Confusion, Conflict, Conformity – Part 1

Confusion, Conflict, Conformity – Part 1


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Taemin

Im Taehee

Genre              :           Dark, Thriller, Fantasy

Rating             :           PG-15

Length            :           Two Shot (On going)

Disclaimer      :           Own the story exclude the casts, DON’T BE A PLAGIATOR!

+++

Kehidupan memang penuh dengan perbedaan, sebagaimana baik itu berbeda dengan yang buruk, hitam itu berbeda dengan yang putih, dan semua itu dirasakan tidak akan pernah bisa bersatu layaknya air dan minyak. Sangat berbeda, namun siapa yang bisa mengira bahwa sebenarnya kedua hal yang sangat bertentangan itu mungkin saja bisa bersatu.

Seperti halnya dengan iblis dan dewi langit. Sekilas, atau bahkan diperhatikan secara seksama, keduanya jelas sangat berbeda. Namun perbedaan itu tidak akan pernah menjadi penghalang bagi mereka untuk bersatu.

Mereka terlihat tidak begitu memandang lagi perbedaan mencolok yang ada pada diri mereka, sebab yang mereka tahu, mereka saling mencintai. Dipertemukan di alam dunia, mereka akhirnya menjalin sebuah hubungan. Hubungan yang cukup serius, namun dilakukannya secara diam-diam hingga tidak ada seorang komponen dari dunia langit atau dunia bawah tanah pun yang mengetahui hubungan mereka.

Mereka saling mencintai layaknya sepasang kekasih, meskipun mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa bebas untuk bersama, sebab mereka juga menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Mereka terus berusaha untuk menutup-nutupinya, hingga suatu hari hal tersebut sudah tidak sanggup lagi untuk terus ditutup-tutupi saat dewi langit kedapatan sedang mengandung.

Tentu saja hal itu memunculkan tanda tanya yang besar bagi seluruh penghuni istana langit, sebab sepanjang pengetahuan mereka, sang dewi masih belum memiliki suami. Lalu dari mana asal bayi yang sedang dikandung oleh sang dewi itu? Mengetahui asal muasal bayi tersebut yang ternyata memang anak dari sang iblis membuat raja langit, ayahanda dari sang dewi murka. Rasa malu yang tengah menyelimutinya hampir saja membuat raja langit gelap mata, hingga pada akhirnya sang raja mencoba untuk bersabar mengingat dewi itu masih anaknya sendiri. Sang raja pun memutuskan untuk membiarkan sang dewi terus mengandung, sebab membunuh adalah suatu hal yang sangat dipantangkan bagi seluruh penghuni langit. Dengan penjagaan yang sangat ketat, sang dewi dibiarkan tetap tinggal di istana langit.

Tak butuh waktu yang lama hingga akhirnya berita ini juga tersebar di kalangan penghuni bawah tanah. Dan sama seperti raja langit, tentu saja berita tersebut membuat raja iblis, sang penguasa dari segala kegelapan murka. Namun nasib sang iblis ternyata tidak seberuntung dewi langit, kekasihnya. Kemurkaan sang penguasa kegelapan dan seluruh penghuni bawah tanah yang ikut mencemoohnya membuatnya mustahil untuk menerima ampunan.

Penderitaan mereka ternyata tidak cukup sampai di situ. Setelah berbulan-bulan mengandung, sang dewi akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Cukup tampan, namun perlu diingat bahwa di dalam nadi bayi itu juga mengalir darah sang iblis. Karena hal itulah, sang raja langit tidak lagi memberi toleransi untuk membiarkan bayi tersebut tinggal di istana langit. Sang raja pun memberi kelonggaran pada dewi untuk menitipkan bayi tersebut pada ayah kandungnya, sang iblis. Dan dengan ditemani oleh pengawal dari istana, sang dewi akhirnya turun ke bumi dan membuat janji untuk bertemu dengan kekasihnya itu.

Malam hari di bumi, saat di mana seluruh elemen-elemen kegelapan mulai bermunculan di muka bumi, akhirnya sang iblis datang menemui sang dewi. Pertemuan yang singkat dengan percakapan yang juga cukup singkat, sang iblis menolak permohonan sang dewi agar raja iblis tersebut mau merawat dan membesarkan bayi mereka. Bukan karena ia tidak menginginkannya, hanya saja dunia bawah tanah sudah tidak mungkin bersedia untuk menerima kehadiran bayi tersebut di dunia mereka.

Tak punya pilihan lain dan dengan sangat terpaksa, dunia langit yang enggan untuk menampungnya beserta dunia bawah tanah yang tidak akan pernah sudi untuk menerimanya akhirnya membuat mereka memutuskan untuk meninggalkan bayi mereka yang tidak berdaya itu di bumi.

Waktu dan keadaan yang membatasi membuat sang dewi harus beranjak dari bumi, kembali ke peradabannya di istana langit. Sementara sang iblis, dengan segala ketidakberdayaannya atas apa yang menimpanya itu akhirnya hanya bisa membuatnya berbuat kerusakan di mana-mana sebagai pelampiasan dari semua amarahnya. Itulah pertemuan terakhir antara mereka sebab setelah itu, baik sang raja maupun sang dewi tidak pernah lagi menginjakkan kaki mereka ke bumi.

Dan di sanalah bayi mereka sekarang. Di atas bumi, di depan sebuah warung makan yang sangat sederhana, bayi itu tergeletak persis di depan pintu warung yang sudah tutup itu. Belaian kasar dari angin malam hanya bisa membuat bayi itu menangis, hingga akhirnya seorang pria paruh baya pemilik warung tersebut merasa terusik dengan tangisan bayi itu.

Betapa terkejutnya pria tersebut saat mendapati seorang bayi yang tergeletak begitu saja di depan pintunya. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat keadaan  jalan, namun ia tidak menemukan seorang pun yang kira-kira sedang berada di sekitarnya.

Ia kembali memperhatikan bayi itu. Awalnya ia mencoba untuk tidak begitu peduli, namun rasa iba yang perlahan-lahan mulai muncul saat terus menyaksikan bayi yang malang itu akhirnya membuatnya memutuskan untuk membawa bayi itu masuk ke dalam rumah dan berharap agar besok atau beberapa hari kemudian si pemilik bayi akan datang mencarinya.

Satu hari.

Dua hari.

Satu minggu.

Satu bulan.

Dan tak terasa sudah genap setahun bayi itu berusaha dirawat oleh pria itu namun si pemilik yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang mengambil apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Akhirnya mau tidak mau pria itu harus terus mencoba bersabar untuk merawat anak laki-laki itu, karena sejujurnya ia sendiri juga merasa kewalahan sebab di rumah tersebut hanya dihuni seorang diri oleh pria itu, ditambah dengan keharusannya untuk melayani pelanggan yang datang ke warungnya yang semakin membuatnya kesulitan.

Namun dengan keadaan yang serba kesulitan itulah akhirnya si pria berhasil membesarkannya, meskipun keadaan ekonomi yang kadang sangat mencekik hingga anak itu tidak bisa menikmati masa-masanya seperti anak-anak lain pada umumnya, yang hanya membuatnya terpaksa menjadi tenaga kerja tambahan di warung yang sepi pelanggan itu.

“Ya! Taemin! Jangan malas-malasan seperti itu… Kalau warung ini kotor, pelangganku akan menghilang satu per satu…” pria itu berseru sambil melemparkan sebuah sapu ijuk tepat di hadapannya. Taemin, begitulah pria itu memberinya nama, hanya bisa mendengus pelan dan bangkit dari posisi santainya di sofa usang yang ada di ruang tengah.

“Siapa yang malas-malasan? Aku hanya beristirahat sebentar… Lagipula dari tadi aku sudah membersihkannya…” Taemin mencoba untuk sedikit membela diri.

“Kalau begitu sekarang bersihkan teras depan… Kau belum membersihkannya bukan?”

“Haa baiklah baiklah…” dengan sedikit menggerutu, Taemin akhirnya memungut sapu yang tergeletak di lantai dan mulai berjalan menuju teras depan yang terhubung dengan warungnya sebelum perdebatan yang lebih besar tercipta di antara mereka berdua. Ia berjalan dengan gontai sambil menyeret sapu tersebut, dan setibanya di teras, ia mulai mengayunkan sapunya dengan tidak bersemangat. Sesekali ia juga menyeka keringat yang menetes perlahan di sepanjang keningnya. Matahari siang itu memang terasa sangat terik.

“Permisi…” tak lama kemudian seorang gadis berpakaian seragam sekolah lengkap muncul di hadapannya hingga membuatnya menghentikan aktivitas menyapunya sejenak.

“Langsung masuk saja…” Taemin, seakan tahu maksud dari kedatangan gadis itu hanya menunjuk bagian dalam warung dengan dagunya. Dan sesuai petunjuk Taemin, gadis itu melangkah dengan riang memasuki warung. Bisa dikatakan bahwa gadis itu sudah menjadi langganan di warungnya sehingga Taemin sudah cukup mengetahui gadis tersebut. Hanya sekedar mengetahui, tidak mengenalnya lebih, dan lagipula Taemin terlihat tidak begitu peduli akan hal tersebut. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda itu.

“TAEMIN!” baru saja ia mengayunkan kembali sapunya, ayahnya terdengar memanggilnya dari arah dalam.

Ayah? Ya, setidaknya baik Taemin maupun pria yang membesarkannya itu tidak merasa dirugikan jika Taemin memanggilnya dengan sebutan ayah, walaupun Taemin sendiri sudah mengetahui kalau pria itu bukan ayahnya yang sebenarnya. Pria itu memang tidak ingin menyembunyikan apapun darinya sehingga ia menceritakan kejadian sebenarnya, walaupun hanya sekedar memberi tahunya bahwa ia ditemukan tergeletak begitu saja di depan warung tanpa identitas yang jelas.

Awalnya Taemin tidak begitu menghiraukan panggilan tersebut, namun panggilan yang tidak henti-hentinya ditujukan padanya itu akhirnya membuatnya menyerah. Dengan sedikit kesal ia membanting sapu yang ada di tangannya lalu berjalan memenuhi panggilan ayahnya itu.

“Ada apa lagi?” Taemin bertanya dengan alis yang terlihat menyatu.

“Kau lihat orang yang duduk di sana?” ayahnya kembali bertanya sambil menunjuk sesuatu. Taemin mengikuti arah tunjukan ayahnya, dan ia mendapati gadis tadi yang sedang duduk di pojok warung.

“Ada apa dengannya?”

“Cepat temui dia dan tanyakan pesanannya… Setelah itu, buatkan sesuai apa yang ia minta dan antarkan ke mejanya. Mengerti?”

“T..tapi… Aku juga sedang mengerjakan sesuatu! Bukannya kau menyuruhku untuk membersihkan?”

“Kerjakan yang ini dulu… Aku juga sedang sibuk… Ingat, pelanggan adalah nomor satu… Nanti kalau kau sudah mengerjakan yang satu ini, barulah kau boleh melanjutkan kembali kegiatan membersihkanmu itu…” ayahnya berkata dengan santai, dan setelah itu, ia akhirnya berjalan meninggalkan Taemin yang wajahnya sudah memerah akibat menahan rasa kesalnya.

Tak punya pilihan lain, Taemin akhirnya menyeret kakinya dengan berat hati, menghampiri gadis yang terlihat sibuk menatap layar ponselnya.

“Ehm… Mau pesan apa?” Taemin bertanya tanpa basa-basi, dan kedatangannya yang tiba-tiba membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget.

“Oh… Errr, makanan apa pun tidak masalah…” gadis itu menjawab dengan sedikit terbata-bata, masih merasa terkejut apalagi saat mendengar nada bicara Taemin yang sangat datar dan tidak bersahabat itu.

Mendengar jawaban gadis itu, Taemin mengerutkan keningnya namun pada akhirnya ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Setidaknya itu sedikit memudahkan pekerjaannya, sebab ia hanya perlu membuatkan makanan yang tidak begitu merepotkannya. Sesuai perkataan gadis itu sendiri, makanan apapun tidak masalah.

Taemin lalu berjalan menuju tempat dimana ia akan menyiapkan makanan. Dan tidak butuh waktu yang lama untuk membuat Taemin akhirnya mengantarkan makanan tersebut pada meja gadis itu.

Gadis itu sempat tercengang saat melihat isi dari piring-piring yang diletakkan Taemin di hadapannya. Sepiring nasi putih dan telur yang digoreng asal-asalan, membuat gadis itu hanya bisa menelan ludah.

“Selamat menikmati…” ujar Taemin dengan nada bicara yang dipaksakan melembut, namun setelah itu ia kembali berjalan dengan terburu-buru meninggalkan gadis yang masih tercengang itu.

Setelah gadis itu menghabiskan menu yang sangat sederhana dari Taemin, ia lalu pamit dan pergi meninggalkan warung yang kini sudah tidak dikunjungi oleh siapa-siapa itu. Dan seakan sudah sangat paham dengan tugasnya, Taemin kembali berjalan mendekati meja yang sudah ditinggalkan oleh gadis itu lengkap dengan peralatan kebersihannya.

Saat ia mulai membersihkan meja tersebut, mata Taemin menangkap sebuah benda yang terletak di atas kursi. Ia meraih benda itu dan mencermatinya secara mendetail hingga beberapa saat kemudian ia akhirnya yakin bahwa benda yang saat ini ia pegang itu adalah ponsel gadis tadi.

“Im Taehee…” Taemin menggumamkan nama yang tertera pada gantungan ponsel yang berukuran kecil itu.

“Apa itu Taemin?” tiba-tiba ayahnya muncul dan menatapnya dengan tatapan menyelidik.

“Ini ponsel milik gadis tadi… Sepertinya ia melupakannya…” buru-buru Taemin menjelaskan sebelum ayahnya mulai berpikiran macam-macam.

“Benarkah? Kau tidak berniat untuk mengambilnya bukan?”

“Tentu saja tidak! Jangan bicara sembarangan…” Taemin menolak mentah-mentah perkataan yang baru saja keluar dari mulut ayahnya itu.

“Ya sudah, kalau begitu cepat kembalikan…”

“Ck, sudahlah… Aku yakin dia pasti kembali lagi untuk mencarinya sendiri…” Taemin mencoba untuk menolak.

“Aku bilang kembalikan, sekarang!”

“Tapi gadis itu sudah pergi! Aku sama sekali tidak tahu letak rumahnya!” Taemin mulai terpancing emosi.

“Ya! Ku rasa gadis itu belum terlalu jauh! Cepat susul dia, jangan membuang-buang waktu lagi!”

“ARRGHH BAIKLAH!” tidak tahan lagi, Taemin akhirnya beranjak memenuhi perkataan ayahnya itu setelah sebelumnya ia sempat berteriak tepat di depan wajah ayahnya. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya. Ia berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa dengan pikiran yang sebenarnya tanpa tujuan.

Baru saja ia melangkah melewati pagar, gadis yang telah membuat Taemin merasa direpotkan itu terlihat sedang berjalan kembali menuju warungnya. Taemin lalu semakin memperlebar langkahnya mendekati gadis itu.

“Sepertinya aku melupa…”

“Barang bodoh ini milikmu bukan?” belum sempat gadis itu menyelesaikan perkataannya, Taemin sudah memotongnya dan berbicara dengan nada bicara yang sangat kasar sambil menyodorkan ponsel itu tepat beberapa senti dari wajah gadis itu. Dan untuk kedua kalinya, gadis itu lagi-lagi dibuat terkejut oleh perbuatannya. Kali ini ia bukan hanya terkejut, ia juga mulai merasa ketakutan, apalagi melihat tatapan mata berkilat-kilat yang ditunjukkan oleh Taemin.

“Cepat ambil ini! Ingat, jaga barangmu baik-baik!” Taemin menarik tangan kanan gadis itu dan meletakkan ponselnya di telapak tangannya. Setelah itu, Taemin langsung meninggalkan gadis itu tanpa berkata apa-apa lagi.

+++

Taemin baru saja ingin merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya saat tiba-tiba ayahnya kembali memanggilnya.

“Taemin!”

Tidak ingin memancing kembali perkelahian dengan ayahnya itu, Taemin terpaksa bangkit kembali dan berjalan keluar kamar menemui ayahnya yang sedang duduk di sofa ruang tengah.

“Apa lagi yang harus aku kerjakan huh? Ini sudah malam… Seharusnya aku juga dibiarkan untuk sedikit beristirahat” tanpa ragu Taemin mengeluarkan kekesalannya.

“Ck, kau ini… Sebentar saja, tolong pijat kakiku… Ugh, kakiku pegal sekali…” ujar ayahnya sambil meraba-raba kakinya.

“Aku bahkan bekerja lebih banyak tapi kau malah menyuruhku untuk memijatmu? Keterlaluan sekali…”

“Kau ini benar-benar anak yang suka membangkang! Dimana wujud terima kasihmu hah? Untuk hal kecil saja kau terlalu banyak mengeluarkan energi hanya untuk membantah dan membantah? Dasar anak kurang ajar!”

Bughh!

Taemin mengepalkan tinjunya kuat-kuat dan mendaratkannya pada dinding yang ada di sampingnya. Setelah itu, ia buru-buru berjalan keluar rumah meninggalkan ayahnya dengan perasaan kesal dan marah yang semakin meluap-luap.

Ia merapatkan tubuhnya pada pagar luar dan memerosotkan tubuhnya hingga duduk bersandar pada pagar kayu itu. Dan dalam suasana yang gelap dan sepi, Taemin mulai larut dalam perasaannya yang campur aduk ditemani air matanya yang menetes satu per satu di sepanjang pipinya. Ia mengacak-ngacak rambutnya, terlihat sangat menyesali nasibnya yang menyedihkan itu.

Ia menunduk, merasakan emosinya yang semakin menjadi-jadi. Ia juga memejamkan matanya perlahan, mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang keberadaan ayah dan ibunya. Pertanyaan yang sudah cukup sering melintas di benaknya, namun hingga saat ini ia belum juga menemukan jawaban yang pasti.

‘Andai saja aku bersama mereka, mungkin nasibku tidak akan seburuk ini…’ gumam Taemin dalam hati.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, hingga akhirnya ia kembali membuka matanya saat ia merasakan sesuatu sedang mengamatinya. Dan benar saja, ia sedikit terkejut saat melihat seorang gadis yang berdiri tidak jauh darinya, sedang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Menyadari sesuatu, Taemin buru-buru menghapus air matanya yang sempat mengalir di pipinya.

“Ya! Apa yang kau lakukan di situ? Warungku sudah tutup!” Taemin bertanya dengan nada sinis, merasa tidak suka dengan keberadaannya. Walau ragu, gadis itu terlihat sedang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Taemin.

“Bukan itu… Aku… Aku hanya ingin berterima kasih…” ujar gadis itu singkat.

“Terima kasih? Untuk apa?”

“Karena ponsel tadi…”

“Apa? Ck, kalau cuma untuk hal itu, lebih baik kau pulang saja…” Taemin memalingkan wajahnya dari gadis itu, berusaha meyakinkan gadis itu agar ia mau beranjak dari tempat itu. Namun yang terjadi malah sebaliknya, gadis itu semakin mendekat dan kini ia sudah memposisikan tubuhnya untuk duduk persis di samping Taemin, hingga membuat Taemin kembali menoleh dan menatap gadis itu dengan mata yang membelalak.

“Sepertinya kau sedang ada masalah…” gadis itu kembali memulai pembicaraan.

“Apa pedulimu?”

“Tentu saja aku peduli…”

Dan kata-kata gadis itu membuat Taemin tercengang seketika, namun tak lama kemudian ia mencoba untuk menyembunyikannya.

“Bukan urusanmu…”

“Tapi mungkin aku bisa sedikit membantu…”

“Sudah ku katakan, bukan urusanmu…”

“Hhh, ya sudah kalau memang kau tidak ingin membiarkanku untuk sedikit ikut campur. Semoga masalahmu cepat selesai…” ujar gadis itu sambil tersenyum, namun Taemin sama sekali tidak menghiraukannya.

“Tidak usah mempedulikanku… Sekali lagi ku katakan, lebih baik kau pulang saja sekarang…” ujar Taemin dengan nada bicara yang mulai terkontrol.

“Sudah ku katakan juga, bagaimana mungkin aku tidak peduli? Sadar atau tidak, selama ini aku memperhatikanmu, walaupun hanya sekedar memperhatikan tingkahmu… Hhh, sudahlah… Aku yakin saat ini kau tidak akan peduli dengan hal itu… Baiklah, kalau begitu aku pulang sekarang… Selamat malam, Taemin…” gadis itu bangkit dari posisinya dan mulai berjalan menjauh. Namun baru beberapa langkah berjalan, gadis itu kembali menoleh ke arah Taemin.

“Oh iya, perkenalkan, namaku…”

“Im Taehee? Aku sudah tahu…” lagi-lagi Taemin memotong perkataan gadis itu, dan hal tersebut seketika membuat gadis itu tersenyum. Gadis itu, Taehee, kembali memutar tubuhnya dan kali ini benar-benar beranjak meninggalkan Taemin.

Setelah gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya, Taemin menghela napas sejenak. Ia kembali memejamkan matanya dan mencoba untuk menenangkan pikirannya yang terlanjur kacau balau, namun lagi-lagi ia merasa terusik dengan perasaannya yang mengatakan bahwa saat ini ada seseorang yang sedang menatapnya lagi. Taemin membuka matanya dan menoleh ke sumber tatapan itu.

“Ada apa lagi? Sudah ku katakan le…” Taemin berseru kesal, namun tiba-tiba ia kembali membungkam mulutnya saat ia menyadari bahwa perkiraannya salah. Orang yang sedang menatapnya itu, yang pada awalnya ia mengira bahwa orang itu adalah gadis yang mengganggunya tadi, ternyata adalah orang yang berbeda.

Taemin lebih memicingkin matanya, mencoba melihat dengan jelas sosok yang berdiri di tengah kegelapan itu. Dan lagi-lagi Taemin menyadari dirinya salah saat mengetahui bahwa yang sedang menatapnya itu tidak terlihat seperti manusia. Setidaknya pakaian serba hitam, jubah yang lebar serta sepasang tanduk runcing yang ada di kepalanya sudah cukup bagi Taemin untuk yakin bahwa apa yang ada di hadapannya itu memang bukan sesosok manusia. Taemin sontak berdiri dengan pandangan matanya yang tak lepas dari sosok yang bahkan terlihat sangat mengerikan itu.

“Tidak usah takut…” seakan bisa membaca apa yang dirasakan oleh Taemin, sosok itu mencoba untuk menenangkan Taemin. Sosok itu menyibakkan jubahnya sejenak lalu berjalan mendekati Taemin yang terlihat berusaha untuk menghindar. Namun usaha Taemin sepertinya sia-sia, dan karena terlalu takut, Taemin hanya bisa merasakan lututnya yang semakin melemas.

“S..s..siapa kau?” Taemin memberanikan diri untuk membuka mulut dan bertanya, namun yang ditanyai sepertinya tidak begitu tertarik untuk menjawab. Sosok itu kini berdiri tepat di hadapannya, membuat Taemin semakin merapatkan tubuhnya di pagar kayu itu. Sosok itu lalu mengangkat tangannya dan mulai menelusuri wajah Taemin dengan telapak tangannya yang terasa kasar di kulit Taemin.

“Kau sudah sebesar ini sekarang…” kata-kata yang terdengar berbisik namun masih bisa ditangkap dengan jelas oleh Taemin, sementara Taemin sendiri masih berusaha untuk sekedar menjauhkan wajahnya dari tangan yang mungkin saja berbahaya itu.

“Apa yang kau inginkan dariku?” Taemin kembali bertanya dengan tatapan mata yang tidak lepas dari tangan yang terus menjelajahi tiap lekuk wajahnya itu. Dan lagi-lagi, sosok itu tidak mengeluakan satu kata pun untuk menjawab pertanyaan Taemin.

“Setelah ku perhatikan, kau cukup mirip dengan ibumu…” sosok itu akhirnya melepaskan tangannya dari wajah Taemin, sementara Taemin tertegun saat mendengar kata-kata yang baru saja diucapkannya.

“Apa? I..ibu?” ucap Taemin terbata-bata. Rasa takutnya kini berangsur-angsur berkurang, digantikan dengan rasa penasaran yang kini mulai menyelimutinya.

“Kau memang cukup mirip dengan ibumu… Tapi menurutku, kau jauh lebih mirip denganku… Bukan begitu nak?”

“A..apa?”

Sosok itu memalingkan wajahnya dan berdecak sebentar, namun sesaat kemudian ia kembali menatap Taemin yang terlihat sulit menerka apa maksud dari semua perkataannya.

“Bukankah selama ini kau selalu mempunyai keinginan untuk bertemu dengan orang tuamu? Aku bisa merasakannya… Dan nampaknya sekarang kau sudah bertemu salah satunya… Bagaimana?” tutur sosok itu sambil sesekali menyeringai ke arah Taemin.

“Apa? Jadi maksudmu… Kau ini ayahku?” Taemin semakin membelalakkan matanya. Sosok itu kembali berdecak, kali ini memutar tubuhnya dan terlihat bersiap-siap untuk pergi dari tempat itu.

“Terserah kau saja mau percaya atau tidak… Yang jelas, aku sudah memberitahukan hal yang sebenarnya…” sosok itu kembali mengatakan sesuatu tanpa membalikkan tubuhnya, dan setelah itu, ia mulai melangkahkan kakinya, menjauh meninggalkan Taemin yang kini hanya bisa berdiri mematung di tempatnya.

Taemin dilanda kebingungan yang sangat hebat, berusaha untuk tidak mempercayai apa yang telah dikatakan oleh sosok iblis itu. Bagaimana tidak, selama tujuh belas tahun hidupnya, Taemin tidak pernah sekalipun berpikiran bahwa ayahnya adalah seorang iblis, bukannya manusia biasa yang selama ini selalu ia bayangkan.

Akal sehatnya memang sangat menentang hal tersebut, namun ternyata hatinya berkata lain. Dan setelah menyelami perasaannya sendiri, ia merasa telah menemukan apa yang selama ini ia cari.

Ia lalu menatap punggung sosok iblis yang semakin menjauh itu hingga beberapa saat kemudian, sebelum sosok itu benar-benar menghilang dari pandangannya, ia akhirnya memutuskan untuk berlari menyusulnya.

“AYAH!”

Sosok iblis itu tertegun sejenak, menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya. Dan setibanya di hadapan iblis itu, Taemin tidak lagi bisa menahan dirinya untuk meluapkan emosinya dalam bentuk air mata.

“Setelah selama ini kau tidak mempedulikanku, kau ingin pergi dan meninggalkanku lagi huh?” ucap Taemin sambil terisak.

“Sssttthhh… Jangan berkata seperti itu…” iblis itu meletakkan telunjuknya pada bibir Taemin. “Tapi baiklah, ku harap kau mau memaafkanku atas kesalahan yang sebenarnya tidak pernah ku harapkan itu… Bisakah?”

Kali ini Taemin berdecak pelan, namun beberapa saat kemudian, tanpa ragu ia menghambur untuk memeluk sosok bertubuh kekar itu.

“Sudah lama aku menantikan saat seperti ini…” bisik Taemin lirih sambil sesekali terisak. Sosok iblis itu hanya mengangguk kemudian merentangkan lengannya untuk mendekap tubuh Taemin yang lebih kecil dari tubuhnya itu. Pelukan yang sebenarnya terasa sangat dingin di tubuh Taemin, namun ia justru merasakan kehangatan yang berbeda dalam hatinya.

Beberapa saat kemudian, ia akhirnya melepaskan pelukannya. Sosok iblis itu lalu menyeka sisa air mata yang ada di pipi Taemin.

“Ku rasa aku sudah harus pergi sekarang…” ujar iblis itu.

“Apa? Kau ingin meninggalkanku lagi? Tidak bisakah kau tinggal bersamaku? Bawa aku pergi bersamamu ayah! Aku tidak suka tinggal di tempat ini! Terlalu banyak yang membuatku merasa tertekan! Ku mohon ayah, jangan tinggalkan aku di tempat ini… Aku ingin tinggal bersamamu!” seru Taemin dengan sedikit emosi.

“Aku tidak bisa anakku, terlalu sulit… Aku memang tidak bisa membawamu ikut bersamaku, tapi setelah ini, aku akan berusaha untuk selalu menjengukmu… Satu hal yang harus kau tanamkan dalam dirimu, kalau memang semua yang ada di bumi ini membuatmu merasa tertekan, kau mempunyai potensi untuk mengatasinya dengan caramu sendiri…” ujarnya sambil mengusap-usap ujung kepala Taemin. “Dan ingat, sebenarnya aku tidak pernah meninggalkanmu… Sebab, aku akan selalu hidup di sini, di dalam hatimu…” ia melanjutkan perkataannya sambil menunjuk-nunjuk dada Taemin.

Taemin akhirnya hanya bisa menelan ludahnya, berusaha menguatkan dirinya untuk menerima kenyataan tersebut. Dan beberapa saat kemudian, Taemin menganggukkan kepalanya dengan tegas.

Sosok iblis itu tersenyum simpul, membalikkan tubuhnya, dan kembali melangkah menjauh hingga sosoknya benar-benar menghilang dari pandangan Taemin.

+++

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ini Taemin merasa hidupnya jauh lebih baik. Meskipun ayah angkatnya masih terus menyuruhnya untuk bekerja terlalu banyak, Taemin menerimanya begitu saja. Suasana pagi yang cukup cerah, sangat mendukung perasaan Taemin yang lebih tenang, namun sepertinya perasaan damai itu harus terganggu oleh seorang pria paruh baya yang berkunjung ke warungnya.

“Buatkan aku secangkir kopi yang enak…” ujar pria itu kepada Taemin. Taemin mengangguk pelan, dan tak lama kemudian ia kembali dengan secangkir kopi di tangannya.

“Silahkan dinikmati…” ujar Taemin sambil membungkuk. Pria itu mulai menyeruput kopinya, namun seketika itu pula ia kembali menyemburkan kopi itu persis di wajah Taemin.

“Sial! Kau ingin membunuhku hah?! Kopimu ini terlalu panas!” umpat pria itu pada Taemin.

Taemin akhirnya merasa geram dengan perbuatan pria itu. Dalam sekali gerakan, ia merebut secangkir kopi itu dan menumpahkan semua isinya tepat di wajah pria itu.

“AAAARRGGH!!” pria itu mengerang hebat saat merasakan panas dari kopi itu menjalar di seluruh wajahnya. Merasa belum puas, Taemin meraih botol minuman yang tidak jauh dari tempat itu dan langsung memukulkannya pada kepala pria itu hingga botol itu pecah berkeping-keping dan membuat pria itu tak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah.

Taemin menyeringai tipis menatap sosok yang terbaring tidak berdaya itu. Ia berjalan ke bagian belakang sebentar dan beberapa saat kemudian, ia kembali dengan sebuah pisau daging berukuran besar di tangannya.

“Jangan bermain-main dengan anak iblis…” gumam Taemin disertai seringai yang tidak lepas dari bibirnya.

TO BE CONTINUE


Oke,, next part bakalan ada nuansa thriller.. so,, are u ready to join the show?? xD *plakk/gaya!! Masih bagus kalo thrillernya g gagal.. kekeke~*

U LIKE IT OR NOT,, I HOPE U LEAVE ME A COMMENT AFTER U READ THIS!! Kalo silent reader masih bandel,, next part aku protek ya.. :p

Be a good reader.. makasih yang udah nyempetin buat baca n komen fanfic abal saya ini.. ^^

NB : Selamat buat si yupi karena telah terpilih untuk dinistakan di ff ini.. hahahah.. but,, bukan berarti yang lain udah g kepilih.. tiap ada ff baru yang butuh cast cewe,, aku usahain buat pake nama2 yang udah ada di postingan itu tuh,, tergantung kecocokannya ama story line nya~ so,, jangan kaget kalo suatu saat nama anda juga akan ikut dinistakan.. wokeh?? Berhati2lah,, terutama untuk orang2 yang sering memunculkan batang hidung(?) nya di wp ini.. xD

Advertisements

48 thoughts on “Confusion, Conflict, Conformity – Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s