Your Call – Part 1

Your Call


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           Yoon Jisun

SHINee – Lee Taemin

Miss A – Bae Sueji (Suzy)

Genre              :           Romance, Angst, Horror

Rating             :           PG-13

Length            :           Two Shot

Disclaimer      :           Just own the story, not the casts

Warning         :           Ini FF horror, jadi SILENT READER DILARANG MASUK!! *nyambung di mana?* intinya FF ini diHARAMkan bagi yang pelit komen!!

NB                  :           FF buat Rara a.k.a Cute Pixie. Mian ya kalo jelek. T-T

+++

(Author P.O.V)

Seoul, 1875

“Kau tidak akan meninggalkanku kan?” terdengar nada khawatir dari si yeoja. Ia hanya bisa menatap nanar sosok namja yang tengah berjalan di sampingnya sembari menyusuri hutan lebat yang gelap gulita itu.

“Tenang saja, ada aku di sini” kata namja itu sembari terus menarik tangan yeoja itu agar melangkah lebih cepat dari sebelumnya.


Perasaan khawatir yeoja itu yang sedari tadi menggelutinya menjadi sedikit berkurang semenjak namja yang amat ia sayangi itu mencoba untuk meyakinkannya, walau ia sendiri tidak tahu apakah nasib mereka akan berakhir mulus.

“Chagi, aku capek sekali” terdengar suara keluhan dari si yeoja. Ia terlihat sudah sangat kepayahan berjalan sebab ia sudah menyusuri hutan ini dalam waktu yang cukup lama. Ia menarik tangannya yang sedari tadi dipegang oleh si namja lalu berjongkok secara tiba-tiba. Namja yang menyadari tingkah yeoja itu menjadi sedikit panik.

“Chagi, tahan sebentar ya. Aku juga capek, tapi mau bagaimana lagi? Kita sudah harus menjauh dari pemukiman secepat yang kita bisa” kata namja itu sembari membujuk si yeoja. Yeoja yang dibujuk itu terlihat tidak peduli. Rasa letih memang sudah sedari tadi menggerogoti tubuhnya.

“Kita istirahat sebentar saja ya…” sekali lagi ia memohon pada si namja dengan tatapan memelas. Akhirnya si namja jadi tidak tega. Ia mengikuti permintaan si yeoja. Ia memang sudah terlalu mencintai yeoja itu sehingga sulit untuk menolak permintaannya.

“Ya sudah…” namja itu menggantungkan kata-katanya sebentar sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan yang dapat ia jangkau. Matanya akhirnya tertuju pada sebuah gubuk yang terletak tidak jauh dari tempat mereka singgah.

“Bagaimana kalau kita istirahat di gubuk itu saja? Lagipula kita juga bisa bersembunyi di sana…” kata namja itu lagi seraya menunjuk gubuk itu.

Si yeoja mencari-cari arah tunjukan namja itu.

“Ya sudah…” dan mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan mendekati gubuk itu.

Si namja membuka pintu gubuk itu perlahan. Terdengar suara rapuh yang berasal dari pintu itu.

“Chagi, tempat ini menyeramkan… Apa betul tidak apa-apa?” kata si yeoja ragu.

“Tidak apa-apa. Kita bisa aman di sini” sekali lagi namja itu menenangkannya.

Mereka akhirnya memilih untuk duduk meringkuk di salah satu sudut gubuk itu. Gubuk itu sangat kecil, hingga hanya ada satu ruangan di dalamnya. Tempat itu juga terlihat sangat kumuh dan hanya terlihat cahaya remang-remang yang berasal dari cahaya rembulan. Benar-benar gubuk yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan.

Setelah duduk meringkuk di atas lantai yang beralaskan tanah itu, mereka mengatur napas sejanak. Rasa lelah yang teramat sangat memang sudah menggerogoti tubuh mereka.

“Chagi, aku takut sekali” kata yeoja itu sambil berbisik.

“Kenapa?” tanya namja itu dengan nada bingung.

“Aku sudah tidak tahan lagi. Orang tuamu memang tidak pernah mau merestui hubungan kita” kata yeoja itu sambil menerawang jauh ke depan.

“Ssssshhh… Jangan bicara seperti itu… Biarpun orang tuaku tidak merestui kita, aku akan tetap ada di sampingmu” ujarnya penuh kelembutan, tapi belum cukup untuk menenangkan hati si yeoja.

“Chagi, mungkin benar kata mereka… Aku ini tidak pantas untukmu… Orang tuamu orang yang terpandang, sedangkan orang tuaku hanya petani yang…”

“Sssttthhh…” belum sempat si yeoja menyelesaikan pembicaraannya, si namja sudah menaruh jari telunjuknya di bibir si yeoja.

“Dengarkan aku. Aku tidak pernah peduli tentang asal usulmu ataupun status sosialmu. Aku juga tidak peduli kalau kita harus seperti sekarang, kabur dari rumah dan memilih untuk pergi dari semua kekangan yang ada. Sungguh, aku tidak pernah peduli, karena yang ku tahu, aku hanya mencintaimu…” kata namja itu lagi dan sukses membuat si yeoja tidak bisa berkata-kata lagi saking terharunya.

Si yeoja hanya bisa memeluk namjanya erat, pertanda terima kasih darinya. Sekarang yeoja itu sudah tidak peduli, walau sekarang orang-orang suruhan orang tua namjanya sedang mencari-cari mereka, ia sudah bisa merasa tenang berada di sampingnya.

Si yeoja meluruskan kakinya, dan si namja mencoba untuk berbaring di pangkuannya. Mereka benar-benar sudah sangat kelelahan. Akhirnya mereka tertidur di gubuk itu dalam kegelapan.

Brakkkkkk!!

Beberapa jam kemudian terdengar suara pintu gubuk yang kumuh itu ditendang dengan paksa. Akhirnya mau tidak mau pasangan kekasih ini harus terbangun dari tidur mereka yang sama sekali tidak nyenyak karena dikagetkan dengan suara tersebut.

Dari luar sana terdapat serombongan orang-orang yang diduga merupakan orang suruhan dari orang tua si namja. Tetapi tanpa diduga sebelumnya, ternyata appa dari namja ini juga ikut bersama rombongan yang lain.

“ANAK DURHAKA! KELUAR KAU DARI SANA!” teriak appanya dengan nada penuh kemarahan.

“Appa…” hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Perasaannya sekarang campur aduk, antara takut dan benci. Si yeoja yang sudah ketakutan dari tadi hanya bisa memegang tangan namjanya, mencoba untuk menenangkan dirinya.

“KENAPA KAU HARUS KABUR DARI RUMAH HANYA UNTUK YEOJA MURAHAN SEPERTI DIA!” teriak appa itu marah sambil melangkah masuk ke dalam gubuk tua itu.

Pasangan ini semakin ketakutan. Mereka semakin mempererat pegangannya masing-masing. Appa namja itu semakin mendekat ke arah mereka sambil mengacungkan golok yang sedari tadi ia bawa.

“Appa, jangan!” namja itu mencoba untuk menyadarkan appanya, tapi ia semakin mendekat dan kini mengarahkan goloknya ke yeoja itu.

“Mati kau sekarang yeoja sialan!” hardiknya penuh emosi sambil melayangkan goloknya ke arah yeoja itu. Yeoja itu kini hanya bisa menutup mata, pasrah dengan segala kemungkinan yang akan menimpa dirinya.

“Awas!” tiba-tiba namja itu mendorong si yeoja dank arena tidak siap, golok yang tadinya ingin diarahkan pada yeoja itu malah digantikan posisinya oleh si namja.

Naas, kesalahan yang sangat fatal telah dibuat oleh appa namja itu. Golok itu malah mengenai anaknya sendiri. Si yeoja sangat shock dengan apa yang telah dilihatnya. Sekarang si namja sudah berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Golok tadi tepat mengenai dada namja itu dan langsung membuat namja itu terkapar di lantai beralaskan tanah itu.

Appa namja itu terlihat sangat terkejut. Di tengah-tengah kesadarannya yang sudah hampir lenyap, si namja masih sempat meraba-raba saku celananya. Ia terlihat sedang mengeluarkan sebuah benda berbentuk untaian dan dengan susah payah ia mengisyaratkan pada yeojanya untuk mengambil barang tersebut. Ternyata barang itu adalah seuntai kalung berlian.

“Chagi, hhh, ambil ini. Hhhh… Jaga baik-baik. Sekarang, hhh… hhhh… Kamu harus berlari sejauh mungkin yang kau bisa. Kau harus selamat… Hhhh… Mianhae, aku tidak bisa… Hhhh… Menepati janjiku untuk selalu menemanimu… Hhhh…” kata namja itu dengan napas yang sudah tidak beraturan.

“Andwae! Jangan tinggalkan aku!” yeoja itu terlihat meronta-ronta. Namun sayang, namja itu sekarang sudah meregang nyawa.

“Dasar yeoja sialan!” kali ini appa namja itu kembali ingin menyerang si yeoja. Meski dalam perasaan galau, yeoja itu akhirnya memutuskan untuk kabur dari tempat itu sambil menyambar kalung berlian yang ada di tangan namja itu.

Yeoja itu mencoba untuk melompat keluar melewati salah satu jendela gubuk yang terbuka. Namun nasibnya ternyata tidak terlalu beruntung. Di luar sana, serombongan orang-orang suruhan itu sudah memblokir seluruh jalan keluar yang mungkin bisa dilewati oleh yeoja itu. Dari belakang, appa namja itu sudah terlihat siap menebas apa yang sudah menjadi incarannya.

Sekarang si yeoja sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia kembali menutup matanya, mencoba pasrah dengan segala sesuatu yang akan menimpanya. Benar saja, hanya dalam satu kali tebasan di leher, yeoja itu tewas seketika.

+++

Seoul, 2010

“Taemin-ah!” terdengar suara seorang yeoja sedang memanggil-manggil seseorang dari kejauhan. Yeoja itu tengah menggandeng seorang yeoja lain yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Namja yang merasa dipanggil namanya itu pun berbalik dan menanggapi panggilan yeoja itu.

“Suzy? Ada apa?” tanya namja itu santai.

“Taemin-ah, aku rindu sekali padamu. Padahal kita setiap hari bertemu. Hehehe…” kata yeoja yang bernama Suzy itu sedikit malu.

“Ah, kau ini terlalu berlebihan” hanya itu kata-kata yang bisa dikeluarkan oleh Taemin.

“Ish…” kata Suzy sambil mengerucutkan bibirnya.

“Jisun? Apa kabar?” tanya Taemin pada yeoja yang sedari tadi digandeng oleh Suzy.

“Ah, baik…” jawab yeoja yang bernama Jisun itu kikuk.

Tiba-tiba perubahan terjadi pada Jisun. Matanya membulat, pikirannya kosong. Jiwanya terasa berada di dunia lain. Ternyata lagi-lagi Jisun mendapatkan sebuah visi.

Jisun memang terlahir dengan sebuah kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Dia mampu meramalkan masa depan, menerawang masa lalu, dan melihat apa yang tidak mampu dilihat oleh manusia biasa.

+++

(Jisun P.O.V)

Pagi ini aku berangkat ke sekolah bersama Suzy, sahabatku sekaligus teman sekelasku. Aku memang selalu berangkat ke sekolah bersamanya, tapi aku jarang pulang ke rumah sama-sama. Suzy lebih sering pulang bersama namjachingunya, Taemin.

Kami menyusuri sepanjang koridor menuju ruang kelas. Tiba-tiba Suzy menyadari keberadaan Taemin dari jauh.

“Taemin-ah!” teriak Suzy. Taemin yang merasa dirinya dipanggil menoleh ke sumber suara.

“Suzy? Ada apa?” tanya Taemin santai.

“Taemin-ah, aku rindu sekali padamu. Padahal kita setiap hari bertemu. Hehehe…” kata Suzy sambil menunduk. Sepertinya ia agak malu mengatakan hal itu. Ckck, padahal Taemin itu namjachingunya.

“Ah, kau ini terlalu berlebihan” Taemin hanya menanggapinya dengan biasa saja.

“Ish…” Suzy yang tadinya mengharapkan respon lebih dari Taemin hanya bisa mengerucutkan bibirnya.

“Jisun? Apa kabar?” tiba-tiba Taemin menoleh ke arahku dan malah menanyakan kabarku.

Deg.

Perasaan aneh apa ini? Kenapa saat Taemin menatapku seperti itu, jantungku jadi berdetak tidak karuan. Aish, Jisun, dia itu namjachingu Suzy, sahabatmu sendiri.

“Ah, baik…” aku mencoba menjawab pertanyaannya dengan santai, tapi yang kedengaran malah nada kikuk.

Tiba-tiba aku merasa ada yang menghantam diriku.

+++

Setelah beberapa lama kehilangan kesadaran, aku akhirnya bisa kembali mengontrol diriku.

“Kamu kenapa Jisun?” tanya Suzy padaku dengan nada khawatir.

“Ah, gwaenchana…” jawabku seraya meyakinkannya. Kami bertiga akhirnya memutuskan untuk kembali berjalan ke kelas. Kelas kami bertiga memang sama.

Dalam perjalanan menuju kelas, aku kembali memikirkan apa yang sudah ku lihat dalam visiku tadi. Entahlah, aku sendiri tidak yakin. Tapi selama ini, visiku tidak pernah salah. Jangan-jangan itu memang benar?

Sejak Taemin menyapaku tadi, visiku mengatakan kalau sebenarnya Taemin menyukaiku. Apa memang benar?

+++

(Taemin P.O.V)

Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri kalau sebenarnya aku memang menyukai Jisun. Oke, aku sadar, aku memang keterlaluan. Padahal aku sendiri sudah mempunyai Suzy. Ini semua memang salahku.

Aku menerima Suzy begitu saja saat ia menyatakan perasaanya padaku berbulan-bulan yang lalu, tanpa dasar cinta sedikitpun. Ckck, kasihan Suzy. Pasti ia akan sangat terpukul saat mengetahui isi hatiku yang sebenarnya.

Tapi aku tidak bisa terlalu lama menyembunyikan perasaanku pada Jisun. Apa aku mengaku saja padanya? Tapi bagaimana dengan Suzy? Aish…

+++

Kriiiiiingggg…

Bel tanda selesainya jam pelajaran berbunyi. Kami semua bersiap-siap untuk pulang namun kemudian Suzy datang menghampiriku.

“Taemin-ah, hari ini aku ada janji dengan eommaku, jadi aku tidak bisa pulang denganmu…” katanya dengan wajah yang bersalah.

“Hey, tidak usah seperti itu. Ya sudah, tidak apa-apa” kataku sambil berusaha tersenyum padanya.

“Mianhae Taemin-ah… Ya sudah, aku pergi dulu ya” katanya lalu berlalu dari hadapanku. Aku melangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah namun pandangun akhirnya tertuju pada seseorang. Jisun.

“Jisun, kau pulang sendiri?” kataku berbasa-basi.

“Ne, seperti biasa” jawabnya cuek.

“Jisun, ada yang ingin ku bicarakan denganmu…”

“Huh?”

“Ne. Ayo…” kataku sambil menarik tangannya menuju tempat yang agak sepi di sudut sekolah.

“Ada apa Taemin?” ia terlihat heran.

Fiuhhh… Apa aku harus mengatakannya sekarang? Aku kembali menimbang-nimbang dengan gugup.

Ah, sudahlah. Lebih baik ku katakan saja.

“Jisun, aku tahu kalau ini memang terdengar bodoh, tapi…”

“Tapi?”

“Saranghae…”

“Huh?” ekspresi terkejut terlihat jelas di wajahnya. Yeah, tentu saja akan jadi seperti ini.

“Mianhae, tapi aku benar-benar menyukaimu…”

“Lalu bagaimana dengan Suzy?”

“Hhh… Ini dia kesalahanku dari awal… Aku benar-benar sudah menyakitinya…” kataku tertunduk, tak berani menatap wajahnya.

“Aku tahu…” katanya dan sontak membuatku sedikit terkejut.

“Bagaimana bisa?” tanyaku heran.

“Sudahlah, itu tidak penting…” katanya lalu tiba-tiba menggandeng tanganku. Ku rasakan wajahku kini bersemu merah.

“Jisun, ku harap ini semua hanya kita yang tahu…” ia menatapku sebentar, namun tidak berkomentar apa-apa.

“Tapi aku janji, kalau tiba saatnya nanti, aku akan memberitahukan pada dunia bahwa aku menyukaimu…” lanjutku. Ku lihat ia hanya tertunduk.

+++

(Jisun P.O.V)

Lagi-lagi visiku bekerja. Aku melihat bahwa sebentar lagi Taemin akan menghampiriku dan menyatakan perasaannya padaku.

Benar saja. Entah dari mana, Taemin tiba-tiba muncul dari arah belakangku dan memintaku untuk berbicara dengannya.

“Saranghae…” kata-kata yang sudah sedari tadi ku tunggu itu akhirnya keluar dari mulutnya.

“Huh?” kataku berpura-pura kaget.

“Mianhae, tapi aku benar-benar menyukaimu…”

Hhh. Sebenarnya aku sendiri juga tidak yakin kalau ini adalah hal yang bagus. Aku memang menyukainya, tapi apa aku tega mengkhianati sahabatku sendiri?

Tapi tiba-tiba aku malah menggandeng tangannya. Apa-apaan ini? Tapi tidak bisa ku pungkiri, aku sangat senang dengan semua ini.

“Jisun, ku harap ini semua hanya kita yang tahu…” katanya dengan nada khawatir. Yeah, sepertinya ini semua memang tidak boleh diketahui oleh orang lain.

“Tapi aku janji, kalau tiba saatnya nanti, aku akan memberitahukan pada dunia bahwa aku menyukaimu…” lanjutnya. Eh?

Aku hanya bisa menunduk mendengar perkataannya. Aku benar-benar tidak yakin dengan semua ini. Aku tahu, ini keputusan yang salah. Tapi apa aku salah kalau aku memang menyukainya?

+++

Esok hari di sekolah, kami menjalani hari-hari seperti biasa, dan Taemin masih tetap sebagai pacar Suzy. Hanya saja, sekarang aku sudah mendapatkan pengakuan Taemin kalau sebenarnya dia menyukaiku, bukan Suzy.

Hhh, aku benar-benar sahabat yang sangat kejam.

Kriiiiinggggg…

Bel tanda jam istirahat akhirnya berbunyi. Seperti biasa Suzy menghampiri bangku Taemin dan mengajaknya ke kantin. Diam-diam aku menguping pembicaraan mereka.

“Taemin-ah, ke kantin ya…” rengeknya manja pada Taemin.

“Errr, mian Suzy. Aku sedang malas ke kantin” tolak Taemin. Eh? Tidak biasanya ia menolak permintaan Suzy.

“Hmm, ya sudah…” Suzy akhirnya berlalu dari bangku Taemin dan kembali ke bangku kami berdua. Aku dan Suzy memang duduk sebangku.

“Jisun, temani aku ke kantin ya…” kali ini ia meminta padaku.

“Errrr, mianhae Suzy-ah… Aku tidak ingin ke kantin…” aku juga menolak ajakan Suzy.

“Haish… Kenapa semua orang tidak ingin ke kantin? Ya sudah, aku pergi sendiri saja… Aku lapar…” katanya sambil memegangi perutnya dan berlalu menuju kantin seorang diri.

Saat Suzy sudah menghilang dari pandanganku, aku melirik ke arah Taemin. Sepertinya ia juga melihat ke arahku. Tak lama kemudian, ia menghampiriku.

“Jisun, ikut aku ya…” katanya sambil menarik tanganku dan membawaku keluar kelas. Dengan cepat aku menarik kembali tanganku. Aku takut, jangan sampai ada yang mencurigai kami.

“Kita mau ke mana Taemin?”

“Ke tempat yang hanya kita berdua yang tahu…” jawabnya santai sambil terus berjalan cepat. Dengan susah payah aku berusaha menjajari langkahnya yang lebar itu.

Akhirnya kami tiba di sebuah ruangan yang letaknya sangat jauh dari ‘peradaban’. Aku sendiri tidak tahu ada tempat seperti ini di sini.

“Taemin, tempat apa ini?” kataku pada Taemin saat kami mulai melangkah masuk ke sebuah ruangan yang terlihat sangat usang.

“Tidak usah banyak tanya. Sudah, kita duduk di sini saja ya…” katanya sambil mengajakku duduk di atas bangku yang terletak di sudut ruangan. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya.

“Taemin, aku bukan sahabat yang baik untuk Suzy…” akhirnya aku memulai pembicaraan.

“Aku juga bukan namjachingu yang baik untuknya… Sudahlah, tidak ada yang bisa disalahkan kalau memang kita saling menyukai…” katanya sambil tersenyum, “Eh? Apa ini?” lanjutnya sambil menunduk sedikit ke bawah bangku. Aku mengikuti arah pandangannya, dan sesaat kemudian Taemin mengambil sesuatu dari bawah bangku itu. Benda itu terlihat berbentuk seperti untaian dan sedikit berkilau.

“Apa itu Taemin?”

“Entahlah, sepertinya ini kalung berlian. Lihat…” katanya sambil membersihkan kalung itu yang sudah tertutupi oleh debu.

“Mana mungkin?”

“Lihat saja” ia mengangkat kalung itu di depan mataku hingga aku bisa melihat sendiri kalau kalung itu benar-benar berlian.

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah…” katanya sambil mengangkat bahunya, lalu tiba-tiba ia memasang kalung itu di leherku. “Neomu yeppeo…”

Aku hanya bisa menunduk malu mendengar pujiannya.

+++

“Jisun, kalungmu bagus sekali” kata Suzy saat melihat kalung yang ditemukan Taemin.

“Jinjja?”

“Ne! Aku juga mau punya yang seperti itu…”

“Hahaha… Mianhae, Suzy, ini warisan eommaku” kataku berbohong.

“Gwaenchana…” katanya sambil tersenyum. Hhh, aku benar-benar merasa bersalah dengannya.

Besoknya, aku dan Taemin kembali mengunjungi ruangan tersembunyi itu. Hmm, rasanya lumayan juga. Setidaknya tidak ada yang tahu kalau aku sedang berduaan dengan namjachingu sahabatku sendiri. Aku dan Taemin secara tidak langsung sudah menjalin sebuah hubungan, meski tanpa status.

+++

(Author P.O.V)

Tiba-tiba Jisun merasakan suatu keanehan di dalam ruangan itu, seakan-akan ada yang merasa terusik karena keberadaan mereka berdua.

Pikiran dan jiwa Jisun tiba-tiba terbawa ke masa lampau, dimana ia bisa melihat dengan jelas sepasang kekasih yang memperjuangkan hubungan mereka, namun akhirnya harus mati mengenaskan sebelum berhasil meraih apa yang mereka inginkan.

“Taemin, sepertinya kita melakukan kesalahan…” kata Jisun pelan pada Taemin sambil masih terus menerawang ke masa lampau.

“Kesalahan apa?”

“Tempat ini… Seharusnya kita tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini…”

 

TO BE CONTINUE


Gaje lagi kah ffku yang satu ini?? T-T soal genre horrornya,, mungkin baru muncul di part berikutnya.. *itupun kalo horrornya g gagal T-T* tadinya sih cuma niat genre horror aja yang lebih,, tp kayaknya aku emang g bisa jauh2 dari angst romance.. T-T

Jisun-ah.. Maafkan aku telah membuatmu seperti ini.. T-T *bersimpuh di kaki taemin(?)*

Ckck,, lagi2 aku menambah hutang ff.. fuffufufuufu.. T-T bagi yang nungguin Reasons to Stay Alive ama Strong Girl for a Weak Boy,, mianhae.. untuk sementara ff itu terpaksa kandas.. makanya,, komen dong~ biar aku ngetiknya semangat.. T-T

For all,, udah baca warning di atas kan?? XD Ingat ya,, yang g komen,, berarti ff ini HARAM untuk kalian.. tau artinya haram kan?? hahaahhaahha.. XD *evil laugh* mianhae.. T-T *bow*

Gomawo udah mau baca n komen.. ^^ kalo ada yang mau kasi kritik ato saran (ato gado2),, silahkan.. ^^

I LOVE YOU ACTIVE READERS.. ^^

Advertisements

33 thoughts on “Your Call – Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s