Mini FF – Cooooolaaaaa

Cooooolaaaaa

 

(Kyungjin P.O.V)

Semenjak beberapa menit yang lalu perhatianku sekali-kali ku alihkan ke bagian dalam rumahku. Aku takut kalau saja adikku tiba-tiba muncul dan mendapati keadaan kami seperti ini. Aku mencoba meraih pistol-pistolan adikku yang kebetulan berada tidak jauh dari jangkauanku lalu mengetuk-ngetukkannya ke kepala Taemin yang asyik bersandar di bahuku. Oke ralat, ia tidak hanya bersandar, ia juga sempat ketiduran!

“Taemin-ah…” gumamku dengan suara tertahan dan masih mengetuk-ngetuk kepalanya. Selama beberapa saat ia terlihat tidak bergeming namun pada akhirnya ia membuka mata dan sedikit terlonjak saat aku mengetuk kepalanya sedikit lebih keras lagi.

“Hiks… Sakit…” ia meringis sembari mengusap-usap kepalanya yang sempat menjadi tempat pendaratan pistol-pistolan adikku. “Kau mau menembakku sampai mati ya? Ya sudah tidak apa-apa, setidaknya aku mati dalam pelukanmu dengan sangat damai…” lanjutnya lalu tiba-tiba melingkarkan lengannya di pinggangku dengan kepala yang tak pernah beranjak dari bahuku. Ia kembali memejamkan matanya dan aku hanya ternganga selama beberapa saat.

“Hey aku serius… Kalau nanti adikku melihat kita seperti ini bisa bahaya. Dia kan masih di bawah umur…” tuturku dengan volume suara yang ku atur seminim mungkin.

“Memangnya kenapa? Ku rasa tidak masalah. Lagipula dia juga tidak akan mengerti…” gumamnya malas-malasan.

“Ish! Setidaknya sejak dini dia sudah harus dididik dengan baik…”

“Eh? Memangnya kita sedang mengajarkan hal yang tidak baik? Lagipula bukannya dia sedang tidur?”

“Iya sih… Tapi kan…”

“Aku mengantuk Kyungjin-ah… Sudah jangan banyak bicara… Lebih baik kau diam dan tetap pinjamkan bahumu. Begitu saja kenapa mesti pelit sekali…”

“Ish! Bukannya begitu!” desisku ke arahnya namun sepertinya ia tidak lagi berminat untuk menanggapi. Aku menghela napas sembari memikirkan kemungkinan yang akan terjadi kalau saja adik laki-laki semata wayangku yang masih balita itu mendapatiku seperti ini. Bukannya apa, adikku itu tergolong balita yang sangat cerewet. Bisa saja ia memberitahukan apa yang ia lihat pada Ayah dan Ibuku. Errgh, namja ini pasti belum tahu bagaimana sifat Ayahku. Aku saja takut kalau melihatnya marah. Tapi untungnya kedua orang tuaku sedang tidak ada di rumah saat namja sinting ini tiba-tiba berkunjung.

“Hey, kalau kau mengantuk kenapa datang ke sini huh? Harusnya kau tidur saja di dorm-mu”

Taemin tiba-tiba bangkit dan memperbaiki posisi duduknya.

“Kalau saja aku tidak sayang padamu, pasti aku akan jauh lebih memilih untuk meringkuk di kamar sambil memeluk bantal daripada datang menemuimu. Kau tahu, belakangan ini jadwal manggungku kembali padat dan besok aku harus kembali menyelesaikan tour di Eropa. Makanya, mumpung aku masih di sini, kau harus menjadi bantalku…” ujarnya datar yang entah mengapa terdengar sangat horor telingaku. Ia kembali memposisikan dirinya untuk bertumpu padaku namun dengan sigap aku segera menggeser posisi dudukku untuk menjauh. Akhirnya ia hanya menghela napas hingga akhirnya ia menguap kembali untuk kesekian kalinya lalu meregangkan tubuhnya.

“Kyungjin-ah, ngomong-ngomong apa kau tidak berminat untuk memberiku minum huh? Tega sekali, padahal aku haus…”

“Ish! Tidak usah berlebihan seperti itu! Salah sendiri tidak minta dari tadi…” cibirku ke arahnya lalu bangkit dari kursi dan meninggalkannya sebentar menuju dapur.

Setibanya di dapur aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku sembari mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan.  Aku lalu membuka lemari es dan hanya menemukan sebotol besar Cola, yang tanpa ku sadari membuatku sedikit bergidik sebab aku sama sekali tidak menyukainya.

“Tidak ada pilihan lain…” gumamku sembari mengendikkan bahu dan mengambil botol tersebut, kemudian kembali ke ruang tamu dan langsung menyodorkannya di hadapan Taemin.

“Heh?” Taemin terperanjat sambil menatap botol itu tak percaya.

“Kenapa?”

“Aigo… Aku kan tidak suka Cola, sama denganmu! Bukannya begitu huh?”

Seketika itu pula aku menepuk jidat. Astaga. Aku lupa ternyata bocah ini juga tidak suka Cola.

“Ya sudah, akan ku kembalikan” ujarku tak mau ambil pusing dan segera menyambar kembali botol tersebut, namun baru saja aku akan beranjak tiba-tiba ia menahan lenganku.

“Sudahlah, lupakan… Sesekali minum Cola juga tak apa-apa… Ayo, duduk di sini lagi.” ujarnya pasrah sambil menepuk-nepuk tempat dudukku tadi. Lagi-lagi aku hanya bisa mengendikkan bahu dan menuruti perkataannya.

“Min…”

“Hmmm?”

“Yakin mau minum Cola? Iuh, rasanya itu nusuk-nusuk di leher… Huh?”

Ia lalu menyorotiku dengan tatapannya.

“Kenapa kau peduli? Sudahlah, tidak usah dibahas.” ia memalingkan wajahnya, membuatku malah bersemangat untuk mengusiknya lebih jauh.

“Apa?” ia kembali menoleh saat menyadari sedari tadi aku terus-terusan menatapnya.

“Kalau begitu kenapa sampai sekarang tidak diminum, sayang?” aku memamerkan sederetan gigiku dengan lebar-lebar ke arahnya.

“O..oke… Lagipula cuma Cola saja, memangnya kenapa?” ia terlihat mencoba untuk cuek, tapi aku sendiri yakin sekarang ia sedang gugup, terlebih saat ia mulai memegang botol itu dengan tangan gemetar dan keringat sebesar biji jagung mulai berlomba-lomba untuk bercucuran di wajahnya.

“Oh, cuma Cola ya… Iya, tidak apa-apa.” aku semakin memprovokasinya dan mulai tertawa dalam hati.

“Yeah, tentu saja…” ujarnya menyombongkan diri.

“Hm, kalau begitu kenapa botolnya cuma dipegang-pegang seperti itu sayang? Cola 1 liter itu tidak akan habis kalau cuma dipegang-pegang saja.”

“Oh ini aku juga baru saja ingin meminumnya.” ia terdengar kikuk lalu tanpa ku duga sebelumnya ia mulai meminum langsung dari botolnya, membuatku cukup tercengang. Wow, ternyata dia cukup berani juga.

“Bagaimana rasanya eh?” tanyaku setelah ia meminum hampir setengahnya.

“Biasa saja. Hm, ternyata Cola tidak seburuk apa yang selama ini ku kira. Aku sendiri heran bagaimana bisa ada Cola yang sangat luar biasa enak ini.” celotehnya sambil menatap takjub ke arah botol Cola itu.

“Masa sih?”

“Sungguh. Coba saja…” ia lalu menyodorkan botol itu ke arahku. Lagi-lagi aku cuma bergidik ngeri, hingga akhirnya ekspresinya yang terlihat sangat meyakinkan itu entah mengapa membuatku cukup penasaran.

Aku lalu mengambil botol tersebut dari tangannya dan mencoba untuk meneguknya sedikit. Namun baru saja cairan itu menyentuh leherku, aku sudah merasa sangat mual. Dengan cepat aku segera berlari ke arah toilet dan mengeluarkan semua isi perutku di sana.

“LEE TAEMIN! KURANG AJAR! DASAR KAU PENIPU!” gerutuku kesal lalu kembali ke ruang tamu dengan keadaan bersungut-sungut. “A..”

Gerutuanku tiba-tiba ku hentikan saat melihat sosok yang baru saja berniat untuk ku cubiti sampai ia menangis itu kini tergeletak di atas kursi dengan mata terpejam.

“Hey Taemin, Lee Taemin?” aku mencoba untuk menepuk-nepuk pipinya, namun nihil sebab ia sama sekali tidak bergerak.

“……”

“Jangan tidur di sini… Sebentar lagi ayahku pulang!” aku mulai mengguncang-guncang tubuhnya.

“……”

“Ck, kalau kau tidak bangun juga, aku akan mengguyurmu dengan air seember. Mau pulang dalam keadaan basah kuyup huh?” kali ini aku mulai mengancamnya. Aku kembali menepuk-nepuk pipinya dengan tekanan yang lebih besar lagi namun tiba-tiba busa-busa putih mengalir keluar dari mulutnya.

“YA! LEE TAEMIN DEMI TUHAN KAU KENAPA HAH?!” seketika itu pula aku terkejut dan sangat panik. Dengan tergesa-gesa aku menghampiri telepon yang ada di sudut ruangan dan menghubungi dokter keluargaku.

“Halo?”

“Halo! Dokter! Ini aku Kyungjin, ku mohon datang ke rumahku secepatnya. Ada seseorang yang sedang sekarat!” jeritku saat orang di seberang telepon menjawab.

“Hah? Baiklah tunggu lima menit lagi!” ujar dokter itu singkat lalu segera memutuskan sambungan telepon.

Aku lalu kembali berlari menghampiri Taemin yang keadaannya semakin melemah. Bibir dan kulitnya sudah mulai terlihat pucat. Aku hanya bisa menggigiti bibir bawahku sembari mengelap busa-busa yang tak henti-hentinya keluar dari mulutnya.

Beberapa saat kemudian dokter tiba di rumahku. Tanpa ba bi bu ia langsung memeriksa keadaan Taemin sementara aku tak henti-hentinya berdoa semoga keadaannya baik-baik saja.

“Bagaimana keadaannya dokter?” serbuku saat ia selesai memeriksa.

“Tidak apa-apa. Oh iya, kalau dia sadar nanti, cukup berikan air putih sebanyak mungkin.” jawabnya sambil merapikan kembali alat-alatnya.

“Oh, syukurlah…” aku tidak bisa menyembunyikan perasaan legaku. Dokter itu lalu mohon diri untuk pamit.

“Oh iya dokter, sebenarnya dia sakit apa?” tanyaku lagi sebelum ia benar-benar pergi. Ku lihat dokter itu tiba-tiba tersenyum menahan tawa.

“Tidak apa-apa. ‘Mabuk Cola’, kalau bisa dikatakan begitu…” jawabnya sembari tertawa kecil lalu kembali melangkah keluar dari rumah.

Untuk beberapa saat kemudian aku hanya tercengang, hingga tak lama setelah itu Taemin ‘si pemabuk’ itu akhirnya sadarkan diri.

“Astaga, ternyata aku sudah ketiduran…” gumamnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Tidur nyenyak, eh?”

“Ah, tidak juga.” jawabnya singkat sambil meregangkan tubuh.

“Lalu bagaimana dengan Cola-nya huh?”

“Cola? Uhm, yeah, so far so good. Cola itu ternyata minuman yang enak.” ujarnya santai dengan senyuman innocent-nya.

“Oh, begitu. Ya sudah, lain kali kalau kau berkunjung lagi aku akan menyuguhimu Cola yang banyak.”

“Hey, jangan terlalu banyak Cola juga. Cola itu minuman yang tidak baik untuk kesehatan.”

“Ohhhhh… Benar juga… Setahuku ada juga orang yang bisa mabuk karena Cola. Berbahaya sekali.”

“Oh ya? Apa memang ada orang yang seperti itu? Errghh, ku rasa dia itu orang yang sangat payah. Masa hanya gara-gara Cola sampai mabuk seperti itu…” tanggapnya dengan sedikit mengejek.

“Aku serius, orang itu benar-benar ada. Dan dia semabuk itu sampai-sampai busa putih tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. Benar-benar tak sadarkan diri.”

“Hahahahaha…” ia tertawa lepas sambil memegangi perutnya. Aku hanya mencibir ke arahnya. “Siapa dia?”

“Kalau ku bilang orang itu kamu, Lee Taemin?”

“Ah yang benar saja?!”

Dan aku hanya menanggapinya dengan sebuah cubitan yang mendarat dengan sukses di perutnya. Namja ini!

FIN

Advertisements

41 thoughts on “Mini FF – Cooooolaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s