He is (not) My Bestfriend – Part 1

Annyeong annyeong annyeong *melambai-lambai g jelas*

Saya datang lagi!! *dilempar sandal*

Fanfic kali ini adalah sekuel dari ff tak jelasku yang judulnya “The Sweet Escape”. Masih ingat g?? Bagi reader yang mau baca ff ini, di sarankan untuk membaca The Sweet Escape dulu ya, biar bacanya bisa lebih ngerti.. *bletak!! –digetok reader karena nyuruh2-* Tapi kalau g mau baca yg itu dulu juga g papa kok.. Bagi yg udah baca ff sebelumnya dan juga bagi yang tidak ingin membaca ff itu dulu,, ya sudahlah,, cekidot aja!!

Enjoy yaa.. ^^

He is (not) My Bestfriend – Part 1


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Kim Jonghyun

Park Kyungjin

Super Junior – Kim Heechul

Genre              :           Angst, Romance

Rating             :           PG-13

Length            :           Two Shot

Disclaimer      :           This story is mine!

+++

Akhirnya yeoja itu kutemukan juga. Yeoja yang selama dua tahun belakangan ini menghilang begitu saja dari kehidupanku.

Sebenarnya bukan dia yang awalnya menghilang, tapi aku. Aku harus menyelesaikan masalahku di penjara. Dan seperti yang terlihat sekarang, aku sudah bebas dari tuduhan pembunuhan itu berkat bantuan seseorang yang tidak ku kenal sebelumnya. Kim Heechul.

Aku sungguh berterima kasih padanya. Dan semenjak itu hubunganku dengan Heechul menjadi lebih akrab.

Kembali ke persoalan yeoja itu, aku sendiri tidak tahu mengapa ia tiba-tiba menghilang. Saat bebas dari penjara, aku mencari-cari keberadaannya. Aku ingat, sehari setelah aku dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari segala tuduhan itu, aku langsung datang ke rumahnya. Rumah yang selama beberapa hari menjadi tempat persembunyianku. Rumah yang menciptakan kehangatan yang tidak kudapatkan dari keluargaku, bersama sang pemiliknya yang begitu baik hati.

Tapi sekarang, aku sudah menemukannya. Dunia memang begitu sempit. Ia mengikuti tes masuk perguruan tinggi di kampus ini, tempatku menghabiskan waktu sehingga aku menganggapnya seperti rumah keduaku, setelah rumah yeoja itu yang meski hanya beberapa hari kutinggali aku malah dengan senang hati menganggapnya sebagai home sweet home. Aku sendiri juga heran, rumahku sendiri yang kutinggali bersama keluargaku selama bertahun-tahun itu bahkan kuprioritaskan sebagai tempat istirahat saja.

Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja di kampus ini saat ia tengah kesulitan mencari ruang tesnya. Dan meskipun waktu telah lama berlalu, kebiasaan terlambatnya tak kunjung hilang juga. Aku menemaninya mencari ruangan dan sebelum memasuki ruangan tesnya, aku menyuruhnya untuk menemuiku di taman belakang kampus saat tesnya selesai.

Aku melangkahkan kakiku tergesa-gesa menyusuri koridor-koridor kampus. Astaga, sudah pukul dua siang, padahal tesnya sudah selesai sejam yang lalu.

Saat tiba di taman, aku mencari-cari sosoknya. Nah, itu dia. Dia sedang duduk di kursi taman yang ada dibawah pohon itu sambil menekuk wajahnya.

Aku berlari menyusulnya dan menepuk bahunya dari belakang.

“Kyungjin-ah, mian telah membuatmu menunggu lama” aku menyunggingkan senyum yang amat lebar, berharap ia tak marah.

“Ya! Makanya kau ini jangan suka mengejek orang saja! Sekarang malah kau yang terlambat!” katanya sambil mendengus kesal.

“Hahaha. Kau ini, begitu saja marah. Kau sendiri juga sudah sering terlambat” aku menertawakan tingkahnya yang seperti anak-anak. “Mian, rapatnya baru selesai sekarang, aku tidak sengaja kan?”

“Hhhh. Ya sudahlah. Sebenarnya aku agak kesal, ternyata tesnya lumayan sulit. Padahal aku sudah belajar mati-matian. Aku jadi pesimis bisa diterima di kampus ini”

“Oh  ya? Padahal itu soal yang tidak rumit, lho!”

“Aish. Jonghyun, kau ini! Mentang-mentang sudah jadi profesor, seenaknya saja” ia kembali mengerucutkan mulutnya. Aigo. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan seperti ini.

“Hahaha. Sudahlah, kau harus optimis. Semua itu hanya tergantung sugesti saja. Kau pasti bisa, aku yakin!” kataku seraya meyakinkannya.

Kami terus melanjutkan percakapan, hingga percakapan kami mengarah ke hal ini.

“Kyungjin-ah, ada yang ingin ku bicarakan” mendadak suasana menjadi canggung.

“Bicara saja” ia terlihat tidak terlalu peduli.

“Kau mau kan jadi yeojachingu-ku?” aku memberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku.

“Mwo?!” ia terlihat sangat terkejut. Aduh, bagaimana ini?

“Ayolah, Kyungjin” aku terus memaksanya untuk menjawab, namun ia sama sekali tidak bereaksi. Kali ini aku mencoba mengguncang-guncang pundaknya.

“Aish, Jonghyun!”

“Bagaimana?”

“Hah, baiklah!”

+++

Aku membuka pintu rumahku.

“Aku pulang..” kataku ketika masuk ke dalam rumah.

Sepi.

Appa, eomma, hyung dan dongsaengku belum pulang juga. Padahal ini sudah malam. Hhh, mereka pasti sibuk mengurus konser musik mereka. Mereka kan para musisi yang terkenal? Berbeda dengan aku yang sama sekali tidak memiliki jiwa seni.

Aku bertemu Kyungjin di taman belakang kampus. Di taman itu, kami saling bertukar pikiran, bertukar pengalaman, dan bertukar nomor telepon.

Aku menceritakan pengalamanku selama ini. Kyungjin juga bercerita padaku tentang kejadian yang menimpanya selama dua tahun belakangan ini. Ternyata alasannya menghilang selama ini karena ia ikut tinggal bersama keluarganya di Jepang. Dan yang lebih membuatku terkejut, ternyata namjachingu-nya sudah meninggal.

Kasihan sekali dia. Aku mengira bahwa ia akan menangis, tapi ternyata ia sudah berubah menjadi yeoja yang lebih tegar dari yang ku kira.

Ia menceritakan semuanya dengan tenang, dan entah mengapa, aku merasa punya kesempatan lagi untuk dekat dengannya. Aku sendiri tidak tahu kenapa saat itu aku langsung memintanya untuk menjadi yeojachingu-ku, padahal waktu itu aku baru saja bertemu dengannya lagi sejak ia meninggalkan Seoul.

(Kyungjin P.O.V)

Tiiit tiiiit tiiit tiitt..

Kurasakan ponselku bergetar. Ternyata ada sms yang masuk.

From : Jonghyun

Kyungjin-ah! SELAMAT TIDUR

MIMPI YANG INDAH YA! ^^

Ya ampun. Ternyata si profesor itu. Aku menekan tombol reply pada ponselku dan mengetik balasan untuknya.

Send to : Jonghyun

Aish! Dasar cerewet! >.<

Aku jadi ingat, dulu ia memang sering meneriakkan kata selamat tidur untukku. Hhh, anak itu ternyata tidak berubah. Tapi kali ini ia hanya bisa mengatakannya lewat pesan singkat. Oh iya, sekarang ia sudah menjadi namjachingu-ku.

+++

Aku masih saja berguling-guling di tempat tidurku. Hari belum pagi tetapi dari semalam tidurku sudah tidak nyenyak. Dan sekarang aku malah terbangun kembali dan tidak bisa lagi menidurkan mataku.

Aku gelisah. Hari ini Universitas itu sudah mengeluarkan pengumumannya. Omo, bagaimana ini? Semoga saja aku lulus.

Aku terus-terusan gelisah di tempat tidurku hingga akhirnya waktu yang ditentukan sudah tiba. Buru-buru ku nyalakan komputer yang ada di kamarku dan mengakses situs yang berisi pengumuman itu.

Deg.

Aku terus membuka halaman demi halaman pada pengumuman itu tapi sampai sekarang aku belum menemukan namaku terpampang di sana.

Aduh. Aku semakin cemas.

Dan tak lama kemudian, nah! Itu dia! Namaku ada di sana! Aku lulus!

+++

(Jonghyun P.O.V)

Hari ini para mahasiswa baru yang dinyatakan lulus sudah memulai kegiatan perkuliahannya. Dan sama seperti mahasiswa baru pada umumnya, mereka akan menghadapi masa orientasi.

Seperti biasa, aku hanya datang ke kampus ini hanya untuk melihat-lihat saja, karena sebenarnya saat ini aku sudah tidak mempunyai kegiatan apa-apa lagi di kampus ini.

Aku  melihat Heechul tengah berjalan dari arah berlawanan. Aku langsung menyapanya.

“Annyeong, Heechul. Mau ke mana?” tanyaku padanya.

“Oh, biasa, aku harus mengurus masa orientasi mahasiswa baru itu. Kebetulan aku salah satu panitianya” jawabnya.

“Oh iya, aku punya kenalan, dia mahasiswi baru juga di sini, namanya Park Kyungjin. Tolong kau jangan terlalu keras padanya ya?”

Heechul terlihat mengerutkan keningnya, tetapi akhirnya mengangguk.

“Ah, ne. Kyungjin ya? Oke, itu bisa diatur. Tenang saja, chingu, aku akan menjaganya” katanya sambil tersenyum.

Ah, Heechul memang baik sekali.

+++

(Heechul P.O.V)

Hari ini membosankan sekali. Aku harus pergi ke kampus untuk mengurus mahasiswa-mahasiswa baru itu. Arrgh, ini sudah tahun ke lima aku mengurus mahasiswa-mahasiswa baru yang masuk ke kampus ini. Bosan sekali.

Seharusnya mahasiswa seumuranku sudah tamat kuliah dua tahun lalu. Tapi beginilah aku, bahkan aku sudah menjadi kakek-kakek di fakultas ini.

Ide gila macam apa memasukkan orang sepertiku ke fakultas yang sangat kubenci ini. Kedokteran. Aku betul-betul tidak punya hati untuk belajar di tempat ini.

Aku sangat membenci appaku. Dialah yang memaksaku untuk kuliah di fakultas kedokteran ini. Sungguh hal yang memuakkan. Bagaimana tidak, semasa sekolah nilai ilmu pengetahuan alamku tidak pernah bagus. Justru nilai yang nyaris sempurna aku dapatkan pada mata pelajaran kewarganegaraan. Sebenarnya aku sangat bercita-cita untuk menjadi pengacara. Aku sudah memohon-mohon pada appaku untuk mengizinkanku kuliah di fakultas hukum. Tapi percuma, appa bahkan mengancam akan mengusirku jika aku tidak mau menuruti permintaannya.

Pada saat tes masuk fakultas ini berlangsung, aku mengisi jawabannya secara asal-asalan, berharap agar aku benar-benar tidak lulus di fakultas pilihan appaku itu. Ya, sebenarnya aku memang tidak lulus di fakultas kedokteran, tapi appa bahkan rela menyogok pihak universitas dengan uang yang tidak sedikit untuk memberikan satu bangku padaku. Hah, ternyata universitas sehebat ini masih menerima kecurangan juga. Cih!

Dan beginilah aku. Masa kuliahku sangat suram. Berbeda dengan anak itu, Kim Jonghyun. Seharusnya anak itu masih ada di bangku SMA. Tapi karena kejeniusannya, dia malah sekelas dengan aku yang berumur 23 tahun. Memalukan!

Terkadang aku muak dengannya. Dia termasuk anak kesayangan dosen-dosenku. Sedangkan aku? Kalau ada orang yang paling ingin diusir dosen dari kelas, itulah aku! Aku sering memperhatikan anak itu, tapi aku berani bertaruh, ia bahkan tidak mengetahui kalau aku ini sekelas dengannya.

Nilai-nilainya selalu sempurna. Ia bahkan menyelesaikan kuliahnya lebih dulu daripada aku. Ia juga melakukan sebuah penelitian, namun penelitiannya itu berakibat fatal. Ia menewaskan seorang dosen dan mengakibatkan ia dipenjara.

Ia bersumpah bahwa itu semua hanya kecelakaan. Awalnya aku tidak peduli. Aku sebenarnya tahu kalau ia memang benar-benar tidak sengaja melakukan itu semua. Saat semua orang mengetahui kecelakaan yang ia buat, orang-orang sekampus memenuhi ruangan penelitian itu. Kulihat ia begitu panik.

Entah mengapa tiba-tiba aku ingin sekali menghajarnya. Dan tanpa pikir panjang, aku langsung memukulnya hingga pingsan, dan orang-orang bertambah panik. Saking paniknya, mereka tidak memperhatikanku saat aku mencoba menyembunyikan kamera CCTV yang ada di ruangan itu. Kamera itu akan jadi bukti ketidakbersalahannya. Tapi sekali lagi, aku tidak peduli. Aku bahkan senang pada akhirnya ia masuk ke penjara, jadi aku memilih untuk menyembunyikan barang bukti itu. Semuanya berhasil kulakukan sebelum pihak kepolisian datang. Polisi bodoh.

Rasakan itu, Kim Jonghyun! Setidaknya kalau ia dipenjara, aku tidak perlu merasa muak melihatnya setiap hari berkeliaran di kampus ini bak seorang ilmuwan profesional. Sombong sekali dia.

Bukannya aku iri. Aku hanya tidak suka kalau orang-orang membanding-bandingkanku dengan seorang Kim Jonghyun. Telingaku selalu panas saat mendengar cemoohan orang tentang diriku.

Tapi aku mendengar kabar bahwa ia kabur dari penjara. Anak itu ternyata nekat juga. Namun beberapa hari kemudian, ia kembali ditemukan. Dan kudengar, ia akan menjalani persidangan lagi.

Aku jadi berpikir, tidak ada salahnya kalau aku membantu anak itu. Toh barang bukti sebenarnya ada padaku. Sehari sebelum persidangan dimulai, aku mengembalikan kamera CCTV itu ke tempatnya semula.

Aku hadir di persidangannya. Saat hakim sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menyelesaikan kasusnya, aku berdiri membelanya. Aku memberikan usulan agar mereka mau memeriksa kamera CCTV yang ada di ruangan itu. Aku bertingkah seperti pahlawan bagi anak itu. Dan ternyata, seluruh isi ruangan persidangan berserta polisi-polisi dan bahkan si jenius Kim Jonghyun itu tidak ada yang mengetahui kalau ini semua sudah aku atur sedemikian rupa. Hahaha, ternyata aku betul-betul pandai membuat pernyataan palsu. Seandainya saja aku menjadi seorang pengacara seperti impianku, pasti aku sudah menjadi pengacara yang sangat hebat. Mengingat itu, hatiku menjadi sakit kembali.

Aku memang membantunya untuk lolos dari penjara dingin itu, tapi itu semua ku lakukan bukan karena aku tidak menginginkan balasan yang setimpal darinya.

Semenjak kejadian itu, aku menjadi dekat dengannya. Ia menganggapku seperti sahabatnya sendiri. Aku juga bertingkah seolah aku ini baik padanya. Padahal, aku sama sekali muak dengan semua itu!

Dia menyelesaikan kuliahnya dengan sangat cepat. Semenjak aku dekat dengannya, nilai-nilai di setiap mata kuliahku meningkat drastis. Bukan karena aku belajar dengannya, tapi aku memanfaatkannya. Aku selalu memintanya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Dengan begitu, tentu saja nilai-nilai yang kudapatkan selalu bagus. Dan atas nama “persahabatan”, ia mau-mau saja melakukannya. Ternyata anak itu tidak sejenius yang kukira. Dosen-dosen juga sudah mengubah pandangannya tentang diriku, dan aku harap tahun ini adalah tahun terakhirku kuliah di tempat ini. Aku betul-betul sudah tidak tahan berada di tempat yang tidak seharusnya kutempati ini. Lagipula aku betul-betul sudah sangat malu, anak itu sudah menjadi profesor sekarang.

Pagi ini, aku bertemu dengannya di koridor kampus. Ia datang dari arah berlawanan.

“Annyeong, Heechul. Mau ke mana?” tanyanya sambil tersenyum. Cihh!

“Oh, biasa, aku harus mengurus masa orientasi mahasiswa baru itu. Kebetulan aku salah satu panitianya” aku menjawab sekenanya. Yeah, sebenarnya aku malas bertemu dengannya.

“Oh iya, aku punya kenalan, dia mahasiswi baru juga di sini, namanya Park Kyungjin. Tolong kau jangan terlalu keras padanya ya?”

Aku sedikit terkejut dengan perkataannya barusan. Kyungjin? Sepertinya yeoja itu spesial untuknya. Aku mengerutkan keningku, lalu kemudian aku tersadar ada hal bagus yang bisa kulakukan dengan Kyungjin itu.

“Ah, ne. Kyungjin ya? Oke, itu bisa diatur. Tenang saja, chingu, aku akan menjaganya”

Hahaha. Ya, tenang saja, chingu. Aku akan “menjaganya” dengan baik.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Aku bangun pagi-pagi sekali. Aku betul-betul takut datang terlambat di hari pertamaku kuliah ini. Apalagi sedang masa orientasi, bisa-bisa para senior mengerjaiku habis-habisan.

Saat ini aku sedang berbaris bersama mahasiswa baru yang lain. Di depan kami para senior sudah mengambil ancang-ancang seakan ingin menerkam kami. Aku yakin, dalam hati semua mahasiswa baru juga akan berdoa sama sepertiku, berharap bisa selamat dari terkaman senior-senior itu.

Namun seseorang dari senior-senior itu tiba-tiba berbicara.

“Hey, siapa yang bernama Park Kyungjin?” kata seorang namja berambut cokelat.

Mwo?! Itu kan aku. Ya Tuhan, tolong aku. Aku mau diapakan?

“Aku” aku mengacungkan tangan dengan takut sambil menunduk. Namja itu berjalan mendekatiku, lalu membisikkan sesuatu ditelingaku.

“Oh, jadi kamu yang namanya Kyungjin. Baiklah, saat pulang nanti, temui aku di parkiran” katanya lalu kembali menjauh dari tempatku berdiri.

Deg.

Parkiran? Omo, aku mau diapakan?!

+++

Akh, capek sekali! Kegiatan hari ini sungguh menguras energi. Rasanya aku ingin cepat-cepat pulang, aku sudah sangat rindu dengan tempat tidurku.

Mendadak aku jadi ingat sesuatu. Oh iya, tadi ada senior yang memanggilku ke tempat parkiran. Astaga, jangan-jangan ia masih ingin mengerjaiku.

Aduh, aku harus bagaimana?

Aish, lebih baik aku cepat menemuinya sebelum ia marah dan aku mendapat masalah yang besar.

Aku berlari sekuat tenaga menuju parkiran. Hosh… Hosh… Arrgghh, capek!

Saat tiba di parkiran, aku mencari sosoknya. Nah, itu dia! Dia sedang bersandar di pintu mobilnya. Dengan takut aku melangkah mendekatinya.

“Annyeong, sunbae. Maaf aku terlambat” kataku sambil menunduk saat aku tiba di dekatnya.

“Ah, kau Kyungjin? Mari ku antar kau pulang!” tiba-tiba ia menarik tanganku dan mendorong-dorongku untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Mwo?” aku sangat kaget dengan perlakuannya barusan.

“Ah, tenang saja. Kau masuk dulu, nanti akan ku jelaskan” katanya sambil terus mendorong-dorongku.

“Oh, ne” aku akhirnya pasrah. Apa boleh buat, daripada aku mendapat masalah, lebih baik aku menuruti kata-katanya.

Ia menyuruhku duduk di kursi penumpang dan saat aku sudah duduk di dalam, ia menutup pintunya, lalu beralih ke pintu sebelah dan duduk di kursi pengemudi.

Ia menstater mobilnya, dan perlahan mobil sudah bergerak meninggalkan area kampus.

Glek.

Aku menelan ludahku yang sebetulnya sudah kering. Perlahan-lahan keringat dingin mulai mengalir di wajahku. Ia menoleh padaku sejenak, lalu memberiku kotak tissue yang ada di mobil itu.

“Ini tissuenya, keringatmu banyak sekali. Hahaha” katanya sambil terus menyodorkan kotak tissue itu padaku tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Ah, ne, gamsahamnida, sunbae” kataku terbata-bata sambil menerima kotak tissue itu.

“Hahaha, kau jangan tegang begitu. Tenang saja, aku tidak akan mengerjaimu” katanya sambil tersenyum.

Percuma, aku masih tetap tegang. Bagaimana tidak, dia itu seniorku!

“Perkenalkan, namaku Heechul. Kim Heechul. Kau tidak usah memanggilku dengan sebutan sunbae, kesannya jadi tidak akrab. Kau panggil aku oppa saja ya” katanya sambil sibuk menyetir.

Mwo?! Akrab?! Sejak kapan aku akrab dengannya?! Aku bahkan baru saja mengetahui namanya.

“Ah, ne, sun… Maksudku, oppa” aku masih saja gugup.

“Oh iya, rumahmu di mana?” ia terlihat sedikit bingung.

“Ah, di depan belok kiri” kataku sambil menunjuk-nunjuk jalan, tak kalah bingung dengannya.

Aku terus menunjukkan jalan padanya hingga akhirnya kami tiba di rumahku. Aku turun dari mobilnya lalu menutup pintunya. Ia tidak ikut turun. Ia hanya membuka kaca mobil.

“Gamsahamnida, oppa. Oh iya, kau tak mau singgah dulu” kataku sambil berdiri di depan pagar.

“Tidak usah, Kyungjin. Ini sudah hampir malam, aku pulang saja ya. Hati-hati di rumah” katanya lalu kembali menutup kaca mobil, dan perlahan-lahan mobilnya bergerak menjauhi rumahku.

Fiuhh. Untung saja dia tidak singgah.

+++

Aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Hari ini betul-betul melelahkan. Senior-seniorku terutama senior yeoja mengerjaiku habis-habisan. Aku disuruh melakukan hal yang aneh-aneh. Lari keliling lapangan, mengukur panjang koridor kampus yang luar biasa panjang dengan menggunakan daun, berjalan ke arah samping sambil menekuk lutut dan merentangkan tangan (mereka menyebutnya “jalan kepiting”) dan yang paling tidak masuk akal saat mereka menyuruhku menyatakan cinta pada sebuah pohon dan pohon itu harus mau menerima cintaku. Halah, bagaimana bisa?

Aku kembali tersadar akan satu hal. Heechul oppa!

Aku mengambil ponselku lalu mengirimkan sebuah pesan singkat ke Jonghyun.

Jonghyun-ah, tadi ada sunbae yang mencariku.

Namanya Kim Heechul. Kau kenal tidak?

Tak lama kemudian balasan dari Jonghyun muncul.

Benarkah? Iya, aku kenal. Dia itu sahabatku.

Tenang saja, dia orangnya baik. ^^

Oh. Ternyata begitu. Mungkin dia mengenalku karena Jonghyun. Ya sudah, aku mau tidur saja. Capek sekali!

+++

Pagi harinya, aku sudah siap untuk berangkat ke kampus lagi namun belum sempat aku keluar rumah, terdengar suara klakson dari luar. Aku segera berlari keluar dan melihat siapa yang datang pagi-pagi begini.

“Heechul oppa?” aku sangat terkejut saat melihat siapa yang ada di dalam mobil itu saat ia menurunkan kaca mobilnya.

“Ne. Kau sudah siap? Kajja!” katanya sambil menyuruhku masuk ke dalam mobilnya.

Tanpa pikir panjang, aku naik ke mobil itu lalu duduk di kursi penumpang. Perlahan-lahan mobil sudah melaju menuju kampus. Di tengah perjalanan, kami sempat mengobrol.

“Oppa, kenapa kau mau repot-repot menjemputku?”

“Oh. Kebetulan rumah kita searah. Aku selalu melewati jalan ini saat ingin ke kampus. Jadi kupikir tidak ada salahnya kalau aku menjemputmu. Kau keberatan?” katanya sambil berkonsentrasi menyetir.

“Anni, oppa. Anni” aku buru-buru membantah perkataannya.

“Haha, ya sudah. Kalau begitu, mulai hari ini dan seterusnya aku akan mengantar jemputmu. Lagipula kursi itu selalu kosong” katanya sambil menunjuk kursi yang kududuki dengan dagunya.

“Gamsahamnida, oppa” kataku akhirnya. Hhh, mau bagaimana lagi? Aku takut menolaknya. Dia itu kan seniorku.

Sepanjang perjalanan, kami terus-terusan mengobrol hingga tak terasa kami sudah tiba di kampus. Ternyata Heechul oppa orang yang ramah. Ia juga sangat lucu sebab dari tadi ia terus saja membuatku tertawa. Ia memang pandai mencairkan suasana.

+++

(Heechul P.O.V)

Pagi ini aku sengaja menjemput Kyungjin di rumahnya. Lumayan, untuk pendekatan awal.

Awalnya dia bingung dengan tingkahku, tetapi sepanjang perjalanan aku terus mengajaknya mengobrol dan sesekali bercanda.

Setelah kuperhatikan, ternyata yeoja ini cantik juga. Dia juga gampang bergaul dengan orang yang baru dikenalnya. Buktinya, baru kemarin aku mengenalnya, kami sudah bisa sedikit akrab. Tak heran kalau Jonghyun menyukai yeoja ini.

Saat kegiatan di kampus selesai, aku kembali menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Dan seperti dugaanku, dia sama sekali tidak menolak.

Hal ini terus berlangsung di hari-hari berikutnya, dan sepertinya ia juga tidak keberatan. Suatu hari aku memberanikan diri untuk mengajaknya jalan.

“Kyungjin, malam ini kau ada acara?”

“Eng, sepertinya tak ada. Memang kenapa oppa?” ia menjawab dengan kikuk. Hahaha, yeoja ini ternyata lucu juga.

“Baguslah. Kalau begitu, jam tujuh nanti aku jemput di sini”

Ia terlihat kaget. Tapi aku memilih untuk menutup kaca mobil dan berlalu dari rumahnya sebelum ia sempat menerima tawaranku.

+++

(Jonghyun P.O.V)

Belakangan ini Kyungjin terlihat sangat sibuk dengan kegiatannya. Aku jarang bertemu dengannya di kampus. Mendadak aku jadi merindukannya.

Kuputuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat padanya.

Kyungjin-ah, malam ini aku ingin ke toko buku.

Kau mau kan menemaniku?

Aku menekan tombol send dan menunggu balasan dari Kyungjin. Tak lama kemudian, ponselku berbunyi.

Mianhae, Jonghyun-ah. Malam ini aku ada janji dengan seseorang.

Lain kali saja ya, aku janji akan menemanimu. ^^

Aku tidak bisa memungkiri rasa kecewaku. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya. Hhh, sudahlah.

Tapi dia ada janji dengan seseorang. Aku jadi berpikiran macam-macam. Bagaimana kalau sebenarnya dia janjian dengan seorang namja? Jadi bisa dibilang, dia ingin kencan?

Aish. Mendadak suasana di sini terasa panas. Sudahlah, Jonghyun. Itu hanya pikiranmu saja.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku di depan Heechul oppa. Bayangkan, dia mengajakku jalan! Seorang seniorku di kampus yang disegani banyak orang yang baru kukenal beberapa hari ini MENGAJAKKU JALAN!

Oke. Aku memang agak berlebihan. Tapi sungguh, aku betul-betul kaget. Saking kagetnya, aku lupa menjawab tawaran Heechul oppa hingga akhirnya ia meninggalkanku di depan rumah tanpa menunggu jawabanku.

Ah, sudahlah. Lebih baik aku menerima tawarannya saja. Lagipula, Heechul oppa memang orang yang baik.

Aku membuka pintu dan masuk ke dalam rumahku, namun tiba-tiba ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan.

Kyungjin-ah, malam ini aku ingin ke toko buku.

Kau mau kan menemaniku?

Oh, Jonghyun. Dia ingin aku menemaninya ke toko buku. Sebenarnya aku mau, tapi Heechul oppa sudah terlanjur mengajakku duluan. Tak ada pilihan lain.

Mianhae, Jonghyun-ah. Malam ini aku ada janji dengan seseorang.

Lain kali saja ya, aku janji akan menemanimu. ^^

Aku membalas pesannya. Aku jadi merasa tak enak dengan Jonghyun, tapi mau bagaimana lagi? Lain kali aku janji akan menemaninya.

+++

Arrgghh! Setengah jam lagi Heechul oppa akan menjemputku!

Sudah sejam lebih aku membongkar-bongkar lemariku tapi belum juga menemukan pakaian yang pas. Aish, kenapa aku jadi begini? Seperti ingin berkencan saja. Ini kan bukan kencan! Lagipula aku sudah punya namjachingu!

Oke, aku menyerah. Aku memutuskan untuk memakai pakaian yang biasa-biasa saja.

Tak lama setelah aku bersiap-siap, dari luar rumah terdengar suara klakson.

Aduh! Kenapa aku jadi deg-degan?!

+++

(Heechul P.O.V)

Tak lama setelah aku tiba di rumah Kyungjin, dia muncul dari dalam rumah dan berjalan menuju mobilku. Aku mengisyaratkannya untuk masuk ke dalam mobil.

“Mian, oppa telah membuatmu menunggu” katanya saat dia sudah duduk di kursi penumpang dan menutup pintu mobil.

Saat ia masuk ke dalam mobil, aku bisa memperhatikan penampilannya. Astaga, cantik sekali! Ia hanya memakai pakaian casual, tapi ia tahu cara berpakaian agar terlihat menarik. Tanpa sadar aku terus memperhatikannya hingga ia kembali menyadarkanku.

“Oppa?”

“Ah, ne Kyungjin. Tidak apa-apa, aku juga belum lama menunggumu. Kajja!” kataku gugup sambil menyalakan mesin mobil dan bergerak menuju tempat tujuanku.

Di tengah perjalanan, kami lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Mendadak suasana di sini menjadi canggung.

“Oppa, sebenarnya kita mau ke mana?” ia akhirnya membuka pembicaraan.

“Lihat saja nanti” aku memutuskan untuk merahasiakannya. Dan setelah percakapan yang singkat itu, kami kembali terdiam.

Aduh, aku ini kenapa?!

+++

(Kyungjin P.O.V)

Heechul oppa membawaku ke sebuah tempat yang menurutku sedikit aneh. Bagaimana tidak, dari tadi aku mencoba menebak-nebak tempat yang akan kami kunjungi, seperti café, atau sebuah taman? Tapi kenyataannya dia membawaku ke atap salah satu gedung yang tingginya tidak beda jauh dengan kampusku!

Aish, ternyata aku berpikiran terlalu jauh. Tapi lama-kelamaan tempat ini terasa lumayan juga. Aku tidak pernah tahu ada tempat semacam ini di Seoul. Dari atap gedung ini, aku bisa melihat gemerlap kota Seoul di malam hari. Lampu-lampu yang menerangi kota terlihat seperti kunang-kunang. Apalagi dari atas sini, suara kebisingan di bawah sana sama sekali tidak terasa mengganggu. Kami duduk di pinggiran atap dan mulai bercakap-cakap.

“Kyungjin, aku tahu kalau ini memang terdengar buru-buru. Tapi aku yakin, aku menyukaimu”

Mwo?! Apa aku tidak salah dengar? Heechul oppa, menyukaiku? Mendadak badanku terasa kaku. Heechul oppa melanjutkan pembicaraannya.

“Aku tahu kalau sebenarnya kau sudah mempunyai namjachingu. Tapi, tidak bisakah kau memberiku kesempatan? Menjadi kekasih gelapmu juga tidak apa-apa” katanya sambil menerawang jauh ke langit malam.

TO BE CONTINUE

Oke… Satu part udah selesai, berarti next udah ending… Chingu,, eonni,, dongsaeng,, maafkan saya kalau ternyata sekuelnya lebih buruk dari sebelumnya… T___T *bow*

Tapi makasih udah mau baca,, dan semoga kalian sudi untuk melayangkan komentar untuk ff gagal ini… T___T

komen ya komen ya.. ^^ kalau memang jelek,, ya sudah,, tidak usah dilanjut.. hhehe.. *plakkk!!*

Advertisements

6 thoughts on “He is (not) My Bestfriend – Part 1

  1. Heechul rupa na jahat ya???
    bersahabat dengan Jjong karena bisa dimanfaatkan…
    Kyungjin bakaln terima gak ya???
    jangan dunk???
    kan kasian Jjong…
    onn k part 2 na ya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s