Necrophilia – Part 1

Necrophilia – Part 1


Author            :           Park Kyungjin and Lia^Keylieon

Cast                :           SHINee Member

Luna

Park Kyungjin

Kim Sera

Storm

Hwang Minri

Genre              :           Thriller, Mystery, Angst, Romance

Rating             :           PG 17 – NC 17

Length            :           Two Shot

Disclaimer      :           Basic idea by Lia and written by Dyu

Warning         :           Lihat rating dan Genre!!

+++

“Hyung, vila ini terasa sepi ya?” Taemin berceloteh datar pada kakaknya Jinki yang sedang duduk di kursi ruang tengah. Taemin yang tadinya hanya berdiri di dekat pintu kini berjalan mendekat dan ikut duduk di samping Jinki.

“Ne. Sekarang sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sini selain kita… Hhh…” Jinki menghela napas panjang di tengah-tengah bicaranya. Ia lalu menatap langit mendung yang terlihat melalui jendela besar yang ada di ruang tengah itu dengan nanar.

“Eomma sudah tenang di alam sana…” kata Taemin pada hyung satu-satunya itu sambil mengusap punggung Jinki perlahan, berharap luka di hati masing-masing cepat pulih.

Krekkk… Krekkk…

Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari gesekan sesuatu dengan lantai. Refleks Jinki dan Taemin yang tadinya hanya berdua di ruang tengah vila ini menoleh ke sumber suara.

“Luna?” Taemin membuka mulut, sementara Jinki hanya diam sambil menatap yeoja yang bernama Luna itu.

Taemin lalu bergerak menuju Luna dan membantu Luna untuk mendekat dengan cara mendorong kursi roda Luna. Ya, dia memang cacat. Sebenarnya bukan hanya Jinki dan Taemin yang sekarang menempati vila itu. Mereka masih mempunyai satu yeodongsaeng yang selalu mereka panggil dengan sebutan Luna.

Dahulu Luna adalah sosok gadis kecil yang periang. Namun semenjak kepergian eommanya beberapa hari lalu, ia mendadak berubah menjadi sosok yang tertutup dan pendiam.

Semuanya berawal saat appa mereka pulang ke rumah dalam keadaan mabuk-mabukan. Karena tidak sadarkan diri, appanya yang memang pada saat itu sedang dilanda masalah langsung menghabisi nyawa eomma mereka di depan mata Jinki, Taemin, dan Luna sendiri.

Sebenarnya nyawa mereka semua terancam, tapi untungnya mereka sempat menyelamatkan diri. Namun tidak terlalu beruntung untuk si bungsu Luna sebab kakinya sempat digapai oleh appanya dan langsung dibuat pincang oleh appanya. Dan sekali lagi untungnya mereka semua bisa selamat hingga akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah dan tinggal di vila peninggalan mendiang eommanya itu.

Mereka bertiga lalu menatap lurus ke depan, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hmm, siapa yang tahu isi pikiran mereka?

+++

“Yeah, liburan yang klasik” celetuk yeoja yang akrab dipanggil Storm itu asal saat mereka sudah ada di tengah perjalanan.

“Maksudmu huh?” kali ini Minho yang menanggapi perkataannya, sementara seluruh isi mobil yang lain lebih memilih untuk tidak menghiraukannya.

“Tidak salah kan kalau aku menyebut ini klasik? Maksudku, liburan di vila terpencil? Liburan yang membosankan…” sahut Storm dengan nada datar lalu membuang pandangannya ke arah jalan. Key yang ditugaskan untuk menyetir mobil hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan dari si dingin Storm.

“Chagi, ngomong-ngomong kita mau ke vila yang mana?” kali ini Minri yang duduk di samping Key membuka pembicaraan.

“Astaga, sampai kapan kau ingin memanggilku dengan sebutan chagi-mu itu? Aku bukan namjachingumu…” Key menanggapi perkataan Minri dengan wajah cemberut.

“Iya iya deh. Ya sudah, jawab pertanyaanku!”

“Setauku dalam jarak 3 kilometer lagi aka nada vila yang menurutku bagus. Tapi berdoa saja semoga ada penghuninya, sebab terakhir kali aku melihatnya, vila itu sepertinya kosong. Hehehe…” jawab Key dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“MWO?!” tanpa aba-aba seluruh penumpang yang ada di dalam mobil itu berseru kaget, kecuali Kyungjin. Ia lebih memilih untuk tidak memikirkan semuanya dan hanya asyik mendengar lantunan lagu yang keluar dari I-Pod-nya.

“Tenang tenang… Kalau misalnya vila itu ternyata tidak berpenghuni, kita bisa pulang lagi. Hehehe…” kata Key sambil tersenyum cengengesan dan sontak disambut dengan ekspresi ingin mencekik dari teman-temannya, namun pada akhirnya mereka lebih memilih untuk bersabar atas kebiasan Key yang memang seperti itu.

“Nah, sudah sampai!” seru Key saat mobil yang mereka tumpangi melewati sebuah gerbang yang amat besar dan memasuki kawasan bangunan itu.

Satu per satu semua yang ada di dalam mobil itu turun dan memperhatikan keadaan bangunan tua yang Key sebut dengan vila itu.

“Errrr… Kamu yakin ini vilanya chagi?” ujar Minri pada Key tanpa sadar dengan tambahan embel-embel chagi diantara kata-katanya. Key yang mendengarnya hanya bisa menghela napas panjang.

“Yakin. Ayo kita cek” katanya seraya mengajak teman-temannya yang lain untuk masuk.

Tok tok tok…

Mereka mulai mengetuk pintu kayu yang terasa keras itu.

Tok tok tok…

Sudah berkali-kali mereka mengetuk pintu itu, namun tetap belum ada jawaban dari dalam. Rasa khawatir mulai menghantui pikiran mereka, apalagi hari sudah sore dan dalam hitungan beberapa jam saja hari sudah berganti menjadi malam.

“Key, jangan bilang kalau vila ini memang tidak ada penghuninya?” Minho berkata dengan nada curiga.

Key hanya menanggapinya dengan mengangkat pundaknya, pertanda bahwa ia sendiri juga tidak tahu. Sontak Minho yang dari tadi sudah cemas dengan perjalanan mereka yang arahnya tidak jelas langsung mengambil ancang-ancang ingin menghajar Key dengan sebuah tinjuan.

Tapi belum sempat Minho melayangkan tinjunya yang ia arahkan ke wajah Key, sudah ada seseorang yang melerai mereka.

“Aaaaarggghh stop stop! Jangan berkelahi ah…” gerutu Minri sambil memeluk Key secara tiba-tiba, dan itu membuat Key tidak bisa bernapas dalam beberapa detik karena kaget. Setelah sadar dengan apa yang telah ia perbuat, Minri akhirnya melepaskan pelukannya.

“Mianhae…” kata Minri pada Key dengan ragu, tapi Key lebih memilih untuk tidak menanggapinya.

Tak lama kemudian, seseorang dari dalam bangunan itu muncul dan membukakan pintu untuk mereka.

“Annyeong” sapa penghuni bangunan itu ramah pada mereka.

“Ah, annyeong juga” Kyungjin yang sedari tadi cuek dengan keadaan sekitarnya tiba-tiba menjawab sapaan dari tuan rumah itu, hingga membuat semua teman-temannya menatapnya dengan tatapan curiga. Kyungjin akhirnya memilih untuk sibuk kembali dengan I-Pod-nya.

“Errr… Bangunan ini vila kan?” tanya Key pada namja pemilik bangunan itu.

“Ne, ini memang sebuah vila, tapi kelihatan sudah tidak terurus. Hehe. Kalau boleh tahu, ada apa kalian semua ke tempat ini?” tanya namja itu dengan raut wajah heran.

“Errr… Begini. Sebenarnya kami berniat untuk menginap di vila ini. Kami sedang liburan…”

“Liburan yang membosankan…” belum sempat Key menyelesaikan pembicaraannya, Storm terlihat sudah tidak sabar untuk memotongnya. Key kembali hanya bisa menggeleng lalu melanjutkan pembicaraannya.

“Jadi kami sedang liburan. Kalau bisa, kami ingin menyewa tempat ini selama beberapa hari ke depan”

“Tunggu sebentar ya” kata sang pemilik, lalu kembali masuk ke dalam rumah dan meninggalkan sekawanan itu di luar pintu.

Di dalam rumah, sang pemilik yang tad membukakan pintu yang tidak lain adalah Taemin berlari tergesa-gesa sambil mencari sosok Jinki.

Akhirnya setelah cukup lama mencari, Taemin menemukan sosok Jinki yang sedang berjuang membujuk Luna untuk makan di halaman belakang.

“Hyung, di depan sana ada sekelompok orang yang ingin menyewa vila ini selama beberapa hari…” kata Taemin pada hyungnya. Jinki menghentikan sejenak kagiatannya lalu berpikir.

“Hmm, sepertinya bagus juga…” kata Jinki sambil mengangguk-angguk pelan.

“Bagus?” kata Taemin dengan raut wajah tidak mengerti.

“Ne. Ya sudah, suruh mereka semua masuk saja. Kalau perlu tidak usah disewa. Gratis!” kata Jinki pada Taemin.

“Ya sudah” Taemin kemudian berlalu dari hadapan Jinki dan Luna kemudian kembali ke depan pintu menemui para tamu-tamunya itu.

“Bagaimana?” tanya Key penasaran pada Taemin yang baru saja keluar dari dalam rumah.

“Boleh kok” jawab Taemin sambil memamerkan senyuman yang membuatnya terlihat sangat manis di mata yeoja-yeoja yang ada di situ.

“Jinjja?” Key meyakinkan sekali lagi.

“Ne” Taemin mengangguk kencang “dan tidak perlu disewa, gratis!” lanjut Taemin.

“Hah? Wah, bagus dong! Kita bisa menghemat!” seru Minri girang. Storm yang ada di sampingnya langsung menyikut Minri dengan sikunya.

“Kamu malu-maluin” bisik Storm tepat di telinga Minri dan entah mengapa bisikannya itu langsung membuat Minri sedikit merinding.

“Silahkan masuk” Taemin membuka pintu bangunan itu dengan lebar dan mempersilahkan mereka masuk.

Pemandangan yang ada di dalamnya cukup membuat mereka tertegun. Ternyata isinya tidak seperti yang mereka bayangkan saat melihat bangunan ini dari luar. Perabotan yang ada tertata rapi dan sesuai dengan tempatnya hingga memberikan kesan nyaman pada siapa saja yang tinggal di dalamnya, sangat berbeda dengan penampakannya dari luar yang terlihat seperti tidak terurus.

Mereka terus saja mengikuti Taemin yang memimpin mereka di depan. Mereka lalu menaiki sebuah tangga yang membawa mereka ke lantai dua bangunan tersebut. Hmm, setelah mereka perhatikan, ternyata bangunan ini cukup besar juga untuk ukuran sebuah vila pada umumnya.

Taemin lalu mengarahkan mereka menuju dua buah kamar yang terletak berdampingan.

“Silahkan dipilih. Mianhae, kami cuma bisa menyediakan dua kamar untuk kalian. Sebenarnya kamar di sini banyak, hanya saja tidak layak untuk ditempati” kata Taemin.

“Gwaenchana, aku rasa begini juga sudah cukup” kali ini Kyungjin yang menjawab.

“Syukurlah. Oh iya perkenalkan. Lee Taemin imnida, cukup panggil aku dengan sebutan Taemin saja”

“Ne, Taemin. Park Kyungjin imnida, kau cukup memanggilku Kyungjin. Mulai dari ujung sana Key, Minri, Storm, dan yang terakhir Minho” lagi-lagi Kyungjin yang menanggapinya. Entah mengapa Kyungjin yang selama perjalanan lebih banyak diam, tiba-tiba menjadi banyak bicara.

“Baiklah, senang berkenalan dengan kalian. Silahkan istirahat dulu, kalau ada apa-apa, kalian bisa panggil aku di lantai bawah. Aku permisi dulu ya” kata Taemin pada mereka lalu pamit menuju lantai bawah.

“Kamu kenapa?” tiba-tiba Storm mendekati Kyungjin.

“Kenapa apanya?” tanya Kyungjin heran.

“Kamu kayak orang yang sedang jatuh cinta!” kata Storm lagi lalu masuk ke salah satu kamar terdekat. Kyungjin sedikit terkejut dengan pernyataan Storm barusan, sementara Minho mengikuti langkah Storm dan ikut masuk ke dalam kamar itu.

“Ya! Choi Minho apa yang kau lakukan di sini huh?” bentak Storm panik saat ia menyadari Minho ikut masuk ke kamar yang sama.

“Hhhh, ya sudah” Minho yang terkena omelan Storm akhirnya keluar lagi dari kamar itu. Key hanya bisa cekikikan pelan melihat tingkah Minho. Minho yang menyadarinya Key sedang menertawakannya kembali emosi dan hampir saja menghajar Kibum, tapi lagi-lagi Minri menahannya.

“Minho!” bentak Minri pada Minho.

“Ah sudahlah!” Minho akhirnya memilih untuk masuk ke kamar yang satunya, dan tak lama kemudian Key ikut masuk ke kamar tersebut.

Kyungjin dan Minri juga masuk ke dalam kamar yang tadi dimasuki oleh Storm.

“Untung saja tempat tidurnya double, jadi kita tidak perlu seranjang” ucap Key dengan nada jahil pada Minho.

“Sial!” umpat Minho.

+++

Sementara itu di sisi lain, ternyata ada yang tidak begitu menganggap positif kedatangan tamu-tamu itu. Tanpa ada yang mengetahui, orang tersebut sedang merencanakan sesuatu yang ia anggap sebagai rencana brilian. Entahlah, tidak ada yang mengetahuinya.

“Lihat saja” gumamnya pelan di sebuah ruangan yang ada di vila itu. Ruangan itu sangat terpencil, hingga tidak seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Kalaupun ada yang tahu, ia tidak akan pernah peduli.

+++

“Aku mau mandi dulu ya” ujar Key pada Minho yang sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Perasaan lelah memang menghinggapi namja itu, sementara itu Minho tidak menanggapi ujaran Key.

Key akhirnya memasuki sebuah ruangan yang terletak di sudut lantai dua itu dan mandi di dalamnya.

Diam-diam seseorang membuntuti Key dari arah belakang setelah sebelumnya ia sudah memastikan bahwa semua yang ada di lantai dua itu tidak mengetahui keberadaannya. Di tangannya sudah terdapat sebuah pisau berukuran besar yang biasanya digunanakan untuk memotong daging, dan tak lupa, sehelai sapu tangan yang sebelumnya sudah diberi obat bius.

Ia lalu berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi yang ditempati Key.

Dari arah luar, Key terdengar sedang bersenandung pelan dipadu dengan aliran air yang mengucur deras dari shower. Orang yang membuntuti Key tersebut merasa situasi semakin mendukung akibat suara yang cukup gaduh yang berasal dari kamar mandi itu.

Ia lalu mencoba untuk memutar knop pintunya.

Krekk…

Berhasil. Ternyata Key tidak mengunci kamar mandi tersebut. Hal itu semakin mempermudah aksinya dan untungnya Key yang berada di kamar mandi sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang membuka pintunya.

Krekkkk… Krekkkk…

Orang itu mencoba untuk membuka pintunya semakin lebar hingga suara pintu itu akhirnya menyadarkan Key.

“Siapa itu?!” seru Key panik seraya menarik handuk yang tergantung di dekatnya lalu menutupi bagian bawah tubuhnya yang sama sekali tidak dilindungi oleh sehelai benangpun.

Merasa kehadirannya diketahui, penguntit itu akhirnya menampakkan dirinya di depan Key dan tanpa pikir panjang langsung membekap mulut Key dengan sapu tangan yang ia bawa. Key masih terus berusaha untuk memberontak, namun obat bius yang ada di sapu tangan itu semakin membuat tenaganya habis hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.

Penguntit itu lalu meletakkan sosok Key di atas lantai kamar mandi, kemudian menutup pintu kamar mandi itu agar tidak ada yang melihatnya.

“Tenang saja. Sakitnya tidak akan terasa…” bisik penguntit itu lirih tepat di telinga Key. Ia lalu menjauhkan wajahnya dari Key dan mengangkat pisau dagingnya tinggi-tinggi.

Craaaattttttt…

Sekali gerakan, pisau itu melibas tepat di leher Key hingga merobek leher Key. Darah segar seketika mengalir dengan deras. Belum puas sebab tujuannya belum tercapai, penguntit itu lalu menggorok leher Key dengan kasar. Perlahan-lahan, daging dan urat nadi yang ada di leher itu putus hingga akhirnya kepala Key benar-benar terlepas dari tubuhnya.

Penguntit itu lalu mengangkat kepala Key tinggi-tinggi sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Ini dia yang aku cari” katanya santai.

Ia meletakkan kembali kepala Key tersebut ke lantai, lalu mulai beraksi kembali dengan pisau dagingnya. Ia lalu memotong-motong daging yang terletak di tubuh Key.

“Lumayan… Untuk makan malam” gumamnya pelan sambil sesekali tersenyum kecut.

+++

Tok tok tok…

Seseorang berdiri di depan pintu kamar sambil mengetuk pintunya.

“Kyungjin, buka pintunya…” pinta Minri pada Kyungjin.

“Ck, dasar…” dengan malas akhirnya Kyungjin melangkahkan kakinya menuju pintu lalu segera membuka pintunya.

“Taemin?”

“Ne. Oh iya, makan malamnya sudah siap. Segera turun ke lantai bawah ya. Ruang makannya terletak di ujung koridor” jelas Taemin pada Kyungjin.

“Ah, ne. Tentu saja!”

“Tolong panggil semua teman-temanmu ya, aku menunggumu di bawah. Aku permisi dulu” kata Taemin sambil tersenyum, lalu pamit kembali dan meninggalkan Kyungjin yang masih mematung di depan pintu.

“Kesambet setan baru tahu rasa lho…” celetuk Minri hingga membuat Kyungjin tersadar kembali.

“Dasar! Oh iya, dia menyuruh kita untuk makan malam. Yuk!” ajak Kyungjin pada Minri dan Storm.

“Baguslah. Aku juga sudah lapar” kata Minri lalu bangkit dari pembaringannya dan berjalan menuju kamar sebelah.

Tok tok tok…

“Key, Minho, makan malamnya sudah siap. Kami tunggu di bawah ya…” kata Minri sambil mengetuk pintu kamar.

“Ne! Aku menyusul” sahut Minho dari dalam.

“Ya sudah” Minri akhirnya melangkahkan kakinya menuju lantai bawah lalu menyusul Kyungjin dan Storm yang sudah turun duluan.

“Hmmm, baunya enak sekali” kata Minri saat mereka tiba di meja makan.

“Oh iya, kamu siapa?” tanya Kyungjin pada sosok Jinki yang sudah menunggu kedatangan mereka dari tadi.

“Ah, perkenalkan. Lee Jinki imnida. Kalian bisa memanggilku dengan sebutan Jinki. Aku hyung-nya Taemin…” jawab Jinki sekenanya.

“Oh. Perkenalkan Kyung…” belum sempat ia melanjutkan perkataannya, Taemin tiba-tiba muncul dan memotong pembicaraan.

“Hyung, yang ini namanya Minri, disampingnya Storm. Dan yang terakhir Kyungjin. Dia manis ya hyung. Hhahahaha…” celetuk Taemin dengan santai dan langsung membuat pipi Kyungjin bersemu merah.

“Oh iya, aku ingin cuci tangan dulu” kata Minri pada Jinki.

“Silahkan. Di ujung sana” kata Jinki seraya menunjukkan arahnya. Minri segera menuju ke tempat yang dimaksud.

“KYAAAAAAAAAA!!” tiba-tiba Minri berteriak histeris. Semua yang ada di meja makan langsung menyusul Minri. Mereka lalu mendapati Minri yang sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Kamu kenapa Minri?” tanya Taemin panik pada Minri.

“Itu!” telunjuk Minri mengarah ke depan, namun salah satu tangannya masih menutup wajahnya.

“Aigo… Tidak usah takut. Ini yeodongsaengku, Luna” Jinki akhirnya menjawab kekhawatiran Minri.

Minri lalu membuka matanya dan kembali memperhatikan dengan baik siapa yang telah membuatnya kaget setengah mati itu.

“Astaga. Mianhae… Tadinya aku tidak mengira kalau dia dongsaengmu!” seru Minri. Luna yang mendengar perkataan Minri diam-diam jadi sakit hati.

“Ya sudah. Lebih baik kita makan yuk” ajak Jinki pada mereka. Mereka semua akhirnya kembali ke meja makan, termasuk Luna.

Mereka lalu menempati meja masing-masing. Tak lama kemudian, Minho muncul dan ikut duduk bersama mereka dan memilih kursi yang masih kosong di samping Storm.

“Key mana?” tanya Minri pada Minho.

“Mandi” jawab Minho asal. Ia lalu menyendokkan masakan yang ada di meja tersebut ke atas piring Storm yang masih kosong.

“Astaga! Aku bisa sendiri” kata Storm dingin pada Minho. Minho menghentikan kegiatannya lalu menghela napas panjang.

“Sampai kapan kau terus memperlakukanku seperti ini Storm?” tanya Minho pada Storm, lalu memilih untuk bersandar di kursinya tanpa menyentuh lagi masakan manapun.

“Mari makan!” Kyungjin yang menyadari suasana mulai tidak enak akhirnya memutuskan untuk menyendokkan masakan itu ke dalam piringnya dan melahapnya perlahan.

“Wow! Enak sekali!” seru Kyungjin semangat. Minri dan Storm akhirnya ikut menyendokkan masakan itu lalu melahapnya perlahan.

“Iya! Betul-betul enak!” seru Minri tak kalah heboh, sedangkan Storm hanya mengangguk tanda setuju.

“Ini siapa yang masak?” tanya Kyungjin penasaran.

“Luna. Dia memang pandai memasak” jawab Taemin sekenanya sambil merangkul Luna yang terduduk di kursi roda, sedangkan Luna yang mendengar masakannya dipuji hanya bisa tersenyum tipis tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Minri yang melihat ekspresi Luna kembali bergidik ngeri.

“Tapi rasanya lain…” Storm akhirnya mengomentari masakan itu.

“Lain bagaimana? Tidak kok! Enak…” Kyungjin menanggapi perkataan Storm dengan mulut yang dipenuhi makanan.

Seseorang yang mendengat perkataan itu langsung tersenyum penuh kemenangan.

‘Tentu saja rasanya lain. Yang kalian makan itu daging teman kalian sendiri’ katanya dalam hati.

“Key kemana?” Minri menyadari ketidakhadiran Key.

“Cih, kau seperti tidak mengenalinya saja. Ia memang selalu lama saat mandi” jawab Minho santai.

‘Tidak usah mencarinya. Teman kalian sudah tidak ada’ lagi-lagi orang itu berujar dalam hati sambil tersenyum simpul.

+++

Sampai saat setelah makan malam selesai, Key belum juga muncul. Mereka akhirnya kembali ke kamar masing-masing, namun tidak bagi Minri. Karena penasaran, ia akhirnya menyusul Key ke kamar mandi.

Tok tok tok…

Minri mengetuk pintunya perlahan. Tidak ada jawaban.

Minri akhirnya memutar knop pintunya dan mendapati kamar mandi tersebut dalam keadaan kosong.

“Eh?” hanya itu kata-kata yang dapat keluar dari mulut Minri.

‘Kemana perginya Key?’ batin Minri dalam hati. Seketika itu pula ia merasakan ada yang tidak beres.

+++

Sementara itu di sisi lain, seseorang sedang memasuki sebuah ruangan yang tidak seorangpun mengetahuinya. Ia lalu menutup pintunya rapat-rapat, kemudian berjalan menuju lemari yang ada di ruangan itu.

Ia membuka lemari itu perlahan, lalu seketika itu pula nampak sesosok mayat yang telah diawetkan. Ia lalu membaringkan sosok mayat tersebut ke atas lantai.

“Eomma, aku rindu padamu” katanya lirih sambil mencium wajah yang ia panggil eomma itu. Awalnya ia hanya sekedar menciumnya pelan, namun lama-kelamaan nafsu birahi menghantui perasaannya dan saat itu juga ia mulai menciumi wajah eomma dengan kasar.

Bibirnya mulai menjelajahi tiap lekukan wajah eommanya. Tidak hanya menciumnya, ia juga mulai mengisapnya dengan kasar. Ia lalu beralih ke bibir eommanya, dan mulai bermain dengan bibir yang sudah membeku itu. Namun ia tetap tidak peduli. Ia terus melumat bibirnya dengan serakah.

Tanpa terasa tangannya juga mulai menjelajahi tiap lekuk tubuh wanita itu. Dengan tidak sabar ia lalu melecuti pakaian wanita itu satu per satu hingga tidak dibalut oleh sehelai benangpun.

“Eomma, you look so sexy…” katanya pelan lalu mulai membuka celana sendiri. Ia lalu melampiaskan seluruh keinginan yang bergejolak di dalam dadanya itu.

Ia lalu memuaskan dirinya saat itu juga, dan setelah merasa puas, ia kembali membenahi semuanya.

“Eomma, saranghae…” katanya lagi lalu member kecupan terakhir di kening wanita itu sebelum ia kembali menyimpannya di dalam lemari.

+++

“Storm, ku mohon, perhatikan aku” kata Minho pada Storm yang saat ini sedang duduk-duduk di balkon lantai dua.

“Ku mohon Minho, jangan ganggu aku” jawab Storm cuek.

“Apa aku salah kalau aku menyukaimu?” Minho kembali bertanya.

“Mianhae… Aku betul-betul tidak tahu” lagi-lagi Storm hanya menjawab sekenanya sambil menatap langit hitam, tidak berani menatap Minho langsung.

Tanpa Storm ketahui, Minho mendekat ke arahnya lalu tiba-tiba mencium pipinya lembut.

“Minho?” terdengar nada terkejut dari perkataan Storm.

“Jeongmal saranghae…” ucap Minho lirih.

Brakkkkk!!

Tiba-tiba seseorang menggebrak pintu balkon itu hingga membuat Storm maupun Minho menoleh ke sumber suara.

“Minri? Kau kenapa?!” seru Minri kaget saat melihat keadaan Minri yang sudah tidak beraturan sambil mencucurkan banyak air mata.

“Kau pembunuh!” bentak Minri di depan wajah Minho.

“Apa maksudmu?” tanya Minho kaget.

“Tidak usah mengelak lagi. Pasti kau yang membunuh Key? Arrgggggg!” Minri kehilangan kendali lalu mulai memukul-mukul dada Minho dengan lengannya.

Plakkkk!

Minho menampar pipi Minri pelan hingga membuat Minri berhenti dari kegiatannya.

“Apa maksudmu? Aku betul-betul tidak mengerti? Siapa yang membunuh? Siapa yang dibunuh?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Minho.

“Key…” jawab Minri dengan suara parau. Ia lalu mengajak Minho dan Storm menuju dapur, tempat dimana ia mengetahui semuanya.

“Lihat! Itu potongan tubuh Key! Kyaaaaa…” seru Minri histeris lalu pingsan seketika di tempat itu. Untung Minho masih sempat menahan tubuhnya sebelum tubuhnya itu berhasil mendarat di lantai, sementara Storm hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.

+++

“Kyungjin?” Taemin menyapa Kyungjin yang sedang duduk termenung seorang diri di teras depan.

“Ne Taemin…” Kyungjin langsung tersadar dari lamunannya lalu menanggapi sapaan Taemin dengan gugup.

“Mau jalan-jalan sebentar?” ajak Taemin pada Kyungjin, dan tanpa pikir panjang langsung diiyakan oleh Kyungjin. Mereka akhirnya berjalan-jalan di sekitar vila yang cukup luas itu.

“KYAAAAAAAAAAAAAA!!” tiba-tiba suara teriakan menggema di sekitar vila itu. Suara teriakan itu cukup keras, hingga Taemin dan Kyungjin yang berada di luar ruangan pun bisa mendengarnya. Seketika juga kedua orang ini berlari ke dalam vila dan mencari sumber suara.

Alangkah kagetnya mereka saat mengetahui penyebab teriakan yang ternyata berasal dari Storm itu. Mereka sedang ada di sebuah ruangan yang terletak di bawah tanah.

“Astaga…” gumam Taemin dan Kyungjin hampir bersamaan. Di depan mereka sekarang sudah terlihat pemandangan yang tidak lazim. Kyungjin mencoba untuk mendekat, dan disitulah ia bisa dengan yakin mencap bahwa salah satu dari beberapa kepala yang ada di situ adalah milik teman mereka, Key.

“Katakan kalau aku bermimpi…” kata Kyungjin, masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sebab ia memang belum mengetahui kabar kematian Key. Taemin dan Storm pun tidak kalah terkejut. Hal itu terlihat dari ekspresi mereka.

“Ke mana yang lainnya?” tanya Kyungjin pada Storm.

“Di kamar atas. Minri sedang pingsan” jawab Storm datar. Tanpa pikir panjang, Kyungjin melangkahkan kakinya menuju lantai atas.

“Aku ikut” seru Taemin dan langsung menjajari langkah Kyungjin, meninggalkan Storm yang masih mematung di tempatnya. Sesaat kemudian, ia kembali menutup pintu ruangan yang baru saja ia temukan itu lalu bergegas menyusul temannya di lantai atas.

Krekkkk… Krekkkk…

Terdengar suara decitan saat Storm sudah mencapai tangga. Mau tidak mau Storm akhirnya berbalik dan mendapati Luna sedang mendekat ke arahnya dengan kursi rodanya itu.

Storm memperhatikan sosok Luna yang tertunduk itu. Tak lama kemudian, Luna mengangkat wajahnya sambil menyeringai lebar pada Storm.

“Kau…” Storm menggantungkan kata-katanya sambil menatap sosok Luna yang semakin mendekatkan diri ke arahnya.

TO BE CONTINUE


WAJIB BACA :

Mian ya kalau part ini belum maksimal,, soalnya semuanya akan dikupas(?) habis di part ending.. Tapi sekedar info,, part endingnya bakalan kami PROTEK.. soalnya ratingnya udah NC.. tapi tenang aja,, NCnya g berlebihan kok~

Bagi yang mau baca part endingnya,, komen dulu trus cantumin alamat e-mail kalian setelah komen.. Nanti kalo part endingnya udah publish,, bakalan kami kirimin pwnya ke e-mail chingu masing2.. Kalo ada anak dibawah umur yang mau baca,, boleh kok.. ^^ *plakkk!!* asal bisa kendaliin diri aja..

Kami hanya melayani permintaan pw via e-mail,, soalnya lewat akun lain ribet.. -_________- jadi cantumin alamat e-mailnya aja ya.. ^^ dan kami hanya memberikan pwnya bagi reader yang g pelit komen.. ^^

NB : untuk cast yang belum nampang di part ini,, akan muncul di part selanjutnya..

Gomawo.. ^^

Advertisements

65 thoughts on “Necrophilia – Part 1

  1. Uwa… pelakunya luna kah?
    Tapi pasti masih banyak pelaku lain, dibalik pembunuhannya.. ex : jinki dan taemin (?) aaa, jangan taemin, taemin it imut dan innocent

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s