Bad but Good

Bad but Good

 

Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Taemin

f(x) – Sulli as Choi Jinri

Genre              :           Family, Angst, Romance

Rating             :           PG-15

Length            :           One Shot

Disclaimer      :           Just my crazy idea, but no plagiarism please!

NB                  :           ini bukan bad but good-nya Miss A ya ^^”

+++

Pernahkah kau merasa, bahwa hidupmu di dunia ini sama sekali tidak berarti? Dan juga, tidak diharapkan?

“Kau ini selalu saja menyusahkan!”

“Dasar anak yang tidak berguna!”

“Semestinya kau tidak terlahir ke dunia ini!”

Kata-kata yang begitu familiar di telingaku itu hanya bisa ku tanggapi dengan ekspresi datar, diam, tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Lalu dalam keadaan tidak diinginkan seperti ini, setiap orang yang merasakannya pasti akan lebih memilih untuk lenyap dari dunia ini. Ku lirik kedua kakak perempuanku yang menatapku sama sinisnya dengan tatapan ibuku itu. Sungguh, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus ku lakukan untuk menghadapi para wanita-wanita itu.

“Aku harus bagaimana?! Seharusnya pemuda seusiaku ini masih duduk di bangku sekolah!” ujarku mencoba untuk membela diri.

“Ya! Kalau memang kau sanggup membayar semua biaya sekolahmu itu, SILAHKAN!” emosi ibuku masih mencuat-cuat, dengan kedua kakak perempuanku yang berdiri di sampingnya, semakin membuat ibu bersemangat untuk ‘menelanku’.

“Ibu, aku… Aku pasti bisa mencari pekerjaan… Setidaknya itu bisa digunakan untuk membantu…”

“Membantu apa? Apa yang bisa dilakukan oleh anak lelaki satu-satuku ini hah?” ujar ibu sambil mencengkram wajahku, “Ya, kau bahkan tidak terlihat seperti seorang laki-laki…” ia kembali berujar dengan nada mengejek.

“Ibu!”

“Ohh, aku hampir melupakan sesuatu… Ku pikir kau juga memiliki bakat yang cukup berguna…” gumam ibuku sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Bisa ku lihat seringainya yang lebar itu, yang membuat perasaanku semakin bertambah tak karuan.

“Mau kau apakan anak manja ini ibu?” tanya salah satu saudariku.

“Mau bagaimana lagi? Ku rasa ia juga bisa mengikuti jejak kita…” ibuku menimpali dengan ekspresi keyakinan yang sangat kuat. Ku lihat kedua saudariku tercengang, namun sedetik kemudian mereka menganggukkan kepalanya. Dan itu mereka lakukan sambil tertawa di depan wajahku.

Aku memang dilahirkan sebagai lelaki. Lelaki yang lemah. Lelaki yang sama sekali tidak bisa diandalkan oleh keluargaku. Lelaki yang takdirnya sebagai lelaki pun sangat disesalkan oleh orang-orang di sekitarku.

Dan aku, Lee Taemin, seorang anak lelaki berusia 18 tahun, dengan sangat terpaksa harus mengikuti segala keinginan ibuku, ibuku yang menjerumuskanku dalam lubang hitam yang bahkan telah menenggelamkannya sekian lama.

+++

(Jinri P.O.V)

Panggil saja aku Jinri, Choi Jinri. Ya, nama yang sepertinya sudah membuat seluruh nama baik keluargaku rusak. Tapi apa yang bisa ku lakukan, inilah pilihan hidupku. Karena aku sudah terlanjur terpuruk dalam dunia yang ku rasa sudah menjadi duniaku ini. Dan di sinilah aku sekarang, bergabung bersama orang-orang lain yang sama sekali tidak bisa lagi membedakan antara baik dan buruk. Pria dan wanita yang saling berbuat sesuka hatinya, atau bahkan hanya seseorang yang menghabiskan waktunya dengan meneguk beberapa botol minuman beralkohol sudah menjadi pemandangan yang biasa aku lihat sehari-hari. Dan tentang seorang pria paruh baya yang sebenarnya baru saja aku kenal beberapa waktu yang lalu itu, yang kini duduk rapat-rapat di sampingku sambil bergelayut manja atau bahkan menjelajahi setiap inci tubuhku juga sudah menjadi hal yang biasa bagiku.

“Ayo cium aku sayaaannggg…” gumam pria yang seharusnya seusia dengan ayahku itu dengan nada bicara yang hampir terdengar tidak jelas. Bau alkohol yang terus menyeruak dari mulutnya itu sudah menjadi bukti nyata bahwa saat ini ia sedang mabuk. Aku hanya meringis pelan dan sedikit memaksakan senyumku padanya sambil sesekali melepaskan tangannya yang kadang memelukku dengan sangat erat hingga membuatku sulit bernapas.

“Err, waktu ‘sewa’mu sudah habis tuan. Silahkan bayar sesuai dengan kesepakatan kita tadi…” ujarku tanpa basa-basi pada pria itu sambil memperlihatkan jam tanganku tepat di hadapan wajahnya.

“Kenapa cepat sekaliiii? Kau pasti bercandaaaa…” ujarnya kembali yang semakin terdengar seperti gumaman.

“Aku tidak bohong tuan, kau bahkan sudah duduk di tempat ini sepuluh menit lebih lama dari perjanjian awal kita yang hanya tiga jam…”

“Ahh, persetan dengan waktu… Temani aku lagi, aku akan membayarmu lebih…” ia mengibaskan tangannya tanda tak peduli, lalu sesaat kemudian ia kembali menumpukan sebagian besar berat badannya di bahuku. Aku menghela napas panjang. Baru saja aku ingin kembali memperingatkannya namun tiba-tiba ia terjatuh ke pangkuanku.

“Tuan?” aku mengguncang-guncang bahunya. Tidak ada jawaban. Ku coba untuk membalikkan sedikit wajahnya, dan ternyata pria ini sudah tidak sadarkan diri. Hhh, pasti dia sedang dalam pengaruh alkohol.

Tanpa menghabiskan waktu yang lebih lama lagi, aku mulai meraba tiap- tiap saku pria ini hingga akhirnya aku menemukan sebuah dompet. Aku membukanya dan tatapanku langsung tertuju pada sebuah foto mini yang terpajang di sana, dimana di dalam foto tersebut terdapat seorang pria yang ku kenali sebagai pria yang sedang mabuk di pangkuanku ini, seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya yang ku duga sebagai istrinya, dan seorang remaja perempuan berwajah lugu yang berdiri di belakang sambil merangkul keduanya. Penampakan keluarga harmonis dengan senyum lebar yang tersungging di bibir masing-masing.

“Sayang sekali, kepala keluarga harapan kalian ternyata bersifat busuk” gumamku sambil tersenyum simpul. Aku lalu mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet itu. Melihat isi dompetnya, sebenarnya aku bisa saja mengambil lebih banyak lagi. Akan tetapi aku hanya mengambil dengan jumlah yang telah kami sepakati sebelumnya.

Aku lalu mengembalikan dompet itu ke dalam sakunya, dan setelah itu susah payah aku mengangkat tubuhnya untuk bersandar di sofa agar tidak lagi menimpa tubuhku. Aku bangkit dari posisi dudukku dan berniat untuk menghampiri meja bar, namun sebelum niatku itu tersampaikan, terdengar seseorang memanggilku dari arah belakang.

“Choi Jinri!”

Aku menghentikan langkahku, menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya sedang melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Melihat siapa yang memanggilku itu, dengan segera aku berjalan mendekat ke arahnya.

“Ada apa Nyonya Lee?”

“Kau sedang tidak ada pekerjaan kan?” tanya Nyonya Lee dengan yang langsung ku sambut dengan anggukan. “Bagus, kalau begitu temani anak ini untuk berkeliling-keliling” ujarnya kembali sementara tangan kanannya menarik lengan seorang pemuda yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Aku mengerutkan keningku, namun sedetik kemudian aku akhirnya menganggukkan kepalaku, menyanggupi permintaan Nyonya Lee. Yeah, siapa yang bisa menolak setiap kata-katanya? Nyonya Lee adalah pemilik bar sekaligus orang yang menawarkan pekerjaan yang saat ini ku lakoni.

“Mari” kataku sembari mengajak pemuda tersebut. Ia terlihat menganggukkan kepalanya dan akhirnya berjalan mengikuti langkahku.

“Errr, sebenarnya apa yang ingin kau lihat-lihat di tempat ini?” tanyaku akhirnya setelah beberapa saat kami berkeliling tanpa maksud yang jelas.

“Sebenarnya, aku tidak ingin melihat apa-apa…” jawabnya sambil menunduk, yang membuatku semakin mengerutkan keningku. “Oh iya, ngomong-ngomong perkenalkan namaku Lee Taemin, dan wanita tadi adalah ibuku. Ia menyuruhku untuk melihat-lihat keadaan bar…” lanjutnya.

“Aku memang sudah menduga kalau dia ibumu. Dan, namaku Jinri, Choi Jinri”

Ku lihat ia hanya menganggukkan kepalanya. Aku jadi memikirkan sesuatu. Kalau Nyonya Lee menginginkan seseorang untuk melihat-lihat keadaan barnya, biasanya itu berarti bahwa orang yang melihat-lihat tersebut juga akan dipekerjakan di tempat ini, seperti yang ku alami dulu. Tapi dilihat dari wajahnya yang polos itu, aku masih tidak yakin kalau ia benar-benar berniat untuk menjadi bagian dari ‘dunia kotor’ ini.

“Choi Jinri, kalau boleh aku tahu, apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanyanya tiba-tiba di tengah keheningan yang tadinya mendominasi suasana di antara kami. Mendengar pertanyaannya itu, aku jadi tertegun.

“Menurut kamu sendiri?” aku memutarbalikkan pertanyaannya dengan hati-hati, dan ku rasa ia sudah paham sebab lagi-lagi ia menganggukkan kepalanya.

“Kalau boleh aku tahu lagi, apa alasanmu sehingga memilih untuk menjadi, errr, seperti ini?”

Aku menelan ludahku dalam-dalam sesaat setelah ia menyelesaikan pertanyaannya, lalu dengan cepat aku memutar bola mataku, menatapnya dengan penuh selidik. Sebenarnya apa yang ada di pikirannya?!

“A..aku… sudah terlanjur memilih. Lagipula, aku sudah tidak peduli lagi, aku menikmatinya…” hanya itu kata-kata yang spontan keluar dari mulutku.

“Apa kau yakin kau menikmatinya?”

“Hey, apa aku perlu menjawab semuanya?” aku menatapnya dengan perasaan yang mulai tidak enak. Lagipula, apa pedulinya dengan semua urusanku?

“Maaf… Aku sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu… Aku hanya sedang bersedih…” ia terdengar menghela napas yang cukup panjang.

“Bersedih?”

“Yeah. Sebenarnya, aku sama sekali tidak ingin berada di tempat ini… Bahkan untuk membayangkan segala sesuatu yang ada di sini pun aku sama sekali tidak pernah berminat. Seharusnya aku bisa menjalani kehidupanku yang lebih baik daripada ini. Hanya saja… Ah, sudahlah, dibahas pun akan terasa percuma…”

Aku lebih memilih untuk diam daripada menanggapi setiap perkataannya. Setelah ku perhatikan dan mendengar ceritanya, ku rasa ia tipe pria yang baik-baik, tidak seperti pria-pria yang kebanyakan berkeliaran di tempat ini. Dan tanpa sadar itu membuatku sedikit merasa malu berada di dekatnya. Ck, kenapa mesti malu? Seharusnya aku bersikap biasa saja…

“Oh iya, ku rasa sudah cukup… Lebih baik aku kembali menemui ibuku…” ia kembali memecah keheningan di antara kami. Aku mengangguk lalu kembali mengantarkannya menuju tempat di mana kami bertemu tadi.

Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang mencengkram lenganku dengan keras, dan saat aku berbalik, aku mendapati seorang pria yang terlihat sempoyongan. Ck, pria yang tadi.

“Ada apa lagi Tuan? Ku rasa sekarang aku tidak punya urusan lagi denganmu…” ujarku padanya sambil berusaha melepas cengkramannya.

“Hey, temani aku lagi, sebentar saja…” tiba-tiba ia memelukku, membuatku berdesis dan langsung menampar pipinya dengan cukup keras.

Plakkk!

Ia akhirnya melepaskanku, memegangi pipinya yang menjadi tempat dimana telapak tanganku mendarat tadi, dan menatapku cukup tajam.

“Perempuan pelacur, berani-beraninya kau!”

Plakkkkkk!

Satu tamparan balasan sukses mendarat di pipi kiriku yang membuatku sedikit terhuyung ke belakang. Tidak hanya itu, sedetik kemudian aku kembali melihat pria itu mengangkat tangannya, bersiap-siap untuk kembali melayangkannya padaku.

Kejadiannya berlangsung cukup singkat. Dengan sigap Taemin yang berdiri di sampingku menahan tangan pria itu, melayangkan satu kepalan tinjunya tepat di wajah pria itu hingga membuat pria yang sebenarnya masih berada di bawah pengaruh alkohol itu ambruk dan pingsan di lantai.

“Sadar atau tidak, sepertinya aku pernah membayangkan bisa menjalani kehidupan seperti orang-orang normal lainnya… Menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekedar menyendiri di kamar sambil melakukan apapun yang ku mau…” gumamku tiba-tiba.

“Huh?” ia menatapku dengan bingung, mungkin ia tidak mendengar perkataanku dengan baik. Tak berniat untuk membahasnya lebih jauh, aku hanya tersenyum padanya.

+++

(Taemin P.O.V)

Kami kembali berjalan menemui ibuku yang terlihat sibuk meneguk minuman-minuman yang ada di hadapannya itu.

“Kami sudah selesai Nyonya Lee…” Jinri lebih dulu menegur ibuku.

“Oh, ya sudah. Kau bisa pergi…” ibuku menanggapi perkataannya. Jinri terlihat membungkukkan badannya, lalu sesaat kemudian ia memutar tubuhnya dan berjalan menjauh dari kami. Aku menatap gadis itu hingga ia benar-benar menghilang di kerumunan banyak orang.

“Jadi, sekarang aku bisa pulang?”

Ibu memutar bola matanya, menatapku tajam seakan apa yang baru saja ku katakan itu merupakan hal yang sangat salah.

“Kau pikir aku membawamu ke sini hanya untuk melihat-lihat huh? Malam ini juga kau mulai bekerja…” ujarnya tak acuh. Ia lalu menarik tanganku dan membawaku menuju sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang ganti. Saat pintu ruangan di buka, beberapa orang yang ada di dalam yang sebagian besar dipenuhi oleh kaum hawa itu.

“Ibu… Kenapa aku dibawa ke sini? Bukannya ini kamar ganti perempuan?” pekikku pada ibu sambil mencoba untuk mengelak. Ia terlihat tidak peduli, tetap menarikku masuk ke dalam ruangan itu dan mendorongku untuk duduk di salah satu kursi.

Aku memperhatikan ibu. Tangannya terlihat digerak-gerakkan, mengisyaratkan seseorang yang ia maksud tersebut untuk datang mendekat. Ibu langsung membisikkan sesuatu yang tidak bisa ku dengar pada wanita paruh baya tersebut. Wanita itu mengangguk, dan beberapa saat kemudian wanita itu mulai mengeluarkan beberapa peralatan dari sebuah kotak. Ku tatap peralatan itu baik-baik. Bedak, lipstick, pewarna pipi, dan perasaanku mulai sangat kacau.

Benar saja, sedetik kemudian, peralatan-peralatan itu sudah sukses menyapu seluruh bagian wajahku. Aku ingin mengelak, tapi ku rasa percuma saja. Aku takkan bisa membantah. Samar-samar terdengar suara cekikikan dari arah sudut ruangan. Ku rasa, perempuan-perempuan yang ada di ruangan ini sedang menertawakanku.

Setelah ia memoles wajahku di sana-sini, aku kembali dipaksa untuk mengenakan sebuah pakaian wanita yang menurutku sangat kekurangan bahan, ditambah dengan sebuah rok mini yang ternyata sangat pas di tubuh kecilku ini. Dan sebagai sentuhan akhir dari semuanya, sebuah wig berwarna coklat gelap dengan model bergelombang dan cukup panjang itu sukses terpasang di atas kepalaku.

Ibu mendekat dan memperhatikanku dengan seksama.

“Sudah ku bilang, kau akan terlihat sangat cantik…” ujarnya sambil menahan tawa “pakai ini…” ia kembali menambahkan sambil melemparkan sepasang high heels ke arahku.

Aku menelan ludah dalam-dalam. Hatiku sangat sakit. Ku coba untuk membujuk ibu sekali lagi.

“Ibu… Bukannya dengan seperti ini mereka hanya akan jijik padaku? Aku ini laki-laki ibu…” ujarku sambil terus menelan ludah, berusaha keras agar tidak menangis saat ini juga.

“Kata siapa? Kau sudah sangat terlihat seperti perempuan… Tidak akan ada yang mengenalimu. Lagipula, kau hanya akan menari di sana bersama laki-laki yang mabuk-mabukan itu. Mereka tidak akan pernah sadar, tenang saja… Cahaya di luar sana juga remang-remang. Kau baru boleh pulang kalau semua itu sudah selesai kau lakukan. Hanya menari, hanya itu kemampuanmu bukan?!” tegas ibuku.

Kali ini aku tak bisa lagi menahannya. Sebutir air mataku jatuh, namun dengan cepat aku mengusapnya. Tidak boleh menangis, kau ini laki-laki Lee Taemin.

Aku berjalan mengikuti langkah ibu sambil menunduk malu, berharap tidak ada seorang pun yang berniat untuk memperhatikanku. Kami akhirnya sampai pada sebuah perkumpulan, dimana di tempat itu hanya ada beberapa pria yang keadaannya seperti yang ibu bilang tadi, mabuk parah. Di antara mereka juga terdapat beberapa wanita yang keadaannya tidak jauh beda dari mereka. Menyadari kedatangan kami, pria-pria itu menoleh. Salah satu diantara mereka bersiul ke arahku sementara yang lain masih terlihat mengucek-kucek matanya. Aku hanya meringis menanggapi mereka.

Tanpa ku duga, ibu mendorongku dari belakang hingga membuat tubuhku terlempar ke arah mereka, sementara salah seorang dari mereka, yang tadi bersiul padaku, langsung menarikku mendekat hingga duduk tepat disebelahnya. Ibuku tersenyum sekilas lalu memutuskan untuk meninggalkan kami.

Aku merasa buluk kudukku mulai merinding. Aku melirik ke samping dan mendapati pria itu tersenyum ke arahku. Semakin lama tubuhku semakin terasa lemas. Keringat dingin tak henti-hentinya mengucur di setiap bagian tubuhku. Bau alkohol tajam yang tercium di mana-mana juga membuat perutku terasa sangat mual. Sial!

“Tidak usah gugup seperti itu sayang…” gumam pria itu tepat di telingaku, yang hanya membuatku semakin merinding. Tak lama kemudian panggung kecil yang ada di depan sudah kosong. Ibu mengisyaratkan padaku untuk segera naik ke atas panggung tersebut. Lagi-lagi aku menelan ludah dan melangkahkan kakiku dengan enggan. Tepuk tangan yang sangat meriah langsung menghujaniku saat perlahan-lahan musik dengan dentuman beat yang sangat keras itu mengalun.

Sekali lagi ku lirik ibuku yang berdiri di antara kerumunan orang-orang, hingga sorot matanya yang sangat tajam dan menakutkan itu akhirnya menggerakkanku untuk mulai menari, menghibur para lelaki busuk itu dengan gerakan yang sangat feminin. Satu per satu para pria itu mulai melemparkan beberapa lembar uang ke arahku, dan tiba-tiba saja aku sangat berharap Tuhan membunuhku saat ini juga.

+++

Aku berlari dengan sangat tergesa-gesa ke arah toilet. Saat tiba di depan toilet aku menjadi bingung setengah mati. Sial! Ku rasa aku harus masuk ke dalam toilet yang bertuliskan kata ‘woman’ di depan pintunya itu. Keadaan yang cukup bagus sebab di dalam ternyata cukup sepi. Langsung saja aku mengeluarkan semua isi perutku yang sedari tadi sudah memaksa untuk keluar.

Semuanya terasa menyakitkan, sangat menyakitkan. Mulai dari fisik, terlebih lagi batinku. Ku kepalkan tanganku kuat-kuat dan langsung melayangkannya pada cermin yang ada di hadapanku dalam satu hitungan, membuat cermin itu retak dan tanganku berdarah karena goresannya.

“Astaga” aku mendengar suara gumaman seseorang sesaat setelah aku meretakkan cermin itu. Ku coba untuk melihat sosoknya dari pantulan cermin. Jinri? Sejak kapan ia berdiri di situ?

Aku tertegun sejenak, lalu setelah itu aku segera beranjak meninggalkannya dengan tergesa-gesa. Ku mohon, jangan sampai ia mengetahui siapa yang ada di balik penampilan wanita ini, sangat memalukan!

+++

Keesokan harinya, saat dimana hari sudah gelap, aku kembali diseret ke dalam kekhawatiran terbesarku, club malam itu. Ku rasa ibuku sudah menemukan satu lagi tambang emas dari anak-anaknya selain kedua saudariku yang telah lebih dulu memilih untuk menjual diri. Dan lagi-lagi, ibu memaksaku untuk memasuki ruang ganti tersebut.

“Ibu, ku mohon, aku tidak mau lagi…”

“Apa yang kau bicarakan ini Lee Taemin?”

“Ku mohon bu… Jiwaku bukan di sini… Semuanya terasa sangat menyiksaku… Menyakitkan…”

“Aku tidak peduli”

“IBU MACAM APA KAU INI HAH?!” aku berteriak sekeras mungkin, membuat seluruh pasang mata yang ada di ruangan ini langsung tertuju ke arah kami. Ku lihat wajah ibu memerah, mungkin memendam amarah, lalu sedetik kemudian, telapak tangan kanannya mendarat dengan sukses di pipi kiriku. Satu kali… Dua kali… Tiga kali…

Ku tatap wajah ibu yang geram itu dengan tatapan nanar.

“Pukul lagi ibu… Lebih baik kau terus memukuliku seperti ini sampai aku mati daripada aku harus melakukan hal yang sangat menjijikkan itu…” ujarku pada ibu. Mataku mulai berkaca-kaca.

“Jangan pernah memanggilku dengan sebutan ibu lagi, aku bukan ibumu! Kau ini hanya anak yang tak tahu cara berterima kasih yang dulu terpaksa ku pungut karena sedikit kasihan!” bentak ibuku tepat di wajahku.

“K..kau pasti sedang berbohong kan bu?” aku memaksakan diri untuk sedikit tertawa.

“Aku hanya memiliki dua anak kandung, dan semuanya perempuan! Kau bukan anakku, aku tidak berbohong sedikit pun! Ayahmu hanya seorang pengunjung bar dan ibumu hanya seorang pelacur untuknya. Kau bahkan tidak diharapkan untuk lahir! Camkan itu!” emosi ibu semakin meluap. Aku terkejut, tentu saja. Mulutku tidak pernah berhenti menganga sepanjang mendengar kata-katanya.

Sudah cukup. Aku memutar tubuhku dan berlari meninggalkan ruangan yang terasa sangat panas itu. Sepanjang berlari terkadang aku menyambar setiap orang yang kebetulan melintas di dekatku. Beberapa dari mereka bahkan mengumpatku dengan sangat kasar, tapi sudahlah, aku tidak peduli. Aku terus menghindari keramaian itu menuju pintu keluar dan langsung menghambur ke trotoar jalan.

Aku terduduk sambil memikirkan kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Ya, sekarang aku sudah menemukan alasan kenapa selama ini ibu begitu membenciku. Dan oh, ku rasa mulai sekarang aku tidak lagi bisa memanggilnya dengan sebutan ibu.

Ku pendam wajahku di antara lutut dan lengan-lenganku, membiarkan tetes demi tetes air mulai berjatuhan dari kedua mataku.

“Tuhan bunuh saja aku…” gumamku pelan.

“Jangan mati sekarang…” tiba-tiba seseorang membalas gumamanku. Aku tersentak. Ku angkat wajahku dan langsung mendapati sosok Jinri kini berdiri di hadapanku.

“Ku rasa lebih baik kau tinggalkan aku saja…” ujarku dengan nada dingin. Ku lihat ia hanya tersenyum dan malah ikut duduk di sampingku.

“Ku rasa masalah yang kau hadapi cukup berat” ia kembali berbicara. Ku rasakan ia sedang merogoh sesuatu dari dalam tasnya. “Ini, ambillah. Berikan pada Nyonya Lee…” lanjutnya sambil menyodorkan sebuah amplop coklat dengan isi yang terlihat sangat tebal.

“Apa itu?”

“Isinya sejumlah uang. Asal kau tahu, para pekerja Nyonya Lee hanya bisa bebas jika ia memberikan imbalan yang setimpal. Jumlah segini sudah cukup untuk membuatmu terhindar darinya”

“Apa? Tch, kau pikir aku akan menerimanya? Tidak usah, aku tidak butuh belas kasihanmu…”

“Ku mohon jangan tersinggung seperti itu. Aku benar-benar berniat membantumu. Ku lihat kau sudah cukup menderita. Ayo, ambillah. Atau kalau kau merasa keberatan untuk mengambilnya secara cuma-cuma, kau bisa menggantinya kapan saja…” ia menarik tanganku dan meletakkan amplop itu di genggamanku. Ia tersenyum sekilas lalu kembali berdiri.

“Bangunlah hidupmu, dan hiduplah lebih baik…” ujarnya sebelum ia mulai beranjak untuk meninggalkanku.

“Tunggu!” aku mencoba untuk menahannya. Ia kembali berbalik sambil mengangkat kedua alisnya.

“Kenapa kau ingin membantuku?”

Lagi-lagi ia tersenyum. Ia terlihat memutar bola matanya sebelum kembali melihat ke arahku.

“Kalau ku katakan aku menyukaimu, apa itu bisa dijadikan alasan?”

Untuk kesekian kalinya aku tertegun. Ia sedikit membungkuk ke arahku sebelum memutar kembali tubuhnya dan akhirnya benar-benar pergi. Aku menatapnya dari belakang hingga ia benar-benar menghilang di tikungan jalan.

+++

(Jinri P.O.V)

Ku pacu langkahku yang terasa sangat ringan ini di sepanjang trotoar jalan. Aku senang akhirnya aku bisa membantunya. Dia, Lee Taemin, yang secara misterius merebut seluruh perhatianku.

Ku rasakan ponselku berdering. Ku lirik layar ponsel yang menunjukkan sebuah nomor telepon yang tidak ku kenali.

“Halo?”

“Choi Jinri, ini aku, Lee Taemin. Mulai sekarang kau tidak usah bekerja lagi di club malam”

“Maksud kamu?”

“Aku sudah memberikan uang itu kepada ibu, err maksudku Nyonya Lee. Sekarang kau sudah bebas…”

“Apa? Jadi kau memberikan uang itu atas namaku? Untuk membebaskanku?”

Tiiittttt…

Sambungan telepon tiba-tiba terputus sebelum ia menjawab semua pertanyaanku. Tanpa pikir panjang lagi aku kembali memutar tubuhku dan berlari menuju pub.

Aku tiba dengan napas yang terengah-engah. Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan, mencari sosok Taemin di antara lautan manusia yang ada di sini. Setelah mencari-cari akhirnya aku menemukannya. Ia terlihat sedang duduk di sebuah sofa yang ada di sudut ruangan. Tidak sendirian sebab di samping kiri kanannya terdapat kumpulan wanita paruh baya yang terkadang memeluknya dengan manja.

Sepertinya Taemin menyadari kehadiranku. Ia menatapku sekilas lalu terlihat sedikit berbicara dengan para wanita-wanita kelebihan harta namun kekurangan kasih sayang itu. Sesaat kemudian, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku. Ia langsung tersenyum saat berdiri tepat dihadapanku, dan mungkin itu pertama kalinya aku melihat seorang Lee Taemin tersenyum.

“Kenapa?” tanpa basa-basi aku langsung bertanya padanya. Aku cukup kecewa, ia menolak bantuanku dan malah menggunakannya untuk membebaskanku.

“Kalau ku katakan aku juga menyukaimu, apa itu bisa dijadikan alasan?” ujarnya dengan seulas senyum yang tersungging di bibirnya. Aku tercengang, apa yang baru saja ia katakan?

“Tenang saja, aku sudah memikirkannya. Mungkin untuk sementara waktu aku akan bekerja di sini sampai aku memiliki uang yang cukup untuk menebus diriku sendiri. Hahaha, terdengar sangat lucu. Tunggu aku, aku akan segera menyusulmu. Dan kau, bangunlah hidupmu, dan hiduplah lebih baik…” ia kembali melanjutkan perkataannya yang membuatku semakin tercengang. Ku lihat ia kembali tersenyum. Tiba-tiba ia menciumku sekilas, dan belum sempat aku mengontrol kembali semua pikiran dan perasaanku, ia kembali berjalan meninggalkanku, kembali duduk di tengah tante-tante itu dengan harapan agar bisa menebus dirinya secepat mungkin.

Lelaki itu, Lee Taemin, dia yang telah mengubahku, membawaku untuk kembali menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dari kehidupan yang sangat gemerlap itu. Tenang saja, aku akan menunggumu.

THE END

 

Note : anggap saja pas nulis ff g jelas ini saya lagi mabok -___-

Advertisements

54 thoughts on “Bad but Good

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s