Forgive Me

Forgive Me

 

Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           YOU (Girl’s Name)

                                    SHINee – Kim Kibum

                                    SHINee – Choi Minho

Genre              :           Find it by your self

Rating             :           PG-13

Length            :           Drabble

Disclaimer      :           Just own the story belongs to my crazy imagination

+++

Aku berlari sekuat tenaga menyusuri trotoar jalan sambil sesekali melirik ke arah jam tanganku.

‘Astaga! Sudah tepat pukul sepuluh malam dan aku terlambat dua jam dari perjanjian awal…’ umpatku dalam hati sambil terus memacu langkahku secepat mungkin.

Langkahku akhirnya terhenti di depan sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu mobil itu dan duduk di dalamnya.

“Maaf…” satu kata yang sangat singkat namun cukup berat itu akhirnya keluar dari mulutku. Diam-diam aku melirik ke arahnya yang duduk tepat di sampingku, di balik kemudi mobilnya.

“……” beberapa saat sudah berlalu namun ia tidak juga menanggapi perkataanku. Keringat dingin mulai menetes di dahiku, apalagi saat melihat wajahnya yang sangat tertekuk itu.

“Demi apa Kibum, harusnya kau mengerti dengan keadaanku sekarang!”

“Ya! Kau pikir sudah berapa lama aku menunggumu hah?! SUDAH SANGAT LAMA NONA!”

“YA! TIDAK USAH MEMBENTAKKU SEPERTI ITU! AKU BELUM TULI! LAGIPULA JARAK KITA TIDAK JAUH, KAU BERBISIK PUN AKU MASIH BISA MENDENGARNYA!” aku balik membentak Kibum, tepat di hadapan wajahnya. Aku menunggu respon selanjutnya, dan ku lihat ia mulai mendengus kesal.

“KAU INI SANGAT CEREWET!”

“APA?!”

“KU BILANG, KAU INI PEREMPUAN YANG SANGAT CEREWET!” terlihat ekspresi kepuasan dari wajahnya saat ia mengeluarkan kata-kata tersebut.

“OH YA?! HEY, JUSTRU KAU YANG LEBIH CEREWET DARIKU! KAU BAHKAN TERLIHAT SEPERTI SEORANG PEREMPUAN!”

Mendengar perkataanku barusan, seketika itu pula ia menoleh ke arahku dan menatapku dengan mata tajamnya. Tak mau kalah, aku pun memaksa untuk membulatkan mataku ke arahnya.

“APA?! JANGAN MENATAPKU SEPERTI ITU! AKU TIDAK SUKA!”

“PEDULI APA KAU SUKA ATAU TIDAK HUH?!”

“Kim Kibum, aku minta maaf… Entah apa lagi yang harus ku katakan untuk membuatmu mengerti, bukannya kau sendiri tahu kalau aku ini sangat sibuk hah? Aku juga memiliki pekerjaan yang menuntut tanggung jawabku, aku tidak mungkin menyisakan seluruh waktuku hanya untuk…”

“HANYA UNTUK APA?! UNTUK AKU?! TCH, BILANG SAJA KAU MEMANG SUDAH TIDAK INGIN BERTEMU DENGANKU LAGI!”

“AARRGH SEKARANG TERSERAH KAU SAJA!” aku berteriak sekeras mungkin ke arahnya. Emosiku sudah sangat memuncak, keterlaluan sekali.

“TIDAK USAH MENCARIKU LAGI!” sekali lagi aku berteriak, dan setelah itu, aku membuka pintu mobilnya, keluar dari tempat yang kini terasa sangat panas itu dan membanting pintunya dengan sekeras yang aku bisa.

Ku dengar ia berbuat gaduh di dalam mobilnya, mungkin memukul dashboard atau apalah, yang jelas sekarang aku sudah tidak peduli. Ku langkahkan kakiku menjauh dari mobil itu. Berada di dekatnya saat ini membuatku sungguh muak.

Beberapa saat kemudian, mobil itu terlihat berjalan melewatiku dengan kecepatan yang sangat tinggi.

‘Benar-benar keterlaluan… Dia bahkan tidak mengejarku dan memilih untuk meninggalkanku!’ umpatku dalam hati. Ku pandangi mobil sedan berwarna perak miliknya itu hingga mobil itu benar-benar menghilang ke tikungan yang ada di seberang jalan.

Setelah ia benar-benar pergi, langkahku yang tadinya ku pacu dengan cepat kini mulai ku perlambat.

Beberapa saat setelah berjalan cukup lama, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah halte yang ku lewati sembari menunggu sebuah taksi. Aku duduk di sana dan mengatur napasku yang terasa tersengal-sengal. Hhh, bertengkar dengan Kibum memang sangat melelahkan.

Pikiranku kembali melayang pada kejadian beberapa saat lalu. Kibum, lelaki yang menjadi kekasihku dalam jangka waktu yang masih seumur jagung itu memang sulit untuk mengerti keadaanku.

Oke, ku akui semua kesalahan memang berasal dariku. Tapi sungguh, semua itu bukan keinginanku, terjadi di luar dugaanku. Awalnya kami sudah berjanji akan bertemu di suatu tempat, tapi seperti yang sudah sering ku lakukan sebelumnya, lagi-lagi aku datang terlambat, dan itu seringkali membuat Kibum marah.

Tapi apakah ia perlu semarah itu padaku? Padahal ia sendiri tahu bahwa aku ini harus ikut membantu ibuku untuk melayani tamu-tamu yang datang ke warung ke kami.

“Kenapa kau harus seperti ini padaku Kibum-ah…” gumamku pada diriku sendiri. Aku menunduk sambil memandangi ujung sepatuku yang sebetulnya tidak terlihat menarik itu, dan beberapa saat kemudian, aku merasakan air mataku sudah mengalir dengan deras di sepanjang pipiku.

“Aku lelah Kibum… Sangat lelah…” gumamku sekali lagi di sela-sela isak tangisku. Dan setelah itu, aku hanya membiarkan diriku menangis sejadi-jadinya. Suasana jalan saat ini sudah sangat sepi. Syukurlah, setidaknya tidak akan ada orang lain yang akan menatapku dengan kening berkerut saat melihat keadaanku yang sangat berantakan ini.

Aku menengadahkan wajahku, dan tanpa ku komando, memori saat pertama kali menjalin hubungan dengan Kibum kembali teringat dengan jelas di benakku.

Dia yang dulunya sangat ceria…

Dia yang dulunya sering membuatku tertawa dengan tingkah konyolnya…

Dia yang dulunya sering memperhatikanku dan menasehatiku dengan lemah lembut saat aku melakukan kesalahan…

Aku merindukan kamu Kim Kibum…

Aish, apa yang ku pikirkan ini. Dengan cepat aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Sebagai kekasihnya, seharusnya aku menerima semua kelebihan dan kekurangannya dengan sabar… Hhh, hanya saja, Kibum tidak pernah berpikiran seperti itu kepadaku.

Aku kembali memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Ya, mungkin kami hanya butuh waktu untuk memikirkannya baik-baik.

Aku mulai menghapus sisa-sisa air mata yang masih membekas di wajahku lalu melirik ke arah jam tanganku. Tak terasa, sudah hampir dua jam aku berada di halte ini.

Aku belum juga menemukan sebuah taksi yang bisa ku tumpangi untuk pulang ke rumah, dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali berjalan menuju jalan yang lebih memungkinkan untuk dilalui oleh banyak kendaraan daripada tempat ini.

Baru saja aku bangkit dari tempat dudukku, di seberang jalan ku lihat sosok seseorang yang sedang menatap ke arahku. Aku memicingkan mataku, mencoba untuk melihat dengan jelas siapa orang itu sebab lampu jalan yang ada tidak cukup untuk membuatku dapat melihat wajahnya.

Beberapa saat kemudian, ia terlihat menyeberangi jalan, berjalan mendekat ke arahku. Aku memicingkan mataku sekali lagi dan saat ia sudah semakin mendekat, aku akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Kibum?” gumamku pelan. Ia tersenyum ke arahku sambil terus berjalan mendekat.

“Apakah kau sudah lelah duduk di tempat itu?” tanyanya padaku saat ia sudah tiba di hadapanku. Nada bicaranya terdengar sangat lembut, sama sekali berbeda dengan caranya tadi membentakku. Menyadari hal itu, aku menjadi tertegun.

“Maafkan aku…” katanya lagi. Aku sedikit terkejut mendengar pernyataannya barusan, hingga membuat bibirku terasa kaku untuk menanggapi perkataannya. Yang bisa ku lakukan sekarang hanya menatap wajahnya yang masih tersenyum ke arahku, sangat manis.

Entah mengapa aku sama sekali tidak tahu apa yang bisa ku perbuat saat ini untuk menanggapinya. Bibirku terlalu kaku, begitu pula dengan tubuhku. Bagaimana tidak, semua yang terjadi saat ini terasa seperti mimpi.

“Kibum…” akhirnya setelah ku paksa sedemikian rupa, kata-kata itulah yang bisa keluar dari mulutku, dan tanpa ku duga, lagi-lagi air mataku berjatuhan satu per satu. Air mata yang menggenang di pelupuk mataku ini membuat penghilatanku menjadi agak buram. Tapi meskipun aku tidak bisa melihatnya dengan sangat jelas, ku rasakan sesuatu mendekap tubuhku dengan sangat erat.

Ia memelukku dan membiarkanku menangis di sana, tak peduli seberapa banyak aku membasahi bajunya. Aku juga bisa merasakan satu tangannya mulai mengelus kepalaku dengan lembut, dan itu membuatku semakin merasa nyaman untuk menumpahkan air mataku lebih banyak lagi.

“Maafkan aku…” ia berbisik di dekat telingaku, yang akhirnya dapat ku jawab dengan sebuah anggukan. Perlahan-lahan aku mulai bisa mengontrol emosiku, dan tangisku juga berangsur-angsur reda. Ku balas pelukannya itu dengan pelukan yang lebih erat, seakan tidak ingin membiarkannya berada jauh dariku.

Ku rasakan desah napasnya di sekitar leherku. Hal itu membuatku sedikit merinding, namun ku coba untuk tidak terlalu menghiraukannya. Akan tetapi lama kelamaan, desahan napas itu terdengar semakin cepat, dan aku merasakan bibirnya menjelajahi leherku.

“Kibum?” tanyaku sedikit panik, namun ia terlihat tidak peduli. Bibirnya terasa sangat dingin itu membuatku mematung, hingga tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tajam merobek leherku dengan sangat kasar.

Dengan sangat panik dan terkejut, aku berusaha menarik diriku agar terlepas dari dekapannya, namun tenaganya yang jauh lebih besar itu hanya membuatku meronta-ronta tanpa arti.

“KIBUM!” pekikku saat leherku mulai terasa perih, terlebih lagi saat aku merasakan cairan tubuhku terserap dengan sangat cepat. Saat tubuhku sudah terasa sangat lemah, ia akhirnya melepaskanku.

Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya sambil memegangi bekas luka di leherku, namun rasa terkejutku semakin menjadi-jadi saat sosok Kibum itu berubah menjadi seseorang yang tidak pernah ku kenal sebelumnya. Refleks aku berjalan mundur menjauhinya, sosok lelaki dengan postur tubuh tinggi, rambut agak panjang, dan taring dengan bekas darah yang masih menetes dari ujungnya yang runcing itu.

“Sayang sekali aku bukan Kibum-mu… Aku hanya sekedar meniru wujudnya saja… Hahaha…” katanya sambil tertawa lepas.

“Siapa kau?!” tanyaku histeris. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan belum sempat ia menjawab pertanyaanku, aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

“Perkenalkan, namaku Choi Minho…”

THE END

 

PS : sebenarnya drabble ini adalah sequel dari ff King of the Darkness (klik di sini kalau mau baca)..

Jadi buat yang pengen tahu siapa sebenarnya Choi Minho itu,, ya silahkan dibaca aja yang sebelumnya..

Aku sengaja kasi taunya belakangan,, biar rada2 surprise gitu wakakakak xD *ditendang*

Advertisements

51 thoughts on “Forgive Me

  1. Haduh, kasihan ih cewenya. berarti dari pas awal berantem sama Key, Minho udah ngincer yaa? .ahahahah. Wah, aku harus baca dulu King of the darkness nih buat tau siapa Minho yang sebenarnya.kekekek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s