saja ia sudah tidak pernah lagi. Padahal hari ini adalah hari libur dan biasanya Jonghyun akan menghabiskan waktunya di apartementku. Dan hari ini adalah lima hari sebelum hari pernikahan kami. Seharusnya saat ini kami tengah sibuk membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan yang katanya serba rumit itu. Hhh, apakah ia semarah itu padaku?

Sesaat kemudian aku merasakan ponselku bergetar. Aku melirik layarnya. Interior designer gedung pernikahan kami.

“Halo?”

“Selamat siang Seulgi-ssi. Maaf kalau misalnya aku mengganggu. Aku hanya ingin memastikan design seperti apa yang ingin anda gunakan? Apakah desain yang pertama atau yang kedua?”

“Err, bagaimana kalau kau tanyakan saja pada Jonghyun.”

“Sudah, tapi Kim Jonghyun bilang ia sedang tidak ada waktu untuk membahas ini, jadi aku memutuskan untuk menanyakannya padamu…”

Aku menghela napas panjang. Padahal kami sudah sepakat bahwa dialah yang akan menentukan desainnya seperti apa. Sesibuk itukah ia sampai ia tidak sempat untuk hanya menjawab apakah ia memilih yang pertama atau yang kedua? Atau jangan-jangan, ia sudah berubah pikiran?

Ku coba untuk membuyarkan pemikiran terakhir yang baru saja terlintas dengan entengnya di kepalaku itu. Aku menelan ludah, berusaha untuk menenangkan diri.

“Untuk masalah desain, maaf aku tidak bisa memutuskannya. Kita pending saja, lain kali kita bicarakan lagi.”

“Baiklah kalau begitu. Selamat siang Seulgi-ssi.”

Aku menaruh ponselku di atas meja lalu menyandarkan tubuhku di sofa.

Kim Jonghyun… Kalau kau memang semarah itu, please maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya.

Ting tong… Ting tong…

Bel di depan berbunyi dengan nyaring. Aku langsung terlonjak dari sofa dan berlari dengan tidak sabaran menuju pintu.

“Jonghyun!” seruku saat pintu sudah terbuka. Tapi tunggu sebentar, itu bukan Jonghyun…

“Selamat siang Seulgi-ah…” sapa pria bertubuh jangkung yang kini tengah tersenyum lebar di hadapanku itu.

“Minho? Ada apa kau datang ke sini?” tanyaku sedikit terkejut dan tidak bisa menyembunyikan nada kecewa yang keluar dari mulutku.

“Seperti yang terakhir ku katakan padamu, aku ingin bertemu denganmu lagi.” ia mengeluarkan tangan kanannya yang sedari tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya dan menyodorkan setangkai mawar merah. Aku menatap mawar itu ragu namun Minho meraih tanganku dan menaruh mawar tersebut di genggamanku.

“Err, seharusnya kau tidak perlu membawa ini.”

“Tidak apa-apa… Oh iya, apa aku hanya terus dibiarkan berdiri di depan pintu?” ia memamerkan sederetan giginya. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, namun belum sempat aku menjawab ia sudah melangkah menerobos masuk dan duduk di kursi tamu. Dengan sedikit ragu aku akhirnya ikut duduk di kursi yang ada di seberang.

“Any drink?” aku mencoba untuk menawarkan.

“Tidak usah. Oh iya, kenapa kau terlihat pucat? Kau sedang sakit?”

“Oh ya?”

“Iya. Matamu juga bengkak, pipimu sembab. Ada apa?”

“Oh tidak apa-apa.” ujarku meyakinkan sembari memegang pipiku. Hhh, ini pasti karena yang ku lakukan hanya menangis seharian. Aku menunduk, tidak berani menatap Minho.

“Kau juga terlihat agak kurus. Apa kau ada masalah?” tanya Minho lembut dan memindahkan posisi duduknya tepat di sampingku. Aku tidak menanggapinya, hanya terus menunduk.

“Seulgi-ah… Aku tahu siapa kau. Jung Seulgi yang ku kenal selama ini adalah orang yang ceria dan penuh dengan rasa optimis. Jadi kalau aku menemukan Seulgi yang keadaannya hampir sama dengan mayat hidup seperti ini, dia pasti sedang ada masalah.”

“……”

“Bolehkah aku menjadi pendengar yang baik untukmu?”

Aku menghela napas, bimbang antara ingin menceritakan padanya atau tidak. Namun tak bisa ku sangkal saat ini aku membutuhkan orang untuk sekedar menjadi tempat luapan emosiku, terlebih saat Minho semakin mendesakku untuk bercerita dan akhirnya membuatku menceritakan masalahku secara garis besarnya.

“Minho, sebenarnya aku sudah mempunyai seorang pacar. Dan sebenarnya, dalam waktu dekat ini kami akan menikah.”

Aku melirik Minho hati-hati. Ia terlihat terkejut namun buru-buru menyembunyikan rasa terkejutnya itu.

“Oh ya? Kalau begitu kau seharusnya sedang berbahagia saat ini.” ia mencoba untuk tetap bersikap biasa dan entah mengapa aku menangkap ada nada kekecewaan di tiap kata-katanya.

“Yah, seharusnya begitu. Tapi sekarang kami sedang dalam masalah. Masalah kepercayaan…” ujarku lirih sembari menunduk dalam-dalam. Ku rasakan mataku kembali memanas namun aku berusaha untuk menahannya agar tidak jatuh.

“Calon suamiku, dia..dia tidak mempercayaiku…” lanjutku.

“Pasti masalahmu terasa sangat berat…” ujarnya sembari memegang bahuku lembut. Hhh, andai saja aku bisa mengatakan kalau semua ini karena dia!

Untuk beberapa saat, kami berdua hanya terdiam.

BRAK!

Aku dan Minho tersentak kaget. Aku lalu menoleh dengan cepat ke arah pintu. Dan Ya Tuhan, di sana berdiri Jonghyun yang baru saja menendang pintu dengan emosi. Sejak kapan pria itu berada di situ?

Seketika keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhku, terlebih saat menyadari Jonghyun tengah menatap tajam ke arah setangkai mawar yang sedari tadi ku genggam dan tangan Minho yang masih memegang pundakku. Damn!

“J..jong…” aku sontak berdiri dan memanggilnya dengan takut. Jonghyun mengacak rambutnya sebentar lalu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan kami.

“Kim Jonghyun!” aku membuang mawar pemberian Minho ke lantai dan bergegas menyusulnya ke arah koridor, namun saat ini sudah tidak ada siapa-siapa. Aku hanya menemukan sepaket bunga mawar yang kini tergeletak tak bertuan. Aku lalu memungutnya. Cantik… Bertangkai-tangkai mawar merah digabungkan dalam satu ikatan. Dan tangisku tiba-tiba pecah saat membaca sehelai kertas dengan tulisan “bunga yang cantik untuk Seulgi-ku yang cantik” di sana.

Aku lalu bergegas masuk kembali ke apartementku lalu menyambar ponselku dan menghubungi ponsel Jonghyun dengan jari-jari yang gemetaran. Minho mencoba untuk menenangkanku namun kali ini aku benar-benar marah padanya.

“LEBIH BAIK KAU PULANG SAJA, CHOI  MINHO!” pekikku ke arahnya.

Aku terus-terusan mencoba untuk menghubungi Jonghyun. Berkali-kali ia me-reject panggilanku, hingga akhirnya ia mau menjawabnya.

“Jonghyun-ah… Sayang… Ku mohon, semuanya tidak seperti dengan apa yang kau pikirkan.” ujarku terburu-buru dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.

“……” dia hanya terdiam di seberang telepon sana, sama sekali tidak menanggapi penjelasanku.

“Ku mohon Jonghyun… Jangan bersikap seperti ini padaku.”

“Tenang saja, Jung Seulgi. Aku tetap akan menikahimu. Aku tidak mungkin lagi membatalkan semuanya, meskipun pada akhirnya aku harus menikahi orang yang tidak lagi bisa ku percaya.” ujarnya pelan, dingin. Hanya itu yang ia katakan sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan telepon. Dan seketika aku merasa seluruh langit runtuh dan menimpaku.

Aku hanya bisa memerosotkan tubuhku di tembok dan terkulai lemas. Aku tidak lagi menangis sekarang. Pikiranku sudah terlalu beku. Minho berjongkok untuk menjajariku. Kedua tangannya memegang pipiku, memaksaku untuk menatapnya.

“Seulgi-ah, aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini terus.” Minho membuka mulut. Aku hanya menatapnya nanar.

“……”

“Oke, ku rasa lelaki tadi adalah calon suamimu. Tapi coba pikirkan, calon suami macam apa yang tega membuat calon istrinya jadi seperti ini?”

“Dia mencintaiku, Minho… Dan aku juga sangat mencintainya…” gumamku lirih.

“Dengarkan aku, Seulgi-ah. Kalau memang dia benar-benar mencintaimu, ia tidak akan membuatmu sakit seperti ini.”

“……”

“Belum terlambat, Seulgi-ah. Aku bersedia menggantikan posisinya. Aku berjanji tidak akan menyakitimu. Aku bisa lebih baik dari dirinya. Ku mohon, tinggalkan saja dia. Kembalilah padaku.” Minho menarik bahuku. Ia mencium keningku, lalu mencium bibirku. Aku memejamkan mata, mencoba memikirkan semuanya dengan baik sementara bibir Minho tak henti-hentinya menyapu bibirku.

Ya Tuhan, aku merindukan Jonghyun. Aku merasa seperti Jonghyun-lah yang kini sedang menciumku. Namun saat aku membuka mata, aku masih menemukan Minho, bukan Jonghyun.

Aku tidak bisa seperti ini!

Aku mendorong tubuh Minho dengan tenaga yang masih tersisa. Kau salah Minho… Jangan pikir kau bisa menggantikan posisi Jonghyun. Kau bilang kau tidak akan menyakitiku, tapi kau salah Minho. Kesempatanmu sudah habis. Kaulah yang telah menyakitiku di masa lalu hingga membuat kita tak lagi bersama saat ini.

“Sudah cukup kau racuni pikirannya dengan mulut kotormu itu, huh?” sebuah suara muncul dari arah samping. Aku menoleh, dan Jonghyun kini berdiri di sana. Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Ya, itu memang Kim Jonghyun-ku.

“Jonghyun-ah, ku mohon dengarkan penjelasanku.” ujarku. Jonghyun terlihat tidak mempedulikan perkataanku. Ia hanya terus menatap tajam ke arah Minho, dengan tatapan membunuhnya.

Tak lama kemudian Jonghyun mendekat dan melayangkan tinjunya ke wajah Minho, membuat Minho terpental di atas lantai. Minho mencoba untuk bangkit, namun  Jonghyun kembali menyerangnya dengan beberapa pukulan. Pukulan yang terlihat sangat membabi-buta dan mengerikan. Sesekali aku mendengar Minho mengerang kesakitan. Dan saat Minho sudah terkulai tak sadarkan diri, Jonghyun akhirnya berhenti.

Jonghyun memutar tubuhnya, berjalan mendekatiku yang sedari tadi hanya terduduk bersandar di tembok lalu berjongkok tepat di hadapanku.

“Jonghyun-ah, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Ku mohon, percayalah padaku.”

“Sssttthh…” ia menaruh telunjuknya di bibirku. “Seulgi-ah, kalau memang aku hanya bisa terus-terusan menyakitimu, aku minta maaf…”

“Jonghyun-ah…”

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi kalau memang kau tidak bahagia bersamaku, tidak apa-apa jika kau memilih untuk meninggalkanku. Tidak apa-apa Seulgi-ah, asal kau bahagia…” ku lihat mata Jonghyun mulai berkaca-kaca, dan beberapa saat kemudian air mata yang menggenang di pelupuk matanya itu kini sukses mengalir di pipinya. Ia menghapus air matanya dan mencoba untuk tetap tersenyum, yang malah membuat hatiku merasa seperti teriris-iris.

“Bukan begitu sayang…” aku menghambur memeluknya erat-erat. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan untuk meyakinkannya bahwa hanya dialah satu-satunya orang yang menjadi sumber kebahagiaanku. Bahwa hanya dialah orang yang ku cintai lebih dari diriku sendiri…

Akhirnya aku hanya bisa menangis di pelukannya, membasahi kemejanya. Aku tidak ingin melepaskannya. Aku ingin dia tahu bahwa sebenarnya aku tidak bisa kehilangan dirinya.

Ia membalas pelukanku lebih erat lalu mencium puncak kepalaku dengan lembut.

+++

“Cium! Cium! Cium! Cium! Cium!” Hyeji berteriak heboh dari arah bangku hadirin dan disusul oleh teriakan seluruh hadirin saat kami selesai bertukar cincin dan kami resmi sebagai pasangan suami istri. Aku melirik ke arah Jonghyun dengan malu sementara Jonghyun hanya tersenyum nakal ke arahku. Oh My God… Pria ini. Jangan bilang ia akan mengabulkan permintaan orang-orang huh? Aku memang sudah berkali-kali berciuman dengan Jonghyun, tapi berciuman di hadapan orang ramai seperti ini? Oh tidak, terima kasih!

“Seulgi-ah, tidak usah malu-malu seperti itu. Aku ini kan suamimu.” bisik Jonghyun sambil menaik-turunkan alisnya.

No!” tegasku padanya dengan pipi yang terasa mulai memanas. Jonghyun terkikik geli sementara orang-orang semakin heboh berteriak ke arah kami. Oh Tuhan, ku mohon jangan, ini memalukan sekali…

Ku rasakan Jonghyun mulai menggenggam bahuku. Aku sontak menutup mulutku dengan telapak tanganku saat Jonghyun mulai mendekatkan wajahnya. Aku menggelengkan kepalaku dan entah kenapa senyuman Jonghyun tiba-tiba terasa sangat horror.

Dengan tenaganya yang sekuat king kong ia melepaskan tanganku dari mulutku dengan mudah, menggenggam erat kedua tanganku dengan jemarinya yang besar dan seketika mendaratkan bibirnya di bibirku. Dan saat semua hadirin semakin berteriak histeris akibat perbuatan Jonghyun, aku hanya bisa membatu di tempatku.

Klik!

Tiba-tiba sebuah kilatan sinar menerpa kami. Jonghyun akhirnya melepaskan ciumannya dan aku langsung menoleh ke sumber sinar itu.

Wow… So H.O.T…” entah sejak kapan Hyeji sudah berdiri di samping kami dengan sebuah kamera di tangannya.

“Oh My God…” hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku.

“Hm, mau yang lebih hot lagi?” Jonghyun kembali menatapku dengan tatapan nakalnya. Aku hanya menunduk malu, sementara Jonghyun dan Hyeji seketika tertawa terbahak-bahak. Ishh! Dua bersaudara ini!

 

THE END

Advertisements

39 thoughts on “Marrylicious

  1. aku mampir -ngetokpintu-
    keren Unn~ aaa jadi sebel pas baca Seulgi malah bingung sendir mau ngenalin Jjong sebagai apa, tapi aku jadi ngeri pas baca Jjong nonjok Minho ampe Minho pingsan- omo~
    aku suka Jjong (>///<)
    haha nice ff Unn~

    • wah gpplah..
      ini namanya battle..
      pertarungan sengit.. 😆 #lebe
      ngahahaaha.. nih ambil nih bang mino #lempar
      btw makasih udah mampir 😀

  2. Wew minho apasih tiba2 muncul, trus tiba2 mw ngehancurin seulgi am jjong -_____- #plak ihh jjong tetep yadong, mesum huahahaha kurang panjang XD
    waaahh dyuu kangen dyuuu *cipok* kangen couple sarap tetem am kyungjin hayo buat lagi ff couple sarap XD huahahaha *tebar menyan sama jinki ekeke

    • halo ciiiiiiiiiii..
      haduh.. yang dikomenin malah yadongnya .-.
      huhu iya aku juga kangen ama taem #eh maksudnya aku juga kangen ama cici :*
      oke karna cici yg minta,, besok mini ff update 😛 #jangandipercaya

  3. Huaaaaaa~ keren keren ahahhahaha kocak deh ceritanya 😀 alurnya juga manis 🙂 feelnya juga dapet 🙂 ahhahahahhaha 🙂 kerennn unniieee~!!! 🙂 aku suka suka suka~!! jjongnya nakal ya? ahahahahaha dasar jjong! huaa minho napeun namja main cium-cium orang aja haahahaha hehehehe 😀 untunglah semuanya berakhir bahagia 😀 hehehehhe keren unnie~!!! 😀

  4. holaaa dyu :p
    aku baru bosen, jadi baca FFmu deh (pdhl besok seninnya uas T,T)

    pas baca, ngga tau kenapa aku bayangin aku jadi seulgi-nya -,- #disambitbiaspakebibir :mrgreen:
    tapi pas seulgi kenalin ke minho siapa jonghyun, aku lgsg mikir: bukan aku nih #plak wahahaha ._.
    Aaaa, minhonya kasian deh. Sini aku bawa pulang aja, lumayan jd pajangan (apaa?) 😀
    nice story dyu :*

    • hayooo lho weaa napa malah baca ff..
      haram(?) wkwk 😆
      ah wea kamu ini emang labil banget sih..
      jadi maunya apa dong?? -_-
      yaudah kalo yg itu dibawa pulang aja gpp..
      yang itu di blog ini free kok wkwk #diketekinbangmino
      wah makasih ya wea :*

  5. dapet banget nih feel nyaaa 😀
    bagus banget alurnya, meskipun ceritanya singkat, tapi akhirnya gak gantung
    bagus bagus !! tepuk tangan #plokplokplok

  6. waaaa suka suka suka

    jadi, kalo jadi mantannya minho, kalau dia ketemu mantannya itu dia bakal cipika-cipiki?
    #mupeng

    aigoooo mau banget jadi seulgi, jackpot boooo… dicintai dua namja sekaligus! #envy

    wkwk ketawa baca jjong kuatnya kaya kingkong , tapi tetep kan, kingkong yg paling ganteng *?*

    ujungnya as always uri pervert jjong -____-

    • yaudah kamu mantanan aja ama dia supaya dicipikacipiki wkwkwk xD
      yah iya dong,, bang jjong kan aslinya emang gitu xD *diketekin*
      makasih ya udah mampir 🙂

  7. nicely written 😀 plotnya asik banget. suka banget pas ngeliat jonghyun cemburu ckckck.
    dan saya membayangkan jonghyun pulang kerja dengan kemeja ketat digulung tangannya…
    seksi deh pasti ckckkckckc.

    • waaaaak jangan bikin aku juga ikut membayangkan DX
      aku gak mau suka ama bang jjong #histeris #apasih
      hehe makasih ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s