Heaven in Your Hands

Heaven in Your Hands

 

Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           Super Junior – Cho Kyuhyun as Marcus Cho

                                    Shin Eunjung aka Amee

Genre              :           Find it by your self

Rating             :           PG 13

Length            :           One Shot

Disclaimer      :           Own the plot! And casts belong to them self

PS                   :           FF buat amee, astaga aku utangnya udah lamaaa banget mian amee ><

+++

(Shin Eunjung POV)

Mataku membulat. Tenggorokanku terasa tercekat. Sesekali aku harus mengerjapkan mata agar dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya remang-remang ini. Pria yang berdiri di dekat ranjang yang ada di sudut ruangan bangsal rumah sakit itu terlihat sedang menatap lurus ke arah seorang wanita yang sedang terlelap di sana. Belati yang ia genggam erat di tangan kanannya menunjukkan aura bengis yang melekat pada dirinya. Apa yang akan dilakukan oleh pria asing itu?

Sesekali pria itu melirik jam tangannya sementara aku hanya bisa ternganga saat menyaksikan setiap gerak-geriknya dari arah ranjangku. Tiba-tiba pria itu mengudarakan belatinya perlahan. Seketika itu pula aku merasa lupa untuk bernapas, apalagi saat pria asing itu menghunuskan belatinya dengan kecepatan kilat ke bagian perut wanita yang sedari tadi ia tatap itu. Mata wanita yang tadinya terpejam itu kini terlihat seakan-akan ingin meloncat keluar dari rongganya, dan dari sini aku masih bisa mendengar bagaimana wanita itu merintih kesakitan dengan suara yang tertahan.

Pria itu hanya menyeringai tipis tanda tak peduli. Ia mencabut kembali belati yang telah tertancap dengan kejam itu lalu tanpa berpikir panjang kembali menghunuskan benda tajam tersebut ke bagian puncak kepala dan dada wanita itu secara bergantian.

Aku sudah tidak sanggup lagi menyaksikan semuanya. Aku mulai mencoba untuk menggerakkan tubuhku yang terbaring kaku. Namun jangankan untuk menggerakkan tubuhku, mengeluarkan sedikit suara pun aku tidak mampu. Semua perbuatan keji yang ku lihat dengan mata kepalaku sendiri itu membuat fungsi otakku terasa mati total. Aku lalu melirik ke sekeliling ruangan, mencari kemungkinan adanya orang lain yang juga melihat dan ku harap bisa mencegah perbuatan membabi-buta pria tersebut. Namun sepertinya harapan tersebut tidak akan bisa terwujud sebab pada kenyataannya, ruangan bangsal ini hanya dihuni oleh aku dan pasien wanita yang malang itu.

Selesai melakukan semuanya, pria itu menarik lagi belati untuk terakhir kalinya dan menaruhnya dengan asal ke saku celananya. Ku rasa kini jiwa dari wanita malang itu telah terpisah dari raganya. Pria itu berdeham sedikit dan tiba-tiba memalingkan wajahnya dalam satu kali hitungan ke arahku. Aku terkesiap. Mataku dan matanya saling bertemu. Dan meskipun terpisah dalam jarak beberapa meter, aku masih bisa menangkap tatapan kaget bercampur heran yang tersirat dari tatapan datar yang ia tujukan padaku itu.

Aku mulai merasa takut bercampur panik. Pria itu ternyata menyadari bahwa sedari tadi aku telah memperhatikannya, menyaksikan semua yang ia lakukan dengan jelas. Susah payah ku coba untuk menarik selimut tipisku untuk menutupi seluruh tubuh hingga ke bagian wajahku sembari berharap bahwa pria itu tidak akan melakukan hal yang sama padaku.

Tuhan, aku memang sedang sakit keras, tapi ku mohon, jangan biarkan aku mati dengan cara sekeji itu…

Sesaat kemudian aku merasa seperti Tuhan mengabulkan doaku. Dari balik selimut aku mendengar suara pintu ruangan yang dibuka dengan terburu-buru bersamaan dengan suara riuh yang berasal dari beberapa orang. Aku menyibakkan sedikit selimutku untuk melihat lebih jelas dan langsung mendapati rombongan dokter beserta perawat yang tengah mengecek keadaan wanita malang itu.

Aku lalu mengedarkan pandanganku dengan cepat menyusuri setiap sudut ruangan dan akhirnya aku mulai bisa bernapas dengan lega saat aku yakin tidak lagi menemukan sosok pria bengis itu di ruangan ini.

“S..sus..ter…” rintihku dengan susah payah. Untungnya salah satu dari mereka mendengarku dan segera menghampiriku.

“Ada yang bisa ku bantu?” tanyanya dengan nada cemas.

“Tolong temani aku di sini… Aku, takut…” pintaku padanya, berharap agar aku bisa melewati malam yang mengerikan ini dengan perasaan tenang.

+++

Meskipun harus menunggu dengan perasaan yang selalu was-was dan tidur yang sama sekali tidak nyenyak, aku akhirnya berhasil menyambut pagi yang terasa datang lebih lama dari biasanya. Pasien wanita yang bernasib malang itu kini telah dipulangkan oleh pihak keluarganya. Pikiranku kembali melayang pada sosok pria misterius semalam. Apakah ia sudah tertangkap oleh pihak yang berwajib dan ditangani sebagaimana mestinya? Atau jangan-jangan ia malah berhasil kabur dan saat ini sedang memburon?

Pemikiran itu terus saja menghantuiku dan hal yang bisa saat ini aku lakukan hanya menghibur diri seraya terus berpikir positif bahwa pria itu tidak akan muncul lagi di hadapanku. Dan yeah, ku rasa usahaku itu cukup membawa dampak.

“Nona Shin Eunjung, sudah waktunya sarapan pagi… Aku akan ke dapur sebentar untuk mengambilnya…” ujar seorang perawat yang sejak semalam menemaniku di ruangan ini. Aku hanya mengangguk pelan.

Sepeninggalan perawat itu, aku mencoba untuk memejamkan mata seraya berusaha untuk mengusir rasa kantuk yang masih menyerangku. Namun selama aku menutup mata, tiba-tiba aku merasa seperti ada sesuatu yang sedang mengintaiku. Ku coba untuk mengabaikan perasaan itu namun semakin lama firasatku semakin bertambah buruk. Akhirnya aku kembali membuka mata secara perlahan dan terbelalak seketika saat sebuah sosok yang kini berdiri beberapa meter tidak jauh dari ranjangku.

“K..kau… Mau apa kau ke sini?” tanyaku dengan suara bergetar sambil terus mengawasi setiap gerakan pria itu. Aku meniliknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ya, aku yakin pria yang saat ini sedang berpakaian sangat rapi itu adalah pria yang sama dengan semalam. Dan kabar buruknya, pria ini ternyata masih berkeliaran bebas dan bahkan datang kembali ke tempat ini seolah-olah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.

“Selamat pagi Nona Shin…” sapanya dengan nada yang terdengar sangat ramah sambil terus menyunggingkan senyuman yang sangat jauh berbeda dengan seringai yang ia tunjukkan semalam.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku lirih sambil berusaha bangkit dari posisi baringku. Dengan cepat ia melangkah mendekatiku dan menahan bahuku.

“Jangan dipaksakan, keadaanmu masih sangat lemah.” ujarnya lembut sambil mengarahku untuk berbaring kembali, yang malah membuat tubuhku gemetar hebat kerena ketakutan.

“Siapa kau? Apa yang akan kau lakukan padaku huh?” susah payah aku mengumpulkan keberanian untuk kembali bertanya. Pria itu kini melepaskan kedua tangannya dari bahuku dan berdiri tepat di sisi ranjangku.

“Aku Marcus, Marcus Cho…” jawabnya sambil sedikit membungkuk. Sangat sopan, yang hanya membuatku seperti ingin meludahi wajahnya saat melihat tingkahnya. Munafik sekali!

“Tuan Marcus, siapapun kau, ku mohon jangan mengusik-usik kehidupanku,” aku menelan ludah sejenak kemudian melanjutkan kembali, “aku sebenarnya tidak begitu tertarik untuk mengetahui alasan mengapa kau membunuh wanita itu semalam. Yang jelas, aku tidak ingin mati di tangan kotormu… Sebenarnya aku bisa saja melaporkanmu kepada pihak kepolisian saat ini juga, namun aku bisa menjamin bahwa aku tidak akan membeberkan semuanya pada siapapun, asalkan kau juga berjanji untuk menjauhi kehidupanku… Anggap saja aku tidak melihat apapun semalam…”

Aku kembali menelan ludah saat menyelesaikan perkataanku. Tetes demi tetes peluh sedari tadi sudah mengucur di seluruh wajahku. Dan bukannya membalas seluruh pernyataanku, ia hanya menanggapinya dengan tersenyum lebar.

“Ku mohon, menjauh dariku… Aku tidak akan pernah mempedulikan apa yang telah kau lakukan semalam, tapi ku mohon, menjauh dariku…”

“……”

“Aku tahu aku hanya seorang gadis berpenyakitan yang hidupnya tidak akan lama lagi… Tapi ku mohon, aku tidak ingin hidupku berakhir di tanganmu…”

“Meskipun kemungkinannya sangat kecil, tapi aku masih berharap di sisa hidupku ini aku masih bisa mendapatkan kembali orang-orang yang aku sayangi, meskipun aku tahu hal tersebut tidak akan berlangsung lama…”

Beberapa saat perawat yang bertugas menjagaku itu masuk dengan membawa nampan makanan di tangannya. Ia menaruh nampan tersebut di meja lalu mencoba untuk menyuapkan sesendok padaku.

“Aku tidak ingin makan…” gumamku dingin pada perawat itu. Sekali lagi ia mencoba untuk membuatku memasukkan makanan itu ke mulutku namun ku langsung ku tolak dengan kasar.

“SUDAH KU BILANG AKU TIDAK INGIN MAKAN! JAUHKAN MAKANAN ITU DARIKU!” pekikku sambil menatap perawat dan Marcus dengan emosi secara bergantian.

“Tapi Nona…”

“Sudahlah, ku mohon tinggalkan aku sendiri… Pergi…” pintaku kepada keduanya. Perawat itu mengangguk pelan lalu segera meninggalkan ruangan ini, kecuali Marcus. Ia terus saja berdiri di tepi ranjangku sambil menatapku dengan tatapannya yang terlihat sangat teduh.

“Seandainya saja aku memberitahukan suster tadi siapa kau yang sebenarnya…” ucapku lirih.

Aku terus saja melanjutkan perkataanku tanpa peduli bahwa pria itu sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun padaku.

“Tuan Marcus, apa kau tahu bagaimana rasanya diabaikan oleh orang-orang yang kau sayangi? Orang tuamu, keluargamu, semuanya membuangmu hanya karena mereka tahu kau mengidap penyakit yang menjijikkan?”

“Tuan Marcus, coba kau lihat kepalaku,” aku menunjuk-nunjuk puncak kepalaku dengan telunjukku, “Pria mana lagi yang ingin mencintai seorang gadis botak? Ck, kekasihku yang sedari dulu ku anggap sebagai pelabuhan terakhirku bahkan secara terang-terangan memutuskan hubungan yang sudah kami jalani selama bertahun-tahun, hanya karena gadis yang dulunya cantik ini kini tidak lebih dari seorang gadis botak yang mengerikan!” tanpa sadar aku mulai terisak, entah karena ketakutan atau karena sedih memikirkan nasibku.

Aku memalingkan wajahku ke arah lain, tidak berani menatap wajah Marcus yang terlihat sangat tenang itu. Hhh apa yang sudah aku lakukan? Menumpahkan semua kekesalan dan kekecewaanku pada orang asing yang bahkan adalah seorang pembunuh? Bodoh…

“Aku hanya ingin sembuh dan mengembalikan semua kebahagiaanku…” bisikku lirih pada diriku sendiri dengan air mata yang kini tidak bisa lagi diajak berkompromi, “Jadi tolong, jangan renggut hidupku yang menyedihkan ini…” lanjutku sembari menoleh sekilas ke arah Marcus lalu kembali memalingkan wajahku.

Tiba-tiba ku rasakan sebuah tangan menyentuh daguku lembut. Marcus, pria itu mengarahkan wajahku untuk menoleh ke arahnya. Ia mendekat dan tanpa ku duga langsung mengecup keningku beberapa saat. Kecupan itu terasa sangat lembut hingga mampu mendinginkan hatiku yang sempat mendidih.

“Nona Shin, berhentilah menyesali hidupmu… Bukankah semuanya sudah diatur oleh Sang Pencipta? Kau hanya perlu menjalaninya dengan baik, tidak peduli apakah itu berat atau ringan, suka maupun duka…” ia akhirnya membuka mulut. Untuk sesaat aku tercengang begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya itu. Aku mulai tidak percaya bahwa pria yang ku lihat saat ini adalah pria yang sama dengan pria brutal yang membunuh dengan keji semalam itu.

“Ya, aku tahu tidak ada gunanya lagi untuk menyesali semuanya… Tapi tidak bisakah aku mendapatkan kembali pelukan hangat dari orang-orang yang sangat ku sayangi itu?”

Dan lagi-lagi pria itu hanya tersenyum.

“Ya sudah, sepertinya sekarang aku sudah tidak peduli lagi bahwa mungkin saja kau akan membunuhku juga setelah memperlakukanku seperti ini… Mati mungkin akan lebih baik daripada hidup seperti ini…”

“Jadi sekarang kau sudah merasa putus asa? Tidak ingin berjuang untuk sembuh?”

Aku hanya tersenyum miris mendengar pertanyaannya. Pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu lagi ku jawab.

“Orang sakit yang mana yang tidak menginginkan kesembuhan?”

“Kalau begitu jangan berhenti berharap… Kau tahu? Walaupun kemungkinan terkabulnya sebuah harapan itu sangat kecil, apa kau tidak pernah percaya akan adanya sebuah keajaiban?”

Aku termenung memikirkan kata-kata gamblang yang keluar dari mulut Marcus itu. Harapan? Keajaiban? Apakah aku masih pantas mendapatkan semuanya?

“Nona Shin, ku harap kau mau menghabiskan sarapanmu…” ia mengangkat nampan yang ditinggalkan oleh perawat tadi dan menyodorkannya ke arahku. Aku hanya menatapnya tajam lalu kembali memalingkan wajahku.

“Jangan paksa aku…” ujarku dengan nada sedingin es.

“Kau masih percaya dengan sebuah keajaiban bukan? Makanlah… Makanan itu berusaha untuk membuatmu sehat…” ujarnya sambil menyodorkan sesendok bubur itu di dekat mulutku. Aku menatap sendok itu sejenak. Apakah benar aku masih ada harapan untuk sembuh?

Tanpa sadar aku membuka mulut dan menyambut suapan Marcus. Suara lembut itu ternyata mampu mencairkan es yang membeku di hatiku. Dan entah mengapa tiba-tiba secercah semangat mulai kembali bersarang pada diriku.

“Gadis yang baik…” ujar Marcus sambil menatapku teduh.

“Aku bukan seperti apa yang kau pikirkan…”

Untuk beberapa saat kami terlarut dalam diam. Marcus terlihat sibuk untuk menyuapi sesendok demi sesendok bubur dan aku hanya perlu sesekali membuka mulut untuk memasukkan makanan itu. Marcus tersenyum ke arahku, dan untuk pertama kalinya aku membalas senyumannya itu dengan hati ringan.

“Nona Shin, apakah aku boleh mencoba untuk membuatmu merasa sedikit kembali memiliki apa yang sudah hilang darimu?”

“Maksud kamu?” aku menoleh ke arahnya dan menatapnya bingung. Ia menaruh kembali nampan makanan itu ke meja lalu duduk di tepi ranjangku. Ia kemudian menuntunku untuk ikut duduk dan merentangkan tangannya ke arahku. Aku hanya menatap pria itu dengan kening berkerut hingga tiba-tiba ia mendekapku dan membawaku masuk ke dalam pelukannya.

Dan pelukan itu, ia bahkan terasa jauh lebih hangat dari apa yang pernah orang-orang yang aku sayangi itu berikan padaku. Tanpa sadar aku mulai menikmatinya dan Marcus juga terlihat tidak keberatan untuk meminjamkan tubuhnya selama beberapa saat.

Tak lama kemudian Marcus terlihat sibuk berkutat dengan arloji yang terpasang di lengan kanannya, membuatku akhirnya melonggarkan pelukanku dan terlepas dari pelukannya.

“Ada apa? Kau punya urusan?” tanyaku hati-hati. Ia menoleh ke arahku dan mengangguk pelan. Tiba-tiba aku tersadarkan akan suatu hal.

“Tuan Marcus, apakah urusanmu ini berhubungan dengan pembunuhan lagi? Apakah kau memang bekerja sebagai pembunuh? Lalu kalau kau memang seorang pembunuh, kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Kau ingin membuatku hancur huh?” hatiku yang tadi sempat tenang kini kembali memanas. Lagi-lagi Marcus hanya menatapku dengan wajah tenangnya.

“Kau tidak mengetahui apa-apa Nona Shin, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan…” ujarnya datar yang langsung ku tanggapi dengan desahan napas yang terasa berat.

“Nona Shin… Sekarang sudah saatnya…”

“Saatnya? Apa maksudmu?”

Marcus kembali berdiri tegak di tepi ranjangku. Aku terus saja menatapnya dengan bingung hingga tiba-tiba disekitar tubuh Marcus muncul aura putih yang membuatnya terlihat bersinar. Seketika itu pula aku hanya bisa tercengang.

“Shin Eunjung, 19 tahun, 27 September 2011 tepat pukul 10.00, leukimia stadium akhir. Aku datang untuk menjemputmu dan mengantar jiwamu untuk memasuki kehidupan selanjutnya.” ujarnya fasih sambil mengulurkan tangannya ke arahku.

“Jadi, kau benar-benar akan mengambil jiwaku juga? Dengan cara yang sama kejinya saat kau membunuh wanita malang itu?”

Marcus hanya menyunggingkan bibirnya untuk tersenyum beberapa saat sebelum akhirnya menanggapi pertanyaanku dengan kata-kata yang masih belum bisa ku cerna dengan jelas.

“Gadis yang baik tentu akan menemui ajalnya dengan cara yang baik pula, dan begitupun sebaliknya… Selamat berjuang Shin Eunjung. Jangan takut, semoga kehidupanmu selanjutnya bisa lebih baik dari sekarang.” tuturnya singkat dengan senyuman yang terus saja mengembang dengan sempurna. Senyuman itu, entah mengapa selalu berhasil menyejukkan rasa sesak dalam rongga dadaku.

Setelah merenungkan kembali semuanya selama beberapa saat, perlahan-lahan aku mulai menyambut uluran tangannya dan saat ia sudah menggenggam tanganku erat, sepasang sayap putih bersih mengembang dengan gagah di balik punggungnya. Ia membungkuk ke arahku, mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mengecup bibirku dengan lembut. Untuk sejenak aku cukup merasa terkejut, namun beberapa saat aku mulai memejamkan mataku, dan ku rasa saat aku membuka nanti, aku tidak lagi menemukan diriku dalam wujud yang sama.

 

THE END

 

PS (lagi/plak) : maaf banget,, aku udah jarang ngepost.. asli,, aku udah g punya banyak waktu lagi buat ngetik.. TT__TT apalagi belakangan ini udah jaman2 ujian.. huhu.. tapi udah selesai,, Alhamdulillah.. makanya aku langsung balik buat ngepost ff (yang sangat gaje ini),, berhubung ni wp udah beda2 tipis dengan kuburan.. 😦 oiya,, bantu doain ya biar hasil ujiannya memuaskan.. hehe.. love u all.. ^^

Advertisements

22 thoughts on “Heaven in Your Hands

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s