Necrophilia – Part 2 (End) Skip Version

Necrophilia – Part 2 (End) Skip Version


Author            :           Park Kyungjin and Lia^Keylieon

Cast                :           SHINee Member

Luna

Park Kyungjin

Kim Sera

Storm

Hwang Minri

Genre              :           Thriller, Angst, Romance, Mystery

Rating             :           PG-17

Length            :           Two Shot

Disclaimer      :           All of plot is ours! Don’t be a plagiator!

Warning         :           Lihat rating dan Genre!!

Previous         :           Part 1

+++

“Yoboseo?” jawab seseorang di seberang telepon.

“Ini aku. Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu…”

“Bantuan apa?” kata namja di seberang telepon itu dengan gugup.

“Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu. Itupun kalau kau mau mengikuti perintahku…”

“Katakan dulu apa itu?”

“Kau tentu sudah bisa menebaknya. Aku punya tugas untukmu. Sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri, hanya saja, aku tidak mau targetku itu bertambah curiga padaku. Jadi, aku ingin kau menggantikanku…”

“Maksudmu?”

“Bantu aku menghabisi mereka satu per satu”

“….” orang di seberang telepon itu hanya terdiam mendengar perintah yang ditujukan untuknya.

“Datang secepatnya. Kalau tidak, nasibmu akan sama dengan kekasihmu itu” kata penelepon itu singkat, lalu segera memutuskan sambungan telepon itu.

+++

Luna semakin mendorong kursi rodanya itu mendekat ke arah Storm. Storm yang ada di tangga jadi sedikit was-was. Melihat anak ini, pikiran Storm sudah dipenuhi dengan kecurigaan.

“Kau…” Storm menggantungkan kata-katanya, sementara Luna hanya terus menatapnya.

“Luna?” tiba-tiba Jinki muncul dari arah belakang Luna lalu berjalan mendekati gadis kecil tersebut.

“Sedang apa kau disini?” tanya Jinki lagi pada Luna, namun Luna hanya menggeleng pelan. Jinki lalu menoleh ke arah Storm yang masih mematung di tempatnya.

“Ada apa ini?” tanya Jinki lagi pada Storm.

“Vilamu sangat tidak beres!” jawab Storm pada Jinki, lalu segera berlari menuju lantai atas, menyusul teman-temannya yang lain.

Di kamar, mereka sudah terlihat sangat panik, belum lagi Minri yang masih tidak sadarkan diri.

Storm lalu berbisik lirih pada Minho, “Ada yang tidak beres dari tiga bersaudara ini. Kita harus jaga jarak dengan mereka. Jangan pernah mempercayai siapapun, termasuk namja berwajah polos itu” katanya sambil menunjuk Taemin yang duduk di samping Kyungjin dengan dagunya.

“Secepatnya kita harus meninggalkan vila terkutuk ini” balas Minho pada Storm dengan suara yang pelan sehingga Kyungjin dan Taemin yang duduk agak jauh dari mereka tidak bisa mendengar percakapan mereka.

Tanpa aba-aba lagi, mereka mengemasi barang-barang mereka. Kyungjin dan Taemin yang tidak tahu apa-apa dibuat bingung dengan tingkah mereka yang tiba-tiba.

“Kalian mau apa?” Kyungjin akhirnya membuka mulut.

“Kita harus segera pulang” jawab Storm singkat. Seketika itu pula, Kyungjin ikut mengemasi barang-barangnya.

“Cepat bawa semua barang-barangnya ke mobil!” perintah Minho pada Storm dan Kyungjin.

“Biar aku bantu” Taemin menawarkan bantuan untuk membawa barang-barang itu, lalu mereka semua bergegas menuju tempat dimana mobil terparkir.

+++

“Ckckck, dasar bodoh. Mereka bahkan meninggalkan teman mereka sendirian di sini” gumam seseorang pada dirinya sendiri. Ia lalu berjalan mendekati sosok Minri yang terbaring tidak sadarkan diri. Di tangannya sudah ada sebuah kampak berukuran besar.

“Waktuku hanya sedikit” gumamnya lagi, lalu seketika melayangkan kampaknya itu tepat di leher Minri. Dalam sekali tebasan, kepala Minri sudah menggelinding jatuh ke lantai. Ia lalu memungut kepala itu lalu segera berjalan keluar dari kamar.

+++

Sesampainya mereka di mobil, Jinki sudah ada di dekat sana.

“Ada apa ini? Mau kemana kalian?” tanya Jinki dengan raut wajah bingung pada mereka semua.

“Heh, ke mana saja kau? Apa kau tidak tahu kalau temanku mati di vilamu ini huh?” bentak Storm emosi pada Jinki.

Brakk!

Minho membanting bagasi mobil dengan keras saat semua barang-barang mereka sudah masuk ke dalamnya.

“Kita masih perlu menjemput Minri” kata Kyungjin mengingatkan. Mereka lalu kembali menemui Minri yang tertinggal di lantai dua.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” suara teriakan dari kedua yeoja itu tak bisa tertahankan lagi saat mereka mendapati Minri terbaring di atas tempat tidur tanpa kepala. Darah segar sudah berceceran di tempat tidur dan juga di lantai itu.

“BRENGSEK!” Minho tidak henti-hentinya mengumpat, sedangkan Jinki dan Taemin hanya bisa terdiam di tempat mereka.

“Dimana Luna?” kata Taemin tiba-tiba.

“Tadi aku meninggalkannya di lantai bawah” jawab Jinki padanya.

“Aku mau mencari Luna…” lanjut Taemin lalu berlari turun ke lantai bawah. Jinki juga memilih untuk mengikuti dongsaengnya itu.

Storm dan Kyungjin tidak henti-hentinya menangis meraung-raung, sementara Minho terlihat sedang berpikir. Pandangannya lalu tertuju pada ceceran darah di atas lantai yang berbentuk titik-titik itu.

Ia lalu berjalan keluar kamar sambil mengikuti ceceran darah yang ia duga adalah darah Minri. Ia terus menelusuri tetesan darah itu hingga akhirnya ia sampai ke sebuah ruangan dimana ia menemukan kepala Minri. Ternyata tetesan darah itu berasal dari kepala Minri. Minho terlihat sangat terkejut.

“Annyeong…” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakangnya. Di tangannya sudah ada kampak yang terlihat sudah dipenuhi darah.

“Mau apa kau?” tanya Minho panik pada orang tersebut. Ia semakin berjalan mundur sambil menghindari orang yang terlihat sudah mengambil ancang-ancang dengan kampaknya itu. Ia terus berjalan mundur hingga akhirnya ia tidak bisa lagi sebab tertahan di sudut tembok.

Orang itu semakin mendekat, namun Minho mencoba untuk menyelamatkan diri dengan menendang tubuh orang itu hingga membuat orang itu terhuyung ke belakang. Minho mengambil kesempatan itu untuk kabur, namun orang itu tiba-tiba melempar kampaknya menuju Minho.

Jleb!

Kampak itu mengenai kaki Minho.

“Arrggghhh…” Minho mengerang hebat, sementara orang itu semakin mendekat ke arah Minho. Orang itu lalu mencabut kampak yang masih tertancap di kaki Minho dengan kasar. Darah segar dan berbau amis terus saja keluar dari kaki Minho.

Merasa tidak puas, orang itu kembali melayangkan kampaknya pada kaki Minho hingga membuat kakinya benar-benar terputus.

“AAAAAARGGGGGGGGGGGGHHH!” Minho mengerang lebih keras lagi sambil memegangi kakinya.

“Andai saja kau sedikit tenang, pasti tidak akan sesakit ini” bisik orang itu tepat di telinga Minho, lalu kembali mengarahkan kampaknya ke arah Minho yang sudah tersungkur lemas di lantai.

Orang itu menjelajahkan kampaknya di sekeliling leher Minho.

“ARGGGHHHH! BRENGSEK!” lagi-lagi Minho mengerang menahan sakit sambil mengumpat pada orang itu, tapi orang itu terlihat tidak peduli. Orang itu terus saja melanjutkan aksinya.

“Sudah aku bilang, jangan banyak melawan!” gertak orang itu pada Minho.

“To…long jangan sik…sa a…ku…” kata Minho dengan napas tercekat.

“Baiklah, as you wish” kata orang itu, lalu mengangkat kampaknya tinggi-tinggi dan menghempaskannya ke leher Minho secara bertubi-tubi. Seketika itu pula nyawa Minho melayang.

“Tidak lagi menyiksamu kan?” kata orang itu lagi, lalu menyeringai lebar ke mayat Minho.

+++

“KENAPA JADI SEPERTI INI?!” teriak Kyungjin histeris sambil tidak henti-hentinya menangis. Ia mengguncang-guncangkan mayat Minri tidak karuan, sementara Storm mencoba untuk menenangkannya, meskipun sebenarnya Storm juga tidak kalah terpukul dengan semua kejadian ini.

“Kyungjin, Minho mana?” tiba-tiba Storm menyadari ketidakberadaan Minho diantara mereka.

“Arghhh! SHIT!” hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulut Kyungjin. Ia mulai mengacak-acak rambutnya.

“Kita benar-benar harus pergi dari sini!” Storm lalu menarik Kyungjin keluar dari kamar itu.

“Jangan pergi…” Taemin ikut mengejar mereka, namun Storm terus saja menarik Kyungjin hingga mereka tiba di depan gerbang. Melihat keadaan diluar, Kyungjin kembali berpikir untuk meninggalkan vila itu.

“Jangan pergi sekarang. Hari sudah gelap, bahaya…” Taemin yang sedari tadi mengikuti mereka menyarankan untuk tetap tinggal di vilanya.

“Andwae! Aku tidak ingin mati konyol di tempat seperti ini!” Storm menolak mentah-mentah sambil kembali menarik tangan Kyungjin, namun tiba-tiba Kyungjin menolak untuk ditarik.

“Benar kata Taemin, diluar sana gelap, sama sekali tidak ada pencahayaan. Apalagi ini daerah terpencil. Keadaan diluar mungkin saja lebih berbahaya” kata Kyungjin pada Storm.

Plakkk!

Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi kiri Kyungjin.

“Dimana otakmu?! Apa kau mau ikut mati disini huh?!” bentak Storm keras ke arah Kyungjin. Kyungjin hanya menunduk sambil memegangi pipinya yang terasa sangat perih. Bukan hanya pipinya yang perih, tapi hatinya juga jauh terasa lebih perih. Belum pernah ada yang memperlakukannya seperti itu.

“Kau berlebihan Storm” kata Kyungjin lirih pada Storm. Ia menarik tangannya dari genggaman Storm lalu berbalik kembali dan malah menarik tangan Taemin dan mengajaknya masuk kembali ke vila.

“Kyungjin! Kau bodoh sekali!” teriak Storm pada Kyungjin, namun Kyungjin terlihat tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam vila.

“Aku sungguh tidak tahu siapa dibalik semua ini. Vilamu ini sudah tidak aman. Besok pagi-pagi sekali kita harus pergi dari sini. Bantu aku mencari Minho dulu. Semoga saja ia masih hidup” kata Kyungjin pada Taemin.

“Ne” jawab Taemin sambil mengangguk. “Ngomong-ngomong kemana perginya saudara-saudaraku?” kata Taemin lagi.

“Ya sudah. Lebih baik kau mencari mereka dulu. Aku akan mencari Minho…” kata Kyungjin, lalu mereka berdua akhirnya berpencar.

+++

“Aduh, bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Kyungjin bahkan lebih mempercayai namja yang baru saja dikenalnya itu dibanding diriku yang jelas-jelas lebih bisa dipercaya! Sial!” gerutu Storm frustasi. Yang ada di pikirannya sekarang hanya bagaimana cara agar bisa kabur dari vila itu.

“Mau lari ke mana lagi huh?” tiba-tiba seseorang muncul dan menghampiri Storm.

“Siapa kau?!” bentak Storm pada sosok yang tiba-tiba muncul itu. Ia lalu memutar badannya dan mencoba untuk berlari keluar gerbang. Storm jadi panik dan terus memacu langkahnya secepat mungkin menyusuri jalan setapak remang-remang yang hanya diterangi cahaya bulan malam itu.

Sepanjang pelariannya itu, Storm kembali memikirkan semuanya. Ia sungguh menyesali pilihan teman-temannya itu yang memutuskan untuk liburan di tempat yang ternyata neraka bagi mereka. Padahal dari awal, Storm sudah tidak menyukai perjalanan mereka kali ini.

Brummmm brummmm…

Tiba-tiba cahaya yang cukup menyilaukan menyoroti sosok Storm yang masih terus berusaha berlari. Cahaya itu berasal dari sebuah motor yang dipacu dengan ugal-ugalan ke arahnya.

Tanpa aba-aba sebelumnya, motor itu langsung menabrak tubuh Storm. Sang pengendara motor yang merupakan orang yang sama dengan yang baru saja ditemui Storm itu lalu memutar motornya dengan cepat.

Ia menatap sosok Storm yang sudah terbaring menelungkup di atas jalan raya itu.

Orang itu memarkirkan motornya sebentar, lalu turun dan berjalan mendekati Storm yang sudah menjadi mayat seketika itu. Ia membalikkan tubuh Storm menggunakan kakinya, lalu memutar tubuh Storm sekitar 90 derajat hingga tubuh Storm menguasai lebar jalan.

Orang itu lalu kembali ke motornya, mengambil ancang-ancang dan menancap gas yang tinggi hingga berjalan melintasi tubuh Storm.

Orang itu kembali memutar motornya menghadap tubuh Storm. Ia menghentikan motornya sebentar, lalu memasang gergaji bergerigi tajam di bagian bawah motornya.

Sreeettttt…

Gergaji yang terpasang dibawah motor itu mengiris leher Storm.

“Yeah, sedikit lagi” ia menumpukan satu kakinya di bahu Storm, lalu mencoba menarik kepala Storm dengan sekuat tenaga.

Berhasil. Kepala Storm kini terpisah dari tubuhnya. Orang itu mendekati kepalanya, memungutnya lalu kembali ke motornya.

Ia memacu motornya kembali ke vila meninggalkan mayat Storm.

+++

“Luna?” Taemin berjalan mendekati Luna yang tengah melamun di kamarnya.

Luna menolehkan pandangannya pada oppanya itu, tidak mengeluarkan satu kata-kata pun. Taemin kini berlutut di hadapan Luna dan mulai mengusap rambut dongsaengnya itu perlahan.

“Luna, oppa mau kau kembali ceria seperti dulu…” kata Taemin lirih pada Luna. Luna yang diajak bicara itu hanya terus terdiam di atas kursi rodanya itu.

“Kita memang sudah kehilangan hal yang berharga dari hidup kita, dan aku menyesali itu…” kata Taemin lalu berdiri di tempatnya.

“Luna, jangan diam terus. Oppa jadi sedih kalau Luna seperti ini…” Taemin terus memohon pada Luna agar anak itu ingin membuka mulutnya, tapi lagi-lagi Luna hanya terdiam, tidak menanggapi perkataan oppanya.

“Hhh…” Taemin menghela napas yang terasa berat. Ia lalu mengangkat Luna dari kursi rodanya dan menggendongnya menuju tempat tidur. Ia lalu membaringkan tubuh Luna di atas tempat tidur itu.

“Luna, sudah malam. Kau tidur ya…” ucap Taemin lembut sambil menyelimuti Luna. Ia lalu mengusap-usap rambut Luna hingga akhirnya Luna memejamkan matanya dan membawa dirinya ke alam mimpi.

+++

“KYAAAAAAAAA!!” lagi-lagi Kyungjin hanya bisa berteriak histeris saat apa yang dicari-carinya itu ia temukan dalam keadaan yang tidak diharapkan.

“Minho!” ia berseru kencang, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menemukan sosok Minho yang sudah menjadi mayat.

Dengan galau Kyungjin memutar tubuhnya dan berlari menjauh dari ruangan tempat ia menemukan Minho itu.

+++

“Selamat tidur sayang…” ucap Taemin pelan saat ia yakin Luna sudah tertidur. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan. Ia lalu membekap mulut Luna dengan sapu tangan itu.

Luna terlihat terbangun kembali dan membelalakkan matanya sebentar, namun kemudian sapu tangan yang sudah diberikan obat bius itu membuat Luna tidak sadarkan diri.

“Maafkan oppa. Mungkin kalau kau menyusul eomma, hidupmu tidak lagi menderita seperti ini…” ucap Taemin kembali, lalu meraih gunting yang terletak di atas meja dan menancapkannya dengan cepat ke arah jantung Luna.

“Semoga kau tenang di sana Luna. Sampaikan juga salamku pada eomma…” kata Taemin lagi sambil tertunduk, namun tidak ada sedikit pun rasa penyesalan yang menghinggapi dirinya saat ia sudah berhasil membunuh adik kandungnya itu.

“TAEMIN!” tiba-tiba Jinki muncul dan menyaksikan dengan jelas apa yang Taemin lakukan pada adik mereka itu. Jinki membelalak tak percaya. Taemin yang membunuh Luna tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dengan cepat ia berjalan menghampiri Taemin yang masih terduduk di tepi ranjang Luna lalu menarik kembali gunting yang masih tertancap di dada Luna.

“Aku benar-benar tidak menyangka kau tega melakukan ini semua” kata Jinki pada Taemin. Air matanya mulai menetes perlahan, sementara Taemin terlihat panik sebab Jinki memegangi kerah bajunya dan menyodorkan gunting itu tepat di leher Taemin.

“Hyung, apa kau juga akan membuatku menyusul eomma dan Luna?” tanya Taemin hati-hati.

“Apa yang ada di otakmu ini huh?” kata Jinki sambil menunjuk-nunjuk kepala Taemin dengan gunting itu, lalu kembali mengarahkan gunting itu ke leher Taemin. Tangis Jinki semakin pecah.

“Apa yang kau lakukan?!” tiba-tiba Kyungjin muncul dan mendapati Jinki sedang menodongkan gunting ke leher Taemin. Jinki jadi terlihat panik.

“Ohh… Jadi kamu yang ada di balik semua ini? KAMU YANG SUDAH MEMBUNUH TEMAN-TEMANKU!” kata Kyungjin pada Jinki dengan suara bergetar. Ia lalu berjalan mendekati kakak beradik ini.

“Jauhkan benda itu dari adikmu. Ck, kau bahkan berniat ingin membunuh adik kandungmu sendiri? DASAR GILA!” teriak Kyungjin tepat di hadapan Jinki. Jinki lalu melepaskan Taemin dari cengkramannya.

“Kau tidak tahu apa-apa…” kata Jinki pada Kyungjin sambil menggeleng kuat.

“YANG JELAS AKU TAHU KALAU KAU PEMBUNUHNYA!” teriak Kyungjin emosi, sementara Jinki semakin menggeleng-gelengkan kepalanya.

Bughhh!

Taemin tiba-tiba mengangkat kursi yang ada di kamar itu lalu memukulkannya ke punggung Jinki. Seketika itu pula Jinki ambruk ke lantai. Taemin lalu menginjak bagian tengkuk Jinki hingga membuat Jinki tidak sadarkan diri.

“Jangan biarkan manusia bejat itu sadar kembali!” perintah Kyungjin pada Taemin sambil menunjuk-nunjuk sosok Jinki.

Taemin hanya menatap yeoja itu datar.

“Semuanya sudah beres” tiba-tiba seseorang muncul dan memberikan isyarat pada Taemin. Orang itu hanya berdiri di depan pintu kamar.

“Apa kau yakin kau sudah membereskan semuanya?” tanya Taemin pada orang itu.

“Yakin. Aku bahkan membawa buktinya” kata orang itu lagi sambil mengangkat sebuah kantong plastik besar yang berisi kepala itu.

“Bagus…” kata Taemin sambil tersenyum menyeringai.

“Apa maksud kalian?” Kyungjin bertanya dengan ragu.

“Ck, kau ini terlalu polos Kyungjin-ah. Kau bahkan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah” Taemin akhirnya membuka mulut.

“Apa maksudmu Taemin?” tanya Kyungjin lagi.

“Haruskah aku menjelaskannya secara detail baru bisa membuatmu mengerti huh?” kata Taemin sambil berjalan mendekat ke arah Kyungjin.

“Tapi, kau bahkan selalu berada di dekatku!” kata Kyungjin lagi, masih belum bisa menerima semuanya begitu saja.

“Itulah gunanya aku memiliki seorang teman” kata Taemin sambil menunjuk seseorang yang berdiri di depan itu. “Perkenalkan, dia Kim Jonghyun” lanjutnya lagi.

“Huh?” Kyungjin masih saja belum mengerti.

“Sebenarnya nasibnya sama dengan kalian. Dua hari yang lalu, ia bersama yeojachingu-nya datang ke vila ini. Tujuannya juga sama, untuk liburan. Tapi sayangnya liburannya itu harus aku hancurkan. Aku membunuh yeojachingu-nya, kalau tidak salah ingat namanya Sera. Ya, Kim Sera. Benar kan?” tanya Taemin pada namja yang bernama Jonghyun itu. Jonghyun hanya mengangguk pelan. Taemin kembali melanjutkan perkataannya.

“Sebenarnya aku juga ingin membunuh Jonghyun, hanya saja waktu itu aku masih memiliki belas kasihan hingga membiarkannya lolos, dan sebagai gantinya, ia harus selalu menuruti perintahku”

“Kau gila!” hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulut Kyungjin. Ia benar-benar terkejut dengan kenyataan  yang baru saja ia ketahui.

“Oh iya. Aku hanya berhasil membunuh Key. Sedangkan teman-temanmu yang lain, dia yang menghabisinya. Jadi, dia yang lebih gila. Hahaha” kata Taemin lagi sambil menunjuk Jonghyun.

Taemin berjalan mendekati Kyungjin, lalu menarik tangan Kyungjin dan memaksanya untuk mengikuti langkahnya keluar kamar.

“Sebenarnya aku menyukaimu, hanya saja, aku sudah terlanjur gila” kata Taemin sambil terus menggiring Kyungjin ke lantai dua.

Sesampainya di lantai dua, Taemin merapatkan tubuh Kyungjin ke pembatas tangga.

“Taemin, ku mohon, jangan bunuh aku” rintih Kyungjin pada Taemin. Air mata kembali menetes dari pelupuk matanya yang terlihat kelelahan itu.

“Tenang saja. Aku jamin ini hanya sebentar. Kau harus menyusul teman-temanmu ke neraka” kata Taemin lagi. Ia mengecup kening yeoja itu lembut, namun sesaat kemudian ia semakin menjorokkan tubuh Kyungjin ke pembatas tangga itu.

“Jangan Taemin…” Kyungjin menggeleng-gelengkan kepalanya.

“See you…” kata Taemin kemudian, lalu mendorong tubuh Kyungjin seketika hingga melewati pembatas tangga itu.

Brakkkkkkk!!

Kyungjin akhirnya mendarat dengan mulus di lantai satu hingga membuatnya harus meregang nyawa secara terpaksa.

Taemin lalu turun kembali ke lantai satu dan berjalan menghampiri Jonghyun yang ikut menyaksikan kejadian mengenaskan itu.

“Kerja yang bagus” kata Taemin sambil menempuk-nepuk pundak Jonghyun. Jonghyun lalu menyerahkan kantong plastik berisi kepala manusia itu pada Taemin, dan Taemin menerimanya dengan senang hati.

“Apa aku boleh pulang sekarang?” tanya Jonghyun dengan suara bergetar. Ia sebenarnya masih trauma dengan Taemin. Memori saat ia menyaksikan Sera dibunuh dengan sadis di depan matanya sendiri terbayang kembali.

“Eh? Kenapa buru-buru?” tanya Taemin padanya. Taemin lalu meletakkan bungkusan itu ke lantai, lalu dalam sekali gerakan ia memegang kepala Jonghyun dan menumbukkannya dengan keras ke tembok.

Bugghhh!

Seketika itu pula nasib Jonghyun tidak jauh berbeda dengan nasib Kyungjin.

“Aku harus membunuh kalian semua”

+++

Setelah semua targetnya tercapai, Taemin kembali mengunjungi ruangan rahasia yang ada di vila itu.

Ia membuka pintunya perlahan, lalu menutupnya kembali. Ia lalu berjalan mendekat ke arah lemari, membukanya, lalu mengeluarkan sosok tubuh yang sudah kaku itu dari dalam sana.

Ia lalu membaringkan tubuh kaku itu ke lantai.

“Eomma, apa kabar?” tanya Taemin pada mayat itu.

“Eomma, aku sudah mengirim Luna dan Jinki hyung untuk menyusulmu. Semoga kalian bisa bertemu di sana…” kata Taemin lagi. Ia lalu menelusuri kulit eomma-nya perlahan.

Awalnya hanya perlahan, hingga lama kelamaan Taemin semakin tidak terkendali dan mulai menarik baju yang membungkus tubuh eomma-nya itu.

Krekkkk…

Dengan sekali tarikan, baju itupun langsung terlepas dari tubuh si mayat. Errr… lebih tepatnya sih langsung terobek. Senyuman kembali menghiasi wajahnya.

“ Hhhh… Eomma… Saranghaeyo…”

Tak hanya baju eomma-nya. Ia pun juga ikut melepas bajunya. Tak lama, hanya butuh waktu tujuh detik.

Saat itu juga, ia kembali memuaskan segala sesuatu yang sedang bergejolak di dalam dirinya itu.

+++

“Hhh… Eomma… Aku puas…” Taemin mencium lembut kening si mayat.

“Oya, aku punya hadiah lagi buat eomma…” Taemin berjalan keluar dan dua detik kemudian ia kembali dengan sebuah kepala manusia di tangannya. Itu adalah kepala Kyungjin, Park Kyungjin.

“Hihihihi… Eomma, sebentar yaa… Ini belum selesai…” Taemin berjalan menghampiri sebuah meja yang terbuat dari kayu. Lalu ia mengambil sebuah jarum, benang, dan boneka tanpa kepala.

“Sabar, eomma… Aku akan melakukannya dengan cepat…”

Dengan cekatan Taemin langsung melakukan kegiatan dengan menggunakan properti jarum, benang, kepala Kyungjin dan boneka tanpa kepala tadi.

1 menit… 15 menit… 30 menit…

“Heheheh… Lihat, eomma… Kita mendapat keluarga baru. Sekarang eomma tak akan kesepian lagi.. Ihihihi”

Taemin mendudukkan boneka itu di atas sebuah kursi yang melingkar rapi mengelilingi sebuah meja makan.

“Sera, Key, Minri, Minho, Storm, lihat! Kalian kedatangan teman baru, namanya Park Kyungjin. Baik-baik, yaa… Ihihihihi…” Taemin tertawa kecil. “Baiklah.. Aku buatkan teh dulu yaa, karena sekarang kita akan pesta teh!” lanjut Taemin. Senyumnya tak pernah pudar dari wajahnya yang berseri-seri. Ia melangkah keluar dengan langkah yang ringan.

BLAM!

Taemin menutup pintu. Menutup pintu dari sebuah ruangan. Sebuah ruangan yang merupakan tempat tinggal baru untuk keluarga barunya. Ya, keluarga barunya. Enam keluarga baru yang berupa boneka berkepala manusia. Sera, Key, Minri, Minho, Storm, dan Kyungjin. Lalu, bagaimana dengan Lee Jinki, Luna, Kim Jonghyun?

Hmm, sabar… Sebentar lagi Taemin akan memberitahukannya.

Kreeek…

Pintu kembali terbuka. Taemin melongokkan kepalanya dari balik pintu.

“Ssssst… Sekarang kalian mempunyai mainan baru…” Taemin melemparkan tiga buah kepala manusia lagi, “Rupanya kita harus membuat sebuah gawang atau ring basket. Ihihihi… Sudah, yaa…”

BLAM !

Pintu kembali tertutup.

+++

Begitulah keadaan Taemin. Semenjak kematian ibunya, dia menjadi tidak terkendali. Semasa hidupnya, eomma Taemin selalu memanjakannya, hingga akhirnya membuat Taemin tidak rela kehilangan eomma-nya.

Ternyata perasaan yang ditujukan Taemin kepada eomma-nya bukan perasaan sayang kepada eomma dan anak. Dan bukan hanya itu, karena ketidakterimaannya itulah, ia malah menjadi liar hingga tidak peduli berapa nyawa yang telah ia habisi untuk melampiaskan dendamnya.

 

THE END


Kyaaaaaa~ *jedotin kepala ke tembok* ff apa ini?!

Oke.. mian ya kalau hasilnya tidak seperti yang diharapkan.. *bow*

DIHARAP UNTUK MENINGGALKAN KOMENTAR.. JADILAH READER YANG BAIK..

Gomawo.. ^^

Advertisements

56 thoughts on “Necrophilia – Part 2 (End) Skip Version

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s