King of the Darkness

King of the Darkness


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Jinki

SHINee – Choi Minho

Genre              :           Fantasy, Thriller

Rating             :           PG-15

Length            :           Ficlet

Disclaimer      :           Just my crazy idea

NB                  :           FF ini terinspirasi dari foto2 Minho dan Onew yang seperti di pikunya.. Waktu itu nemu di fb,, eh g tau kenapa aku malah ngebayangin mereka jadi seperti yang ada di ff ini.. hhohhohoo..

+++

Tik… Tik… Tik…

Tetes demi tetes air yang berasal dari gerimis di malam hari itu turun membasahi ujung kepala seorang gadis belia yang kini tengah duduk meringkuk di bawah sebuah meja usang yang ada di ujung gang.

Raut wajah penuh waspada sudah ditunjukkan oleh gadis itu. Ia terus bersembunyi, seakan-akan takut pada sesuatu yang sedang mengintainya sedari tadi.

Ia memang bersembunyi, tetapi siapa yang tahu justru hal itu hanya sia-sia, sebab yang sedari tadi mengintainya sudah mengetahui keberadaannya sejak pertama kali gadis itu memutuskan untuk bersembunyi di sana.

“Sampai kapan kita terus mengintainya seperti ini? Hanya membuang-buang waktu saja…” ujar salah satu dari mereka. Ia terus mengintai keberadaan gadis di ujung gang itu dari atap salah satu bangunan yang ada di dekat situ.

“Biarkan dia seperti itu dulu. Akan lebih baik kalau kita membiarkannya terlalu lama ketakutan…” yang satunya lagi menanggapi perkataan rekannya dengan santai. Ia hanya ikut berjongkok di ujung atap sambil memandang ke sekelilingnya dengan cuek.

“Ya! Minho, dari tadi kau terus berkata seperti itu. Aku sudah sangat haus…” celetuknya lagi dengan nada tidak sabaran. Sudah hampir setengah jam mereka hanya duduk mengintai di atas atap itu.

“Kau ini memang selalu seperti itu, padahal beberapa jam yang lalu kau sudah menghabisi satu manusia…”

“Hey, yang tadi itu hanya manusia tua. Darahnya tidak enak, rasanya tawar. Lagipula dagingnya juga keras… Aku tidak puas!”

“Ck, sudah ku duga, mana mungkin seorang Lee Jinki cepat puas dengan apa yang sudah ia dapatkan. Sabarlah sedikit, lagipula gadis kecil itu bagianku…” ujar Minho pada Jinki.

Jinki hanya bisa mendengus kesal saat mendengar pernyataan dari Minho itu. Bola matanya yang sedari tadi memerah kini memunculkan segaris urat yang memanjang sampai di kelopak matanya. Cahaya matanya berkilat-kilat, menatap gadis yang saat ini sedang menangis terisak itu.

“Kalau begitu tunggu apa lagi?! Dengan menunda-nunda seperti itu, kau hanya membuatku ingin menyambar gadis itu!”

“Ckck, santai… Sepertinya kau perlu belajar untuk mengendalikan dirimu…” kata Minho sambil menepuk-nepuk pundak Jinki pelan. Ia lalu berdiri dari posisi duduknya, menengadah ke atas sebentar dan merentangkan tangannya. Sesaat kemudian, sosok Minho yang tadinya serba hitam berubah 180 derajat menjadi putih. Wajahnya yang tadinya penuh dengan guratan kasar kini berubah menjadi mulus. Aura hitam yang menyelimutinya perlahan-lahan hilang, digantikan dengan aura terang yang membuat Jinki semakin menyipitkan matanya.

“Ya! Apa gunanya kau berubah menjadi seperti itu. Hanya manipulasi, kau bahkan membuat mataku silau dengan cahaya yang menyelimutimu itu!” kata Jinki sewot.

“Bagaimana, sudah terlihat mirip dengan malaikat bukan? Coba pikir, dengan wujudku yang seperti ini, aku yakin gadis itu tidak akan takut padaku…”

“Apa gunanya? Toh lama-lama kau juga akan menampakkan wujud aslimu padanya…”

“Yeah, sebenarnya tidak banyak. Hanya saja, aku lebih suka bermain santai…” jawab Minho cuek. Ia lalu mengambil ancang-ancang, dan beberapa saat kemudian ia melompat dari tembok ke tembok hingga mendekati gadis itu.

Sesampainya di tanah, sosok Minho berjalan pelan, dan saat ia sudah tiba di dekat meja itu, ia menunduk ke bawahnya.

“Hey gadis kecil” sapanya lembut. Gadis kecil itu semakin merapatkan punggungnya ke tembok. Ia memeluk kedua lututnya erat sambil menatap sosok yang ada di hadapannya itu dengan ekspresi ketakutan.

“Ssstthh… Tidak usah takut. Aku ini malaikat” ujar Minho lagi sambil memamerkan senyumnya yang lebar.

“Mm… Malaikat?”

“Ne” Minho mengangguk mantap. “Ada yang perlu ku bantu?”

Gadis itu tiba-tiba keluar dari persembunyiannya. Minho lalu berdiri menghadap gadis itu.

“Malaikat yang baik, tadi ada sepasang makhluk seram yang mengikutiku. Aku takut…” kata gadis itu dengan suara bergetar.

“Makhluk seram?”

“Ne. Wujudnya sangat menyeramkan. Matanya merah, kulitnya penuh dengan luka iris, pakaiannya serba hitam, belum lagi taringnya yang tajam dan di ujungnya ada sisa darah…”

“Apa wujudnya seperti ini?” tiba-tiba Jinki muncul dan berdiri tepat di belakang gadis itu.

“KYAAAAAAAA!!” gadis itu sontak kaget dan langsung berlindung di balik tubuh Minho. “Itu dia makhluknya!” teriak gadis itu histeris sambil menunjuk-nunjuk sosok Jinki yang sedang menyeringai tipis.

“Anak manis, tenang saja. Aku tidak akan membiarkannya mengganggumu” Minho berbalik dan langsung memeluk gadis itu. Gadis itu balas memeluknya lebih kencang dan menenggelamkan wajahnya di dada Minho, tidak berani menatap sosok Jinki.

Sebuah senyuman tersungging di bibir Minho. Ia mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu, sementara wujudnya perlahan-lahan berubah menjadi seperti semula, hitam dan kelam.

“Selamat malam gadis kecil” bisik Minho lirih tepat di telinganya, dan saat itu juga ia memunculkan taringnya lalu merobek leher gadis itu dalam satu gerakan.

Craatttt…

Darah segar langsung mencuat keluar dari leher gadis itu. Mata gadis itu membelalak kaget dan beberapa detik kemudian, tubuhnya langsung ambruk ke tanah.

Minho berjalan mendekat dan kembali menempelkan taringnya di leher gadis yang sudah tidak bernyawa itu. Ia menghisap darahnya dengan cepat.

“Berikan padaku juga!” tiba-tiba Jinki mendorong sosok Minho yang sedang berlutut itu. Minho terhuyung ke samping dan dengan cepat Jinki menggantikan posisi Minho untuk mengisap darah gadis itu.

“Dasar serakah…” gumam Minho sambil memperbaiki posisinya.

Jinki tidak peduli. Ia terus menggigiti leher gadis itu. Ia melakukannya dengan berantakan hingga terdapat bekas darah yang menyembul ke mana-mana. Merasa tidak puas, ia lalu mengkoyak-koyak daging leher gadis itu hingga berhamburan di sana sini.

Belum puas juga, ia beralih ke bagian dada gadis itu. Ia mengeluarkan kuku tajamnya dan langsung merobek dada gadis yang sudah berubah jadi mayat tanpa bentuk itu.

“Aku harus mendapatkannya! Aku harus mendapatkannya!” seru Jinki kencang sambil terus menggali bagian dada yeoja itu, seakan sedang mencari sesuatu. Dengan alis terangkat, Minho mendekati Jinki yang terlihat sangat kelaparan itu.

“Ya! Kau ini terlalu mengerikan!” kata Minho saat melihat tingkah Jinki yang semakin menjadi-jadi. Saat ini Jinki tengah merogohkan tangannya dalam-dalam dan mengaduk-aduk isi dada gadis itu. Merasa terhalangi dengan rangka yang melindungi organ-organ dalamnya, Jinki mulai mencabut satu per satu rusuk gadis itu.

Jinki lalu berdiri, kemudian mengambil ancang-ancang dan memasukkan kembali tangannya ke rongga dada gadis itu. Ia menumpukan tangan kirinya pada kepala gadis itu, sementara tangan kanannya menggenggam erat sesuatu yang paling ia cari-cari itu. Ia menariknya kuat sambil terus bertumpu di kepala gadis itu.

“Aarrrgghhhh…” Jinki berteriak kencang sambil terus berusaha menarik organ yang ternyata jantung itu.

Berhasil. Jantung itu kini sudah berada di genggamannya, terpisah dari letaknya semula.

“Hahahahahahaha…” Jinki tertawa puas sambil mengacungkan tinggi-tinggi apa yang baru saja ia dapatkan itu. Ia lalu mendekat ke arah Minho dan memamerkannya.

“Terlalu terobsesi…” hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Minho. Ia menatap rekannya itu prihatin.

“Lalu, ada yang salah? Seharusnya memang beginilah kodrat kita. Kau saja yang terlalu takut untuk berbuat lebih” ujar Jinki dengan nada meremehkan.

Minho memicingkan matanya tajam ke arah Jinki.

‘Terlalu takut katamu huh? Kita lihat saja…’ gumam Minho dalam hati. Kilatan di matanya semakin terlihat jelas. Urat-urat kasar di wajahnya kini semakin timbul. Ia menyeringai lebar, memamerkan sederetan gigi tajamnya yang terlihat berkilauan sementara saat Jinki sudah larut dalam kesibukannya menyantap jantung manusia yang ia percaya sebagai bagian terenak dari tubuh manusia itu.

Minho membalikkan tubuhnya, mulai memanjati dinding tinggi yang ada di hadapannya, lalu berpindah dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Jinki yang masih asyik mengunyah dan menelan itu tidak menyadari kepergian Minho.

Minho berhenti di salah satu atap. Perhatian Minho kini tertuju pada sesosok yeoja yang tengah berjalan sendirian di bawah sana.

‘Sasaran yang tepat’ gumam Minho dalam hati sambil terus mengawasi targetnya itu dari atas atap. Minho lalu berdiri dan kembali mempersiapkan diri untuk merubah wujudnya. Matanya mendadak berubah menjadi jernih, taring serta urat-urat kasar di wajahnya menghilang. Setelah merasa perubahannya sempurna, ia turun ke jalan dan menghampiri sosok yeoja itu dalam wujud manusianya. Minho memang memiliki kelebihan untuk merubah wujudnya ke dalam bentuk apapun yang ia inginkan.

Minho mulai menguntit yeoja itu dari belakang. Yeoja yang merasakan kehadiran Minho itu langsung berbalik dan mendapati Minho tengah tersenyum ke arahnya.

Karena tersihir oleh ketampanan Minho, yeoja itu akhirnya mendekat dan menghampiri Minho. Yeoja itu kini tepat berdiri di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan huh? Yeoja secantik kamu terlalu berbahaya untuk berkeliaran di tempat ini…” Minho mulai merayu yeoja itu.

“Gwaenchana… Bukankah ada kau yang akan menjagaku huh?” yeoja itu membalas dengan nada manja. Ia tersenyum lebar dan menatap Minho penuh arti. Minho yang mengerti maksud dari yeoja itu langsung merapatkannya ke tiang penyangga lampu jalan yang ada di dekat mereka.

Minho menatap yeoja itu sebentar hingga membuat yeoja itu semakin merasa tersihir, lalu setelah itu ia mulai mencium bibir yeoja itu perlahan. Tak perlu waktu yang lama untuk membuat yeoja itu menikmati permainan kecil yang dibuat oleh Minho.

‘Yeoja murahan’ gumam Minho dalam hati. Ia lalu mengalihkan bibirnya ke pipi kanan yeoja itu, menciuminya sebentar lalu turun perlahan-lahan hingga ke lehernya.

Sementara di sisi lain, Jinki yang akhirnya menyadari ketidakberadaan Minho langsung meninggalkan tempatnya dan mencari sosok Minho menggunakan instingnya.

Saat Jinki sudah menemukan keberadaan Minho, ia bergelantung tepat di atas tiang penyangga lampu dimana saat Minho dan yeoja itu berada. Jinki memperhatikan dengan seksama gerak-gerik Minho yang kini berwujud menyerupai manusia itu.

Minho menengadahkan wajahnya sebentar dan menyadari Jinki tengah memperhatikannya dari atas sana. Ia melanjutkan menciumi leher yeoja itu. Satu per satu taring Minho kembali bermunculan dan di saat taringnya sudah sempurna, ia langsung menancapkannya tepat di leher yeoja itu.

“KYAAAAAAAAAAAAA!!” yeoja itu berteriak histeris memecah keheningan malam, namun percuma sebab tidak ada siapapun yang mendengarkannya kecuali Minho dan Jinki yang masih mengamati mereka dari atas.

Minho menancapkan taringnya dalam-dalam lalu menggigit dan menariknya hingga membuat daging lehernya itu tercabik sebagian.

Yeoja itu menatap Minho dengan tatapan tidak percaya sambil memegangi lehernya yang kehilangan secuil daging itu. Darah terus mengalir dari bekas luka gigitan itu, sementara Minho mulai mengunyah daging yang berhasil ia cabut dari tempatnya itu.

“Siapa kau?!” umpat yeoja itu histeris pada Minho. Perlahan-lahan Minho berubah kembali menjadi wujud aslinya hingga membuat yeoja itu semakin membelalakkan matanya.

“Inilah aku…” ujar Minho santai sambil mengelap sisa darah di ujung bibirnya dengan telapak tangannya.

Yeoja itu mengambil ancang-ancang untuk lari, namun dengan sigap Minho menjambak rambut panjang yeoja itu kasar dan memaksanya agar mereka kembali berhadapan.

“Hey, mau lari ke mana?! Bukannya aku yang akan menjagamu?!” bentak Minho tepat di wajah yeoja itu. Yeoja itu hanya bisa menangis ketakutan sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

“Jangan sakiti aku…” kata yeoja itu lirih, namun tidak dipedulikan oleh Minho. Ia lalu mengangkat tubuh yeoja itu dan langsung membantingnya dengan keras ke atas trotoar jalan itu.

Brakkk…

Dalam satu kali banting saja, kepala yeoja itu langsung pecah dan membuatnya mati seketika. Tanpa pikir panjang lagi Minho langsung berjongkok di dekat mayat yeoja itu dan memulai aksinya.

Ia menarik baju minim yeoja itu hingga robek dan terlepas dari tubuhnya. Minho memunculkan kuku-kuku tajamnya dan langsung mengacak-acak tubuh yeoja itu dengan serakah. Ia lalu mendekatkan wajahnya dan mulai menggigiti kulit perut yeoja itu hingga terkelupas. Setelah semua kulit di bagian perut dan dada yeoja itu terlepas, Minho lalu menggigit dagingnya hingga terlepas dan mengunyahnya.

Jinki yang sedari tadi terus memperhatikan Minho langsung mengerutkan keningnya, heran dengan perubahan yang terjadi pada Minho.

Merasa belum cukup, Minho mulai mengkoyak-koyakkan isi perut yeoja itu lalu membuangnya ke jalanan. Saat isi perut yeoja itu sudah kosong, ia kembali memasukkan tangannya ke rongga perut itu dan merogoh bagian dalam dada yeoja itu. Ia mencopot satu per satu organ yang ia temukan, mulai dari hati, paru-paru, dan terakhir jantung.

Ia menarik jantung yeoja itu dengan kuat hingga terlepas dari rongga dadanya. Saat ia berhasil memisahkan jantungnya, ia lalu berdiri dan mengacungkan jantung itu pada Jinki yang masih bertengger di atas penyangga lampu jalan.

“Ya! Jinki! Ambil ini! Ini bagianmu!” seru Minho kencang pada Jinki, lalu setelah itu ia melemparkan jantung itu dan ditangkap dengan sigap oleh Jinki.

Minho kembali berjongkok dan membenamkan wajahnya di bagian tubuh yeoja yang sudah lubang itu. Rongga itu dipenuhi dengan genangan darah, hingga membuat Minho meminum darahnya dengan mudah. Ia meneguk habis darah yang menggenang di sekitar rongga perut itu.

Tidak hanya itu, ia lalu munumpukan kakinya di bagian kepala yeoja itu sementara kedua tangannya bersiap-siap menarik rangka yang melindungi bagian dada yeoja itu.

“1… 2… 3…” dan dalam hitungan ke tiga, Minho sudah berhasil melepaskan tulang-tulang rusuk itu sekaligus.

Ia lalu mengumpulkan darah yang berasal dari bagian dada yeoja itu dan menampungnya dengan kedua telapak tangannya.

Saat kedua telapak tangannya sudah penuh, ia langsung meneguk habis darah itu. Ia meneguknya dengan asal hingga membuat darah itu berceceran di sekitar wajah dan lehernya.

Ia kembali mendekati mayat yeoja yang masih tersisa itu. Minho kembali mendekatkan  wajahnya di bagian leher yeoja itu.

Ia mulai menggigit daging leher yeoja itu hingga terlepas, lalu mengunyahnya dan menelannya. Begitu seterusnya hingga daging di leher yeoja itu habis dan tanpa sadar gigitan Minho sudah sampai di dagu yeoja itu. Ia terus saja menggigit dan mengunyah daging itu hingga akhirnya Jinki menyuruhnya untuk berhenti.

“Ya! Minho! Kau bahkan lebih serakah dariku, dagingnya pun kau habiskan!” kata Jinki sambil turun dari tiang.

“Aku hanya ingin membuktikan kalau aku juga bisa berbuat lebih…”

Jinki mendekat ke arah Minho lalu menepuk pundak rekannya itu.

“Hey, kita ini hanya pengisap darah, bukan kanibal” kata Jinki memperingatkan. “Tapi yang tadi sudah cukup untuk membuatku tahu bagaimana kemampuanmu yang sebenarnya” lanjut Jinki yang disambut dengan seringai tipis dari Minho.

“Kalau begitu, aku ingin kau menjulukiku sebagai raja kegelapan” kata Minho sambil membereskan wajah dan sekujur tubuhnya yang dipenuhi dengan darah.

Setelah itu, mereka berdua pun memutuskan untuk segera kembali ke peradaban mereka yang letaknya jauh di dasar lapisan tanah sebab dalam hitungan beberapa menit, hari sudah menjelang pagi.

 

THE END


FF RUSAK,, NGACO!! Kekeke.. *ketawa gaje* Buat istrinya si onyu dan si mino,, PEACE!! ^^V jangan marah ya suami kalian jadi seperti ini,, cuma tuntutan peran aja kok~ hhuhuuhuu.. *sembunyi di ketek taemin*

Advertisements

46 thoughts on “King of the Darkness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s