D’Ragon – Part 2 (End)

D’Ragon – Part 2 (End)

Author : Park Kyungjin

Cast : SHINee – Kim Jonghyun

SHINee – Choi Minho

Choi ______ (YOU or Free Girl’s Name)

Genre : Fantasy

Rating : PG-13

Length : Two Shot

Disclaimer : Really own the plot. DON’T BE A PLAGIATOR!

Previous : Part 1

+++

“Oppa, antarkan aku ke rumah Jonghyun sekarang!” seru ______ pada Minho tiba-tiba.

“Hah? Untuk apa?” tanya Minho dengan ekspresi yang sangat kebingungan. Bagaimana tidak, hal apa yang mungkin ingin dilakukan oleh seorang gadis yang berencana untuk mengunjungi rumah kekasihnya saat waktu sudah menunjukkan selarut ini?

“Please oppa… Antarkan aku…” ______ mulai mencengkram lengan Minho, semakin memelas agar Minho ingin memenuhi permintaannya.

“Kau ini benar-benar aneh… Coba lihat jam itu! Selarut ini?” ujar Minho sambil menunjuk-nunjuk jam dinding yang ada di ruangan itu.

“Ayolah oppa… Sebentar saja… Please…” sekali lagi ______ masih mencoba untuk membujuk Minho.

“Tentu saja tidak akan pernah!” Minho menutup perdebatan kecil itu dengan sebuah kalimat penegasan yang langsung membuat ______ diam terpaku di tempatnya. ______ masih terlihat membuka mulutnya, mencoba memikirkan alasan logis yang mungkin bisa membuat kakaknya itu luluh. Namun sekali lagi Minho mengunci perkataannya, bahkan sebelum ______ sempat membuka mulut.

“Tidurlah, sudah larut malam. Dan ku pastikan kau tidak akan berbuat macam-macam. Mengerti?” Minho berkata dengan tegas dan sesaat kemudian ia akhirnya memilih untuk meninggalkan ______, beranjak menuju kamarnya lagi.

Tidak punya pilihan lain, ______ terpaksa menuruti apa yang Minho katakan. Ia berjalan dengan lunglai meninggalkan perpustakaan kecil Minho menuju kamarnya sendiri.

Di dalam kamarnya, ______ tentu saja tidak bisa membuatnya memejamkan mata dengan mudah. Perasaan gelisah terus-terusan menghantuinya, ditambah dengan keringat dingin yang mulai menetes dari keningnya. Dan beberapa saat setelah ia memikirkan suatu hal dengan matang-matang, ia akhirnya memilih untuk membangkang.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ______ berjalan menuju lemari pakaiannya, mengambil sebuah jaket dari dalam sana lalu mengenakannya dengan terburu-buru. Ia lalu berjalan ke sudut tempat tidur dan menyambar ponselnya. Dengan sigap ia menekan sejumlah nomor dan menghubunginya.

“Halo? Taksi? Aku butuh tumpangan…” ______ berkata dengan volume suara yang sangat kecil. Dan setelah orang di seberang telepon mengerti dengan penjelasan singkat yang dibeberkan olehnya, ia menutup sambungan telepon itu dengan segera.

______ kembali memantapkan niatnya, dan tanpa membuang-buang waktu yang lebih lama lagi, ia akhirnya membuka jendela kamarnya pelan-pelan, berusaha agar suara yang ditimbulkan tidak terdengar oleh Minho. Ia memanjat jendela itu dengan mudah, melompat keluar, dan sebelum Minho menyadari kepergiannya, ia berlari secepat yang ia bisa menuju tempat yang agak jauh dari sekitar rumahnya dimana sebuah taksi sudah menunggunya.

+++

Jonghyun kini hanya bisa merapatkan dirinya di tembok kamarnya, sebisa mungkin menciptakan jarak yang sangat jauh dari makhluk yang sering muncul dan menghilang begitu saja dari hadapannya selama beberapa hari ini. Percuma saja, semakin Jonghyun mencoba untuk menghindar, ia tetap saja masih bisa menjadi jangkauan dengan tenaganya yang nyaris habis.

“Jangan…” rintih Jonghyun pada sosok hitam gelap, Ragon yang ada di hadapannya itu.

“Jangan apa manusia? Sayang sekali semuanya sudah terlambat… Sekarang aku hanya perlu menunggu perubahan wujudmu… Hhahahahahaha…” ujar makhluk itu dengan santai. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Jonghyun, membuat lelaki itu semakin merapatkan dirinya pada tembok.

“Ke..kenapa mesti aku?!” seru Jonghyun di tengah-tengah sisa kekuatannya. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya, seakan seluruh urat nadi yang ada dalam tubuhnya menegang hebat. Nada bicaranya tentu saja terdengar sangat tidak bisa menerima apa yang kira-kira sebentar lagi akan terjadi pada dirinya. Raut wajah yang ditampakkan Jonghyun hanya membuat Ragon semakin tertawa lepas.

“Hey, tidak perlu takut seperti itu… Ekspresimu itu sangat tidak sesuai dengan penampakan fisikmu yang mengagumkan itu…” ujarnya sambil mulai menyusuri otot-otot lengan Jonghyun dengan kuku-kuku jarinya yang tajam. “Tenang saja… Setelah ini, hidupmu akan lebih panjang dari yang seharusnya… Kau bisa berbuat lebih, melebihi kemampuan manusiamu… Kau hanya perlu menjalani prosesnya…”

“Cuihhhh!!” Jonghyun mengumpulkan segenap keberaniannya untuk meludahi wajah Ragon. Menyadari hal itu, Ragon mendesis pelan. Cahaya matanya nampak semakin memerah, hingga Jonghyun kini bisa menyaksikan dengan jelas urat-urat kasar yang ikut muncul di mata makhluk yang ada di hadapannya itu. Tidak hanya itu, urat-urat kasar itu perlahan juga mulai muncul di sekujur wajahnya, membuat Jonghyun hanya bisa menelan ludah saat menyaksikan pemandangan mengerikan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dan Ragon, dengan segala rasa kebencian dan kekejaman yang menyatu di dalam jiwanya, ia mulai mengangkat tangan kanannya dan langsung mengayunkannya dengan kasar ke wajah Jonghyun.

Plakk!

Tangan kasar itu mendarat dengan sukses di wajah Jonghyun, membuat lelaki itu terlempar sejauh beberapa meter saat menerimanya. Dalam keadaan tersungkur di lantai, Jonghyun mengerang sangat keras, terlebih sampai saat ini ia masih merasakan panas yang teramat sangat saat tangan kasar itu menyentuh wajahnya. Ia mencoba meraba wajahnya dan kembali mengerang saat menyadari kulit wajahnya itu kini melepuh.

“Mulai sekarang, ku peringatkan kau untuk tidak membangkang…” makhluk itu berbicara dengan nada meremehkan. Ia kembali berjalan mendekat ke arah Jonghyun secara perlahan.

Brakkk!

Tubuh Jonghyun tiba-tiba terayun hingga menabrak tembok, padahal yang dilakukan oleh makhluk itu sebelumnya hanya mengayunkan tangannya tanpa menyentuh Jonghyun sedikit pun. Dan untuk kesekian kalinya Jonghyun hanya bisa mengerang sekuat yang ia bisa, sementara makhluk itu hanya terus tertawa, tidak sedikit pun rasa kasihan yang ada pada dirinya.

Ragon kembali berjalan mendekati tubuh Jonghyun yang terkulai lemas itu, sementara saat ini Jonghyun mau tidak mau hanya bisa pasrah saat menerima perlakuan makhluk keji itu padanya.

“Hentikan semuanya…” ujar Jonghyun, terdengar merintih sela-sela kesadarannya. Ia masih mencoba untuk mengumpulkan segenap kekuatannya, walaupun ia sendiri sadar bahwa dirinya tidak mungkin bisa melawan.

“Sudah terlambat… Sebaiknya kau renungi saja saat-saat terakhirmu menjadi manusia… Tidak akan lama lagi… Seperti yang sudah ku katakan, kau hanya perlu menjalani prosesnya, dan setelah itu, kau akan mewarisi semua yang ada pada diriku” ujar makhluk itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, setelah ia merasa tidak ada lagi yang perlu ia selesaikan, Ragon menyibakkan jubah hitam panjangnya dan seketika itu pula sosoknya memudar, menghilang secara perlahan sebab waktunya untuk tetap ada di dunia ini sudah nyaris habis.

Melihat kepergian Ragon, Jonghyun mulai bisa sedikit bernapas lega. Selanjutnya ia memejamkan matanya, mencoba meredakan kepalanya yang terasa pening. Namun ternyata rasa leganya itu berbanding terbalik dengan apa yang selanjutnya akan terjadi pada dirinya. Tanpa ia sadari, perlahan-lahan ketakutannya kini menjadi kenyataan.

Sorot matanya yang tadinya teduh kini berubah menjadi lebih memerah. Kulit wajahnya mulai mengeras. Tidak hanya di wajahnya, seluruh tubuhnya juga ikut menyusul. Selain itu, gigi-giginya juga mulai menajam. Dan perlahan tapi pasti, akal sehatnya sebagai manusia juga mulai menghilang.

“AAAARRGGHHHHHH!!” Jonghyun mengerang hebat. Rasa sakit yang sedari tadi menggerogoti tubuhnya kini semakin menjadi-jadi hingga membuatnya kehilangan kendali dan mulai menghancurkan apa saja yang ada dalam jangkauannya.

Brakkk brakkk brakkk!!

“Jonghyun-ah! Kau kenapa?!” dari arah luar terdengar suara ibu Jonghyun yang menggedor-gedor pintu sambil berteriak memanggilnya. Dan Jonghyun seakan tuli, ia tetap saja melanjutkan pelampiasannya pada benda-benda tumpul yang ada di dalam kamarnya.

Brakk brakkk brakkk!!

“YA! JONGHYUN-AH! BUKA PINTUNYA!” kali ini ayah Jonghyun juga datang dan mencoba untuk mencari tahu apa yang membuat anak semata wayang mereka itu berbuat gaduh di malam yang selarut ini. Namun Jonghyun yang sedari tadi tidak menunjukkan tanda-tanda ingin membukakan pintu membuat ayahnya terpaksa mengambil tindakan lain.

“Dobrak saja pintunya!” ibu Jonghyun juga semakin mendesak ayahnya. Dan setelah mengambil ancang-ancang, ayahnya akhirnya mulai menabrakkan tubuhnya ke pintu yang terbuat dari kayu itu.

BRAKKK!

Usahanya yang pertama ternyata belum membuahkan hasil. Sekali lagi ayahnya mengambil ancang-ancang, menarik napas dalam-dalam, dan dalam hitungan ketiga ia kembali membenturkan tubuhnya ke pintu.

BRAAAKKK!

Berhasil. Akhirnya kedua orang tua itu bisa menyaksikan sendiri bagaimana keadaan anaknya itu. Dan baik ayah maupun ibunya langsung terkejut setengah mati saat mendapati keadaan anaknya yang terlihat sangat mengenaskan itu.

“KYAAAAAAA! KIM JONGHYUN!” ibunya menjerit sangat hebat, tidak percaya dengan sosok mengerikan Jonghyun itu, sementara ayahnya hanya bisa menganga dan mencoba mencerna dengan baik apa yang baru saja ia lihat. Jeritan itu sontak membuat Jonghyun yang tadinya masih sibuk dengan amukannya langsung menoleh dan menatap tajam ke arah mereka berdua.

“Anakku…” dengan kedua mata yang mulai dialiri oleh air mata, ibunya mencoba untuk menghampirinya. Raut wajah tidak suka semakin nampak dari wajah Jonghyun, bahkan hembusan napas Jonghyun yang tidak beraturan bisa terdengar dengan jelas. Sesaat hal itu membuat ibunya sedikit bergidik ngeri, apalagi saat melihat kepulan asap yang tiba-tiba keluar bersamaan dengan hembusan napasnya itu. Namun nalurinya sebagai ibu ternyata membuatnya semakin memberanikan diri dan mulai mencoba untuk menyentuh Jonghyun.

“Grrrrrrrrrr!” seketika itu pula Jonghyun menggertak sambil memperlihatkan gigi-giginya yang runcing saat ia merasakan tangan ibunya itu menyentuh kulitnya. Dan dalam satu kali gerakan, ia mengayunkan tangannya untuk memukul ibunya dengan kasar hingga membuat ibunya terpental jauh ke belakang.

“KIM JONGHYUN! HENTIKAN!” ayahnya berseru kencang saat melihat perlakuan Jonghyun terhadap ibunya, tapi Jonghyun terlihat tidak peduli. Ia seakan buta dan tuli atas apa pun yang ada di sekitarnya.

Ia lalu berjalan mendekati sosok ibunya yang terbaring kesakitan di lantai dan mulai mengayunkan kakinya pada tubuh yang tidak berdaya itu. Dan sekali lagi, ibunya terpental beberapa meter dari tempatnya semula hingga membuatnya tak sadarkan diri. Melihat hal itu, ayah Jonghyun jadi terpancing emosi. Dengan terburu-buru ia berjalan mendekati Jonghyun yang kehilangan akal sehat itu. Namun baru saja ia berjalan beberapa langkah, insting Jonghyun mengarahkannya untuk mengayunkan tangannya hingga membuat tubuh ayahnya tiba-tiba terlempar menabrak tembok kamar, dan itu dilakukannya tanpa menyentuhnya sedikit pun.

Jonghyun kembali berjalan sambil menyeringai lebar, mendekati ayahnya yang juga terbaring kesakitan. Namun ayahnya mencoba untuk mengumpulkan segenap sisa-sisa kekuatannya hingga akhirnya bisa membuatnya bangkit dan berlari menjauh dari kamar itu. Ayahnya terus berusaha berlari menuju pintu keluar, sementara Jonghyun juga terus mengikutinya dari belakang.

Akhirnya ayahnya sudah mencapai pintu depan dan yang harus ia lakukan adalah membuka kunci pintu itu. Namun dengan tangan dan tubuh yang gemetaran membuatnya kesulitan untuk membuka pintu, sementara Jonghyun sudah semakin mendekat.

Klekk.

Akhirnya ia berhasil membuka kunci pintu itu. Namun terlambat, Jonghyun sudah meraih pundaknya dan tanpa berlama-lama lagi ia membanting tubuh ayahnya ke belakang. Darah segar langsung mencuat dari mulut ayahnya saat punggungnya dengan sukses tertumbuk di atas lantai. Masih belum puas saat melihat tubuh ayahnya yang masih bergerak, Jonghyun kembali mendekat. Dan untuk meyakinkannya agar nyawa ayahnya tamat saat itu juga, Jonghyun menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat ke tubuh ayahnya, dan yang keluar dari lubang hidung dan mulutnya itu adalah kobaran api yang langsung menjilati tubuh naas ayahnya itu. Alhasil, tubuh ayahnya itu hangus dalam waktu sekejap. Melihat itu, lagi-lagi Jonghyun hanya menarik bibirnya hingga membentuk seringai yang sangat lebar.

+++

______ langsung membuka pintu taksi dan membantingnya dengan tidak sabaran saat ia sudah menginjakkan kakinya di depan rumah Jonghyun. Ia lalu berlari sekuat tenaga menuju pintu depan rumah itu. Beruntung, saat ______ memegang gagang pintu itu dan memutarnya ternyata pintu dalam keadaan tidak terkunci. Namun justru saat ia membuka pintu itu, ia langsung disambut dengan sebuah pemandangan mengerikan.

“KYAAAAAAA!” ______ berteriak histeris saat melihat dengan jelas jasad yang dilalap oleh sisa-sisa kobaran api. Dan yang membuatnya tidak kalah terkejut saat melihat sebuah sosok yang berdiri tidak jauh dari jasad tersebut.

“K..Kim Jonghyun…” ucap ______ terbata-bata dengan mulut yang hampir menganga lebar. Sosok yang ia lihat itu memang terlihat sangat mengerikan dengan kenampakannya sekarang, namun ia masih bisa mengenali ciri-ciri tersebut sebagai orang yang selama ini sudah menjadi kekasihnya.

Jonghyun menatap tajam ke arah ______ yang kini hanya terpaku di dekat pintu. Cahaya matanya yang berkilat-kilat semakin menggambarkan sifat kejamnya. Jonghyun mendesis pelan, dan perlahan-lahan ia mulai berjalan mendekati ______.

“Jonghyun…” ______ bergumam pelan sambil menatap sosok Jonghyun yang semakin berjalan mendekat. Jonghyun tidak bergeming, ia tetap saja menatap ______ seakan-akan ______ itu pantas itu mendapat perlakuan yang sama dengan dua orang sebelumnya.

Jonghyun kini persis berada di hadapan ______. Sekali lagi ia menyeringai, dan sedetik kemudian sudah mengambil posisi untuk mengayunkan tangannya. Dan dalam sekali ayunan, tubuh ______ sudah terhempas beberapa meter dari tempatnya semula dan membuatnya tersungkur di atas lantai. ______ merintih pelan namun berusaha keras untuk bisa bangkit dan berdiri kembali, sementara Jonghyun perlahan-lahan kembali mendekat.

“Jonghyun…” sekali lagi ______ menggumamkan namanya dan menatap mata tajam Jonghyun lekat-lekat. Perlahan-lahan air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya mulai mengalir di sepanjang pipinya. Dan saat Jonghyun ingin melanjutkan kembali kebengisannya, tiba-tiba tatapan mata tajamnya melunak.

“Dengarkan aku Jonghyun, ini bukan dirimu yang sebenarnya…” ujar ______ lirih. Dan selanjutnya, ______ hanya bisa menangis dalam bisu.

Perlahan-lahan Jonghyun menurunkan tangannya yang telah ia angkat. Di antara seluruh bagian jiwanya yang sudah hampir sempurna dikuasai oleh Ragon ternyata masih tersisa setitik bagian yang mengenali sosok yang kini sedang menangisinya itu. Tanpa berpikir panjang, ______ mendekat dan langsung memeluk tubuh kekar Jonghyun. Jonghyun sendiri tidak bereaksi apa-apa, ia hanya diam menerima perlakuan ______ padanya sementara di dalam tubuhnya sendiri, dua kepribadian yang saling bertolak belakang seakan bertarung satu sama lain untuk memenangkan jiwa Jonghyun.

______ melepaskan pelukannya pada Jonghyun. Hatinya semakin miris saat memperhatikan kembali keadaan Jonghyun dari dekat. Tubuh lelaki itu seperti hancur akibat luka di mana-mana ditambah dengan darah yang mengalir dari luka-luka itu.

Sreeetttt.

______ tidak kehabisan akal untuk merobek ujung bajunya dan mengikat sobekan kain itu pada luka di dahi Jonghyun.

“Jonghyun, ku mohon, kembalilah…” ______ meraih telapak tangan Jonghyun juga dipenuhi luka lalu menggenggamnya erat. Namun melihat darah yang tak kunjung berhenti mengalir pada telapak tangan Jonghyun membuatnya kembali berpikir untuk menghentikan pendarahannya.

“Hhh, kau harus ke rumah sakit… Jangan sampai kau kehabisan darah…” ujar ______ kemudian mengambil telapak tangan Jonghyun dan mengisap darah yang keluar dengan mulutnya, setidaknya mencoba untuk menghentikan pendarahannya sebisa mungkin.

______ saat ini mungkin saja berpikiran bahwa keadaan Jonghyun sudah mulai membaik. Tapi seluruh kepribadian Ragon yang sudah terlanjur merasuk ke dalam jiwa Jonghyun membuat sifat bengisnya jauh lebih dominan.

+++

Minho mengendarai mobilnya sekencang yang ia bisa. Saat ini ia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri sambil terus berdoa dalam hati agar adiknya itu dalam keadaan baik-baik saja. Ternyata firasatnya benar. Awalnya ia memang curiga ______ akan berbuat nekat, dan karena ia lengah sedikit saja sehingga ia hanya menemukan jendela yang terbuka lebar saat mengecek kembali keberadaan adiknya itu di dalam kamar.

“Sial!” umpat Minho dengan perasaan yang campur aduk. Ia terus mengendarai mobilnya menuju satu-satunya tempat yang pastinya ingin dikunjungi oleh adiknya itu.

Ciiittttttt…

Suara decitan mobil yang tercipta akibat rem mendadak yang dibuat oleh Minho menjadi pertanda bahwa ia telah tiba di depan rumah Jonghyun. Ia lalu berlari secepat mungkin memasuki pekarangan rumah itu. Sejauh ini ia belum menemukan apa-apa hingga akhirnya membuatnya berlari menuju pintu depan yang memang terlihat sudah terbuka.

Saat ia sudah memasuki rumah tersebut, Minho sangat tercengang dengan pemandangan yang baru saja ia lihat. Ternyata apa yang selama ini hanya bisa ia temukan dalam buku-buku bacaan kunonya kini dapat ia lihat dengan jelas di hadapannya sendiri. Berkali-kali ia mengerjapkan matanya untuk lebih meyakinkannya. Dan dengan mata yang masih membelalak kaget, Minho mulai merogoh saku celananya dan langsung mengeluarkan ponselnya.

“Kerahkan semua anggota yang ada lengkap dengan alat-alat persenjataannya. Kirimkan mereka secepatnya!” seru Minho dengan suara yang terdengar bergetar pada kepala polisi yang baru saja ia hubungi.

Setelah ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, Minho kembali memperhatikan sosok mengerikan yang semakin bergerak-gerak tidak terkendali itu. Ia mengarahkan pandangannya ke samping makhluk yang wujudnya semakin mengerikan itu dan mendapati ______ berdiri di samping sana. Minho lalu merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sana.

“______! Menyingkir dari sana!” Minho berteriak memperingati ______.

Dorrrrrrr!

Setelah membidik sasarannya, ia akhirnya melepaskan satu tembakan yang ternyata tepat mengenai lengan Jonghyun.

“OPPA! HENTIKAN!” seru ______ kencang, sementara Jonghyun semakin bertingkah tidak terkendali. Perlahan-lahan sosok Jonghyun yang masih bisa dikenali itu kini mulai berubah wujud ke dalam bentuk yang membuat Minho dan ______ semakin terkejut. Tubuh Jonghyun semakin bertambah kekar dan besar. Di balik punggungnya muncul sepasang sayap hitam pekat yang langsung ia kepakkan dengan keras. Bersamaan dengan itu, muncul duri-duri tajam yang berjejer di sepanjang garis tengah punggungnya. Duri-duri tajam itu juga bermunculan di sepanjang lengan dan kakinya. Dan dalam keadaan yang masih bermetamorfosis, sosok Jonghyun itu berlari menuju pintu depan, menembus pintu hingga merobohkan sebagian tembok akibat ukuran tubuhnya yang tidak mencukupi.

Dengan sigap ______ berlari menyusul Jonghyun. Melihat hal itu, Minho jadi bertambah panik. Sebisa mungkin ia akhirnya ikut berlari menyusul adiknya untuk menghindarkannya dari segala bahaya yang sudah terbayang di pikirannya.

“Lepaskan aku oppa!” ______ berusaha untuk memberontak saat Minho tiba-tiba datang menghampirinya dan menarik tangannya sebelum gadis itu nekat untuk semakin mendekati makhluk yang Minho yakini sangat berbahaya itu. Dan semakin keras ______ berusaha untuk melepaskan diri, Minho semakin mempererat cengkraman tangannya bahkan mulai mencoba menarik gadis itu untuk menjauh saat Jonghyun dalam bentuk yang lain itu semakin mengeluarkan teriakan yang menusuk telinga.

“OPPA! LEPASKAN AKU!”

“KAU INI BODOH ______! AYO KITA PULANG, MENJAUH DARI TEMPAT TERKUTUK INI SEKARANG JUGA!” Minho balik membentak ______ yang mulai terpancing emosi.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara sirine yang ikut membelah keheningan malam itu. Dan tak lama kemudian, serombongan polisi bermunculan dan turun satu per satu dari mobil mereka, lalu berlari memasuki pekarangan rumah. Raut wajah terkejut langsung nampak dari wajah mereka saat menyadari lawan yang harus mereka hadapi itu bukanlah lawan yang biasa, dan setelah mereka bisa menguasai diri mereka kembali, seorang polisi yang terlihat lebih dominan di antara mereka memimpin dengan acungan tangannya. Dan dalam hitungan ketiga, serombongan polisi yang telah mengambil ancang-ancang dengan berbagai senjata api di tangan mereka melepaskan tembakan satu per satu ke arah naga itu.

Dorrrr! Dooorrrr! Doorrrr! Doorrr!

“HENTIKAN!!” ______ kembali berteriak histeris saat melihat peluru-peluru itu diarahkan bertubi-tubi pada tubuh Jonghyun. Ia kembali memberontak dari pegangan Minho, namun lagi-lagi Minho terus berusaha agar adiknya itu tidak lepas dari genggamannya. Akhirnya ______ hanya bisa terisak, apalagi saat ia mendengar suara tembakan dan erangan dari Jonghyun yang bergantian.

“Kita pulang sekarang!” Minho mencoba untuk menarik ______ menuju mobilnya, dan meskipun ______ terus berusaha untuk memberontak, yang terjadi hanya tenaganya semakin melemah hingga membuat Minho akhirnya berhasil memaksanya masuk ke dalam mobil dan membawanya menjauh, meninggalkan serombongan polisi yang berusaha menyerang dan seekor naga yang hampir sempurna yang terus berusaha untuk melepaskan diri.

Keadaan Jonghyun saat ini sudah terkepung. Ia tidak bisa lagi mencari cara untuk menghindar dari serombongan polisi yang mengerahkan senjatanya dengan membabi buta itu. Dan dengan kondisi tubuh yang semakin melemah itu, sosok Jonghyun perlahan-lahan kembali berubah ke dalam bentuk sebelumnya. Masih tetap mengerikan, namun setidaknya memudahkan para polisi itu untuk mengendalikan ukuran tubuhnya lalu menangkapnya dan mengamankannya.

Sosok lemah Jonghyun akhirnya berhasil dibawa dan diamankan ke dalam sebuah penjara besi oleh para polisi itu.

+++

Setibanya di rumah, Minho masih harus berusaha menarik tubuh ______ agar mau beranjak dari dalam mobil hingga memaksanya untuk masuk ke dalam rumah. Minho mengunci pintu rapat-rapat lalu mengamankan kuncinya ke dalam sakunya, sementara ______ hanya merapat ke tembok dan memerosotkan tubuhnya hingga terduduk bersandar pada tembok. Air matanya tidak kunjung berhenti mengalir sedari tadi, dan Minho kali ini lebih memilih untuk diam sambil ikut bersandar pada tembok yang ada di seberang ______.

______ terus menerus terisak, dan di saat ia merasa muak dengan semuanya, ia akhirnya bangkit dari posisi duduknya dan beranjak ke kamarnya sendiri, meninggalkan Minho dengan sejuta perasaan prihatinnya.

“Mianhae ______, ku rasa ini yang terbaik…” gumam Minho pada dirinya sendiri.

+++

Tubuh Jonghyun yang sudah dipenuhi dengan luka tembak dan berbagai jenis luka lainnya itu diseret dengan paksa oleh polisi-polisi dan menggiringnya masuk ke sebuah penjara khusus di ruang tahanan itu. Polisi itu langsung mendorong tubuhnya dengan keras hingga membuatnya tersungkur di lantai dingin penjara itu. Dan dengan segala ketelitiannya, polisi itu mulai memasang rantai besi dan menggembok pintu penjara itu, ditambah dengan detektor pengaman untuk sekedar berjaga-jaga.

“Astaga… Makhluk apa dia sebenarnya?” terdengar seseorang diantara beberapa polisi itu sedang bertanya kepada rekan-rekannya yang lain, sementara orang-orang yang ditujukan untuk pertanyaan itu hanya bisa menggeleng-geleng dan tak henti-hentinya menatap sosok yang sudah tak berdaya itu dengan tatapan takjub dari luar penjara.

“Coba perhatikan, lama-kelamaan ia terus mengalami perubahan… Dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya, sekarang kenampakannya sudah berangsur-angsur membaik. Errr, setidaknya wujudnya tidak terlalu mengerikan seperti sebelumnya. Lihat! Sayapnya juga sedari tadi sudah menghilang, tubuhnya kembali berubah ke dalam ukuran yang normal, dan sedikit demi sedikit duri-duri yang melekat di tubuhnya menghilang…” ujar salah seorang dari mereka lagi dan disambut dengan anggukan setuju dari yang lainnya.

Mereka akhirnya terus berjaga-jaga di depan penjara itu. Seluruh tatapan mata yang ada hanya di tujukan pada sosok Jonghyun yang terlihat meringis kesakitan. Mereka juga tak henti-hentinya tertegun saat menyaksikan sendiri bagaimana makhluk yang tadinya nyaris sempurna berwujud naga itu kini kembali ke wujud semulanya secara perlahan.

+++

Perasaan gelisah akhirnya terus menghantui Minho, mengingat keadaan _______ yang tentunya sangat tertekan dengan kejadian ini. Ia terus saja merasa tidak tenang hingga membuatnya selalu mengecek kembali keadaan ______ di kamarnya tiap beberapa menit. Ia membuka pintu kamar ______, mengintip di dekat pintu untuk melihat apa yang adiknya itu lakukan. Dan saat ia memastikan keadaan ______ masih wajar, ia lalu kembali menutup pintunya.

Namun setelah beberapa kali mengeceknya, Minho kembali dikejutkan dengan perubahan aneh yang tiba-tiba terjadi pada ______. Ia lalu buru-buru menghampiri ______ yang kini terbaring di tempat tidurnya.

“______? Kau baik-baik saja?” tanya Minho padanya, namun ______ sama sekali terlihat enggan untuk menanggapi pertanyaannya.

“Ya! Kenapa kau jadi seperti ini?!” seru Minho panik saat menyadari sekujur tubuh adiknya itu sudah membiru. Tatapan matanya sayu, ditambah dengan bibirnya yang juga menjadi pucat. Tiba-tiba perasaan Minho menjadi semakin tidak enak saat memikirkan kemungkinan yang bisa menyebabkan keadaan adiknya jadi seperti itu.

Dengan cepat ia beranjak sejenak meninggalkan ______ menuju perpustakaan kecil miliknya. Setibanya di sana, ia mencari buku tua yang telah menjadi sumber informasi tentang makhluk terkutuk bernama Ragon itu.

Setelah menemukan bukunya, ia lalu membuka lembaran demi lembaran dengan tidak sabaran. Dalam hati ia kembali berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa pada adiknya itu dan apa yang ia cemaskan tidak menjadi kenyataan.

Saat menemukan lembaran bagian Ragon itu, jari-jarinya mulai menelusuri tiap barisan tulisan yang ada dalam buku itu, membaca kata demi kata dengan pikiran yang ia konsentrasikan pada suatu informasi yang ingin ia dapatkan.

‘Jangan sampai… Jangan sampai…’ berulang kali Minho bergumam dalam hatinya sendiri, menghindari suatu hal yang sebenarnya masih ia ingat dengan jelas dari buku itu namun pikirannya sama sekali tidak ingin menerimanya. Ia terus menelusuri buku itu hingga akhirnya ia tiba pada sebuah penjelasan, dimana penjelasan itu menggambarkan keadaan yang sama persis dengan apa yang dialami ______ sekarang.

Ia tercengang dengan apa yang baru saja ia baca kembali. Dalam buku itu, tergambar dengan jelas kemungkinan bahwa ______ sekarang tengah berada dalam pengaruh Ragon itu. Dan dengan tubuh yang tiba-tiba lemah saat menyadari kenyataan tersebut, Minho berjalan lunglai menemui ______ di kamarnya.

“______… Katakan padaku, apa yang makhluk itu lakukan padamu?” Minho bertanya dengan nada lirih, sementara ______ masih terlihat enggan untuk menjawab, ditambah dengan rasa pusing di kepalanya yang semakin membuatnya memilih untuk terus terdiam.

“______! Jawab pertanyaanku! Apa yang makhluk itu lakukan padamu hah?!”

“Memangnya kenapa oppa?” akhirnya ______ membuka mulut, namun ia sama sekali tidak berminat untuk menatap wajah kakaknya. Ia hanya mengarahkan pandangannya pada langit-langit kamar.

“Aku merasa, darahnya ikut mengalir dalam darahmu…”

“Darah Jonghyun memang selalu mengalir dalam nadiku oppa… Kami bersatu…”

“Bukan itu maksudku! Makhluk itu, ia sudah menyalurkan darahnya padamu! Atau dengan kata lain, kau akan ada dalam pengaruhnya! Apa ia sudah menggigitmu? Atau, apa ia dengan sengaja menyuruhmu agar darahnya itu masuk ke dalam tubuhmu?! Jawab aku ______!”

______ tertegun sejenak saat mendengar penjelasan kakaknya. Ia kembali melayangkan ingatannya pada kejadian beberapa waktu yang lalu, hingga akhirnya ia menyadari kalau memang darah Jonghyun sudah masuk ke dalam tubuhnya, dan itu tidak pernah memikirkannya sebab ia melakukannya pada saat mencoba untuk menghentikan pendarahan Jonghyun.

“Kalau begitu biarkan saja oppa… Mungkin dengan begitu, aku bisa menyusul Jonghyun…” ujar ______ pasrah.

“KAU BODOH ______! Kau tidak akan menyusulnya! Secara langsung, makhluk itu telah memindahkan seluruh bagian dari Ragon padamu! Sekarang ia sudah aman sebab dengan begitu ia justru terbebas dari Ragon! Sial! Ia memindahkan tanggungannya pada dirimu! Aaarrgggh!”

Bughhh!

Minho melayangkan tinjunya pada dinding yang ada di sampingnya, sangat menyesali nasib yang justru harus ditanggung oleh adiknya itu. Seketika itu pula ia tidak bisa lagi menahan air mata yang sudah mendesak untuk keluar.

“Tidak apa-apa oppa… Biar aku saja yang berubah menjadi makhluk mengerikan itu. Yang jelas, sekarang aku sudah lega saat mengetahui Jonghyun bisa selamat…”

“Kau tidak akan berubah menjadi Ragon! Dengarkan aku, dia itu belum menjadi Ragon seutuhnya! Dan saat ia menyalurkan darahnya padamu, darah itu hanya akan menjadi racun bagimu! Itu hanya bisa membuatmu mati ______!”

Perkataan ______ membuat Minho sangat frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya dengan perasaan yang campur aduk antara sedih, kesal, benci, namun juga sedikit rasa haru saat melihat kegigihan adiknya itu. Setelah beberapa saat berpikir, ia lalu merogoh ponsel di sakunya dan kembali menghubungi kepala polisi yang menangani kasus Jonghyun itu.

“Halo?” seseorang di seberang telepon menjawab panggilannya.

“Sekarang aku sudah bisa memastikan kalau makhluk itu sudah tidak berbahaya. Aku bisa menjamin kalau ia sudah kembali menjadi manusia normal. Oleh karena itu, ku mohon selamatkan dia…” ujar Minho dengan nada datar.

“T..tapi detektif Choi…”

“Percaya padaku… Ku mohon…”

Klik.

Dan Minho lalu memutuskan sambungan teleponnya. Ya, ia merasa apa yang ia lakukan sudah benar. Semuanya demi adiknya.

“______, kalau kau dan Jonghyun sembuh nanti, katakan pada Jonghyun untuk menjagamu sebaik mungkin. Aku menitipkanmu pada lelaki itu…” ujar Minho lirih.

“Maksud oppa?” dengan mulut yang semakin terasa pahit, ______ menanggapi perkataan kakaknya itu dengan bingung. Minho tidak menghiraukan pertanyaannya. Minho lalu mendekatkan wajahnya pada ______ lalu mengecup kening gadis itu cukup lama.

“OPPA!” ______ memaksakan diri untuk bangkit dari posisi tidurnya. Minho tetap saja tidak menghiraukan ______. Ia lalu meraih tangan adiknya itu, dan tanpa ______ duga sebelumnya, Minho tiba-tiba menggigit telapak tangan itu kemudian menghisap darah yang keluar dengan cepat.

“Apa yang kau lakukan oppa!” ______ menarik tangannya dengan paksa hingga terlepas dari gigitan Minho.

“Jaga dirimu baik-baik…” ujar Minho nanar. Sekarang ia sudah merasa lega atas apa yang telah ia lakukan. Ya, ia lebih memilih menanggung apa yang telah adiknya terima itu. Semuanya demi adiknya, demi kebahagiaan ______.

“Kau bodoh oppa!” ______ menangis histeris sambil memeluk kakaknya erat. Ia menangis sejadi-jadi mungkin atas apa yang telah kakaknya korbankan untuknya. Ia hanya bisa terus memeluk kakaknya itu selama yang ia bisa, hingga lama kelamaan ia merasakan tubuh Minho mulai melemah dalam pelukannya.

“OPPAAAAAA!”

+++

Beberapa hari kemudian…

______ menatap wajah Jonghyun dengan perasaan tenang. Saat ini ia merasakan kedamaian yang luar biasa dalam hatinya. Ia duduk di samping ranjang Jonghyun, menggenggam tangan lelaki yang sedang terbaring itu erat sambil memamerkan senyuman paling tulus yang ia punya.

“Senang bisa melihat keadaanmu membaik…” ujar ______ pada Jonghyun yang memang sedang menjalani perawatan itu. Luka-luka serta bekas tembakan yang ia terima belum sepenuhnya sembuh, tapi setidaknya ______ sudah merasa cukup lega dengan perkembangan kesehatannya.

Jonghyun balas tersenyum lebar. Sorot matanya kembali teduh, tidak seperti sorot mata membunuh yang sempat ia punya saat masih berada dalam pengaruh Ragon.

“______… Aku merasa bersalah atas apa yang terjadi pada kakakmu…” ujar Jonghyun pelan. Nada bersalah memang tergambar jelas di sana.

“Tidak usah seperti itu… Minho oppa adalah kakak yang baik. Aku beruntung telah memilikinya, dan ia akan selalu hidup dalam hatiku… Hmm, sekarang aku merasa kalau oppa-ku sudah bertemu dengan bidadari pujaannya di alam sana… Minho oppa pasti bahagia…” ujar ______ sambil menerawang jauh ke alam khayalannya. Dan sekali lagi Jonghyun dibuat tersenyum olehnya.

“Tenang saja, masih ada aku… Aku berjanji dengan segenap nyawaku untuk selalu menjagamu dan membuatmu bahagia…” Jonghyun berkata dengan yakin. Meskipun saat ini ia juga masih sedih atas kepergian kedua orang tuanya, setidaknya ia masih memiliki ______. Dan ia sudah berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ia miliki.

Sementara Ragon, makhluk penguasa kegelapan itu sendiri tidak akan pernah menampakkan diri lagi. Ia benar-benar sudah ‘punah’ sebab ia gagal menciptakan Ragon generasi selanjutnya.

THE END

Haddeh.. fantasy yang gagal dan mengenaskan.. (“.___.) flames,, mianhae.. u_u
Dan untuk ff Our Big Trouble,, sabar ya.. aku masih perlu bertapa untuk kelanjutan ff naas itu.. ckckck.. *bowbowbow*

Oiya,, please leave me a comment.. it’s very important,, u know??

Advertisements

60 thoughts on “D’Ragon – Part 2 (End)

  1. eonni, eonni. Itu si abang Jonghyun gak mati diembak berkali-kali? *Hebat!*
    Kirain Bang Jjong ato Cewek’a yg mati ternyata Bang Mimin, ckckck ksian sekali kau bang *geleng2**gaje*

    Baiklah, saya mau ngubek-ngubek FF yang lain dulu, annyeonggggggggg *sokkenal*

  2. umma..
    TT^TT

    qqw nangis bacanyaa..
    suamiku kyk gitu..
    ><

    eehh..
    mlah oppa.qqw mati endingnya..
    mkind nangis deh qqw..
    TTTTT^TTTTT

  3. waaa jjong brubah jdi naga apa dino itu?? *plakkk
    daebakkk!! kasian minho tapi huhuhuhuwaaa jjong brubah jdi naga apa dino itu?? *plakkk
    daebakkk!! kasian minho tapi huhuhuhu

    • hoo.. iya juga ya harusnya jangan naga,,
      lebih cocok dino -___-”
      hehe makasih ya 🙂
      salam kenal btw 🙂

  4. akhir ceritanya gak bisa ditebak. FF nya daebak daebak daebak…
    Huwa pokoknya keren.
    Ak gak nyangka kalau Minho akirnya ngorbanin nyawanya. Dan Jonghyun selamat … seneng, tapi ayah sama ibu jjong (?) ..
    Yang penting jjong bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s