Your Call – Part 2 (End)

Your Call – Part 2 (End)


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           Yoon Jisun

SHINee – Lee Taemin

Miss A – Bae Sueji (Suzy)

Genre              :           Romance, Angst, Horror

Rating             :           PG-13

Length            :           Two Shot

Disclaimer      :           Just own the story, not the casts

Warning         :           Ini FF horror, jadi SILENT READER DILARANG MASUK!! *nyambung di mana?* intinya FF ini diHARAMkan bagi yang pelit komen!!

NB                  :           FF buat Rara a.k.a Cute Pixie. Mian ya kalo jelek. T-T

Previous         :           Part 1

+++

(Jisun P.O.V)

Besoknya, aku dan Taemin kembali mengunjungi ruangan tersembunyi itu. Hmm, rasanya lumayan juga. Setidaknya tidak ada yang tahu kalau aku sedang berduaan dengan namjachingu sahabatku sendiri. Aku dan Taemin secara tidak langsung sudah menjalin sebuah hubungan, meski tanpa status.

Taemin menarikku masuk ke dalam ruangan itu dan mengajakku untuk duduk di tempat yang sama.

Wushhh…

Tiba-tiba aku merasakan semacam angin aneh yang meniup tengkukku. Seketika itu pula bulu kudukku jadi berdiri. Aku mengusap tengkukku pelan, mencoba menghilangkan perasaan merinding yang tiba-tiba ini.

“Jisun-ah?” tiba-tiba Taemin membuyarkan lamunanku.

“Huh?”

“Kamu kenapa?” tanyanya heran.

“Ah. Anniyo…” kataku mencoba untuk bersikap sewajarnya. Ia juga terlihat sudah tidak mempermasalahkan perubahan ekspresiku ini.

Wushhhh…

Lagi-lagi angin aneh itu semakin membuatku tidak tenang berada di tempat ini. Ada apa ini?

Tiba-tiba aku merasakan ada yang membawa pikiran dan kesadaranku menuju alam lain, ke suatu tempat yang tidak pernah ku ketahui keberadaannya sebelumnya. Tempat macam apa yang ada di penglihatanku ini?

Aku merasa dibawa ke sebuah zaman yang tidak sama dengan zaman di mana aku hidup sekarang. Aku seperti tersesat di tengah hutan yang gelap gulita.

Perlahan-lahan aku mulai berjalan tak tentu arah. Hhh, Ya Tuhan, kemanakah Kau akan membawaku?

Aku terus melangkahkan kakiku dengan asal hingga akhirnya terdengar suara kegaduhan dari arah yang tidak jauh dari tempatku sekarang. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari mendekat ke sumber suara itu.

Ternyata suara kegaduhan itu berasal dari serombongan orang-orang yang berkerumun di depan sebuah gubuk. Aku semakin mendekat ke arah gubuk, mencoba melihat sendiri apa yang sedang terjadi di dalam sana.

Aku melangkah masuk menembus orang-orang yang sedang berkerumun itu dengan mudah. Tentu saja, bagi mereka aku tidak ada.

Saat aku masuk ke dalam sana, aku bisa melihat dengan jelas pemandangan yang sangat mengerikan. Seorang pria paruh baya terlihat sedang mengayunkan golok yang ia pegang ke arah seorang yeoja dan langsung membuat yeoja itu tewas seketika. Dan di sudut lain, ada seorang namja yang lebih dulu tergeletak tak bernyawa.

Bukan. Bukan kematian mereka yang mengenaskan itu yang membuatku takut setengah mati. Tapi, yeoja itu! Ia memang sudah mati, tapi aku dapat melihat arwahnya terlepas dengan paksa dari tubuhnya, lalu melayang-layang ke sana ke mari seperti makhluk yang tidak tenang.

Yeoja itu menyimpan dendam!

Aku menatap mayat dan arwah itu secara bergantian hingga akhirnya aku menemukan sesuatu yang sangat mengganjal di sana. Tangan mayat yeoja itu menggenggam sesuatu. Eh? Itu kan…

Dengan cepat aku meraba leherku dan mencoba memperhatikan barang yang tergantung di situ. Kalung ini kan sama dengan yang digenggam yeoja itu!

Aku kembali memperhatikan ke sekelilingku. Jangan-jangan tempat ini adalah tempat yang sama dengan ruangan yang selalu aku pakai bersama Taemin! Ya, tidak salah lagi!

Buru-buru aku mencoba untuk melepas kalung ini dari leherku. Astaga, ada apa ini?! Kenapa kalungnya tidak bisa dilepas!

“Jangan pernah biarkan aku terpisah dengan kekasihku…”

Tiba-tiba aku mendengar suara bisikan yang entah darimana asalnya, lalu sesaat kemudian aku kembali merasa ditarik-tarik menembus dimensi lain. Aku tidak bisa merasakan apa-apa hingga aku menyadari aku sudah kembali ke zamanku. Aku mendapati Taemin tengah mengguncang-guncang tubuhku.

“Jisun! Jisun!” kata Taemin hingga akhirnya membuatku kembali tersadar.

“Taemin, sepertinya kita melakukan kesalahan…” kataku pada Taemin dengan sangat ketakutan. Bayangan masa lampau yang baru saja ku lihat masih terbayang jelas di benakku.

“Kesalahan apa?” tanyanya heran.

“Tempat ini… Seharusnya kita tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini…”

+++

(Taemin P.O.V)

Aku panik sekali. Jisun terlihat seperti mengosongkan pikirannya dalam waktu yang cukup lama. Ia jadi terlihat seperti mayat hidup. Aku terus berusaha menyadarkannya hingga akhirnya aku bisa kembali bernapas lega saat kesadarannya sudah kembali. Aneh sekali… Ada apa dengan yeoja ini?

“Taemin, sepertinya kita melakukan kesalahan…”

“Kesalahan apa?”

“Tempat ini… Seharusnya kita tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini…”

“Waeyo?” tanyaku bertambah heran.

Ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia malah menarikku dengan paksa untuk keluar dari ruangan ini. Lama-kelamaan, ia semakin mempercepat langkahnya hingga terasa seperti berlari-lari.

“Jisun!” aku berhenti berlari dan menarik tanganku paksa dari genggaman tangan berkeringatnya itu.

“Taemin, ku mohon percaya padaku! Tempat itu berbahaya!”

“Berbahaya bagaimana maksudmu?!”

“Aish… Sudahlah… Nanti akan ku jelaskan! Sekarang lebih baik kita menjauh dari tempat itu” katanya sambil mencoba menarik tanganku kembali, tapi aku malah menepisnya.

“Jisun! Cepat katakan apa yang sedang terjadi!”

+++

(Jisun P.O.V)

“Jisun! Cepat katakan apa yang sedang terjadi!” tiba-tiba Taemin menepis tanganku dan malah memaksaku untuk menjawab pertanyaannya.

“Astaga Taemin! Kau ini keras kepala sekali!” aku mulai emosi dengan perbuatannya yang sangat bodoh ini. Aduh, bagaimana ini? Saat ini juga kami harus menjauh dari tempat itu sebelum ‘penghuninya’ mendapati kami.

“Wae?” katanya masih ngotot.

“RUANGAN ITU ANGKER!” kataku singkat, dan semoga ia langsung mengerti dengan perkataanku itu.

“Angker bagaimana?” tanyanya lagi. Arrgghhh!

“Lebih ba…”

Brukkk…

Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, Taemin tiba-tiba jatuh dalam posisi telungkup, dan sesaat kemudian ia terseret ke belakang seakan-akan ada yang menariknya.

“TAEMIN!” aku sangat panik dengan kejadian ini. Tanpa pikir panjang aku berlari menyusulnya yang sedang terseret itu. Ia terlihat sedang meraih apapun yang bisa ia jadikan sebagai pegangangan.

Aku terus mengejarnya. Sepertinya tubuh Taemin yang terseret itu akan dibawa menuju ke ruangan angker itu! Aku semakin mempercepat lariku sementara jarakku dengan Taemin semakin mendekat hingga akhirnya aku bisa meraih tangannya.

“Tarik tanganku Taemin!” kataku sambil berusaha menariknya. Sebagian tubuhnya kini sudah masuk ke dalam ruangan angker itu.

Taemin mencengkram tanganku sangat erat. Dari raut wajahnya, sepertinya ia kaget luar biasa dengan apa yang barusan menimpanya. Aku terus berusaha menariknya hingga akhirnya ia sudah tidak ditarik lagi. Dengan cepat, Taemin bangkit dari posisi telungkupnya lalu menyambar tanganku dan mengajakku untuk menjauh dari tempat itu. Sekarang aku yakin, Taemin pasti sudah mengerti.

+++

Kami tidak henti-hentinya berlari hingga stamina kami sudah tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan pelarian kami.

“Taemin!”

“Ye?”
“Kita istirahat sebentar ya…” kataku sambil memegangi lututku yang terasa sangat ngilu. Hmm, lagipula kami sudah lumayan jauh berlari.

Taemin menuruti permintaanku lalu mengajakku untuk beristirahat sebentar di pinggir jalan raya. Kami hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya aku membuka pembicaraan.

“Taemin, kau tidak apa-apa?” kataku saat melihat wajahnya yang memucat.

“Semuanya sulit ku percaya Jisun…” jawabnya tanpa melihat ke arahku. Ia hanya memandang lurus ke depan.

“Inilah yang ku maksud, Taemin. Ruangan itu berpenghuni, dan penghuninya bukan penghuni sembarangan…”

“Maksud kamu?” kali ini ia menoleh padaku.

Aku mulai menceritakan semuanya pada Taemin. Tentang ruangan itu, juga tentang kemampuanku yang jarang dimiliki oleh orang banyak. Aku menceritakan padanya secara detail, mulai dari mengapa aku bisa kehilangan kesadaranku, sampai pada kalung yang ada di genggaman mayat yeoja itu.

“Ah, Taemin! Aku jadi ingat sesuatu! Kalung ini!” kataku sambil memperlihatkan kalung itu.

“Ada apa dengan kalung itu?”

“Aku sudah terlanjur memakainya Taemin, dan menurut penglihatanku, kalung ini menghubungkan jiwaku dengan yeoja itu…” kataku sambil tertunduk lemas.

“Kenapa tidak dilepas saja?”

“Andai saja bisa, pasti sudah aku lepaskan kalung sialan ini…” kataku dan tanpa bisa ku kendalikan lagi, air mataku perlahan-lahan menetes.

“Aish… Jangan menangis…” katanya lembut.

“Aku takut Taemin…” tangisku semakin menjadi-jadi.

“Tenang saja, ada aku…” katanya sambil memegang kedua bahuku. Aku menepisnya pelan lalu berdiri dari tempat dudukku.

“Taemin, lebih baik kita pulang saja… Lagipula sebentar lagi hari akan gelap… Annyeong…” kataku lalu berjalan menjauh darinya.

“Aku akan selalu menjagamu… I’m your guardian angel…” tiba-tiba suara Taemin terdengar sangat jelas di telingaku, dan saat itu juga aku dapat merasakan sepasang tangan melingkar di leherku. Ia mendekapku erat dari arah belakang, sangat dekat hingga dapat ku rasakan hembusan napasnya di sekitar leherku. Seketika itu pula aku hanya bisa diam mematung.

“Kalian…” tiba-tiba terdengar suara seorang yeoja yang sepertinya di tujukan untuk kami. Taemin melepaskan pelukannya padaku dan segera melihat siapa yang menegur kami itu.

+++

(Taemin P.O.V)

“Suzy?” aku setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja ku lihat. Suzy, melihatku berpelukan dengan Jisun. Astaga!

“Suzy…” Jisun terlihat berusaha mendekati Suzy, tapi Suzy buru-buru meninggalkan kami dan kembali naik ke atas mobilnya, dan dalam waktu yang singkat mobil itu melaju bersama Suzy.

Aku melirik kea rah Jisun. Matanya terlihat memerah.

Sudah ku duga, tak beberapa lama kemudian, air mata kembali menetes di pipinya.

“Sudahlah Jisun…” aku memegang tangannya, mencoba untuk menenangkannya. Tapi lagi-lagi ia menepis tanganku, kali ini lebih kasar dari sebelumnya.

“Jisun?”

Ia tidak menanggapiku. Ia malah lebih memilih untuk berlari meninggalkanku sendirian di tempat ini.

+++

(Jisun P.O.V)

Sudah ku duga! Cepat atau lambat pasti semuanya akan terbongkar. Lihat saja, sekarang Suzy pasti tengah memaki-makiku, dan pastinya ia menyesal sudah menganggapku sebagai sahabatnya.

“Argggghhhhhh!!” aku hanya bisa berteriak kesal sambil mengacak-acak rambutku. Astaga, kebodohan apa yang telah ku lakukan sampai tega menyakiti hati Suzy. Padahal selama ini Suzy sudah sangat baik padaku.

Keesokan harinya saat aku di sekolah, Suzy sama sekali tidak ingin berbicara denganku. Jangankan bicara, untuk menatapku saja sepertinya ia sudah muak. Astaga, aku benar-benar sudah berdosa. Sahabat macam apa aku ini?!

“Suzy…” entah sudah berapa kali aku mencoba untuk mengajaknya berbicara. Awalnya ia terlihat tidak peduli, tapi ia akhirnya membuka mulutnya.

“Sudahlah… Biarkan aku sendiri dulu…” katanya lalu pergi menjauh dariku.

+++

(Taemin P.O.V)

Aku melihat Suzy keluar dari kelas. Dengan cepat aku berjalan menghampirinya.

“Suzy…” aku memanggil namanya, tapi ia seperti berpura-pura tidak mendengarkanku. Aku menarik tangannya, memaksanya untuk berhenti menghindar dariku.

“Lepaskan tanganku!” ia sedikit menggertakku.

“Ku mohon dengarkan penjelasanku dulu…” aku masih berusaha menahannya agar tidak lari dariku. Tubuhnya yang kecil itu terlihat memberontak.

“Sudahlah! Tidak ada yang perlu dijelaskan!”

“Suzy ku mohon!”

“Aish! Ya sudah! Tapi jangan sekarang! Aku benar-benar tidak ingin melihat wajah kalian berdua saat ini!” katanya lalu menarik tangannya dengan paksa. Akhirnya aku melepaskan tanganku dari tangannya. Ia sudah kembali bersiap-siap untuk menjauh dariku namun aku sempat memberinya sebuah pesan.

“Suzy, temui aku di aula pulang sekolah nanti ya!”

Ia tidak menjawab. Ia tetap saja berjalan menjauh dariku.

“Aku akan terus menunggumu! Jadi ku harap kau mau datang!” aku kembali berteriak padanya sebelum ia benar-benar berlalu dari pandanganku. Hhh, aku ingin menyelesaikan semuanya secara baik-baik. Aku kasihan pada Jisun. Ia pasti merasa sangat tertekan.

+++

Kriiingggggggg…

Akhirnya bel tanda jam pelajaran selesai berbunyi. Aku segera membereskan barang-barangku dan berjalan menuju aula, tempat yang telah ku beritahukan pada Suzy. Aku duduk di salah satu kursi aula itu.

Sudah hampir sejam aku menunggunya, tapi Suzy tidak muncul-muncul juga. Aku mulai gelisah hingga membuatku harus berjalan bolak-balik di sekitar aula ini.

“Jangan tinggalkan aku”

Tiba-tiba aku mendengar suara bisikan yang sangat halus namun terdengar sangat jelas. Aku menengok ke sekelilingku. Eh? Tidak ada orang.

“Kenapa cinta kita tidak pernah mendapatkan restu…”

Suara bisikan itu muncul kembali. Kali ini aku yakin kalau suara itu adalah suara yeoja. Siapa itu?

“Sekarang kau harus ikut denganku!”

Suara bisikan yang terakhir itu sukses membuatku bergidik ngeri. Tanpa pikir panjang lagi aku berniat untuk segera meninggalkan ruangan ini.

Belum sempat aku keluar, aku melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

“ARRRRRRRRGGGGGGGGGGHHHHHH!”

+++

(Jisun P.O.V)

Aku memilih untuk segera pulang ke rumah sehabis jam pelajaran selesai. Tapi ada yang aneh. Aduh, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?

“ARRRRRRRRGGGGGGGGGGHHHHHH!”

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan yang aku tahu tidak berasal dari sekitar sini, dan tak lama kemudian, visiku kembali bekerja.

Pikiran dan jiwaku kini berkelana entah ke mana, hingga akhirnya membawaku menuju suatu kejadian dimana hal yang sangat tidak ku inginkan terjadi!

Ya Tuhan, Taemin dalam bahaya!

Tanpa pikir panjang lagi aku memutar arah dan berlari sekencang mungkin kembali ke sekolah. Aku sudah tidak mempedulikan apapun yang ada di depanku. Aku bahkan sempat menabrak beberapa orang, tapi aku tidak peduli!

Aku terus berlari hingga akhirnya aku tiba di sekolah. Langsung saja aku berlari menuju ruangan yang ku lihat di visiku tadi. Sepertinya aula!

Benar saja. Saat aku tiba di aula, aku melihat Taemin tengah merapat di sudut ruangan, dan dapat ku lihat jelas sesosok yang sangat aku yakini bukan manusia itu sedang melayang-layang di depannya. Hantu.

Hantu itu berpakaian serba putih, tapi di sekujur tubuhnya sudah dipenuhi bercak-bercak darah yang sudah mongering. Belum lagi rambut panjangnya yang terurai hingga menutupi sebagian wajahnya hingga aku tidak bisa melihat dengan pasti wajah hantu ini.

“Taemin!” aku memanggilnya. Taemin sedikit terkejut saat mengetahui keberadaanku. Mulutnya terlihat bergerak-gerak tidak jelas seperti hendak mengisyaratkan sesuatu. Tapi akhirnya aku mengerti bahwa itu pertanda ia menyuruhku untuk pergi dari tempat ini. Hhh, andwae!

Perlahan aku mendekat ke arah mereka. Sesosok makhluk yang melayang-layang itu kini melirik ke arahku.

“Akhirnya kau datang juga…”

“Aku?” tanyaku heran padanya.

“Ya, kamu! Selama ini kau membuatku tidak tenang berada di dunia ini…”

“Kenapa?!”

“Kau telah mengusikku! Tapi tidak apa-apa, sekarang aku bisa bertemu kembali dengan kekasihku…” kata sosok itu sambil melirik ke arah Taemin. Eh?

“Bukan! Dia bukan kekasihmu!” bantahku padanya. Tiba-tiba ia melirik tajam ke arahku. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang terdapat banyak percikan darah kering. Belum lagi bagian lehernya yang terlihat dipaksakan untuk menyatu.

“Apa yang sudah kau katakan? Kau menyakiti hatiku…” katanya dengan nada hampa lalu mendekat ke arahku.

Aku mundur dari posisiku perlahan untuk menghindarinya, namun ia semakin mendekat dengan cepat dan sekarang dapat ku rasakan tangan dinginnya itu menyentuh leherku dengan kasar.

“Aish! Kenapa kau memakai kalungku?!” tanyanya geram. Tiba-tiba ia mencengkram leherku hingga kuku-kukunya yang panjang tak beraturan itu tembus ke leherku.

“Arrrgggghhhhh!!” aku meringis kesakitan.

“Hentikan!” Taemin terlihat berusaha untuk menghentikan aksi hantu itu. Ia mencoba memukul-mukul hantu itu, tapi percuma, Taemin tidak bisa menyentuhnya. Ia hanya terlihat seperti sedang mengipas-ngipas angin saja.

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku terus berusaha untuk melepas kalung itu dari leherku. Kurasa kalung inilah yang jadi masalah besar.

+++

(Taemin P.O.V)

Bagaimana ini?! Jisun benar-benar dalam bahaya sekarang. Apalagi hantu itu terlihat tidak peduli dengan apapun. Hhh, aku bahkan tidak bisa menyentuhnya. Tapi kenapa Jisun bisa menyentuhnya? Apa mungkin karena kalung itu?

Tiba-tiba sebuah ide terbesit di pikiranku. Hantu ini sepertinya menganggapku sebagai mantan kekasihnya yang juga mati itu. Ya, sepertinya ini akan berhasil.

“Chagi, kemarilah…” pancingku pada hantu itu.

Sepertinya berhasil. Ia melepaskan tangannya dari leher Jisun. Tapi ada masalah baru. Hantu itu sekarang mendekat kembali padaku.

“Chagi… Aku sangat merindukanmu…” kata hantu itu sambil terisak. Mendengar suaranya, bulu kudukku dengan sukses berdiri. Aku melirik ke arah Jisun. Ia terlihat sedang berusaha melepaskan kalung itu dari lehernya.

Perlahan tapi pasti, tangan dingin hantu itu kini menggenggam lenganku.

“Kau bisa menyentuhku?” tanyaku pada hantu itu.

“Tentu saja kalau aku mau… Sekarang, ikutlah denganku, dan berjanjilah jangan pernah meninggalkanku lagi…”

“Aku bukan kekasihmu!” aku mencoba melepaskan genggaman tangan pucatnya itu dari tanganku, tapi kenyataannya ia sangat kuat.

“Taemin!” tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku. Aku melirik ke sumber suara.

“Suzy?”

“Lepaskan tangan kotormu itu dari namjaku!” Suzy membentak hantu itu. Karena merasa tersinggung, akhirnya hantu itu melepaskanku dan malah mendekat ke arah Suzy dengan cepat, dalam sekejap, Suzy sudah menelungkup ke lantai dengan satu kaki yang sedikit terangkat. Tak lama setelah itu, Suzy terseret ke belakang dengan sangat cepat. Kali ini aku dapat melihat hantu itu yang sedang menyeret tubuh Suzy.

“Suzy!” Jisun kembali ingin berlari mengejar Suzy yang sudah agak menjauh itu, tapi aku menahannya agar tidak mengejarnya.

“Jangan Jisun! Bahaya! Aku rasa hantu itu sudah tidak ingin bermain-main lagi!” kataku pada Jisun.

“Andwae! Apa kau tega melihat Suzy seperti itu?” katanya padaku sambil berusaha memberontak. Tapi aku tetap saja menahannya agar tidak menyusulnya. Bukannya aku tega. Hanya saja, ini sangat berbahaya.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” tiba-tiba aku mendengar suara teriakan yang sangat nyaring di kejauhan. Astaga, sepertinya itu suara Suzy.

Brukkkkkkk!!

Dan sesaat sesudah teriakan itu menggema, aku mendengar suara bantingan yang amat keras.

“Tidakkk!!” Jisun langsung memelukku dan menumpahkan semua air matanya di bajuku.

“Jangan pernah main-main denganku…”

Tiba-tiba hantu itu kembali muncul di hadapan kami. Jisun semakin mengencangkan pelukannya dan lebih memilih untuk membenamkan wajahnya di pelukanku, sementara aku hanya bisa berharap dalam hati agar semua ini cepat berakhir.

+++

(Jisun P.O.V)

Argghh! Akhirnya kalung sialan ini bisa terlepas dari leherku. Tanpa pikir panjang aku membuangnya dengan asal.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Suzy?! Aku sudah tidak kuasa membayangkan nasib sahabatku itu.

Tiba-tiba hantu itu kembali muncul di hadapan kami. Hhh, aku sudah tidak sanggup. Aku lebih memilih untuk bersembunyi di balik pelukan Taemin.

“Jangan pernah main-main denganku…”

Dapat ku dengar jelas nada marah dari hantu itu. Tak lama kemudian, aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku. Astaga, jangan-jangan…

“Arggghhhhh!!” aku langsung refleks berteriak saat aku terlepas dari pelukan Taemin dan merasakan kerasnya lantai saat aku terseret dengan cepat.

“Taemin! Tolong aku!” rintihku pada Taemin.

+++

(Taemin P.O.V)

Sial! Hantu itu sekarang malah menarik Jisun! Tidak! Ini tidak boleh terjadi!

Sekarang tubuh Jisun sudah terseret sangat jauh. Aduh, ottokhe?! Ayolah…

Mataku tiba-tiba tertuju pada kalung yang tadi dibuang oleh Jisun. Aku memungutnya lalu segera berlari menuju tempat yang di mana kira-kira hantu itu melakukan aksinya. Di ruangan angker itu!

Saat aku tiba di sana, aku melihat Jisun sudah tergeletak lemas, sementara hantu itu masih berdiri sambil memegangi satu kaki Jisun.

“Ku mohon, jangan sakiti dia…” pintaku pada hantu itu, tapi hantu itu terlihat tidak peduli. Perlahan-lahan ia mulai membuat tubuh Jisun melayang.

Bagaimana ini?!

Oh, kalung itu. Ya, semoga saja berhasil.

Tanpa mengambil waktu yang lama lagi, aku memasang kalung itu di leherku. Awalnya aku sempat putus asa sebab tidak ada perubahan yang terjadi setelahnya. Tapi aku kemudian tersadar, beberapa saat kemudian, hal yang sama sekali tidak ku duga terjadi.

Jisun yang tadinya tengah melayang-layang itu tiba-tiba berdiri di dekat pintu. Dan aku? Aku yang tadinya berdiri di tempat di mana Jisun berdiri sekarang malah aku yang melayang-layang di udara. Posisiku dengan Jisun tertukar. Ah, sudahlah.

“JISUN! LARI SEKARANG JUGA!” perintahku pada Jisun. Ia terlihat ragu.

“KU MOHON JISUN! TIDAK USAH PEDULIKAN AKU! LARILAH!”

+++

(Author P.O.V)

“JISUN! LARI SEKARANG JUGA!” Taemin yang posisinya sekarang terbalik dengan posisi Jisun itu kini menyuruh Jisun untuk meninggalkan tempat itu. Jisun hanya menggeleng dengan kuat. Air matanya terus saja menetes tanpa henti.

“KU MOHON JISUN! TIDAK USAH PEDULIKAN AKU! LARILAH!”

“ANDWAE!”

“Aku menyuruhmu untuk pergi dari sini Yoon Jisun! Kalau kau menghargai usahaku, ku mohon dengan sangat, pergilah…” pinta Taemin pada Jisun, sementara hantu itu kembali menurunkan Taemin hingga terbaring di lantai.

Jisun terlihat sangat kebingungan. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sama sekali tidak bisa membiarkan Taemin sendirian. Tapi Taemin terus saja memaksanya hingga akhirnya Jisun memutuskan untuk berlari meninggalkan tempat itu sekuat tenaga.

Ia berlari dengan perasaan yang hancur berantakan. Ia tidak sanggup membayangkan nasib Taemin selanjutnya. Ia hanya terus berlari sambil menutupi telinganya, berharap ia tidak mendengar apapun yang terjadi selanjutnya. Air matanya semakin deras mengalir.

Brukkkk!!

Sekeras apapun usaha Jisun menutup kedua telinganya, suara itu masih saja terdengar jelas dan bahkan menggema di telinganya.

Sementara itu di sisi lain, Taemin sudah terlihat tidak berdaya lagi.

“Tinggal sedikit lagi, kita akan bersama kembali…” kata hantu itu sebelum akhirnya ia benar-benar membenturkan tubuh Taemin dengan keras ke arah tembok, sama seperti yang ia lakukan pada Suzy sebelumnya.

+++

(Jisun P.O.V)

Sudah berbulan-bulan berlalu sejak peristiwa mengerikan itu menimpa diriku dan orang-orang yang ku sayangi. Sampai sekarang, aku bahkan tidak mengetahui dengan pasti bagaimana nasib Taemin dan Suzy. Rungan itu tidak meninggalkan jejak apapun seakan-akan tidak pernah ada kejadian aneh yang terjadi sebelumnya. Tapi yang ingin ku yakini saat ini, Taemin dan Suzy kini telah tenang di alam sana.

Butuh waktu berminggu-minggu untuk mengembalikan diriku dari kelabilan akibat semua kejadian yang menimpaku itu. Aku masih sulit percaya bahwa sekarang aku harus rela kehilangan Taemin dan Suzy. Tapi sekarang, aku sudah mulai menerimanya.

Aku benar-benar manusia yang keterlaluan. Hanya aku yang bisa selamat dari peristiwa gila itu, sedangkan dua orang yang sangat ku sayangi itu harus merelakan hidup mereka. Seharusnya saat itu aku yang mati! Bukan Taemin!

Penyesalan saat ini memang sudah terlanjut menyelimuti diriku. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya. Mulai sekarang, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan hidup yang sudah diberikan padaku.

 

THE END


Weleh weleh.. kok jadinya gini ya?? O.o ternyata ffnya lagi-lagi gagal.. T-T mianhae.. *bow*

Rara,, endingnya jelek~ mian.. T-T *bersimpuhdikakitaemin(?)*

Oiya,, yang udah baca,, WAJIB KOMEN YA!! Ingat,, yang g komen ff ini jadi HARAM untuk kalian.. -________-

Gomawo udah mau baca ff gagal ini.. sekali lagi maaf telah mengecewakan.. T-T

I LOVE YOU ACTIVE READERS.. ^^

Advertisements

63 thoughts on “Your Call – Part 2 (End)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s