Trust Me, I’m Your Friend

Trust Me, I’m Your Friend


Author :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Taemin

SHINee – Choi Minho

Genre              :           Angst, Friendship

Rating             :           PG-13

Length            :           One Shot

Disclaimer      :           All of the plots are MINE!

NB                  :           yak kembali lagi dengan genre favorite saya setelah belakangan ini lebih banyak bergelut di dunia fluff romance.. kekeke.. ini ff pesanan anak saya si yupi.. *kapanbrojolnya?*

+++

“SHIREO!” entah sudah ke berapa kalinya seorang namja bertubuh kurus itu berteriak-teriak histeris, seakan sedang menolak sesuatu. Ya, dia Lee Taemin, saat ini memang tengah mencoba untuk menghindar dari bujukan para dokter-dokter yang ada di sekitarnya, yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai paksaan daripada bujukan.

“Lee Taemin, tenanglah… Kau membutuhkan ini. Dijamin, tidak akan lama…” salah satu dokter yang terlihat lebih dominan daripada dokter-dokter lain itu masih mencoba untuk membujuk Taemin agar ia mau disuntik, dan sama seperti Taemin, entah ke berapa kalinya pula ia menggunakan kata-kata itu. Butir-butir keringat sudah bercucuran di sekitar kening dokter itu, mungkin karena terlalu kelelahan dalam menghadapi salah satu pasiennya yang sangat keras kepala itu.

“KU KATAKAN SEKALI LAGI, JANGAN MENDEKAT!” jerit Taemin sekuat tenaga sambil terus mencoba untuk menyudutkan dirinya di atas tempat tidur kamar rawat yang memang terletak di sudut itu. Ia terduduk sambil menutup dirinya rapat-rapat dengan selimut tipis bermotif garis-garis yang ada di tempat tidur itu.

“Lee Taemin…” dokter itu kini mulai menyentuh lengan Taemin dengan hati-hati, sementara dokter yang lain sudah mengambil ancang-ancang untuk menancapkan jarum suntiknya di lengan Taemin.

“SIAL! JANGAN MENYENTUHKU! JAUHKAN TANGAN KOTORMU ITU DARIKU!” Taemin menyingkap sedikit selimut yang menutupi wajahnya dan langsung memaki-maki dokter yang ada di hadapannya. Dan setelah itu, ia kembali menutup seluruh bagian dirinya itu dengan selimut.

Para dokter mulai terlihat putus asa. Salah satu dari mereka mulai memberikan instruksi kepada dokter lain yang jumlahnya empat orang itu. Dokter yang lain langsung mengangguk setuju, dan dalam hitungan ketiga, kelima dokter itu mulai memegangi bagian tubuh Taemin mulai dari kedua tangan, kedua kaki hingga bagian kepalanya.

“ANDWAE! PERGI KAU SEMUA ORANG-ORANG TERKUTUK!” Taemin semakin histeris saat mendapati tubuhnya dipaksakan untuk berbaring. Taemin terus memberontak, namun tubuhnya yang lemah itu tidak bisa mengalahkan pegangan dokter-dokter itu yang kini sudah berubah menjadi cengkraman.

“Hana… Dul… Set…” dalam hitungan ketiga itu, sebuah jarum suntik berukuran lumayan panjang itu sudah menancap dengan sukses di lengan kirinya.

“AAAARGGHHH!” Taemin mengerang keras, sementara sang dokter telah selesai memasukkan cairan ke dalam tubuhnya dan menarik kembali jarum suntiknya. Taemin terlihat masih berusaha memberontak, namun lama-kelamaan ia mulai kehilangan sebagian besar tenaganya, juga kesadarannya. Efek dari cairan yang disuntikkan padanya itu kini mulai bekerja.

Para dokter kembali bisa bernapas lega untuk saat ini. Tapi mereka sadar, hal tersebut tidak akan bertahan lama. Mereka mulai membereskan peralatan-peralatan mereka lalu bergegas meninggalkan ruang rawat Taemin dan menutupnya dari luar. Tubuhnya kini sudah terbaring tak berdaya.

Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Taemin mulai terhanyut ke dalam alam bawah sadarnya. Raganya memang sudah tenang, tapi tidak dengan jiwanya. Matanya memang terpejam, tapi penglihatan batinnya masih bekerja. Dari sudut matanya kini berjatuhan butir-butir air yang lama-kelamaan mengalir di sepanjang pipinya. Ia menangis dalam tidurnya.

Awalnya ia adalah namja normal yang menjalani kehidupannya layaknya manusia biasa pada umumnya. Namun semuanya berubah semenjak satu tahun yang lalu, saat ia menyaksikan sendiri bagaimana orang yang ia sayangi dibunuh di depan matanya sendiri. Dan yang semakin memperparah keadaan, orang yang membunuhnya adalah orang yang juga berada di dekatnya. Ya, sampai detik ini juga ia masih ingat betul bagaimana ibunya dibunuh secara keji oleh ayah tirinya.

Ayah kandungnya memang sudah meninggal dunia hingga akhirnya ibunya kembali memutuskan untuk membina rumah tangga yang baru bersama laki-laki yang menurut ibunya itu sudah tepat. Sejak awal Taemin mulai merasakan bahwa hadirnya ayah baru di kehidupannya itu bukan hal yang bisa dibilang memperbaiki keadaan. Ayah tirinya yang pada mulanya memang bersikap baik di hadapannya perlahan-lahan mulai menampakkan sifat aslinya.

Bentakan keras, caci maki, tamparan di wajah, bahkan pukulan bertubi-tubi di sekujur tubuhnya sudah berkali-kali Taemin dan ibunya rasakan. Taemin sendiri tidak mengerti apa yang menyebabkan ayah tirinya itu tega berbuat demikian. Dan ia tetap tidak mengerti sampai akhirnya nyawa ibunya itu melayang di tangan ayah tirinya.

Kejadiannya cukup singkat. Sang ayah hanya menusukkan sebuah pisau tepat di daerah jantung ibunya hingga ibunya tewas seketika. Terlalu singkat namun cukup memberikan bekas di pikiran Taemin dan rasa waspada pada perkataan ayahnya bahwa ia tinggal menunggu giliran untuk memperoleh hal yang serupa.

Memori itu tetap terekam jelas di setiap lintasan ingatan yang ia miliki di otaknya, menyisakan kenangan yang berdampak buruk bagi namja itu. Di pipi namja itu juga tak henti-hentinya dialiri air mata. Tubuhnya gemetaran serta panas dingin. Dan yang paling parah, rasa sakit hatinya.

+++

“Dokter Choi, mulai sekarang kau sudah bisa bergabung bersama kami…” seorang dokter yang terlihat lebih berpengalaman menyambut kedatangan dokter baru di rumah sakit mereka, Choi Minho. Choi Minho baru saja menyelesaikan studinya dan akhirnya ia ditugaskan untuk bekerja di rumah sakit tersebut sesuai dengan profesinya, ahli jiwa.

Dokter itu lalu membawa Minho untuk berkeliling-keliling sejenak di sekitar wilayah rumah sakit, sekedar untuk memperkenalkan setiap sudut yang ada di rumah sakit, berharap agar dokter baru tersebut bisa bersosialisasi dengan lingkungan barunya. Sembari berkeliling, dokter yang menemani Minho itu mulai membuka pintu ruangan satu per satu.

“Ibu itu, ia mengalami gangguan jiwa yang cukup parah. Ia bahkan sudah membunuh anaknya sendiri…” ia mulai menjelaskan keadaan pasien yang ada di ruangan itu kepada Minho. Minho hanya menatap ibu itu dengan tatapan yang cukup prihatin, apalagi ia mendapati ibu itu hanya bisa menangis terisak sementara kedua kaki dan tangannya diikat dengan rantai besi yang dikaitkan di tiang tempat tidur. Setelah merasa cukup, mereka menutup kembali pintu ruangannya dan melanjutkan ke ruangan lain.

“Kalau nenek yang itu, hhh, ku rasa dia bisa seperti itu karena semua keluarganya tidak ada yang mempedulikannya. Entahlah, kami cuma menemukannya di jalan…” jelas dokter itu lagi saat ia membuka pintu ruangan yang ada di sebelah ruangan pertama tadi. Dan lagi-lagi, Minho cuma bisa menatapnya prihatin.

Mereka pun lalu meninggalkan ruangan tersebut menuju ruangan-ruangan lain, melihat satu per satu ruangan demi ruangan yang saat ini sudah dipenuhi oleh banyak pasien. Minho juga sempat sedikit terkejut saat ia mencoba membuka salah satu ruangan dan langsung disambut oleh amukan pasien yang ada di dalamnya. Mereka terus menyusuri setiap penjuru rumah sakit itu hingga akhirnya mereka tiba di salah satu ruangan yang terletak di ujung koridor.

Minho sedikit mengerutkan keningnya saat melihat keadaan di sekitar ruangan itu. Sepi, gelap, seperti tidak ada tanda-tanda makhluk yang hidup di dalamnya.

“Apa di ruangan itu memang ada pasiennya?” tanya Minho pada dokter itu dengan nada bicara yang terdengar ragu. Dokter yang ia tanyai itu hanya bisa mendesah pelan.

“Mari kita lihat” kata dokter itu sambil memegang gagang pintu.

Klekk.

Pintu akhirnya terbuka dan kini Minho dapat melihat dengan jelas sesosok namja yang sedang berbaring di sudut ruangan. Namja itu tertidur. Minho semakin mengerutkan keningnya, penasaran dengan sosok pasien tersebut.

“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Minho, setengah berbisik. Pandangannya tidak pernah lepas dari sosok namja tersebut.

“Tekanan mental, lebih disebabkan karena trauma. Sampai sekarang tidak ada yang mengetahui apa penyebab pastinya. Hanya saja, kami bisa menyimpulkan demikian sebab ia selalu menunjukkan tanda-tandanya. Ekspresi wajahnya selalu murung, dan seringkali ia juga menampakkan raut wajah yang sangat ketakutan. Dia ini salah satu pasien yang cukup sulit untuk ditangani…” dokter itu menjelaskan dengan panjang lebar. Minho menyimak baik-baik setiap kata-kata yang keluar dari mulut dokter itu.

Sesaat kemudian, Minho mulai mendekat ke arah namja itu. Ia terus berjalan perlahan hingga akhirnya ia tiba di tepi tempat tidurnya. Minho menatap wajah namja itu lekat-lekat.

“Dokter Choi, ku rasa kita bisa mengunjungi ruangan lain lagi” tiba-tiba dokter itu kembali mengajak Minho untuk berkeliling di saat Minho baru saja ingin mencermati pasien di depannya itu. Akhirnya Minho beranjak dari tempat itu. Ia sempat sesekali menoleh, entah apa yang membuatnya menaruh perhatian pada namja itu.

+++

Hari berikutnya Minho mulai menjalani aktivitasnya sebagai dokter di rumah sakit tersebut. Setibanya di rumah sakit itu, yang ada di pikiran Minho saat ini hanya rasa penasarannya terhadap pasien yang kemarin ditemuinya. Entahlah, ia sendiri juga tidak tahu apa yang membuatnya begitu antusias dengan namja yang terlihat sangat biasa-biasa saja itu dibanding dengan pasien lain yang bahkan lebih mengundang perhatian.

Minho kembali mendatangi kamar itu. Setibanya di sana, ia mulai membuka pintunya tanpa ragu sedikitpun.

Klekkk.

Minho memunculkan kepalanya, mengintip terlebih dahulu apa yang sedang penghuninya lakukan. Ia mendapati namja itu hanya duduk termenung di atas tempat tidur berkapasitas satu orang itu.

Minho lalu memutuskan untuk mendekat. Perlahan-lahan ia melangkah dengan sedikit waspada, mengingat yang akan dihadapinya itu bukan tergolong manusia yang masih bisa menggunakan akal sehatnya, sebab bisa saja hal yang tidak diinginkan menimpanya.

Namja itu mulai menyadari keberadaan Minho. Ia lalu menatap tajam ke arah Minho. Ada raut curiga yang tergores di setiap lekuk wajahnya. Ia mulai menggeser sedikit posisinya untuk lebih merapat ke dinding, sementara pandangannya tidak pernah lepas dari sosok Minho yang semakin mendekatkan dirinya.

“Jangan takut, aku temanmu…” kata Minho, mencoba menenangkan namja yang mulai terlihat panik itu. Minho tiba di tepi tempat tidurnya. Ia lalu menopangkan seluruh berat badannya pada tangannya yang ia letakkan di pinggir tempat tidur namja itu.

Meskipun Minho sudah berusaha menenangkannya, namja itu tetap pada pemikiran awalnya, bahwa siapapun yang masuk ke ruangan itu dengan menggunakan pakaian serba putihnya, hal itu akan menjadi masalah buruk baginya.

Minho mulai duduk di tepi ranjang, tempat yang masih lowong yang disisakan oleh namja itu.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” Minho mencoba untuk mengajaknya bicara. Namja itu terlihat tidak berminat untuk menanggapi pertanyaannya. Ia malah semakin merapatkan dirinya di dinding.

Minho hanya menghela napas panjang saat melihat reaksi namja itu. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada sebuah papan kecil yang terpasang di tepi tempat tidur itu.

“Lee Taemin” gumam Minho pelan sambil membaca satu per satu informasi yang terpampang di papan itu. Minho kembali menatap Taemin prihatin dan mulai mencoba untuk menyentuh lengannya.

“AAAAARRRGGHHH! JANGAN SENTUH AKU!” tiba-tiba Taemin berteriak yang membuat Minho terkejut seketika.

“Tenang Taemin, aku tidak akan menyakitimu!” Minho semakin berusaha untuk menenangkan Taemin yang terlihat mulai gemetaran itu. Ia lalu memegang kedua bahu Taemin yang hanya membuat Taemin semakin berteriak frustasi.

“PABO! KAU TIDAK PUNYA TELINGA HAH?!” Taemin menghempas kedua tangan Minho untuk menjauh darinya. Cahaya matanya kini berkilat-kilat, menatap Minho dengan perasaan yang sangat geram.

“Tapi kenapa? Aku sungguh tidak berniat buruk! Aku hanya ingin, errr, berteman?”

“BOHONG! KAU, MANUSIA JAHAT!” umpat Taemin sambil menunjuk-nunjuk wajah Minho yang membuat Minho semakin panik, tidak tahu bagaimana cara menenangkan namja itu.

Brakkkk!

Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dengan tidak sabaran. Seketika itu pula muncul dua orang dokter yang terlihat sudah lengkap dengan peralatannya.

“SUDAH KU DUGA, KALIAN SEMUA BERSEKONGKOL!” teriak Taemin marah. Ia berteriak sangat kencang hingga membuat kedua matanya mulai berair. Ia lalu mengacak-acak rambut hitam kecoklatannya itu dengan frustasi.

“Dokter Choi, apa yang terjadi? Sepertinya ia mulai tidak terkendali lagi…” ujar dokter itu sambil mempersiapkan peralatannya. Dokter itu lalu mengeluarkan sebuah alat suntik dan terlihat mengambil ancang-ancang untuk menancapkan jarumnya di lengan Taemin.

“JAUHKAN BENDA BODOH ITU!” Taemin berteriak mengancam. Ia kembali melakukan kebiasaannya saat berada dalam situasi seperti ini, yaitu menarik selimutnya dengan cepat hingga menutupi seluruh tubuhnya.

“Apa yang akan kau berikan itu dokter?” tanya Minho.

“Hanya suntikan penenang” jawab dokter itu sekenanya lalu mulai memegangi tangan Taemin.

“AAAAAAAAAA!! AAAAAAAAA!! SIAL!! PERGI SANA KAU MANUSIA PABO!! AKU TIDAK BUTUH ITU!!” Taemin mulai mengambil bantal kepala yang ada di dekatnya dan mengayun-ayunkannya di hadapan dokter-dokter itu, berniat untuk memukulnya namun jarak antara mereka hanya memungkinkan untuk Taemin memukul-mukul udara.

“Tenanglah Lee Taemin…”

“SHIREO!!”

“Sssstt dokter, aku rasa kau tidak perlu memberikannya…” ujar Minho buru-buru sambil mencegah dokter yang baru saja kembali mencoba untuk menyentuh Taemin.

“Tapi dokter Choi, kita memang harus memberikannya…”

“Cukup. Lihat, dia sendiri yang mengatakan kalau ia tidak menginginkannya. Kita bisa menggunakan cara lain untuk menenangkannya…” Minho mencoba untuk menjelaskan.

“Tapi dokter Choi, kalau kita tidak memberinya suntikan penenang, dia tidak akan mungkin mau mengkonsumsi obatnya. Biasanya kami memang menyuntiknya terlebih dahulu sebelum memberinya obat”

“Cukup, cukup… Ku rasa kita hanya semakin membuatnya ketakutan. Urusan obat-obatan itu, biar aku yang mengerjakannya…” Minho kembali mencoba untuk memberikan penawaran. Kedua dokter itu terlihat berpikir sejenak sambil memandang wajah Taemin dan Minho secara bergantian, namun pada akhirnya mereka memutuskan untuk mempercayakan semuanya pada Minho saat mereka tidak lagi menemukan cara lain.

“Ya sudah, ku harap kau berhasil dokter…” kata salah satu dari mereka sambil menepuk-nepuk bahu Minho. Minho hanya mengangguk sebentar lalu menerima kotak peralatan yang diserahkan oleh dokter itu.

“Tinggalkan kami berdua, ku rasa ia tidak akan pernah bisa tenang kalau terlalu banyak orang di sekitarnya” Minho menyarankan pada kedua dokter itu. Mereka hanya mengangguk mengiyakan dan sesaat kemudian mereka akhirnya meninggalkan ruangan itu. Minho kembali menghela napas panjang lalu mulai memikirkan cara untuk menghadapi pasien berpendirian keras itu.

Taemin sudah tidak berteriak-teriak histeris lagi, namun raut wajah waspada masih tetap ia tunjukkan. Minho dapat melihat dengan jelas keringat yang bercucuran di wajah namja itu.

‘Apa dia memang setertekan ini?’ gumam Minho dalam hati. Beberapa saat kemudian ia melepaskan jas putihnya dan menyimpannya di salah satu kursi yang ada di sudut seberang. Kini Minho hanya mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang ujungnya ia selipkan masuk di dalam celana kain berwarna hitamnya.

Perlahan-lahan Minho kembali mendekat. Taemin mulai menurunkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya sementara tatapan matanya tidak pernah lepas dari sosok Minho yang mulai melempar senyum ke arahnya.

“Lee Taemin, perkenalkan, namaku Choi Minho. Kau cukup memanggilku Minho, dan aku sangat ingin menjadi temanmu” ujar Minho dengan nada riang sambil mengulurkan tangan kanannya pada Taemin. Taemin masih sempat terlonjak saat tangan Minho mendekat ke arahnya, namun pada akhirnya ia hanya menatap tangan yang terjulur itu, bingung.

“Ayolah, jabat tanganku, dan itu berarti kau juga ingin berteman denganku…” Minho semakin menyodorkan tangannya dan memperlebar senyumannya. Taemin masih menatapnya dengan ragu, namun beberapa saat kemudian ia mulai menyambut uluran tangan Minho secara perlahan, dan masih ragu. Minho yang mengetahui keraguan Taemin langsung menjabat tangannya erat, berharap usahanya itu bisa mengikis keraguan yang tergambar jelas di wajah Taemin.

+++

Semenjak saat itu, Minho jadi lebih memusatkan perhatiannya pada Taemin, dan secara tidak langsung Taemin sudah menjadi tanggung jawabnya. Walau terkadang Minho sering dibuat kewalahan sebab Taemin seringkali menolak untuk mengkonsumsi obatnya. Dan di saat Minho mulai sedikit memaksa, disitulah Taemin kembali mulai membenci Minho, hingga membuat Minho kembali memikirkan cara bagaimana agar ia bisa kembali berbaikan dengan Taemin.

“Taemin, makanan apa yang paling kau sukai?” suatu ketika Minho bertanya pada Taemin. Mereka duduk berdampingan di atas tempat tidur Taemin, dimana kedua kaki mereka menjuntai ke bawah dan mata mereka saling menatap satu sama lain. Mereka berdua memang mulai dekat. Minho selalu berusaha agar ia terlihat seperti teman bagi Taemin. Minho bahkan tidak pernah memakai jas dokternya saat berkunjung ke kamar Taemin.

“Molla… Sepertinya aku sudah lupa…” jawab Taemin sekenanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Benarkah? Coba kau ingat-ingat lagi…”

Taemin lalu mengarahkan pandangannya lurus ke depan, sementara pikirannya kini ia layangkan jauh pada memori-memori masa lalunya. Tentu saja ia mengalami kesulitan dalam mengingat, namun Minho tetap menatap sosok namja di sampingnya itu dengan antusias.

“Errr, sepertinya aku menyukai coklat. Ne, coklat batang…” ujar Taemin pada akhirnya. Segaris senyum kini terbentuk di wajahnya.

“Ohh… Coklat… Hanya itu?” Minho kembali bertanya, lalu sesaat kemudia Taemin mengangguk-anggukkan kepalanya dengan yakin.

Minho cukup senang bisa mengetahui informasi tersebut, sebab ia mempunyai sebuah rencana untuk Taemin. Namun ia kembali mengerutkan keningnya, mengingat rencananya itu mungkin akan terasa sulit dengan kenyataan bahwa Taemin hanya menyukai coklat.

‘Bagaimana bisa aku menyelipkan obat ke dalam coklat batangan?’ gumam Minho dalam hati.

+++

“Selamat pagi Taeminnie…” sapa Minho yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Taemin sempat terkejut namun saat ia mengetahui siapa yang datang, ia menyambutnya dengan ramah.

“Minho-ssi…” gumam Taemin pelan.

“Aigo, jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu” Minho menyuruh Taemin bergeser lalu ikut duduk di atas tempat tidur.

“Lalu aku harus memanggilmu seperti apa? Oh, bagaimana kalau aku memanggilmu hyung?”

“Hyung? Hmm, ku rasa tidak masalah. Lagipula aku memang lebih tua beberapa tahun darimu” Minho menanggapi sambil tersenyum. “Oh iya, aku punya kejutan untukmu…”

“Jinjja? Apa itu hyung?” ujar Taemin antusias. Minho lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

“Ini, untukmu” kata Minho sambil menyodorkan sebuah coklat batang pada Taemin. Taemin terlihat membelalakkan matanya, takjub dengan apa yang sedang ia lihat itu.

“Untukku?”

“Ne, ambillah” kali ini Minho menarik tangan Taemin dan meletakkan coklat itu di sana.

“Gamsahamnida hyung, kau sangat baik padaku” ucap Taemin tulus. Minho dapat menangkap dengan jelas ekspresi bahagia dan tatapan mata yang berbinar-binar pada wajah Taemin. Dalam hati Minho merasa senang bisa membuat namja itu menemukan kembali kebahagiannya, walaupun hanya sebagian kecil.

Sesaat kemudian Taemin mencoba untuk membuka bungkusan coklat itu. Ia mengalami sedikit kesulitan saat membukanya sehingga Minho mengambil coklat itu dari tangan Taemin dan membantu untuk membukanya.

“Ini…” Minho kembali menyodorkan coklat itu saat ia berhasil membukanya. Taemin menerimanya, namun tiba-tiba ia memotong coklat itu hingga terbagi menjadi dua.

“Ini untukmu hyung, mari kita makan bersama” Taemin kembali menyodorkan sepotong coklat yang telah ia potong sementara tangannya yang satunya sudah menyuapkan coklat di mulutnya. Minho hanya tersenyum lalu menerimanya.

Minho mulai menggigit sedikit coklat yang ada di tangannya sambil terus memperhatikan Taemin yang terlihat sangat bersemangat menikmati coklat pemberiannya. Taemin terus memakannya tanpa jeda hingga membuatnya mampu menghabiskan coklat yang lumayan panjang itu dalam waktu sekejap.

“Hahahahaha…” Minho langsung tertawa melihat tingkah Taemin yang menurutnya lucu itu. Ia lalu memotong sedikit coklat miliknya yang masih tersisa banyak lalu mengaba-abakan pada Taemin untuk membuka mulutnya. Taemin pun menurut dan Minho langsung memasukkan coklat itu ke dalam mulut Taemin.

“Rasanya manis hyung…” ujar Taemin tersenyum sambil memamerkan sederetan giginya. Lagi-lagi Minho hanya bisa tertawa melihat Taemin, apalagi saat ia melihat dengan jelas gigi Taemin yang sudah dipenuhi dengan coklat.

Tanpa Taemin ketahui, Minho merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebutir obat berbentuk tablet. Ia memotong coklat itu lagi, lalu kembali menyuapkannya pada Taemin dengan sebutir obat yang sudah ia ikutkan di balik coklat itu. Taemin akhirnya mengunyah coklat itu dengan senang hati, dan tanpa ia ketahui ia juga telah mengunyah obat yang diikutkan Minho secara bersamaan. Minho kembali mengulangi perbuatannya itu, dengan menyembunyikan sebutir demi sebutir obat di balik coklat itu hingga tak terasa Taemin sudah menghabiskan coklat dan tujuh butir obat.

“Bagaimana rasanya Taemin?” tanya Minho sambil menatap wajah Taemin penasaran. Taemin masih terlihat mengunyah sisa-sisa coklat yang ada di mulutnya sambil memutar bola matanya, lalu beberapa saat kemudian ia akhirnya menjawab.

“Manis hyung, sangat manis…” ujar Taemin mantap. Rasa haru seketika menyelimuti perasaan Minho, apalagi saat ia memikirkan bagaimana bisa rasa obat-obatan yang sangat pahit itu dapat dengan mudahnya dikatakan sangat manis oleh Taemin. Tapi setidaknya Minho sudah menemukan cara bagaimana mengurangi penderitaan Taemin, sebab sebelumnya Taemin harus menerima suntikan penenang terlebih dahulu sebelum memaksakan obatnya masuk ke tubuhnya dalam keadaan tak sadar.

+++

Hari demi hari berlalu, sementara Minho dan Taemin menjadi semakin akrab satu sama lain. Di rumah sakit, Minho lebih sering menghabiskan waktunya bersama Taemin.

“Taemin-ah, kau mau jalan-jalan keluar? Pasti kau merasa bosan di kamar ini…”

“Jinjja hyung? Aku mau!” seru Taemin bersemangat, dan lagi-lagi Minho hanya bisa tersenyum melihat tanggapan Taemin yang terlihat senang dengan segala sesuatu yang ia berikan. Tanpa pikir panjang lagi Minho langsung menarik tangan Taemin dan mengajaknya berjalan-jalan keluar.

“Di luar sini indah ya hyung…” ujar Taemin tanpa mengalihkan pandangannnya ke lingkungan luar yang entah sudah berapa lama tidak pernah ia temukan lagi. Mereka berjalan-jalan di sepanjang koridor, menyusuri setiap sudut rumah sakit.

“Oh ya?” Minho terlihat berusaha untuk menanggapinya.

“Ne, di luar sini terang, dan menyenangkan”

Dan lagi-lagi, Minho hanya bisa menatap namja itu dengan perasaan haru.

“AAARGGHH MATI KAU!!” tiba-tiba dari arah belakang mereka muncul seorang lelaki paruh baya yang berjalan mendekat sambil mengacungkan sebuah pisau. Mereka berdua menoleh dan langsung dikejutkan dengan kehadiran lelaki itu.

Lelaki itu semakin mendekat ke arah mereka berdua hingga saat mereka berpapasan, lelaki itu terlihat bersiap-siap untuk mengayunkan pisaunya. Dengan sigap Minho menahan tangan lelaki itu agar tidak melukai siapapun, sementara Taemin langsung terduduk di lantai koridor rumah sakit itu.

Beberapa saat kemudian serombongan dokter dan perawat menghampiri mereka dan langsung membantu Minho untuk menahan lelaki itu hingga akhirnya lelaki itu berhasi diamankan.

“Ada apa dengannya?” tanya Minho pada salah satu dokter.

“Dia berhasil keluar dari kamarnya dan mengunjungi dapur rumah sakit hingga akhirnya ia menemukan pisau itu dan berbuat onar. Untung saja belum ada orang yang dibuatnya terluka…” dokter itu mencoba untuk menjelaskan, dan sesaat kemudian dokter itu menyusul pasien yang lepas dari kendali tadi. Minho lalu menghela napas lega dan segera menghampiri Taemin yang masih terduduk di tempatnya.

“Taemin…” Minho berjongkok sambil mencoba mengajak Taemin berdiri. Taemin hanya terus-terusan menunduk sambil memeluk kedua lututnya.

“Taemin…” tegur Minho sekali lagi. Minho mulai menyadari ada yang aneh pada Taemin. Ia melihat bahu namja itu bergetar. Beberapa saat kemudian, Taemin mengangkat wajahnya dan menatap Minho. Kali ini Minho dapat melihat air mata yang mengalir deras di pipi Taemin.

“PERGI KAU!! PERGI!!” tiba-tiba Taemin berteriak histeris.

“Taemin… Tenanglah… Ini aku, Minho…” Minho mencoba untuk menenangkan Taemin, namun namja itu tetap tidak bergeming.

“PERGI KAU!! KAU INGIN MEMBUNUHKU HAH?! PERGI!!”

“Taemin, tidak ada yang ingin membunuhmu…”

“PERGI KAU!! KAU SUDAH MEMBUNUH IBUKU!! LALU SEKARANG KAU JUGA INI MEMBUNUHKU?? YASUDAH, BUNUHLAH AKU!! AKU SUDAH BOSAN HIDUP!! AKU RINDU PADA IBUKU!! KENAPA KAU MEMBUNUHNYA HAH?” Taemin semakin menjadi-jadi sementara Minho terlihat panik dan juga tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Taemin.

‘Membunuh ibunya? Membunuhnya? Apa maksudnya?’ Minho bertanya-tanya dalam hati.

Tak lama kemudian, segerombolan dokter dan perawat kembali muncul dan menghampiri mereka.

“Ada apa lagi dengannya?” tanya salah satu dokter itu pada Minho. Minho hanya menatap dokter itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dokter itu lalu segera membuka kotak peralatannya dan mengeluarkan alat suntik yang selama beberapa hari ini sudah tidak pernah lagi Taemin dapatkan, sementara yang lain mulai memegangi Taemin mulai dari bagian tangan hingga bagian kaki.

“Dokter, kau ingin memberinya suntikan itu lagi?” tanya Minho panik.

“Kalau keadaannya sudah seperti ini, kita memang harus memberinya…”

“Tapi suntikan itu menyiksanya. Ia bahkan mengalami banyak kerusakan saraf saat cairan itu mulai bekerja. Bahkan dampak yang sangat jelas kita lihat, kondisi tubuhnya melemah dan berat badannya semakin menurun. Lebih baik tidak usah!” Minho mencoba untuk mencegahnya.

“Tidak ada pilihan lain dokter Choi…”

Dan sesaat kemudian, dokter itu berhasil menancapkan jarum suntiknya dan memasukkan cairan itu ke dalam tubuh Taemin.

“AAARRRRGGGHHH!!” Taemin hanya bisa mengerang keras, sementara Minho memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat penderitaan Taemin. Tak lama kemudian, suara Taemin melemah hingga akhirnya namja itu tidak sadarkan diri. Ia lalu digotong menuju kamarnya.

+++

Keesokan harinya saat Taemin kembali sadar, ia tetap tidak menunjukkan perubahan. Ia yang awalnya hanya kehilangan kendali saat bertemu dengan dokter kini semakin bertambah parah. Ia terus-terusan berteriak histeris sambil memaki-maki siapapun yang mencoba untuk menenangkannya. Bahkan beberapa dokter yang ada di ruangan itu tidak ada satupun yang berhasil menanganinya, termasuk Minho.

“Taemin, ini aku, Minho hyung. Kau ingat padaku kan?” kata Minho sambil menatap Taemin lekat-lekat. Ia memegang kedua bahu Taemin, sementara Taemin terus saja memberontak.

Taemin kini sudah sangat kehilangan kendali. Pasien lain yang kemarin menghampirinya membuatnya kembali mengenang memori yang selama ini membuat keadaan mentalnya memburuk.

“Minggir sebentar dokter Choi”

“Apa kau ingin memberinya suntikan itu lagi?” tanya Minho curiga pada dokter yang terlihat mengambil ancang-ancang untuk menyuntik Taemin.

“Apa boleh buat, ia semakin tidak terkendali” dan seketika itu juga, ia lagi-lagi menancapkan jarum suntik itu hingga membuat Taemin kembali melemah hingga akhirnya tak sadarkan diri. Minho hanya menyaksikan kejadian tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

+++

Beberapa jam kemudian, Taemin kembali tersadar. Bukannya tenang, ia kembali berteriak-teriak, bahkan kali ini terkesan mengamuk. Ia terus menangis meraung-raung dan mulai mengacak-acak seisi kamar rawatnya.

Begitu pula dengan hari-hari selanjutnya. Semenjak hari itu, Taemin tidak pernah bisa menenangkan dirinya. Bayangan-banyangan tentang ketakutannya selama ini terus terlintas di benaknya.

“Cukup dokter. Jangan memberinya suntikan penenang itu lagi. Itu sama saja dengan menyiksanya…” ujar Minho pada dokter itu.

“Tapi…”

“Please… Harus berapa kali ia menerima suntikan itu? Buktinya ia juga tidak kunjung membaik. Jadi ku mohon, hentikan. Biar aku yang mengurusnya” Minho terlihat meyakinkan dokter-dokter yang ada di situ.

“Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan?”

Minho lalu beranjak keluar dari kamar itu. Dokter-dokter yang ada hanya bisa menatap kepergian Minho dengan bingung sambil menunggu kira-kira apa yang akan dilakukan dokter muda itu. Beberapa saat kemudian, Minho kembali dengan sebuah kotak peralatan.

Minho meletakkan kotak tersebut di atas meja yang ada di samping tempat tidur. Ia membukanya dan langsung mempersiapkan sebuah alat suntik yang sudah ia isi dengan suatu cairan.

“Apa itu dokter Choi?”

Minho tidak menanggapi pertanyaan yang ditujukan padanya. Ia lalu mendekat pada Taemin yang semakin melihatnya dengan tatapan ketakutan.

‘Mianhae Taemin, ku harap dengan begini keadaanmu bisa membaik’ batin Minho sambil mengambil ancang-ancang untuk menyuntik Taemin. Ia memegangi lengan Taemin dan setelah kembali menimbang-nimbang, ia akhirnya menancapkan jarum suntik itu dan memasukkan cairannya ke dalam tubuh Taemin.

“AAAAARRRRGGGHHHH!!” sama seperti biasanya, Taemin hanya bisa mengerang keras saat ia merasakan benda tajam itu menyentuh kulitnya. Minho melepaskan pegangannya pada Taemin dan menunggu reaksi namja itu selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Taemin mulai melemah. Ia tidak lagi berteriak-teriak histeris. Ia juga tidak lagi mencoba untuk mengacak-acak apa saja yang ada di jangkauannya. Tak lama kemudian, ia ambruk di atas tempat tidur itu. Matanya tetap membuka, dan air mata terus saja mengalir dari pelupuk mata namja itu. Salah satu dokter yang ada di situ langsung merebut alat suntik yang ada di tangan Minho dan memeriksanya.

“Ya ampun, kau memberinya obat lumpuh?” tanya dokter itu tidak percaya. Minho menoleh ke arah dokter itu lalu menyunggingkan seulas senyumannya.

“Setidaknya ia tidak akan pernah lagi merasa tersakiti, sebab aku temannya dan tidak akan membuatnya seperti itu…” ujar Minho datar dan langsung membuat semua mata yang ada di situ membelalak kaget.

+++

Akhirnya Minho dibawa ke pusat rehabilisasi. Dokter-dokter yang ada di rumah sakit itu tidak pernah menyangka sebelumnya kalau dokter baru itu ternyata mengidap kelainan mental. Ia memang pernah menjadi dokter ahli jiwa sebelum mendapatkan penyakit itu. Sebelumnya ia sudah pernah dirawat di pusat rehabilisasi yang sama, namun ternyata Minho berhasil melarikan diri dan akhirnya menyamar sebagai dokter baru di sebuah rumah sakit. Penyakit yang Minho derita memang tidak pernah tampak secara terang-terangan. Dilihat dari luar, Minho terlihat sama seperti orang normal pada umumnya dan itulah yang menyebabkan orang-orang yang baru ia temui sama sekali tidak menaruh curiga terhadapnya.

Di situlah Minho sekarang, ia kembali menjalani hari-harinya sebagai pasien, sedangkan Taemin hanya bisa menjalani sisa hidupnya di atas tempat tidurnya sebab semua sel-sel sarafnya telah dilumpuhkan hingga membuatnya hanya mampu berbaring. Obat pelumpuh itu juga telah menjalar sampai ke otaknya hingga membuat otaknya semakin memburuk. Setidaknya, obat pelumpuh itu juga telah membuat Taemin tidak mampu lagi mengingat semua kenangan buruknya.

 

THE END


Oke,, gaje lah.. -_______- mana suami saya (Taemin) di sini nista amat..  hhuhuu.. *lha?/duaghhh!* <<< ditinju ama yang merasa istrinya..

ayo dikomen ya chingu.. ^^ yang g komen g tanggung ya kalo tiba2 jadi orang gila.. hhohohoo.. *diamininsatuwp*

Advertisements

50 thoughts on “Trust Me, I’m Your Friend

  1. Waktu Minho berhasil membujuk Taemin dengan ide coklatnya, peluang kesembuhan Taemin bisa jadi akan terjadi. Yah, tapi tidak disangka Minho yang dikatakan Dokter itu rupanya pelarian dari pusat rehabilitasi. Mungkin maksud Minho baik dengan menyuntikkan cairan lumpuh. Intinya dia tidak ingin melihat Taemin merasa kesakitan lagi.
    Nice story.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s