Mini FF – It Start from a Bottle of Perfume

It Start from a Bottle of Perfume

 

(Kyungjin P.O.V)

“Taemin-ah…” aku melongokkan kepalaku di atas bahunya.

“Hm?” ia menjawab dengan gumaman sembari terus berkonsentrasi pada kondisi jalan dan scooter-nya.

“Tidak apa-apa…” ujarku lagi.

“Yaaahhhhhh… Dasar tidak jelas!” ia terdengar menggerutu sementara aku hanya terkikik geli.

Aku jadi ingat bagaimana pertama kali aku bertemu dengannya. Di sebuah toko parfum yang tergolong elit di Seoul. Bukan karena aku ini orang yang terlalu kaya atau bagaimana sehingga aku bisa berada di toko parfum yang biasanya menjadi tempat langganan artis. Hanya saja waktu itu aku kebetulan punya uang lebih untuk sesekali mengunjungi toko parfum berkelas Paris itu. Dan aku menganggap hal itu memang sudah ditakdirkan.

Aku sedang asyik memilah-milah parfum hingga akhirnya menemukan sebuah parfum yang menurutku wanginya paling pas (setelah mencoba sebagian besar parfum yang ada… hehehe…) ketika seseorang tiba-tiba muncul, berdiri tepat di sampingku dan menatap ke arah rak parfum dengan jari telunjuknya yang menyusuri tiap botol-botol parfum yang ada.

Untuk beberapa saat aku menoleh ke arahnya, memperhatikan penampilan namja itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cukup tinggi. Kaos putih dan jeans abu-abu, bibir merah muda, hidung mancung, wajah terkesan innocent dengan potongan rambut bermodel jamur yang dicat dengan highlight cokelat. Cute.

Dan satu hal penting yang harus ku garis bawahi dari dia. Kalau aku tidak salah ingat, dia itu Lee Taemin, member termuda dari grup SHINee.

“Ya! Taemin! Jangan terlalu lama! Sejam lagi kita sudah harus standby!” seseorang dengan rambut berwarna pelangi sudah berdiri di depan pintu toko, terlihat tidak sabar untuk segera beranjak dengan kantong belanjaan yang penuh di kedua tangannya.

“Iya hyung, sebentar!” ia menyahut singkat dan mulai menggaruk-garuk kepalanya, bingung.

“Annyeonghaseo… Err, bisakah kau memberitahuku parfum apa yang paling bagus?” ia kembali bersuara.

Aku hanya tercengang sesaat sebelum akhirnya aku benar-benar sadar bahwa orang yang baru saja ia ajak untuk berbicara itu adalah aku.

“Eh? Oh, kalo menurutku Allyssa Ashley White musk ini!” ujarku agak kikuk sambil memperlihatkan botol yang ada di genggamanku. Ia mendekat kemudian memperhatikannya sesaat.

“Oh ya? Kalau begitu bisakah aku mengambil yang itu?” tanyanya lagi sembari menunjuk botol tersebut.

“Hah?” aku cukup terkejut dengan perkataannya, “Kenapa harus parfum yang ini? Yang ini wanginya sangat lembut. Kalau kau mau, aku bisa menyarankan Moschino Friends, Polo Blue, Bvlgari Aqva Marine, atau Thierry Mugler cologne yang wanginya cukup segar” lanjutku sambil menyebutkan sederetan merk parfum dengan wangi maskulin, bukannya parfum pilihanku yang notabene di labelnya tertulis dengan jelas kata “FOR WOMEN”.

“Hm sudahlah. Aku sedang buru-buru dan tidak sempat lagi untuk memilih-milih. Lagipula aku yakin selera yeoja manis sepertimu pasti cocok di semua hidung.” ujarnya santai lalu merebut botol yang ada di genggamanku.

Dan lagi-lagi aku hanya bisa tercengang. Apa yang ia katakan tadi? Yeoja manis huh?

Aku lalu menilik wajahnya dengan seksama, mencoba mencari tahu apakah ia tipe seorang penggombal atau penggoda. Namun aku tidak menemukan gambaran apa-apa dari wajahnya selain ekspresinya yang terlihat sangat innocent.

“Terima kasih…” ia menundukkan kepalanya sedikit sebelum berlalu menuju meja kasir dan akhirnya melesat pergi dengan cepat setelah si rambut pelangi itu meninggalkannya lebih dulu.

Aku mengendikkan bahuku lalu mengambil kembali botol Allyssa Ashley White musk yang lain pada rak, membayarnya, lalu pulang dan mencoba untuk tidak memikirkan semuanya. Yeah, meskipun seorang namja dengan wangi Allyssa Ashley White musk adalah hal yang cukup aneh.

Aku sudah hampir melupakan kejadian tersebut hingga suatu saat takdir membawa kami untuk bertemu kembali. Aku sedang makan siang di sebuah restoran saat serombongan orang melintas di samping mejaku. Sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan rombongan tersebut kalau saja seseorang tidak menepuk bahuku secara tiba-tiba dan membuatku tersedak makananku sendiri.

Aku langsung terbatuk-batuk dan merasa seperti tercekik, sementara orang yang entah-siapa-dengan-sangat-tidak-tahu-dirinya menepuk bahuku di saat aku sedang makan itu juga ikut panik. Dengan cepat ia menyambar lemon juice-ku yang ada di meja lalu menyodorkannya padaku, dan tanpa pikir panjang lagi aku segera meneguknya banyak-banyak. Orang tersebut mencoba untuk membantu menepuk-nepuk punggungku yang malah membuatku kembali menyemburkan lemon juice-ku ke atas meja.

Aku mendelik marah ke arahnya dan baru saja ingin mengumpatnya habis-habisan, namun niat itu tiba-tiba ku urungkan saat melihat sosoknya. Dan walaupun ia terlihat sedang menunduk sedalam yang ia bisa, aku masih bisa mengenalinya sebagai ‘si namja Allyssa Ashley White musk’, atau lebih singkatnya, dia itu Lee Taemin.

Sesaat kemudian ia akhirnya mengangkat wajahnya.

“Maaf… Maaf… Maafkan aku… Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membuatmu seperti itu… Maaf… Maaf…” berkali-kali ia mengulang-ulangi kata-katanya, dan sebanyak itu pula ia terus-terusan membungkuk setiap mengucapkan kata maaf.

Lalu apa yang bisa ku lakukan?

Aku hanya tercengang, melongo bercampur kaget.

“Err, oh iya, bagaimana kalau aku traktir makan? Mau ya? Sebagai permintaan maafku… Tunggu sebentar aku pesankan!” ujarnya tergesa-gesa. Kepala terlihat celingak-celinguk, mencari pelayan mungkin. Namun aku segera mencegahnya sebelum ia benar-benar merealisasikannya.

“Tidak usah! Aku sudah makan, baru saja…” tukasku sambil menunjuk piring makananku.

“Oh… Ah kalau begitu makan lagi saja ya? Biar aku pesankan…”

“Jangan! Eh, maksudnya, aku sudah kenyang, sungguh…” aku mencoba untuk meyakinkannya. Erghh yang benar saja, aku baru saja tersedak dan ditawari untuk makan lagi? Konyol.

“Oh… Begitu ya? Yahh… Padahal aku berharap kau mau menerimanya sebagai permintaan maafku…” ia masih berdiri di samping mejaku, kembali tertunduk.

“Err, sudahlah. Tidak masalah, aku sudah memaafkanmu…” ujarku pada akhirnya. Sikapnya yang seperti itu benar-benar membuatku jadi serba salah.

“Sungguh?”

“Iya…” aku memaksakan diri untuk tersenyum, walaupun aku yakin pasti senyumku itu terlihat sangat kaku.

“Terima kasih” ia membungkuk sekali lagi, tersenyum. Dan errr, well, ku akui dia punya senyuman yang terlihat sangat tulus dan manis sekali. Aku lalu menanggapinya dengan sedikit membungkuk juga. Untuk sesaat ia terlihat seperti sedang berpikir, hingga tiba-tiba ia menyambar notes dan bolpoin dari seorang pelayan yang kebetulan lewat di dekatnya. Ia menuliskan sesuatu, merobek selembar lalu mengembalikannya notes dan bolpoin itu pada si pelayan.

“Kalau memang sekarang tidak bisa, ku rasa di hari lain juga tidak masalah. Bagaimana kalau sabtu malam besok?” ia tersenyum, menaruh secarik kertas itu di telapak tanganku, lalu bersiap-siap untuk melenggang pergi.

“Tunggu!” seruku berusaha untuk mencegatnya.

“Ya?” ia kembali menoleh dengan alis yang terangkat.

“Itu… Sebenarnya tujuanmu awalmu untuk menemuiku tadi apa?” tanyaku pada akhirnya setelah mengingat insiden pertama kali ia menepuk bahuku beberapa saat yang lalu.

“Oh yang itu. Hm, kau yeoja di toko parfum yang waktu itu kan?”

“Huh? Hm, ku rasa begitu…” gumamku dengan ekspresi terkejut yang berusaha untuk ku tahan. “Bagaimana kau bisa mengingatku?”

Ia kembali tersenyum, lalu tanpa ku duga sebelumnya ia mendekat dan mengibas-ngibaskan kerah kaos soft yellow-nya, membuatku lebih jelas mencium aroma khas Allyssa Ashley White dari arah sana.

“Key hyung bilang, jarang ada yeoja yang memilih parfum dengan wangi yang soft tapi elegan seperti ini. Dan saat aku memasuki restoran ini dan mencium bau yang sama, aku sudah menduga kalau itu adalah kau. Lagipula, aku tidak akan secepat itu melupakan seorang yeoja dengan ekspresi wajah yang selalu terlihat melongo, sejak pertama kali bertemu bahkan sampai saat ini.” ia tertawa sekilas lalu mengedipkan salah satu matanya ke arahku. Dan saat ia benar-benar beranjak dari mejaku dan bergabung dengan rombongannya yang ternyata adalah rekan-rekan segrup-nya itu, aku baru sadar bahwa aku memang tidak bisa berhenti untuk tercengang saat berhadapan dengannya.

Aku lalu memperhatikan secarik kertas yang ia berikan tadi. Kertas yang berisi sederetan angka itu, nomor telepon huh?

“Kyungjin-ah, apa aku terlalu lama? Maaf, tadi aku memperbaiki dandananku dulu di toilet.” Hana, teman yang datang bersamaku di restoran ini akhirnya kembali dari semedinya di toilet. Ia kembali duduk di sampingku dan melanjutkan makannya, hingga tiba-tiba ia menyemburkan makanannya dan menyodok lenganku dengan heboh.

“Ada apa?”

“Oh My God! Kyungjin-ah, coba lihat di meja sudut sana! Itu kan SHINee!” ia setengah menjerit. Aku hanya menelan ludah saat mendengar perkataannya. Yeah aku tahu, salah satu dari mereka bahkan hampir saja membunuhku tadi. Hampir membunuhku karena membuatku hampir mati tersedak, atau hampir saja membunuhku dengan senyumannya itu? Entahlah…

“Astagaaaa! Bagaimana ini? Bagaimana bisa aku melewatkan kelima namja ganteng itu begitu saja?! Pokoknya kita harus… Eh? Kyungjin-ah? Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat eh?” ekspresinya yang sangat heboh membahas kelima namja itu kini berubah menjadi agak panik. Aku hanya meringis ke arahnya sembari meremas-remas kertas pemberian Lee Taemin itu diam-diam. Yeah, ku rasa lebih baik aku tidak memberitahukan apa yang telah terjadi selama ia ke toilet, juga tentang parfum.

Lalu apa yang ku lakukan setelah kejadian itu?

Aku sendiri juga heran kenapa aku bisa memiliki keberanian untuk menghubungi nomor telepon yang namja itu berikan. Errgh, rasanya tidak etis juga kalau aku duluan yang menghubunginya. Tapi apa boleh buat, aku memang sudah terlanjur menghubunginya. Dan sabtu malam berikutnya juga, aku terlanjur memenuhi undangan makan malamnya. Makan malam yang katanya sebagai permintaan maaf tapi entah mengapa aku merasa makan malam itu terlihat seperti sebuah kencan.

Dan di sinilah aku sekarang. Di tengah jalan kota Seoul yang tidak terlalu padat dan dengan angin sore yang bertiup pelan, aku bisa dengan sangat jelas mencium aroma tubuhnya yang masih sama dengan sebelum-sebelumnya.

“Jangan terlalu erat memelukku…” ia menyempatkan diri untuk menggodaku walaupun dalam keadaan mengendarai scooter-nya.

“Ah sudah jangan terlalu banyak bicara. Tetap konsentrasi! Awas kalau sampai jatuh!” aku berpura-pura mengancamnya dan malah semakin mempererat pelukanku.

Aku benar-benar suka wangi Allyssa Ashley White musk. Aku suka maka dari itu aku terus memakainya. Dan aku juga suka karena ia juga tetap memakainya. Wangi yang sama. Dan aku rela untuk menabung setiap bulannya hanya agar aku bisa membeli sebotol parfum bersejarah itu. Hehe.

FIN

 

Ecieeee ceritanyaaa… Prikitiuwwwww… LOL XD

Advertisements

50 thoughts on “Mini FF – It Start from a Bottle of Perfume

  1. Dyuuuuu annyeong saengiii…!*lambai2*
    Masih ingat denganq??!
    Lama tak berjumpa,karena merasa jenuh dengan aktifitas jd mencloklah saya ke blogmu •◦•Нɑнaнɑ=Dнaнaɑº°˚ ˚°º≈=))
    Hmmm rasanya kalo emng ketemu idola di tempat seperti itu dan dimintai saran aq akan melakukan apa yang km lakukan yaitu “mlongo O,O” ywdh aq mw bc yg lain2x dulu

    • onnie T_T aku jadi gak fokus balas komen.. T_T
      ini komen udah lama banget aku baru baca T_T
      aku kangen banget onn T_T
      dunia per-ff-an udah berubah T_T *curhat*

  2. woooaa~ namja wangi :* :*
    oh iya, ngomong2 aku new reader di sini 😀
    parfum alysa blablabla white musk itu parfum apa sih? jadi penasaran pengen nyari. hahaha

  3. Hahaha ga nyangka cuma gara2 sebotol parfum kyungjin sama taem bisa jd sepasang kekasih. Tp klo jodoh emang bisa dipertemukan kapan saja sih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s